Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB.116. Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Selamat Membaca..


Hati yang awalnya dibuat kegirangan dan berbunga-bunga harus kembali menelan pil pahit dan rasa kecewa yang berkepanjangan. Maya Erlene Kheysya harus kecewa berulang kali, setelah Dion berhasil menghempaskan dirinya dari puncak ketinggian kebahagiaan sesaat yang dia rasakan.


Hati yang awalnya dipenuhi oleh bunga-bunga seperti taman yang menjadi saksi kebahagiannya saat Dion berhasil membawakan sebuah lagu bertema romantis di tengah hamparan bunga mawar merah.


"*Suaranya merdu sangat, untuk aku kah lagu itu dinyanyikan oleh Abang Dion?, semoga saja lagu itu dipersembahkan untukku seorang, tapi jika seperti waktu itu, pasti hati ini akan sulit untuk menerima rasa kecewa itu untuk kesekian kalinya."


"Semoga setelah Kamu mendengar lagu ini, Kamu akan mengungkapkan isi hatimu itu*."


Dion pun berjalan ke arah Maya sambil bernyanyi dan mendendangkan sebuah lagu yang khusus untuk dipersembahkan oleh Dion hanya untuk Maya seorang. Walaupun Dion tidak mengutarakan maksudnya di hadapan Maya.


May tersihir oleh penampilan apik yang disuguhkan oleh Dion, apa lagi dengan suasana yang sangat mendukung, yaitu di tengah Taman yang ditumbuhi aneka macam jenis bunga Mawar.



Suasana dan tempat yang sangat cocok untuk pasangan yang baru mencicipi indahnya cinta akan semakin dibuat mabuk kepayang. Seperti itulah yang dirasakan juga oleh Maya Erlene Kheysa.


Maya tersenyum manis dan malu-malu saat Dion semakin mendekatinya, tapi ketika Dion berada di hadapannya, Dion melangkahkan kakinya melewati tempat berdirinya Maya. Walaupun hanya beberapa centimeter meter saja jarak yang memisahkan mereka.


"I love you.."


"I love you to Bang."


"*Ingat yah Bang, jangan lupa dengan janji Abang."


"Iya Abang ingat dan pasti akan penuhi janji Abang sesuai yang Kamu inginkan, jadi Kamu tidak perlu merisaukan hal tersebut, Kamu cukup mainkan peran kamu dengan sempurna dan mobil yang kamu impikan akan meluncur ke rumah."


"Ok, Makasih banyak Bang."


Cheryl Vania semakin mengeratkan dekapannya ke tubuh Kakak sulungnya itu*.


Kata-kata itu awalnya membuat Maya klepek-klepek dan tersipu malu, tapi kenyataannya tak sejalan dengan ekspetasinya. Maya berharap sekali Dion mengucapakan kata-kata itu di telinganya.


Maya menolehkan kepalanya ke arah Dion yang sudah berada dalam pelukan seorang gadis yang sangat cantik, dengan rambut yang terurai, tingginya kurang lebih hampir sama dengan postur tubuh Maya, mata yang sedikit sipit yang menjadi perempuan yang beruntung.


Hancur berkeping-keping hatinya Maya saat mengetahui jika ucapan dan ungkapan cinta yang dilontarkan dari bibirnya bukan untuknya, tapi untuk cewek lain yang tidak kalah cantik dengannya.


"Ya Allah untuk ke dua kalinya hati ini kembali dihempaskan dari puncak ketinggian hingga ke dasar luka terdalam, sakit sekali melihat pria pujaan hati berpelukan mesra di depan mata dan melakukan hal-hal yang sangat romantis untuk perempuan lain."


"Apa susah banget untuk mengucapkan Aku mencintaimu bang Dion, Maya please ucapkan kata-kata itu."


Hingga Cheryl melonggarkan pelukannya dari abangnya itu, tidak mampu membuat seorang Maya membuka mulutnya dan mengucapakan kata yang ditunggu sekaligus diharapkan oleh Dion. Maya bungkam seribu bahasa. Hanya ke dua bola matanya yang mampu mengisyaratkan sesuatu pergulatan dari dalam Palung hatinya yang terdalam.


"Ya Allah kuatkan hati ini untuk tidak menangis, Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya."


Tapi sekuat apa pun Maya untuk berusaha menahan laju air matanya, semakin kuat juga air mata itu untuk mendesak agar tumpah dan luruh membasahi pipi putih mulusnya. Pertahanan May akhirnya tumbang juga. Air mata yang sedari tadi berusaha untuk dia redam, tapi akhirnya jatuh juga perlahan tapi pasti membasahi Wajahnya.


