Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB.193. Kecemasan Dennis


__ADS_3

Selamat Membaca..


Abimanyu bisa bernafas lega saat Dokter selesai menangani kondisi Lee. Setelah diperbolehkan masuk untuk melihat dan menjenguk keadaan Lee barulah dia tidak cemas lagi.


Serasa ada batu besar yang terlepas dari atas pundaknya. Senyuman sesekali menghiasi wajahnya yang tampan itu.


Dia juga mengurus semua adminitrasi pemindahan ke dalam kamar perawatan VVIP. Abimanyu tidak ingin Lee mendapatkan perawatan medis yang setengah-setengah saja,dia ingin yang paling terbaik.


Abimanyu kembali menelpon nomor hp asisten pribadinya. Menurutnya sudah beberapa dia serahi tugas, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda dia akan mendapatkan informasi tersebut.


Nathan untuk kali ini mengalami kegagalan disaat diberikan tanggung jawab. Setiap kali mencari informasi yang akurat tentang Lee, usahanya selalu menemui kegagalan.


"Siapa sebenarnya anak kecil ini? Kenapa sangat sulit untuk mengetahui identitasnya?"


Nathan geleng-geleng kepala dan hampir putus asa. Dia pun teringat kepada sahabatnya yang bisa membantunya, tetapi sayangnya. Nomor hp orang itu belum aktif hingga sekarang.


"Kalau gini, aku harus bicara bagaimana Tuan Muda? Bisa-bisa bonus yang dijanjikan dibatalkan."


Dia sekali lagi mencoba menghubungi nomor handphone Bryan Regan Adams.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga kali ini berhasil," Wajahnya penuh pengharapan sembari menekan tombol power untuk mencari nama Bryan.


Tut.. Tut.. Tut..


"Alhamdulillah, nomornya sudah aktif, moga segera diangkat telponnya."


Dan harapan Nathan akhirnya terkabul juga, Bryan sudah mengangkat telponnya.


"Halo, Assalamu alaikum Nathan," jawabnya di seberang telepon.


"Waalaikum salam Bryan, Alhamdulillah Kamu angkat juga panggilanku," senyumannya mengembang dan sudah membayangkan hadiah bonus yang dijanjikan oleh Abimanyu.


"Heeemmm, ada apa emang, sepertinya Kamu mengalami kesulitan?" Tanyanya sambil menyesap sesekali kopi buatan seseorang yang paling spesial dalam hidupnya.


Arumi yang berada di sampingnya ikut mendekatkan kupingnya ke hp suami sirinya. Bryan sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh pujaan hatinya sekaligus Istrinya itu.


Minggu lalu, mereka memutuskan untuk menikah diam-diam dari keluarga besarnya. Hanya dihadiri oleh Martin dan kakak sepupunya yaitu Dion sebagai wali nikahnya. Setelah mereka menikah, Memutuskan untuk berbulan madu ke Dubai.


Dion dan Martin yang akan menghadapi dan berbicara dengan keluarga besar mereka. Jika suatu saat nanti, ada yang berniat untuk menggugat atau pun menentang pernikahan mereka.


Arumi tidur di atas pahanya Bryan, sedangkan tangannya Bryan mengelus lembut rambutnya Arumi yang panjang itu.


"Aku diserahi tugas oleh Bosku, tetapi sudah hampir empat jam aku mencari identitasnya hingga detik ini selalu mengalami kegagalan," jelasnya.


"Ooohh, kirim foto orangnya sekarang juga," ujarnya yang memberikan kode pada Arumi untuk mengambil laptopnya.


Arumi segera bangun dari tidurnya setelah mendapatkan kode dari suaminya.

__ADS_1


"Gimana, apa sudah terkirim ke nomor hpmu Bryan?" Tanya Nathan yang ingin tahu apa yang dia kirim sudah berhasil.


Bryan memasang headset bluetooth di telinganya untuk memudahkannya dalam melakukan pekerjaan.


Bryan membuka chat yang dikirim oleh Nathan. Betapa terkejutnya saat melihat dan mengetahui siapa pemilik foto yang Nathan.


"Lee," gumamnya.


"Halo tadi kamu bilang apa Bryan? Sepertinya tadi, Kamu bicara sesuatu,"tanyanya yang ingin memastikan.


Arumi yang melihat perubahan drastis dari wajah suaminya, segera mendekat ke arah Bryan sekaligus penasaran dengan apa yang membuat suaminya seperti itu.


"Mas ada apa, apa yang terjadi?" Tanyanya yang kebingungan melihat raut wajah Bryan yang berubah drastis.


"Oke, beri aku waktu satu jam untuk mengetahuinya dan ingat seperti biasa bayarannya di transfer saja," terang Bryan.


"Kalau masalah itu Kamu tenang saja yang penting saya dapat hasil secepatnya," ujar Nathan.


Nathan sudah kembali memeriksa beberapa dokumen berkas penting yang sedari tadi menumpuk menunggunya untuk dikerjakan.


"Emang ada apa dengan anak kecil ini? Tanya Bryan yang ingin mengorek informasi dari Nathan.


