Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 230. Masa Lalu Penuh Dengan Air Mata


__ADS_3

Selamat Membaca..


Delisha terdiam sesaat ketika mendengar perkataan dari mulut suaminya. Dia berusaha untuk menekan dan melawan rasa trauma yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Di tubuhnya sudah mengalir keringat dan teringat saat betapa sakitnya bagian intinya saat dimasuki oleh Abimanyu. Pria dewasa sedangkan dirinya saat itu baru berumur 16 tahun.


Delisha terdiam tapi keringatnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Abi yang baru saja menyadari bahwa perbuatannya mengingatkan Delisha pada masa lalu mereka.


"Adek!! Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Abi yang sudah cemas dan khawatir melihat kondisi dari Delisha yang hanya terdiam mematung sedangkan tubuhnya dipenuhi dengan keringat.


Delisha hanya terdiam saja, tapi tubuhnya mulai gemetaran hingga membuat Abimanyu semakin dibuat kelimpungan. Dia tidak menyangka jika hanya kata seperti itu mampu menghangatkan istrinya pada trauma masa remajanya yang diakibatkan oleh dirinya sendiri. Abi pun ikut sedih, menyesali semuanya karena gara-gara dirinya, orang yang paling dicintainya itu harus menderita dan menanggung beban yang berat.


"Apa seperti ini saat Abang meninggalkanmu? Abang sangat menyesali perkataannya Abang, maafkan Abang sayang," ucapnya disertai dengan deraian air matanya.


Abimanyu segera membangunkan tubuhnya Delisha yang nampak tidak baik itu. Dia memeluk tubuh itu dengan erat dan penuh kasih sayang. Tetesan air matanya membasahi punggung Delisha yang sudah polos. Tatapan matanya Delisha kosong dan entah apa yang dipikirkannya.


"Adek maafakn Abang, Abang tidak pernah bermaksud sedikitpun untuk melukai hati dan perasaanmu, Abang mohon sadarlah adek!!" Abi semakin mengeratkan saja pelukannya.


Delisha masih seperti sebelumnya, tidak bergeming dengan perkataan dan bujukan dari Abimanyu. Delisha lambat laun sudah menangis tersedu-sedu dan suaranya sudah tangisannya mulai terdengar yang tadinya hanya air matanya yang terus menetes tanpa ada suara.


"Betapa pedihnya hidupmu dulu Adek, ini semua gara-gara Abang yang tidak mampu menahan godaan dari nafsunya Abang," ratap Abimanyu yang sangat menyesali perbuatannya dulu yang memenuhi permintaan dari Delisha sendiri.


Abi semakin terpuruk dalam penyesalannya, dia tidak menduga jika kehidupan yang dilalui Delisha dulu setelah dia memetik nikmatnya kegadisan dan kehormatan Delisha. Pria dewasa yang baru saja menyandang status sebagai seorang suami sekaligus ayah, hancur kedalam kubangan penyesalan yang paling terdalam.


"Aku harus bagaimana lagi Adek agar kamu sadar dan melupakan rasa trauma itu? Apa pun itu Abang akan lakukan yang penting trauma kamu tidak muncul lagi," tuturnya yang tangisannya kian menjadi.

__ADS_1


Hal tersebut berlangsung beberapa menit, hingga perlahan kondisi Delisha sudah berangsur tenang. Dia tidak gemetaran lagi, keringat yang mengucur deras ditubuhnya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Hanya tersisa suara isakan tangisnya.


"Abang,"ucapnya.


Abimanyu yang tidak mendengar jelas perkataan dari mulut istrinya semakin menangis saja. Sedangkan Delisha sudah mampu menahan dan menghalau rasa traumanya yang sudah menggerogoti hati dan pikirannya itu.


Delisha melerai pelukannya lalu segera menatap dalam ke arah suaminya, tangannya menghapus air matanya Abimanyu. Dia tidak menyangka jika pria yang dalam kesehariannya sangat garang, tegas dan penuh wibawa hari ini hancur dan sedih karena penyesalannya sendiri.


"Abang, maafkan Delisha, gara-gara Delisha Abang jadi menangis," ucapnya disela isak tangisnya.


