Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 200. Teka-teki


__ADS_3

Selamat Membaca..


Seorang anak kecil berlarian menuruni undakan tangga. Dia berlari dari dalam kamarnya saat mendengar suara Maminya.


Maminya sudah pulang ke Indonesia setelah hampir dua minggu kepergiannya ke USA dengan urusan pekerjaan.


Dengan langkah kakinya yang pasti, dia menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dia melihat punggung Maminya berjalan bersama dengan Mama Amairah.


Dengan suara yang cukup lantang, dia berteriak memanggil Mamanya.


"Mami!!!"


Pandangan semua orang tertuju pada sosok anak laki-laki yang berlarian dengan wajah yang kegirangan. Hanya Abi yang penasaran dengan anak kecil tersebut.


"Boys jangan lari, entar kakinya kesandung," teriak Martin.


"Iya nak jangan larian, Nenek takut lihat Kamu berlarian seperti itu," timpal Nenek Masitha yang ikut khawatir melihat cicitnya tidak menghentikan langkahnya.


Lee terus berlari tanpa menghiraukan ucapan dan teriakan dari orang-orang. Saking gembiranya dia tidak peduli dengan hal lainnya.


Dia memeluk tubuh Delisha yang membuat Abimanyu terperangah.


"Mami, Lee sangat merindukan Mami," ucapnya sembari memeluk tubuh Delisha dengan eratnya.


Tatapan mata tajam Abimanyu menelisik memperhatikan kedekatan antara Delisha dengan Lee.


"Bukannya Nyonya Amairah adalah Mamanya, tapi kenapa Lee memanggil Delisha dengan sebutan Mami dan siapa ayahnya? setahuku Delisha masih gadis belum pernah menikah."


Delisha berlutut di hadapan Lee lalu membalas pelukan dari anaknya.


"Mami juga sangat merindukan Lee, Mami sangat sayang Lee," ujarnya sambil menghujani ciuman di wajah putranya.


"Maafkan tingkah cucuku Abi, biasa anak-anak kalau ketemu dengan Mamanya setelah berpisah beberapa hari," tutur Martin.


"Cucu," cicitnya.


Martin yang berdekatan dengan Abi mendengar dengan jelas perkataan dari Abimanyu.


"Iya, dia cucu pertama di dalam keluarga Lee dan lucunya dia memanggilku dengan sebutan papa," jelasnya.


Martin bisa membaca raut wajah terkejut sekaligus herannya Abimanyu. Dia berniat untuk bertanya tentang ayahnya Lee, tetapi dia urungkan niatnya.


"Kalau begitu kita duduk sambil berbincang tentang rencana kalian untuk menikah," ucap Martin yang mengajak calon menantunya untuk duduk.


"Makasih banyak Tuan," jawabnya.


Martin menghentikan langkahnya ketika mendengar Abi memanggilnya dengan sebutan Tuan.

__ADS_1


"Mulai detik ini panggil saya dengan panggilan seperti Delisha dan yang lainnya dengan sebutan Daddy," terangnya.


"Maaf Dad, kebiasaan soalnya," jawabanya.


"Mulai saat ini biasakan panggil Daddy, dan Saya tidak ingin Kamu salah memanggil lagi," ucapnya dengan senyuman khasnya.


Delisha duduk berdampingan dengan Abi dan di tengah-tengahnya diapit oleh Lee.


"Jadi nak Abi kapan Kamu akan meresmikan hubungan kalian?" Tanya Pak Heri yang baru beberapa menit lalu hadir di tengah-tengah mereka.


"Rencananya saya langsung ingin menghalalkan Delisha tanpa ada acara pertunangan sebelumnya," jelasnya.


"Bukannya bagus kalau tunangan terlebih dahulu baru menikah nak?" Ucap Amairah yang ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Saya ingin langsung menikahi Delisha saja Moms, karena bagiku akad nikah yang paling penting bukan pesta pertunangannya itu sendiri, lagian saya tidak ingin menunggu terlalu lama, lebih cepat lebih baik," jelasnya.


Perkataan dari Abimanyu membuat semua orang tersenyum.


"Ya elah calon manten sudah kebelet pengen nikah saja," gurauan Axel yang berjalan ke arah mereka dengan tersenyum kepada calon adik iparnya.


"Delisha sudah jadi calon manten kalau Kamu kapan mengakhiri kejombloanmu, apa sudah permanen?" Dibalas candaan oleh Dion.


"Mantul tuh Uncle, seharusnya Lee sudah punya sepupu tapi hingga sekarang calon Auntynya Lee pun belum nongol juga hingga sekarang," ujar Dennis yang ikut menyudutkan Axel.


