Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 239. Keadaan Genting Jilid 2


__ADS_3

Selamat Membaca..


Booommm… Boom…..


Suara ledakan yang bersumber dari rumah yang layaknya seperti istana yang ada di negara Eropa itu, mengeluarkan beberapa suara dentuman ledakan yang sangat besar dan keras. Asap sudah mengepul di atas istana itu. Api berkobar di mana-mana.


Setelah mendengar kabar tersebut dari pamannya, Liora segera mempercepat dan menambah kecepatan laju mobilnya. Liora yang walaupun fokusnya terhadap jalan, tapi sesekali ia melirik sekilas ke arah Dennis yang sudah berkeringat, matanya memerah, hidungnya kembang kempis, nafasnya memburu, tangannya mengepal kuat.


Mulutnya tidak berbicara tapi, raut wajahnya dan sorot matanya yang menandakan bahwa di dalam hatinya bergejolak suatu perasaan yang akan meledak kapan saja.


Mobilnya sudah berhenti, sesaat sebelum bomnya meledak di depan matanya.


"Tidak!!!!!!!"


Teriak Dennis disaat dirinya sudah sampai di depan pintu masuk Istana itu, Dennis segera berlari ke arah dalam istana itu sambil berlindung dari amukan si jago merah.


"Abang!! Jangan masuk ke dalam berbahaya, nanti bomnya meledak," teriak Liora yang mencegah Dennis untuk tidak masuk ke dalam.


Entah kenapa perasaan Liora tidak enak dan merasa jika, ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini untuk menjebak mereka. Dennis tidak mengindahkan peringatan dari Liora, Dia tetap berlari ke arah dalam sambil berlindung dari ledakan kecil dan api yang semakin membara saja.


"Apa aku masuk saja mengikuti langkah Dennis, tapi bagaimana jika ini adalah jebakan," ucapnya yang kembali memundurkan langkahnya tetapi kembali berfikir bagaimana dengan kondisi Dennis dan keluarganya.


Liora baru mulai mengambil ancang-ancang, langkahnya harus terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya, Liora stop!!!!" Liora segera menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya tepat ke sumber suara.


"Kami mohon jangan ke sana, itu hanya jebakan yang sengaja dibuat oleh kakekmu!!" Teriak Aisyah.


Seketika wajahnya pucat pasi mengingat kembali pesan chat Pamannya yang mengatakan jika di dalam sana sudah terpasang banyak bahan peledak yang siap meledak kapan saja. Dan pamannya juga mengatakan keluarga dari kekasihnya ada di sana.


"Tapi, Dennnis ada di dalam sana, aku harus menyelamatkannya," jawabnya dengan dibalas teriakan juga sembari melangkahkan kakinya ke dalam istana itu.


Aisyah yang mendengar perkataan dari Kuota sontak terkejut, dia tidak menyangka jika Dennis ada di dalam sana. Tadi, ada seseorang yang mengirim chat padanya nomor yang tidak dikenalnya mengatakan, jika Dennis dan Liora sudah selamat. Aisyah saling berpandangan dengan Bryan, sedangkan Axel sudah berlari ke dalam mengikuti langkah kakinya Liora.

__ADS_1


Booommm… Boooom…


Beberapa ledakan kembali terjadi, mereka semakin dibuat khawatir dan cemas yang berlebihan.


"Telpon segera pihak kepolisian untuk mengirim ke sini personilnya dibagian penjinak bom!!" Teriaknya ke arah Nathan suaminya.


Axel dan Liora bersama mengelilingi Istana itu, dengan berhati-hati karena setiap saat puing-puing bangunan itu akan siap runtuh kapan saja.


"Dimana Dennis, kenapa dia belum kelihatan?" Tanyanya Axel yang sudah kelelahan dan sesak nafas diakibatkan banyaknya asap yang mengepul di sekitar mereka.


Telinga mereka mendengar suara yang cukup membuat mereka kelimpungan. Mata mereka langsung menangkap ada sebuah bom yang cukup besar dengan berkekuatan skala besar siap meledak dalam hitungan satu menit dari sekarang.


"Abang!! Ayo kita segera lari jika tidak kita akan hancur di tempat ini," teriak Liora dengan menarik tangannya Axel untuk meninggalkan tempat itu.


Axel yang ditarik tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya, dia bersikukuh untuk tetap mencari adiknya.


"Abang, aku tahu Abang mengkhawatirkan keadaan Denis, tapi kalau kita tetap di sini itu sama saja mencari mati dan matinya kita pun sia-sia," terang Liora yang sudah ketakutan.


Liora semakin menguatkan tarikan tangannya agar Axel bergerak dan mengikuti langkahnya. Axel setuju dengan penjelasan dari Liora. Mereka segera berlari ke arah luar dengan tetap menghindari puing-puing bangunan yang berjatuhan.


