
Selamat Membaca..
Tawa mereka membahana ke segala penjuru ruangan dapur mewah itu. Hingga mengusik tidurnya Alif di pagi itu. Perhatian mereka tertuju pada Alif.
"Ingat jangan ada yang bercakap-cakap jika pangeran kecil kita ada di sini," jelas Dion sebelum kedatangan Alif ke meja makan.
Mereka pun menikmati sarapannya dalam kebisuan hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang mengisi suasana makan mereka di pagi itu.
Kebersamaan itu akan terasa bermakna jika yang ada di dalamnya bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya.
Sebesar apa pun kemelut dalam hidup kalian, tapi usahakan lah untuk berbicara dari hati ke hati dan saling mengingatkan dalam kebaikan serta saling menghargai dan menghormati semua anggota keluarga satu dan yang lainnya. Tidak pandang bulu mau muda atau tua wajib dan harus tetap menanamkan rasa saling menghargai satu sama lain.
Sebesar apa pun kemelut dalam hidup kalian, tapi usahakan lah untuk berbicara dari hati ke hati dan saling mengingatkan dalam kebaikan serta saling menghargai dan menghormati semua anggota keluarga.
"Ya Robbi, terima kasih atas nikmatMu hari ini, jadikanlah hamba selalu berada diantara orang-orang yang bersyukur kepadaMu dalam situasi apapun dan di manapun."
Saat melihat senyuman dari semua anggota keluarganya yang hadir di dalam Apartemen itu.
Alif yang baru saja bergabung dengan mereka, hanya serius menikmati makanannya tanpa ada sepatah kata pun yang tercipta dari mulut imutnya. Yang lainnya pun sama, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara karena mereka sudah sangat paham dan tahu betul sekali kebiasaan dari Alif.
Mereka segera menyelesaikan makannya dan bersiap pulang. Nenek Masitha ingin segera menelpon nomor hpnya Pak Heri Papanya Amairah cucu menantunya itu.
Beliau ingin segera berdiskusi dan membicarakan langkah apa yang akan mereka tempuh untuk memperjuangkan pemulihan nama baiknya Ahmed Muhammad Al-ayyubi Lee kakeknya Martin.
"Nurmala, Mbak akan berbicara terlebih dahulu dengan Heri Papa mertuanya Martin, beliau itu pengacara keluarga, jadi tunggu informasi dari Mbak, baru kamu bertemu dengan dia," terangnya saat bersiap akan pulang.
"Mbak telpon Mbak Maya saja."
Nurmala berharap kali ini berhasil apa yang mereka rencanakan. Cukup yang lalu saja selalu menuai kegagalan.
"Iya, nanti Aku telpon Kamu, dan ingat jangan pergi ke mana-mana jika tidak yang menemani kamu, Mbak akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjagamu dan Alif."
"Iya Mbak, sesuai dengan apa yang Mbak perintahkan."
"Alif sayang, nanti Nenek akan ke sini lagi lain kali, kalau urusan nenek sudah kelar yah, Alif tidak boleh nakal, kalau ada yang Alif inginkan, tanya Mbak Maya atau Emaknya Alif saja, tidak usah sungkan," ucapnya yang duduk di hadapan Alif.
"Baik Nek, tapi Alif boleh ikut sama Nenek gak? Alif mau ketemu sama Adek Delisha, boleh yah Nek?" Rengek Alif lalu menggoyangkan tangan Neneknya.
Ibu Masitha melihat ke arah Nurmala dan meminta persetujuan padanya. Ibu Nirmala tersenyum sebelum mengiyakan permintaan anaknya. Dia lalu menganggukkan kepalanya di hadapan Nenek Masitha.
__ADS_1
Ibu Nurmala berjalan ke arah anaknya berada. Lalu menundukkan sedikit tubuhnya agar bisa sejajar dengan tubuh putranya.
"Kalau Alif mau ikut sama Nenek boleh banget nak, Emak sangat senang kalau Alif mau menemui dedek Delisha."
Ibu Nurmala memegang ke dua pipi anaknya. Alif pun menatap wajah Emaknya kemudian memeluk tubuh itu dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Emak gak akan marah kalau Alif pergi sebentar?" Tanyanya dengan wajah polosnya.
"Emak tidak akan marah kok, lagian apa alasannya Emak harus marah kecuali Alif gak akan balik ke sini lagi menemui Emak baru Emak marah dan sedih."
Alif memeluk lalu menciumi wajah emaknya dengan penuh kasih sayang.
"Bryan, apa Bodyguard nya sudah tiba di sini atau mereka masih di jalan?" Tanya Nenek Masitha.
Bryan yang sedang melihat akun Sosmednya dan tanpa sengaja melihat historinyaArumi. Arumi berada di salah satu Pantai sedang menikmati indahnya sunrise pagi itu seorang diri. Sehingga tidak menyadari dan mendengar apa yang dikatakan oleh Neneknya.