"Sebaiknya Aku pergi dari sini, semakin Aku berlama-lama di Sini semakin besar rasa sedih dan sakit yang aku rasakan."


Maya pun berlari meninggalkan taman Queen's Mary garden. Hamparan bunga mawar yang sedang bermekaran menjadi saksi bisu betapa hancurnya hati dan perasaan Maya, atas kesalahan pahaman yang terjadi.

__ADS_1


"Aku sudah memantapkan hati ini untuk menolak kembali perjodohanku demi Kamu bang, tapi kalau seperti ini aku terpaksa menerima pertunanganku dengan pria yang sudah dipilihkan oleh ke dua orang tuaku, dan aku tidak akan membuat mereka Kembali kecewa untuk kesekian kalinya."


Maya terus berlari tak tentu arah, Maya berlari hanya mengikuti nalurinya dan jalan yang ia lalui, tanpa memikirkan pandangan aneh dari mata orang-orang yang melihatnya. Bulir-bulir air mata itu terus berjatuhan membasahi pipi moleknya.


"Bang kejar Mbak Maya, jangan sampai gara-gara salah paham, Mbak Maya melakukan hal-hal yang tidak baik dan diluar kendali Bang," ucap Cheryl Vania Aiden Tan Perkasa.


"Apa yang dikatakan oleh Cheryl ada benarnya juga sih, tapi kalau sampai Maya melakukan hal-hal yang bisa melukai dirinya, hal itu akan membuatku akan menyesali seumur hidupku."


Dion pun segera berlari menyusul Maya, dan banyak pikiran yang jelek yang menghantui pikiran dan perasaannya.


"Ya Allah semoga Maya tidak berbuat nekat yang bisa membahayakan keselamatan dirinya."


Dion semakin mempercepat langkahnya untuk mengejar Maya. Tapi usahanya sia-sia karena Dion tidak berhasil menemukan Maya, di sekitar taman itu lagi. Dion pun bergegas ke arah Parkiran mobil dan melanjutkan pencariannya.


"Sayang kamu di mana, Abang mohon jangan lakukan hal-hal yang akan merugikan dirimu sendiri, Please Abang mohon kembalilah May."


Dion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja, agar dirinya bisa mengamati dengan seksama jalan yang dia lewati, Dion celingak-celinguk mencari keberadaan Maya. Dion masih terus mencari Maya.


"Semoga Mbak Maya gak nekat dan tidak bertindak gegabah, dan semoga mereka segera menyadari kenyataan yang ada, Cheryl doakan yang terbaik untuk kalian berdua."


Maya berlarian hingga ke ujung jalan dan menyetop taksi untuk segera mengantarnya pulang ke rumahnya. ke dua matanya sudah bengkak dan sembab dan kemerahan.


"Mau ke mana Mbak?" tanya supir taksi itu yang kira-kira usianya seumuran dengan daddy-nya.


"Kita ke jalan C Pak."


Dion mencoba untuk menghubungi nomor handphone Maya, tapi selalu dirijeck dan Maya pun memutuskan untuk menon aktifkan kartu dan hpnya.


"Untuk apa lagi Abang menghubungiku, apa Abang tidak bosan dan capek buat hatiku terluka, tidak puas kah dirimu hancurkan hatiku ini?"


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, segera tinggalkan pesan setelah nada bit berikut ini."


"Kenapa kamu matikan hpmu sayang, Abang sangat Khawatir dengan keadaan Kamu, Maafkan jika apa yang Abang lakukan ini membuat kamu terluka dan sedih, Abang hanya ingin membuat kamu untuk berkata jujur dan mengungkapkan perasaan kamu yang sebenarnya di hadapan Abang sebelum hari pertunangan kita."


Supir taksi itu kadang mencuri pandang ke arah Maya.


"Sepertinya gadis itu sedang patah hati, anak Muda jaman sekarang terlalu mudah mewek kejer, baru ditolak sekali sedihnya kayak gimana."


"Stop depan pak," ucap Maya sambil merogoh uang dari dalam dompetnya lalu menyodorkan ongkos taksinya.


"Makasih Mbak."


Maya meninggalkan supir taksi tersebut dengan beberapa lembar sisa ongkos tersebut, Supir itu berniat untuk mengembalikan sisa ongkosnya, tapi Maya sudah berada di dalam rumahnya sedangkan Pagar rumahnya yang menjulang tinggi itu pun sudah tertutup rapat, bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk tikus bisa lolos masuk ke dalamnya, saking rapatnya pagar rumah itu.


