Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 197. Keputusan


__ADS_3

Selamat Membaca..


Walaupun aku bukanlah sehingga yang kau tunggu tapi akulah langit yang ke menemani hari-harimu.


Aku menyukai senja karena ia seperti kamu, mesti sebentar datang namun hangatnya mampu memeluk hingga ke tulang.


Abi sepulang dari rumahnya Delisha melajukan mobilnya ke Pantai. Dia sekarang sudah duduk di atas kap mobilnya.


Dia kembali teringat dan terbayang peristiwa beberapa tahun silam. Dia hingga detik ini masih belum bisa menghapus bayang-bayang perempuan di dalam benaknya. Wajah polos dan cantik ayu itu sering menari-nari di ujung pelupuk matanya.


"Ya Allah aku belum bisa melupakan wajahnya, suaranya hingga bentuk tubuhnya sampai detik ini."


Abi akhir-akhir ini dilanda kebimbangan dan dilema. Dia tidak mungkin mundur atau pun membatalkan rencana perjodohan dan pernikahannya yang telah disetujui oleh ke dua belah pihak keluarga besarnya, antara dirinya dengan putri tunggal dari keluarga Besar Martin Muhammad Al-ayyubi Lee.


Hingga menjelang isya dia masih betah duduk di atas kap mobilnya dengan ditemani beberapa minuman kaleng yang sudah teronggok di atas pasir putih halus ada yang di sekitar Pantai itu.


Dia menatap ke arah langit dengan bertaburan bintang-bintang yang berkelap-kelip menghiasi indahnya langit malam itu.


Sang Dewi Malam pun tidak mau kalah dengan pamor dari Sang Bintang. Bulan menambah keindahan semarak malam itu.


Siapa pun yang menikmati indahnya malam hari itu pasti akan tersenyum bahagia.


Delisha berjalan ke arah kolam renang. Dia berjalan dengan langkah kecil mengelilingi kolam tersebut. Sesekali dia jongkok lalu memasukkan tangannya ke dalam air kolam.


"Apa yang dikatakan oleh Kakek benar sekali, tapi apa benar-benar Abi bisa menerima semua kekurangan dan masa laluku dan dia berbeda dengan pria sebelumnya."


Bayangan masa lalunya kembali terlintas di pikirannya. Saat dirinya mengetahui jika dirinya sudah tidak perawan lagi. Betapa hancur hidupnya saat itu. Yang dia sesalkan hingga detik ini, adalah ketidak mampuannya mengetahui siapa pria itu yang telah merenggut mahkota terpenting dan terindah dalam hidupnya.


Kesedihan dan keterpurukannya setelah kejadian memilukan itu membuat dirinya hancur dan terpuruk ke dalam dasar penyesalan dan kesedihan yang mendalam.


"Ya Allah pertemukan aku dengan pria itu walaupun hanya sekejap mata saja, aku ingin mengatakan kepadanya kalau dia memiliki seorang putra yang senantiasa mencari dan merindukan sosok kehadirannya."


Delisha duduk di tepi kolam dengan mensolonjorkan kakinya ke dalam air. Dia menatap bulan purnama malam itu. Seakan-akan dia sedang berdiskusi dengan rembulan.

__ADS_1


"Aku hanya meminta itu ya Allah, aku tidak berharap besar padanya agar dia bertanggung jawab dan memenuhi kewajibannya sebagai ayah biologis puteraku."


Air matanya pun menetes membasahi wajahnya yang cantik dan ayu yang terkena pantulan sinar rembulan.


Sesekali ia menghapus jejak air matanya yang membasahi pipinya. Dia menengadahkan kepalanya ke atas dia melakukan hal itu agar air matanya berhenti untuk menetes.


Aisyah yang melihat Nona Mudanya yang sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Maafkan aku Nona,belum saatnya aku jujur di hadapan Nona tentang siapa Papinya Tuan Muda Lee, saya belum yakin dengan kenyataan tersebut karena belum menemukan titik terang dari fakta kalau dia benar-benar Papinya Lee."


Dia ikut meneteskan air matanya, hatinya ikut hancur disetiap dia melihat Delisha menangis.


Dinginnya angin malam dan air kolam tidak membuat dirinya bangkit dari tempatnya. Dia masih asyik menikmati kesendirian dan kesepiannya malam itu.


Beberapa hari kemudian, Delisha segera menyelesaikan pekerjaannya di Los Angeles dan segera kembali ke Tanah Air Indonesia. Dia sudah sangat merindukan putra sulungnya.