Abimanyu yang menyadari jika kondisi Delisha sudah membaik sangat bahagia karena kekhawatiran, ketakutan serta penyesalannya terhadap apa yang terjadi pada Delisha karena kelakuannya di masa lalunya.


Abimanyu segera meletakkan jempolnya didepan bibir seksinya Delisha, "Husss, jangan ngomong gitu sayang, kamu sama sekali tidak punya salah sama Abang, malahan gara-gara kelakuannya Abang lah sehingga kamu seperti ini."


"Abang sangat bahagia,jujur tadi Abang sangat takut adek, sangat takut jika saja terjadi sesuatu padamu pasti Abang akan menyesali seumur hidup Abang," terangnya dengan sesekali masih terlihat tetesan air mata di pipinya.


Delisha mendekatkan keningnya ke kening suaminya,dia mempersembahkan senyuman termanis yang dia miliki di hadapan Abimanyu. Ia melakukan hal itu karena tidak ingin melihat suaminya berlarut larut dalam kesedihannya.


"Abang jangan nangis lagi, adek tidak apa-apa kok, adek sudah baikan," jelas Delisha untuk mengehentikan tangisnya Abimanyu.


Delisha mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung mereka saling bertabrakan. Dia mulai mencium satu persatu yang ada di atas wajahnya Abi dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Memang tadi sempat trauma itu menghampirinya dan membuat kesedihan yang mendalam di hatinya tapi, dia pun teringat dengan misinya yang ingin membahagiakan suaminya di malam pertama setelah mereka menikah.


"Apa Abang sudah siap?"tanyanya dengan penuh nada sensual yang mampu membuat sesuatu dibawah sana milik Abimanyu berdiri tegak dan Ingin meloloskan diri.

__ADS_1


Matanya sudah mulai berkabut penuh gairah. Jakungnya naik turun, disertai seringai diujung bibirnya. Abimanyu yang mendapatkan lampu hijau dari Delisha segera cepat tanggap dan membiarkan Delisha berbuat apapun di atas tubuhnya.


Delisha mencium satu persatu, mulai dari hidung, mata, pipi hingga turun ke bibirnya. Delisha melakukannya dengan penuh kasih sayang dan berniat untuk meraih pahala yang sebesarnya melalui memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


Abimanyu membaringkan tubuhnya,agar Delisha leluasa mengekspansi seluruh anggota tubuhnya. Abi hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya. Di dalam hatinya Abi bersorak penuh kegembiraan karena Delisha diluar ekspektasinya mampu membuatnya bahagia dan terbang melayang.


Sentuhan demi sentuhan dilayangkan Delisha di atas tubuhnya Abi yang begitu sispack. Delisha duduk di atas tubuhnya Abimanyu tapi tangan dengan jemarinya yang halus dan lentik itu mengelus menelusuri permukaan dada bidangnya Abi.


"Abang akan memenuhi tanggung jawabnya Abang sebagai suamimu, apa kamu sudah siap sayang?" Tanyanya yang sudah tidak kuasa menahan hasratnya yang sudah memenuhi semua sendi dan rongga tubuhnya.


Delisha yang masih duduk di atas tubuhnya Abi hanya menganggukkan kepalanya. Pria mana yang tidak akan tergoda melihat tubuhnya Delisha yang putih mulus, bokong yang montok, pinggul yang lebar, gunung kembar yang kenyal dan padat. Bentuk tubuh Delisha yang sintal dan seperti bak gitar Spanyol yang langsing dan slim itu.


"Silahkan Abang, karena semua yang ada pada diri dan tubuhnya Delisha adalah milik Abang seutuhnya, hanya Abang seorang," jawabnya dengan tertunduk dan tersipu malu setelah mengatakan hal tersebut.


Abi tersenyum lalu membalik tubuhnya sehingga Delisha yang sekarang berada di bawah kunkunganya. Abi manyu kegirangan karena mendapatkan sentuhan dan perlakuan yang sangat spesial dan istimewa dari Istrinya.


Makasih banyak atas dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Jangan lupa untuk mampir ke Novelku yg baru judulnya:


1.Pesona Perawan


2.Dilema antara dua pilihan


by Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


Makassar, Selasa, 26 Juli 2022


__ADS_2