Pak Supir hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum bahagia karena dapat ongkos sewa taksi yang lebih. Taksi tersebut pun meninggalkan area perumahan elit tersebut.


Maya terus berlari ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan orang-orang yang berada di dalam rumahnya. Maya sama sekali tidak menegur Maminya yang kebetulan berpapasan dengan putrinya tersebut.


"Apa yang terjadi padanya, tumben dia bersikap seperti itu, tapi matanya merah dan sembab, sepertinya Aku harus menelpon jeng Marissa kalau gini."


Maminya terus melangkahkan kakinya menuruni undakan tangga, sedangkan Maya sudah mewek dipojokan kamarnya. Tubuh Maya luruh ke atas lantai keramik dan menangis tersedu-sedu di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


"Aku harus berusaha untuk melupakannya walupun itu sangat sulit dan mustahil, tapi aku harus bisa dan ini demi ke dua orang tuaku, Aku tidak akan mengecewakan mereka lagi, Aku setuju untuk bertunangan dengan pria pilihan Mami putra dari sahabat baiknya."


Maya berdiri lalu bangkit ke atas ranjangnya dan kembali melanjutkan tangisannya.


"Ya Allah kalau Abang Dion bukan jodoh Maya maka jauhkanlah dari hidupku, dan jika Dia adalah jodoh Maya maka dekatkanlah dia untuk ku."


Maya menutup wajahnya menggunakan bantalnya, karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Maya sayangnya Mami, apa Kamu baik-baik saja, Nak?"


Mami Maya terus berusaha agar beliau bisa lolos ke dalam kamar Maya. Sedangkan Maya berpura-pura tertidur pulas dan menutup ke dua telinganya dengan bantal yang dia pegang tadi.


"Tidak ada jawaban dari dalam, apa mungkin dia mandi atau mungkin sudah tertidur, tapi tidur tidak mungkin, karena baru sekitar 15 menit yang lalu kedatangannya, jadi mustahil terjadi.".


ibu Marissa tidak putus asa dan kembali mengetuk pintu itu hingga berulang kali tapi hasilnya masih tetap sama. Pintu itu tidak bergeser atau pun goyang dari posisinya semula.


"Semoga kamu baik-baik saja, Mami harap tidak ada hal jelek yang terjadi di antara kalian, ya Allah lancarkanlah pertunangan putri tunggalku esok hari."


Ibu Marissa pun meninggalkan kamar Maya. Sedangkan Maya tanpa dia sadari ikut terlelap di balik bantal yang menutupi wajahnya.


Ibu Marissa baru saja ingin menelpon calon besannya, ternyata calon menantunya yang terlebih dahulu menghubunginya. Ibu Marissa pun tidak pikir panjang langsung mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum Dion, ada apa nak?"


"Waalaikum salam, Maaf Tante ganggu aktivitasnya, Maya ada gak Tan?"


Dion sangat berharap agar Maya sudah berada di dalam kediamannya. Dan Dion tidak ingin mendengar perkataan yang menyatakan ada sesuatu yang terjadi pada calon istrinya.


Mami Marissa baru ingin menjawab pertanyaan dari Dion, tiba-tiba Mami Marissa mendengar ada suara benda yang jatuh dari arah kamar Maya.


"Suara apa itu?"


"Maksudnya Tante apa, Dion tidak mengerti?"


"Ada suara benda jatuh dari dalam kamarnya Maya,"jawabnya.


Apa yang terjadi pada Maya yah???


Jangan-jangan Maya???


Yang mau tebak silahkan tentang apa yang terjadi pada Maya dan Suara benda apa kah itu??


Yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, ditunggu updatenya besok yah Readers 🙏.


*FANIA tidak akan kapok dan bosan untuk mengucapkan Makasih Banyak kepada kakak Readers yang selalu hadir di setiap Updatenya untuk memberikan dukungannya baik itu untuk sekedar Like saja, atau pun menyempatkan waktunya untuk membaca Novel Recehan Fania 🥰.


Mohon maaf jika ada beberapa kata yang salah atau Typonya 🙏*.


Tetap sisihkan dukungan kalian untuk Cinta Yang Tulus yah ✌️


Dan untuk memberikan dukungan bisa dengan cara Like setiap Babnya, Baca, Rate Bintang 5 Favoritkan agar tidak terputus Notif Setiap Episodenya.

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Senin, 23 Mei 2022


__ADS_2