"Aaaaahhhhhh!!!" Teriak mereka berdua.


Orang-orang yang berada di sekitar pintu Istana segera berlari untuk berlindung. Saking keras dan besarnya ledakan bom itu hingga pagar tembok yang kokoh dan tinggi menjulang itu retak dan sebagian besar hancur terkena amukan bom. Tubuh Axel dan Liora terhempas hingga membentur dinding tembok.


Aisyah segera berlari mencari ketiganya setelah dirasa cukup aman," ayo cari mereka!!" Teriaknya dengan tetesan air matanya menetes membasahi pipinya.


Mereka dibuat kalang kabut dengan kejadian yang terjadi di depan mata mereka. Satu pun dari mereka tidak ada yang berkata akan ada yang selamat dari hantaman ledakan bom yang sangat besar itu.


"Ya Allah…. Selamatkan mereka," ucapnya sambil menyusuri istana itu dengan sisa puing-puing bangunan serta asap dan debu yang beterbangan membuat jarak pandang mereka terganggu dan terhalang oleh asap itu.


"Mas Nathan telpon Tuan Besar untuk segera mengirimkan bantuannya serta alat-alat yang kita butuhkan untuk melakukan pencarian," terang Aisyah.

__ADS_1


Mereka terus menyusuri istana itu dan sesekali memindahkan beberapa benda yang menghalangi proses pencarian mereka. Beberapa mobil polisi dan ambulans sudah berdatangan memenuhi depan istana itu. Nurman pun sudah dimasukkan oleh polisi dalam daftar pencarian orang DPO.


Berselang beberapa menit, seorang perwira polisi melihat ada dua tubuh orang yang tergeletak di bawah reruntuhan tembok.


"Tolong!!, ada dua orang di sini yang selamat dan masih hidup," teriak Polisi itu.


Mereka segera berlarian ke arah polisi yang meminta tolong tersebut. Banyak korban jiwa yang mereka temukan dan sebagian sudah dikirim ke rumah sakit terdekat untuk segera dilakukan otopsi.


Aisyah dan Bryan terpaku melihat kondisi dari dua orang itu yang tidak lain adalah Axel dan Liora.


"Ini Axel dan Liora, cepat bawa mereka ke rumah sakit," teriak Bryan yang memberikan perintah.


Aisyah membantu petugas rumah sakit untuk membawa Liora ke dalam ambulans begitu juga dengan Axel.


"Aisyah bawa mereka ke RS, aku dan Nathan akan berjaga dan terus melakukan pencarian terhadap Dennis," ucapnya.


Aisyah hanya menganggukkan kepalanya saat sudah berada di dalam ambulans. Dokter dan perawat segera memberikan pertolongan pada Axel dan Liora yang terlalu banyak menghirup udara yang tidak baik.


"Ayo pak supir jalan, jangan lama," ucap Aisyah.


Air matanya Aisyah semakin mengalir deras melihat Axel yang tidak sadarkan diri dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada mereka. Sedangkan keberadaan Dennis hingga detik ini masih belum ditemukannya.


Fajar pun menyingsing, sinar mentari pagi sudah menyinari Istana itu yang sudah tidak berbentuk lagi. Semua orang masih melakukan pencarian hingga Seakan-akan tidak ada kelelahan dari wajah mereka. Apa lagi saat kedatangan Tuan besar Luis yang menjanjikan akan memberikan hadiah besar bagi yang menemukan Dennis cicitnya dalam keadaan apapun. Perwira polisi yang menemukan Axe pun sudah dicatat namanya untuk penerima bonus dari Tuan Luis.


Martin segera dihubungi oleh Tuan Mark untuk segera ke rumah Sakit. Amairah yang mendengar kabar tentang putranya semakin sedih dan histeris. Air matanya sontak tumpah ruah dan membanjiri wajahnya.


"Mas!! Aku ikut bersamamu, aku ingin melihat putraku," ujarnya yang harus memakai kursi roda karena kedua kakinya yang cedera akibat injakannya diatas beberapa pecahan beling.


"Mbak Marni, tolong jaga Ica cucuku dan Mbak Wati perhatikan dengan seksama siapa-siapa yang berada di rumah kita dan jika melihat ada yang aneh segeralah menelpon," perintah Martin sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Tunggu!!" Nenek Masitha pun ikut bersama mereka yang semula bersitegang dengan lainnya.

__ADS_1


"Mas, bagaimana dengan Dennis, kenapa mereka belum menemukan putraku?" Tanyanya dengan deraian air matanya sambil memeluk tubuh suaminya.


"Kamu harus sabar, semoga mereka selamat," jawabnya yang dalam hatinya juga mengalami pergolakan batin yang sangat ketakutan.


__ADS_2