
Selamat Membaca..
Nadia dan Bram sudah bisa bernafas lega setelah mereka bertemu dan bercerita tentang kemelut dalam hubungan yang mereka hadapi. Sesulit dan sepelik apa pun masalah itu jika dirinya hadapi dengan kepala dingin dan saling membuang ego masing-masing insya Allah masalah itu akan bisa diatasi dengan baik tanpa ada hati yang terluka.
Nadia memutuskan untuk pulang ke kantor karena masih lama jam pulang. Tapi karena saking bahagianya Nadia sampai tidak sadar dengan langkahnya. Hingga kaki Nadia tersandung batu.
"aaahhh" ucap Nadia yang hampir saja cium tanah air Beta.
Tetapi sebelum itu terjadi ada tangan yang halus dan lembut meraih tubuh Nadia. Sedangkan Nadia sudah merasa kalau dirinya sudah tersungkur dan nyungsep ke atas rumput taman.
"Kok tidak ada yang sakit yah?." tanya Nadia kepada dirinya sendiri yang memeriksa perutnya.
Nadia heran dengan sosok yang menyelamatkan dirinya. Cantik itu tanggapan pertama yang Nadia dapatkan setelah melihat wajah orang yang menolongnya.
"Makasih Bu" ucap Nadia yang berterima kasih kepada orang yang menolongnya.
"Kalau jalan hati-hati yah Dek, ingat kamu itu sedang hamil" ucap Ibu tersebut.
"Makasih banyak Bu atas pertolongan Ibu, seandainya ibu tidak ada Nadia tidak akan bisa bayangin apa yang terjadi kepadaku" ucap Nadia lagi yang sangat bersyukur karena telah ditolong.
"Ayok duduk dulu dek, gak baik kita ngomongnya sambil berdiri" ajak Ibu itu sambil duduk di kursi taman yang tadi diduduki oleh Bram dan Nadia.
"Andai saja ibu tidak ada mungkin aku sudah di rumah sakit" ucap Nadia.
"Berterima kasihlah sama Allah karena Allah yang menolong kamu melalui tangan ibu" ucap ibu itu.
"Alhamdulillah Makasih banyak ya Allah" ucap Nadia yang tersenyum malu-malu.
"Kenalkan nama ibu Hernita Perkasa Wijaya" ucap ibu itu yang memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya ke arah Nadia.
"Nadia Wulandari Nasution" jawab Nadia dengan malu-malu.
"Sudah berapa bulan kandunganmu Nad?." tanya ibu Hernita.
"Alhamdulillah sudah jalan 5 bulan Bu." Jawab Nadia yang malu-malu.
"Alhamdulillah kalau gitu Dek, jaga baik-baik kandunganmu Nak" ucap Ibu Hernita
"Sepertinya ibu bukan orang asli kota S yah? karena aku dengar cara bicara ibu yang beda dengan masyarakat asli kota S, maaf jangan tersinggung ibu" ucap Nadia yang tidak ingin Ibu Hernita tidak tersinggung.
"Iya, Aku hanya jalan-jalan ke sini, kebetulan Suamiku ke sini karena mengurus Cabang usahanya dan aku tinggalnya di kota M." ucap Ibu Hernita.
"Ohh gitu yah Bu" Ucap Nadia.
Mereka menghabiskan waktunya untuk berbincang-bincang santai sampai sore hari. Nadia pamit setelah sudah mau masuk waktu Magrib.
__ADS_1
"Ibu aku pamit dulu yah, udah magrib soalnya" ucap Nadia.
"Boleh ibu minta nomor hp kamu, mungkin besok kalau ibu butuh teman aku bisa minta tolong sama kamu untuk temani Ibu jalan-jalan" ucap Ibu Hernita.
"Ini ibu nomor hpnya Nadia" ucap Nadia lalu menyerahkan hpnya ke tangan Ibu Hernita.
"Kalau gitu ibu pamit yah, nanti ibu telpon kamu yah gak apa-apa kan?." tanya Ibu Hernita.
"Silahkan Bu, Nadia senang jika ibu menelpon Nadia" ucap Nadia lagi.
Mereka pun berpisah dan Nadia kembali ke rumahnya karena sudah Waktu pulang kerja. Sedangkan Ibu Hernita melanjutkan perjalanannya sambil kembali berkeliling di Kota tempat kelahirannya. Ibu Hernita meneteskan air matanya ketika mengingat masa-masa Dia bersama orang tua dan saudaranya.
"Kakak kalian di mana, apa kalian baik-baik saja?." tanya Hernita yang menghapus jejak air matanya.