"Belum ada yang cocok dan menyentuh di hati, kalau tiba saatnya pasti Axel akan kenalin dengan kalian, kalau sudah dapat calonnya," jawabnya yang tertawa garing di hadapan keluarganya.


Mereka kembali terdiam sejenak setelah mendengar perkataan dari Lee.


"Berarti Lee akan punya Papi dan Papinya Lee adalah Uncle Abimanyu," ucapnya dengan polos.


Abi menatap ke arah Delisha bergantian dengan Lee. Dia kembali dibuat tercengang dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.


"Tentu saja Uncle Abimanyu akan menjadi Papinya Lee kalau sudah menikah dengan Maminya Lee,apa Lee bahagia kalau Uncle Abi jadi Papinya Lee?" Tanya Dennis sambil menggendong tubuh Lee ke dalam pengakuannya.


Kebiasaan Dennis jika berdekatan dengan Lee. Dia pasti akan memangku tubuh keponakannya padahal Lee sudah besar.


"Lee sangat bahagia uncle Denis," jawabnya dengan wajahnya yang merona saking bahagianya.


"Kalau gitu siapa Ayah dari Lee, jangan-jangan dia adalah putraku hasil dari malam itu?"


Abi menatap Ike arah Delisha dan seolah-olah ingin bertanya langsung hal tersebut di hadapan Delisha lewat sorot kedua matanya itu.


Delisha yang diperhatikan seperti menghindar dan sangat tahu apa maksud dari tatapannya calon suaminya.


"Jadi akad nikahnya hari minggu, resepsinya bulan Agustus menunggu kedatangan Kakek dan Neneknya Abi yah," ujarnya Nenek Masitha.


"Iya Nek, insya Allah rencananya seperti itu karena bagiku akad nikah sangatlah penting dan Saya tidak mau menundanya lagi," terangnya.

__ADS_1


"Insya Allah, Allah meridhoi niat baikmu, dan Nenek hanya meminta sama Kamu terima segala kekurangannya Delisa apa pun itu Nak, dan yakinlah pernikahan kalian akan bahagia," terang Nenek Masitha.


"Amin ya rabbal alamin," jawab semuanya.


Suasana keakraban tercipta di dalam ruangan tersebut. Delisha sering kali melihat Abimanyu yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.


"Ya Allah kenapa tatapan mata tajam bak Elang itu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?"


Delisha tersipu malu, wajahnya merona memerah menahan rasa grogi dan nerfesnya jika mereka saling beradu pandang tanpa sengaja.


"Aku harus cari waktu luang untuk membicarakan dan bertanya langsung padanya, siapa Ayah kandungnya Lee, tapi apa dia akan jujur dan terbuka atau mungkin sebaiknya aku bertanya pada Dennis saja."


Mereka sedang menikmati acara santainya ditemani dengan berbagai sajian kue kering dan basah buatan sepesial dari tangan Amairah untuk menyambut kedatangan calon menantunya.


Hingga percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sedang berteriak kencang dari arah depan halaman rumahnya.


"Apa yang terjadi di depan?" Tanya Amairah.


"Sepertinya itu suara berasal dari depan parkiran mobil," timpal Axel.


"Bagaimana kalau kita memeriksa apa yang terjadi," ucap Martin.


"Iya ayo, sepertinya suaranya mirip dengan suaranya Aisyah," terangnya.


Mereka berlarian ke arah depan dan ingin memeriksa apa yang terjadi dan membuat seseorang berteriak.


Mereka berjalan terburu-buru ke arah depan, langkah mereka terhenti saat melihat tubuh Asisten pribadinya Abi berada di atas tubuhnya Aisyah dengan tangannya yang menempel seperti tokek dibagian aset terpentingnya Aisyah.


Delisha segera menutup mata putranya karena menurutnya apa yang terjadi di depannya tidak boleh dilihat oleh putranya yang masih kecil.


Saking terkejutnya, Nathan dan Aisyah sama sekali tidak bangkit dari baringnya. Mereka saling bertatapan satu sama lainnya.


Aisyah seakan-akan melupakan bahwa tangannya Nathan masih setia di atas puncak gunung Bromo milik Aisyah.


"Empuk dan kenyal," perkataan itu berhasil meluncur dari mulutnya Nathan.


Praaaakkkk!!!!


Tanda tangan dari Aisyah cukup keras hingga pipi kirinya Nathaniel Sanjaya memerah saking kuatnya tamparan yang dilayangkan oleh Aisyah.


Mereka yang melihat kejadian itu langsung bersamaan memegang pipi mereka. Seakan-akan pipi mereka yang terkena tamparan panas itu.


Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.


By Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Senin, 11 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2