"Tadi pagi, Tuanku tanpa sengaja menabrak seorang anak kecil, tapi hingga sekarang orang tuanya belum mengetahui hal tersebut dikarenakan ke dua orang tuanya berasal dari Thailand," jelasnya.


"What's!!! Apa yang Kamu katakan?" Tanyanya yang shock mendengar jika Lee ditabrak dan sekarang ada di Rumah Sakit.


Tut.. Tut..


"Mas apa yang terjadi?" Tanya Arumi yang sudah kepo melihat tingkah laku suaminya.


Bryan sedikit pun tidak menjawab pertanyaan dari istrinya, dia hanya mencari nomor hp Dennis di dalam kontak hpnya.


"Halo, assalamu alaikum Tuan Muda," ucapnya.


"Waalaikum salam, ada apa Bryan?" Dengan pandangannya masih tertuju pada laptop yang ada di depannya.


"Lee ada di RS, tadi pagi dia keserempet mobil dan Pemilik Perusahaan The Sun ingin mengetahui identitas asli dari Lee," tuturnya.


"Apa!!!! Itu tidak mungkin Bryan, tadi pagi Delisha sendiri yang mengantar Lee ke sekolahnya, kalau gitu aku akan segera ke RS tersebut," ujarnya lalu meraih jas dan kunci mobilnya.


"Tuan Muda, tapi tunggu dulu apa yang harus aku katakan kepada temanku tentang Lee?" Tanyanya yang kebingungan juga.


"Katakan saja sesuai yang dia inginkan yang penting jangan sebut Delisha adalah Ibu kandungnya dari Abimana Aryasatya Lee."


Bryan kemudian mematikan sambungan teleponnya. Sedangkan Dennis bergegas ke RS. Dia mengabari kepada asisten pribadinya dan sekretarisnya, kalau dia akan pergi keluar.


Dennis mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia bahkan tidak mengindahkan lampu merah. Bahkan belum saatnya jalan, dia sudah melajukan mobilnya.

__ADS_1


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mobilnya sudah terparkir di depan Loby RS DA. Dia terus berjalan ke arah tempat informasi untuk bertanya di mana ruangan perawatan Lee.


"Maaf pasien atas nama Lee, di sini tidak Pak, mungkin ada yang lebih spesifik yang bisa kami tandai?" Tanya Perawat tersebut.


"Dia anak SD Internasional School, umurnya sekitar 8 tahun lebih rambutnya agak pirang, tingginya kira-kira setinggi dadaku," jelasnya Dennis.


"Tunggu yah Pak saya cari anak yang sesuai dengan ciri-ciri yang Bapak maksudkan," tuturnya dengan kembali fokus ke komputernya.


Dennis berdiri dengan kecemasan yang melandanya. Dia sudah sangat khawatir dengan kondisi keponakannya.


"Ya Allah semoga Lee baik-baik saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu sama keponakanku, aku tidak tahu harus bilang apa sama Maminya."


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, perawat itu sudah memberikan informasi yang sangat akurat.


"Makasih banyak Sus," ujarnya lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksudkan oleh Perawat tersebut.


Langkahnya semakin cepat, dia dibuat khawatir dengan keadaan Lee. Dia berlari hingga tatapan dari orang-orang melihatnya dengan aneh. Tetapi, dia tidak perduli sama sekali. Yang paling penting adalah adalah dia bisa melihat kondisi Lee saat itu juga.


Langkahnya terhenti pas di depan nomor kamar 202 VVIP. Dia tanpa aba-aba dan dan meminta ijin ataupun permisi langsung mendorong pintu itu agar segera terbuka.


Pandangannya langsung tertuju pada sosok seorang anak kecil laki-laki yang terbaring lemah di atas Bangkar ranjang RS.


"Lee," teriaknya.


Dennis mendekap tubuh kecil Lee dengan deraian air matanya. Dia menangis tersedu-sedu melihat kondisi Lee yang di kepalanya penuh dengan perban dan di bagian tangan serta kakinya pun terdapat beberapa luka yang sedikit sudah mulai mengering.


"Lee, maafkan Uncle yang sudah tidak menjagamu dengan baik, ini semua salah Uncle yang sudah lalai," ratap Dennis.


Dia menumpahkan segala keresahan hatinya. Ketakutan dan kecemasannya bercampur menjadi satu.


"Lee maafkan Uncle yah Nak, kalau Mami Kamu tahu seperti ini, pasti Mamimu akan memarahi Uncle," terangnya.


Dennis tidak mengetahui dan menyadari bahwa seseorang sedari tadi memperhatikannya.


Pria itu awalnya tertidur di atas kursi panjang, tetapi suara pintu dan isak tangisnya Dennis yang telah mengusik ketenangan tidurnya di siang hari itu.


Pria itu tidak lain adalah Abimanyu. Dia orang yang telah ikut andil dalam kecelakaan yang dialami oleh Lee, walaupun sebenarnya Lee sendiri yang bersalah sebenarnya yang berlari di tengah jalan dan terjatuh.


Abimanyu perlahan mendekati Dennis. Dia memegang pundaknya Dennis yang membuat Dia terkejut.


"Kamu!!!!"


Mereka sama-sama saling terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus.


By Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


Takalar, Kamis 07 Juli 2022


__ADS_2