Kerinduan yang dirasakannya hingga saat ini begitu besar. Sejak perpisahan mereka 23 tahun lalu hingga detik ini.
"Sekarang kita ke mana Bu?." tanya Supir pribadinya.
"Kita keliling kota saja dulu, besok pagi baru kamu antar saya ke pemakaman" ucap Ibu Hermita.
"Baik Bu" ucap pak Supir.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ibu Hernita berteriak kencang kepada supirnya untuk segera menghentikan laju mobilnya. Pak supir tersebut segera merem mendadak mobilnya. Suara ban yang berdecit dengan keras membuat Axel dan Mbak Marni kaget dan refleks melihat ke arah sumber suara tersebut.
"Grandma Maafkan Axel yah, Axel tidak sengaja" ucap Axel yang memegang telinganya jika melakukan kesalahan dan akan meminta maaf.
Ibu Hernita tersenyum ke arah Axel yang menurutnya tingkah bocah tersebut lucu.
Ibu Hernita kemudian jongkok dan menyamakan tinggi badannya dengan Axel. Axel yang didekati oleh Ibu Hernita tidak goyang sedikit pun dari posisinya semula.
"Ini bolanya Nak, kamu kalau main harus hati-hati ingat ini jalan yang dilalui banyak kendaraan" ucap ibu Hernita sambil menyodorkan bola tersebut ke tangan Axel.
"Makasih banyak Grandma, Axel akan hati-hati nanti jika main lagi sama Mbak Marni" ucap Axel.
Axel yang lagi main sepeda.
"Kamu sangat lucu, nama kamu siapa??." tanya ibu Hernita yang mengelus kepala Axel dengan kedua tangannya.
"Axel Muhammad elrumi" jawab Axel dengan Suara lantangnya.
"Nama yang bagus" ucap Ibu Hernita.
"Ayok kita pulang Axel, entar Moms cari Axel lagi" ucap Mbak Marni yang mengajak Axel untuk pulang.
__ADS_1
"Grandma mau ikut gak sama Axel, tadi pagi Mommy Axel buat kue yang enak yang banyak sekali" ucap Axel dengan gayanya yang menggambarkan kalau kuenya banyak dengan menggunakan tangannya yang langsung membuat Ibu Hernita tersenyum melihat tingkah lucu Axel.
"Tidak apa-apa kalau Grandma ikut Axel pulang, apa mommynya Axel tidak marah?." tanya Ibu Hermita.
"Mommy senang kalau Axel punya banyak teman yang mau makan kue buatan Mommy, Mommy Axel tidak suka marah-marah tapi suka ngomel-ngomel saja kalau Axel hamburin mainanan Axel kok Grandma" ucap polos Axel.
Ibu Hernita hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Axel.
"Grandma ikut ke rumah Axel kalau gitu" ucap Ibu Hernita yang sudah berjalan sambil memegang tangan kecil Axel.
Mereka berjalan beberapa meter dari arah taman untuk sampai ke rumah Axel.
"Assalamu alaikum Moms, Axel sudah pulang" ucap salam Axel yang tahu kalau mommynya sudah pulang karena mobilnya Amairah sudah terparkir rapi di garasi.
Mobil yang Amairah beli dari tabungannya sendiri selama bekerja di perusahaan tempat dia bekerja dan bulan ini Amairah mendapatkan bonus yang Lumayan banyak karena berkat sumbangsihnya dalam proyek Mega raksasa yang dia garap oleh dirinya beserta rekan kerjanya yang berhasil sehingga mereka mendapat bonus dari perusahaan pusat.
"Waalaikum salam" ucap Amairah setelah pintu rumah yang bercat hijau itu terbuka lebar.
Senyuman Amairah yang begitu manis tanpa gula
Amairah segera membuka pintu Rumahnya setelah mendengar suara putranya. Amairah menyambut Axel dengan senyuman Khasnya yang membuat siapa pun akan meleleh jika melihat senyuman Manis dari Amairah begitu pun pula yang dirasakan oleh Ibu Hernita yang kembali teringat dengan senyum kakak iparnya.
Ini bonus visualnya Herman Perkasa
Sedangkan yang ini visual Suaminya Ibu Hernita Agung Wijaya pemilik perusahaan PT. Alena Tekstil group.
Visualnya ibu Hernita masuk nyari yang cocok
Bersambung..
Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang telah memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🙏.
Tetap Dukung CYT yah dengan Cara Like, Favoritkan Rate Bintang 5 dan FAVORITKAN yah.
Makasih banyak..
by fania Mikaila AzZahrah
Makassar, 31 Maret 2022
__ADS_1