"Nona bagaimana apa kita langsung pulang ke rumah atau ingin mampir ke suatu tempat?" Tanya Aisyah saat sudah duduk berhadapan di dalam pesawat pribadinya.


"Antar aku ke Restoran XX, Daddy dan Mommy menginginkan aku ke tempat itu untuk bertemu dengan Tuan Abimanyu."


Dia kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu perlahan menutup kelopak matanya.


"Baik Nona Muda," jawabnya singkat.


Aisyah segera mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Bryan yang sudah berada di Jakarta dua hari lalu.


"Tolong selidiki dengan cepat siapa Abimanyu dan usahakan lakukan diam-diam tes DNA dia dengan Lee."


Bryan yang sedang duduk di antara keluarga besar dari istrinya Arumi. Mereka mengapit Bryan dan ingin mengintrogasi mereka, setelah mengetahui jika Bryan dan Arumi sudah menikah diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga besarnya.


Dion dan Martin yang hadir sebagai saksi pernikahan mereka pun sudah hadir di tengah-tengah mereka.


Martin berhasil meyakinkan bahwa mereka saling mencintai dan sebaiknya mereka direstui karena tidak baik adanya jika ada seseorang yang saling mencintai tapi selalu dihalangi bahkan ditolak mentah-mentah hubungan mereka.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka mendapatkan keputusan dan pilihan untuk memberikan mereka restu dan sudah merencanakan pesta resepsi pernikahan mereka.


"Maafkan saya Papi yang sudah menikahi putri Papi tanpa meminta ijin terlebih dahulu," ucap Bryan yang berlutut di hadapan ke dua mertuanya.


Dion dan Martin pun ikut meminta maaf karena sudah memutuskan untuk menjadi saksi pernikahan mereka tanpa ijin mereka sebelumnya.


"Kenapa Kamu tidak memberitahu Papi sayang kalau Kamu mencintai orang lain?" Tanya papinya Arumi saat mereka berpelukan satu sama lain.


"Maafkan Arumi Papi, tidak ada niat yang terlintas dalam pikiran Arumi untuk sama sekali tidak menghormati atau apa pun itu Papi, bahkan Arumi sangat sayang dan bangga jadi putrinya Papi," terangnya dengan air matanya yang sudah meleleh.


"Mami sangat bahagia melihat senyuman di wajahmu sayang, Mami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian mulai hari ini dan hingga akhir waktu kalian," doa setulus hati diucapkan oleh Ibu Hernita Maminya Arumi.


"Sebaiknya kita adakan resepsi pernikahannya sesudah acara lamaran dan pertunangan Delisha," jelas Martin di sela canda tawa mereka.


Mereka bersamaan menatap ke arah Martin. Terutama dari Pak Heri selaku Papa mertuanya.


"Apa Delisha sudah setuju Martin? Papa tidak ingin mendengar cerita jika cucu kesayangan ku menerimanya karena dipaksa yang berujung dengan keterpaksaan untuk mwnjakanimy," ungkap Pak Heri dengan tatapan matanya yang tajam ke arah Martin.


"Alhamdulillah Delisha sendiri yang menginginkan hal itu karena dia sedih melihat putranya yang selalu bertanya tentang Papinya ada di mana," timpal Nenek Masitha.


"Saya hanya minta tolong kepada kalian untuk sama sekali jangan berbicara atau pun membahas tentang hal tersebut kepada orang lain terutama keluarga dan calon suaminya Delisha, biarkan Delisha sendiri yang berbicara jujur di hadapan calon suaminya," timpal Pak Heri lagi.


"Nenek berharap agar perjodohan ini membawa kebahagiaan untuk Delisha cukup sudah penderitaan yang di hadapinya selama ini,kadang Nenek sangat sedih melihat Delisha yang terdiam tapi air matanya kadang kala diam-diam menetes membasahi pipinya," terang Nenek Masitha.


Nenek Masitha sering kali melihat wajah cucunya bersedih hanya saja Delisha tertutup dan menutup rapat kegelisahan dan kegundahan hatinya. Serta tidak ingin berbagi dengan orang lain kecuali dengan Aisyah sendiri yang selama ini selalu menjadi tempat yang paling tepat untuk berbagi suka maupun duka. Serta Dennis yang sangat berperang penting dalam menemani Delisha disaat hidupnya berada di titik terendah dalam hidupnya.


...Fania mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 hijiriah kepada seluruh Readers setianya Cinta Yang Tulus terkhusus untuk yang menjalankannya....


...Mohon Maaf Lahir dan Bathin.....


...By Fania Mikaila Azzahrah...


...Makassar, 10 Juli 2022...

__ADS_1


__ADS_2