
Selamat Membaca..
"Suatu nanti jika Aku tahu, siapa sosok orang yang melakukan hal ini, aku pastikan hidupnya menderita hingga kematian enggan menjemputnya."
Denis mengepalkan tangannya, saking kuatnya hingga urat-urat tangannya menonjol, ke dua bola matanya memerah hingga jakungnya naik turun.
Beberapa jam kemudian, pintu ICU terbuka. Tubuh Delisha yang tidak berdaya itu segera di bawah ke dalam ruangan perawatan.
Mereka bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang fatal yang terjadi pada satu-satunya Nona muda di keluarga Lee.
Aisyah dan Dennis mengikuti langkah ke mana ranjang bangkar Delisha di bawah. Dennis sedari tadi hanya terdiam. Wajahnya mengisyaratkan bahwa kemarahan, kebencian, kecewa dan dendam menjadi satu bagian di dalam hatinya.
Dia sudah mengantongi siapa orang yang telah merencanakan semua ini pada adiknya. Walaupun pria yang merenggut mahkota adiknya, tidak ketahuan hingga sekarang.
"Liora tunggu lah pembalasanku, Aku tidak akan membiarkan Kamu hidup bahagia walau sedetik pun."
Gigi dan rahangnya saling gemelatuk, kilatan amarah terpancar jelas dari ke dua bola matanya. Dia sudah berjanji akan melakukan apa pun itu, yang penting dia bisa membuat Liora menderita.
Aisyah yang melihat hal tersebut, merinding dan yakin jika masalah ini akan membuat Dennis memiliki dendam yang membara.
Delisha sudah beristirahat di dalam kamar VVIP. Wajahnya teduh, tenang tidak seperti awal mereka menemukan Delisha di dalam kamar hotel.
Aisyah dan Dennis belum melakukan apa pun cara untuk mencegah kehamilan dari Delisha yang diakibatkan oleh kejadian tersebut. Mereka menunggu Delisha bangun dari pingsannya.
"Semua prosedur kesehatan yang Kamu inginkan, dokter sudah menjalankan sesuai dengan perintah dan petunjukmu," Aisyah memandang lekat wajah Dennis yang sedari tadi hanya terdiam.
"Oke," jawabnya singkat.
"Bagaimana dengan Tuan besar dan Daddy kalian?" Aisyah ingin mengetahui reaksi dan tanggapan dari perkataannya melalui mulut Dennis.
"Tidak boleh siapa pun yang tahu dengan apa yang terjadi pada Delisha, setelah dari sini, Kita harus berangkat ke Amerika dan di sana kita akan mulai hidup baru, tinggalkan London segera mungkin."
Dennis membalas memandang Aisyah lalu berucap, "serahkan semuanya padaku, Aku yang akan bicara dengan Kakek dan Mommy dengan masalah ini."
Jam di dinding berdentang dengan nyaring di keheningan malam, di dalam kamar perawatan VVIP room. Seorang gadis remaja terbaring lemah tak berdaya.
Beberapa jam kemudian, Delisha sudah sadar dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh dokter pada tubuhnya.
__ADS_1
Delisha mengerjapkan matanya berulang-ulang, cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya membuatnya berkedip-kedip berulang kali.
Dia lalu mengarahkan pandangannya ke seluruh arah, dan sangat yakin jika dirinya sudah tidak lagi di dalam Kamar Hotel lucknat itu.
Ia melihat Kakak ke duanya dan Aisyah berbaring. Delisa menggenggam erat ujung selimutnya hingga membuat selimut itu tertarik ujungnya hingga kusut.
Arah pandangnya beralih ke daerah sekitar tubuhnya yang penuh dengan luka dan perban.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun orang yang telah melakukan semua ini padaku, aku ingin melihat dia menderita melebihi apa yang Aku rasakan."
Tragedi yang dialaminya membuatnya seketika berfikiran layaknya seorang perempuan yang sudah cukup umur. Karena, cobaan tersebut mampu mengubahnya dalam sekejap mata.
"Semoga kelak nanti, Aku tidak akan pernah bertemu apa lagi berhubungan dengan pria yang merenggut kesucianku ini."
Aku tidak menyimpan dendam, tapi Aku mengingat fakta-fakta. Kadang lebih baik diam daripada menjelaskan apa yang kita rasakan, karena menyakitkan ketika mereka. bisa mendengar, tapi tak bisa mengerti.