Nenek Masitha yang melihat Bryan sedari tadi menatap dengan serius layar HPnya, memutuskan untuk berjalan sedikit ke arah tempat duduknya Bryan yang kebetulan duduk di ujung kursi.
Nenek Masitha pun ikut melihat ke layar benda pipih itu.Dan wajahnya langsung terkejut setelah melihat siapa dan apa gerangan yang diperhatikan oleh Bryan dengan seriusnya itu hingga mengabaikan panggilannya.
"Apa mereka saling mencintai? Kalau memang mereka saling suka dan pernah ada hubungan sebaiknya Aku beritahukan Hermita untuk menggagalkan dan membatalkan rencana pertunangan mereka."
Dion dan Maya yang melihat kejadian tersebut hanya tersenyum dan saling berpandangan dan berharap Bryan ketahuan dan bisa jujur kepada mereka tentang isi hati dan perasaannya.
"Cinta bisa membuat cowok yang kelihatan kaku dan dingin bisa berubah drastis, jika kekasih pujaan hatinya diganggu oleh pria lain."
Bryan awalnya wajahnya biasa saja dan lebih santai dan selow saja, tapi saat ada tangan yang memeluk pinggang rampingnya Arumi di dalam siaran langsung historinya itu, Bryan seperti orang yang kebakaran jenggot saja.
"Makanya kalau cinta itu diperjuangkan, jangan hanya mencintai dalam diam saja, kan akhirnya seperti ini, wanitamu dijodohkan dengan Aulia pilihan orang tuanya."
Maya sedih melihat sahabatnya harus hidup dalam mencintai seorang gadis dalam diamnya hingga sepuluh tahun lamanya. Dan gadis itu adalah adik sepupu dari calon suaminya.
Tanpa mereka sadari Bryan marah-marah dan ngomel-ngomel seperti seorang ibu-ibu saja.
"Dasar cowok aneh, sudah ditolak tapi,kok ngeyel dan gak mau pergi dari sana," ucapnya yang membuat mereka tersenyum dan ingin tertawa, tapi mereka berusaha untuk menahannya.
"Kalau pria itu ditolak, kenapa Kamu tidak berjuang untuk merebut hatinya dan melamar perempuan itu."
Nenek Masitha sudah duduk di kursi di samping kirinya Bryan. Sedangkan Bryan yang mendengar perkataan dari Nenek Masitha, hanya terdiam. Bryan salah tingkah dan berusaha menahan malu, karena kedapatan sedang kepo dengan sosial media seorang gadis yang notabene adalah keponakan cucunya sendiri.
__ADS_1
Bryan buru-buru mematikan layar HPnya, padahal Ia sangat penasaran dengan kelanjutan dari apa yang akan dilakukan oleh Arumi bersama pria yang ternyata adalah calon tunangannya Arumi.
"Nenek, apa sudah siap pulang?" Tanya Bryan yang grogi dan malu dengan kelakuannya.
"Nenek belum mau pulang dan tidak akan pulang, jika Kamu tidak berterus terang kepada Nenek, siapa cewek itu dan bagimu posisinya cewek itu di dalam hatinya dan hidupmu bagaimana?" Tanya Neneknya yang sudah memegang tangannya Bryan.
Nenek Masitha menunggu Bryan membuka mulutnya untuk berbicara. Yang ada di dalam ruangan itu pun tidak sabar, Apa kah kali ini Bryan akan jujur atau tidak.
Alif dan Emaknya berada di dalam kamarnya karena berganti pakaian. Alif yang ngotot ingin ikut bersama neneknya pulang ke rumahnya. Ibu Nurmala pun akan ikut bersama mereka.
Mereka tidak ingin membiarkan Ibu Nurmala Dewi Sari sendirian di dalam Apartemen mewah itu, walaupun keamanannya cukup terjamin dan termasuk sistem keamanan yang cukup tinggi dan canggih.
Jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg lainnya dengan judul:
...1. Sang Penakluk...
..."Kisah Anak-anaknya Martin dan Amairah"...
...2. Bertahan Dalam Penantian...
...3. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...
Syukur Alhamdulillah FANIA sangat bersyukur karena masih ada yang membaca karya recehanku 🙏.
Makasih banyak Fania ucapkan kepada semua all Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🥰.
Tetap Dukung CYT dengan cara:
Like Setiap Episodenya 👍
GIFT Poin atau Koin seikhlasnya 🎁
Favoritkan untuk mendapatkan informasi Notifikasi nya♥️
Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐
Vote jika masih punya stoknya 👌
...********Bersambung********...
__ADS_1
...by Fania Mikaila AzZahrah...
Takalar, Sulawesi Selatan, Jum'at, 17 Juni 2022