Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
Bab. 217. Senyum Bahagia Axel


__ADS_3

Selamat Membaca..


Wajahnya yang sedari tadi sumringah sekarang tergantikan dengan wajahnya yang sedih mendengar perkataan dari Camelia.


"Ternyata dia sudah punya suami dan juga anak, aku harus gimana lagi kalau kenyataannya harus berakhir seperti ini."


Aisyah dan Nathan serta Dennis menatap iba ke arah Axel. Untuk pertama kalinya jatuh cinta tapi diwaktu yang bersamaan harus terhempas rasa yang sudah perlahan muncul di dalam dadanya.


Axel kembali murung, wajahnya tampak seperti orang yang menderita penyakit parah saja. Semua yang ada di sana ikut menatap iba Axel setelah mendengar penuturan dari Camelia.


Aisyah tetap bersikukuh untuk membantu Axel dekat dengan Camelia. Dia pun sudah mengirimkan chat ke nomor hpnya Bryan Adams untuk menyelidiki status dari Camelia.


Tiinggg…


Hp Aisyah berdering dan bergetar dalam waktu yang bersamaan, dia pun buru-buru untuk memeriksa pesan chat yang baru saja masuk ke dalam aplikasi hpnya yang berlogo warna hijau itu.


Tidak butuh waktu lama, Aisyah sudah mengantongi informasi tentang biodata Camelia secara detail. Aisyah langsung tersenyum bahagia yang membuat Nathan kepo dan penasaran yang ingin mengetahui apa penyebab dari calon istrinya yang tinggal tiga hari lagi mereka akan menikah.


Dia memajukan tubuhnya ke arah Aisyah, hingga kedua matanya sanggup membaca dengan jelas isi dari pesan yang dikirim oleh Bryan.


"Apa janda!!!!" Teriak Nathan yang langsung mendapat cubitan mesra dari Aisyah hingga ia meringis kesakitan.


Aisyah melototkan matanya ke arah Nathan agar kekasihnya itu terdiam dan berhenti untuk heboh. Sedangkan yang lain saling berpandangan melihat interaksi yang terjadi antara Nathan dan Aisyah.


"Kalian kenapa? Kok aku perhatikan heboh banget seperti seorang yang menang lotre saja," terang Dennis yang menatap jengah ke arah mereka yang menyandarkan tubuhnya pada tembok walaupun dia juga sedang mengalami pergolakan batin.


Nathan merasakan sedikit perih di kulitnya gara-gara cubitan yang dilakukan oleh Aisyah.


"Tidak apa-apa kok, aku hanya terkejut biasa saja," ucap Nathan yang berusaha menutupi rasa sakitnya dengan tertawa cekikikan.


Dennis terdiam sesaat setelah berbicara seperti itu ke arah Nathaniel. Wajah perempuan yang ditemuinya kemarin berhasil menyita separuh waktunya hari ini. Dia tidak menyangka jika akan kembali dipertemukan dalam kondisi yang tidak biasa.


"Apa dia datang untuk membalas dendam atas perlakuanku malam itu?"


Dennis kembali terbayang-bayang malam yang begitu panas yang mereka lewati bersama. Walaupun sedikit pun waktu itu, Dennis melakukannya tanpa ada rasa cinta hanya sekedar ingin membalas perbuatannya pada Delisha dulu.


Senyumannya selalu menghantui langkahnya dalam menapaki hidup ini selama tiga tahun terakhir.

__ADS_1


"Ya Allah.. hapuslah bayang-bayangnya dari dalam pikiran dan hatiku, aku tidak sanggup jika harus terus seperti ini."


Hingga dia terlonjak kaget saat seseorang memukul pelan lengan nya.


"Eeehh apa!!" Reaksi Dennis yang dipukuli oleh Nathan.


Mereka sedari tadi memperhatikan Nathan yang kebanyakan diam dari biasanya. Walaupun sesekali menimpali pembicaraan mereka.


"Ada apa Tuan Muda?"tanya Nathan.


"Ehh tidak apa-apa kok Pak Nathan, saya hanya kepikiran dengan Mommy Amairah," jawabnya dengan sedikit berbohong untuk menutupi kebenaran yang ada.


"Oh gitu," balas Nathan.


"Jadi bagaimana Mbak Camelia, apa bersedia untuk menjadi perawat pribadinya kakakku selama dia sakit hingga sembuh total nanti?" Tanya Dennis yang menatap ke arah Camelia.


Sedangkan Camelia yang ditatap seperti itu terdiam dan teringat dengan putri kecilnya di rumah.


"Kami menawarkan kerjasama kepada Mbak sebagai suster pribadinya tuan muda kami, dan gaji yang kami berikan cukup tinggi dan lagian kami sudah mengkonfirmasi kepada pemilik RS DA untuk meminta izin selama sebulan penuh," terangnya Aisyah.


Camelia sebenarnya senang karena dijanjikan oleh mereka gaji yang lumayan cukup besar jika dibandingkan dengan gajinya di RS. Aisyah memberikan gaji empat kali lipat dari gajinya selama ini.