Delisha tidak terus hidup dalam penyesalan, marah dan mengamuk tidak akan menyelesaikan masalah yang dia hadapi.
Enam tahun kemudian...
Di dalam sebuah rumah yang cukup besar, seorang pria dan perempuan saling berdebat satu sama lain.
"Kakak, Delisha sudah dewasa loh, bukan gadis remaja lagi," dengan memandang jengah ke arah saudara kembarnya.
Sesekali ia mengunyah makanannya. Dennis kali ini tidak menyetujui dengan apa yang diinginkan oleh adiknya.
"Pokoknya Kakak sudah memutuskan kita akan ke London terlebih dahulu setelah itu, kita akan terbang ke Jakarta dan akan menetap untuk selamanya di sana."
"Tapi, Kakak please, Del gak mau ke London," rayunya kepada kakaknya.
"Tidak ada tapi-tapian lagi oke."
Denis berdiri dari posisi duduknya, dengan pakaian stelan kerja yang membungkus tubuh atletisnya membuatnya semakin tampan dan dewasa.
Enam tahun sudah berlalu, mereka sudah mampu untuk menata kehidupan mereka dengan baik.
Perjalanan hidup yang mereka lalui membuatnya menjadi lebih dewasa dan kuat dari usia ke duanya.
__ADS_1
22 tahun usia yang sangat masih muda, tapi mereka mampu memajukan perusahaan Kakek dan Daddy-nya yang ada di Amerika.
Tapi, hingga detik itu juga Dennis belum menemukan petunjuk apa pun tentang Liora yang seperti di telan bumi saja.
Keyakinan Dennis sangat kuat, jika suatu saat nanti di waktu yang tepat dia akan bertemu dengan gadis yang telah menghancurkan masa depan adik kecilnya.
Delisha memandang ke arah Aisyah yang duduk di samping kursi yang diduduki oleh Kakaknya.
Del memandang penuh harap kepada Aisyah, agar dirinya mendapatkan bala bantuan dari ibu keduanya.
Aisyah bagi ke dua anak kembarnya Martin dan Amairah sudah menganggap Aisyah adalah ibunya. Bahkan mereka sudah memutuskan untuk memanggil Aisyah dengan sebutan Ibu.
Aisyah dan keluarganya tidak ada yang keberatan dengan hal tersebut. Mereka malahan bahagia karena mengingat betapa besar jasa-jasa dan kebaikan Aisyah yang tulus dia curahkan dengan segenap hati hanya untuk anak-anak Amairah. Hingga harus memutuskan untuk hidup sendiri tanpa ada niat untuk menikah.
Denis melenggang pergi dari hadapan adiknya yang misruh-misruh tidak jelas, karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Kalian memang jahat sama aku, huhuhu," akting nangisnya sangat sempurna tapi, tidak mendapatkan respon yang baik dari saudaranya.
Aisyah hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu Nona mudanya yang kadangkala sangat dewasa dan bijak, dan kadang akan berubah manja seperti saat ini.
Beberapa saat kemudian. Dennis sudah dalam perjalanan akan berangkat ke Perusahaan-perusahaan Kakeknya. Tapi, entah kenapa hari ini memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri tanpa diantar oleh supir pribadinya.
Dennis menikmati semilir angin dingin pagi hari di Kota Los Angeles, Amerika serikat. Pagi suasananya cukup cerah tapi karena masih berada di penghujung musim dingin membuat pagi itu masih terasa dingin di setiap sudut Kota.
Karena kedinginan dia sesekali menggosok tangannya silih berganti. Hingga konsentrasinya buyar saat mengemudikan mobilnya.
Ciiiiiiitttttttttttttt......
Suara gesekan antara aspal dengan ban mobil forche tipe 911nya membuat suasana pagi yang sedikit legam itu menjadi bising. Mobil yang dikendarai Denis tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Dennis memukul setir mobilnya sebelum turun dari mobilnya untuk memeriksa keadaan. Tapi, matanya tak berkedip melihat apa yang ditabraknya. Senyumannya langsung terbit dari wajah tampannya.
Bukannya menolong malah hanya tersenyum penuh arti dan maksud yang terselubung.
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 02 Juli 2022