"Apa aku terima saja, uang itu bisa aku pakai untuk membayar tempat penitipannya Zahrah yang sudah menunggak tiga bulan dan sisanya bisa aku tabung."


"Jadi apa keputusan dari Mbak Camelia?" Tanya Aisyah yang berhasil membuyarkan lamunannya Camelia.


"Eeehhh, saya bersedia menerima tawaran pekerjaan Anda," jawabnya.


Perkataan dari bibirnya Camelia membuat Axel bangkit dari tidurnya dan tersenyum penuh arti.


"Aku dapat kesempatan emas kalau gini, Aisyah memang sangat mengerti dengan yang aku inginkan, thanks."


Axel satu persatu memandangi mereka yang kebetulan ada di dalam ruangan itu.


"Tapi persyaratannya apa saja Bu?" Tanyanya Camelia yang sedikit salah tingkah jika tatapan matanya bertemu dengan Axel yang setajam mata elang itu.


Perempuan mana yang tidak akan grogi jika dipandang pria ganteng, tampan, kaya dan senyumannya yang selalu membuat hati para wanita klepek-klepek.

__ADS_1


"Syaratnya Mbak harus merawat dan menjaga serta melayani semua kebutuhan dari tahun Tuan Muda Axel, jadi dengan kata lain Mbak akan tinggal di rumah kami selama satu bulan penuh," terangnya.


"Apa!!!" Reaksi dari Camelia membuat semua pandangan mata tertuju pada sosok Camelia suster cantik yang berhasil merebut hatinya Axel.


"Apa gajinya kurang atau kah Anda keberatan dengan persyaratan yang saya ajukan?" Tanya Aisyah pada Camelia yang menundukkan kepalanya saat kembali dipandangi oleh Axel sedari tadi.


"Alhamdulillah, kalau masalah gajinya sudah Lumayan tinggi bahkan sangat besar Bu, hanya saja gimana dengan anakku Bu kalau saya harus tinggal beberapa hari di rumah ibu?" Tanyanya dengan sedikit sendu.


"Oh tidak masalah Mbak yang penting Mbak sudah bersedia dan siap untuk bekerja, Mbak bisa membawa bersama Mbak juga, dan kami tidak merisaukan masalah putrinya Mbak," jelas Aisyah.


Setelah mereka berbincang-bincang santai dan mendapatkan kesepakatan perjanjian kerja sama, Aisyah dan yang lainnya pulang ke rumahnya masing-masing.


Sedangkan Delisha masih di rumah sakit untuk menjaga Abi yang juga di rawat di sana. Delisha dengan telaten merawat Abimanyu yang tidak leluasa untuk bergerak.


Seperti sekarang ini, Abimanyu ingin masuk ke dalam toilet tapi dia segan untuk meminta bantuannya Delisha. Dia pun memutuskan untuk berjalan sendiri tanpa membangunkan Delisha yang baru beberapa menit tertidur pulas.


Abi turun dari ranjangnya dengan sangat hati-hati, tapi tanpa sengaja botol cairan infusnya terjatuh ke atas lantai, yang menyebabkan suara sehingga Delisha terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya berulang-ulang kali untuk menyesuaikan sinar cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya.


"Kenapa juga botol cairan ini terjatuh segala lagi."


Setelah merasa cukup baik,dia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan terutama ke tempat ranjang dimana Abimanyu berada.


"Abang!!!" Teriak Delisha yang mencari keberadaan Abimanyu.


Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur tapi matanya melihat sosok pria tinggi besar yang berdiri tegak di sekitar pintu kamar mandi. Dia pun segera mempercepat langkahnya.


"Abang kalau butuh sesuatu kenapa gak bangunin Delisha saja, lihat ada darah di dalam selangnya Abang," tuturnya dengan penuh rasa cemasnya.


"Maaf, Abang tadi melihat kamu tertidur pulas jadi Abang tidak mau mengganggumu," jawabnya dengan tersenyum ke arah Delisha yang sudah mengambilnya.


Delisha membantu Abimanyu ke dalam kamar mandi dia memasang botol infusnya ke atas tiang yang tersedia di dalam sana.


"Kamu tunggu Abang di luar saja takutnya nanti kamu ketakutan lagi lihat yang dibawah," tutur Abimanyu dengan tawa garingnya.


"Kenapa harus takut lagian sudah pernah lihat juga bentuknya gimana," balesnya sembari tersenyum lalu berjalan ke arah luar.


Abi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Delisha yang membuatnya harus kembali mengingat kejadian malam itu.

__ADS_1


"Kenapa mulutku ini bisa nyerocos gak jelas yah, apa nanti tanggapannya Abang." Dia Terus menyesali perbuatannya yang meluncur tanpa disaring terlebih dahulu.


Delisha bersandar di dinding dengan menutup wajahnya menggunakan tangannya. Dia tidak mengira jika akan spontan berbicara seperti itu. Wajahnya memerah menahan rasa malunya seperti merahnya buah apel.


__ADS_2