Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 110. Akad Nikah Bram dan Nadia


__ADS_3

Selamat Membaca..


Malam yang awalnya diterangi oleh bintang dan disinari oleh cahaya rembulan malam tiba-tiba berubah. Salju turun membasahi bumi, tidak ada pertanda sama sekali jika akan turun badai salju.


Nenek Masitha yang sudah berjam-jam menunggu kedatangan Tuan Mark Prin Atmadja terpaksa kehujanan salju. Untung saja mereka membawa beberapa lembar pakaian hangat yang cukup tebal sehingga mampu untuk mengatasi dinginnya salju itu.


Hingga pagar tinggi menjulang itu terbuka lebar dan masuklah sebuah mobil dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Nenek Masitha. Nenek Masitha berlari dan mengendap-endap menuju pintu Kediaman Tuan besar Mark yang ada di Tokyo Jepang.


Tapi sayangnya kesempatan untuk bertemu dengan Tuan Besar Mark dan Axel cicitnya kembali menuai kegagalan. Nenek Masitha hanya bertemu dengan Istri dari Mark yaitu Liliana Horne. Mereka menghabiskan waktu mereka berdua dengan menikmati seduhan teh Thailand khas buatan tangan Liliana.


Sedari dulu teh thai buatan Liliana selalu menjadi primadona dan kesukaan dari Masitha jika datang berkunjung di rumah sahabatnya itu. Hingga larut malam Tuan besar Mark tidak menampakkan batang hidungnya hingga Nenek Masitha pamit pulang.


Kecewa pasti sangat kecewa dan sedih karena tidak bisa bertemu dengan Axel. Keras hatinya Tuan besar Mark tidak akan runtuh jika Nenek Masitha tidak membawa langsung bukti hidup kehadapan tuan Mark. Dan satu-satunya saksi kunci selain Nenek Masitha sendiri adalah adiknya Nurman yaitu Nirmala. Dan selama itu tidak terjadi maka keegoisan dan keras hatinya Tuan Mark selamanya akan bertahta tidak akan goyah walau badai menghadang.


Nenek Masitha berjalan lunglai dan tidak bersemangat karena usahanya kali ini kembali menuai kegagalan. Nenek Masitha sudah berharap banyak dengan usahanya kali ini, tetapi dia harus kembali ke tanah air dengan tangan kosong.


"Ya Allah harus sampai kapan ini terjadi, Apa yang harus aku lakukan lagi agar Aku bisa bertemu dengan cucuku Axel?".


"Bagaimana dengan usaha Nyonya?" tanya Anton.


"Kita kembali gagal dan Aku sudah menyerah untuk membujuk dan meyakinkan Tuan besar Mark agar aku bisa bertemu dengan cicitku, padahal secara hukum dan agama kami sama-sama punya hak yang sama" Tutur Nenek Masitha.


"Nenek harus sabar jika suatu saat nanti Nenek sudah ditakdirkan untuk bertemu susah gimanapun kondisi dan keadaan nya pasti Nenek akan bertemu kembali dan Saya berharap Nenek tidak putus asa dan selalu optimis" ucap Anton anak buah kepercayaannya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Bos?" tanya Andre.


"Kita balik ke Indonesia malam ini juga, Saya tidak mau Martin curiga dan mengetahui semua yang kita lakukan" titah Nenek Masitha yang sebenarnya ingin menumpahkan air matanya tapi terlalu segan harus menangis di depan anak buahnya tersebut.


Sedangkan di tempat lain masih di sekitar area kediaman Tuan besar Mark, Bryan Regan berhasil mendapatkan informasi tentang kedatangan Nenek Masitha, Awalnya Bryan mengetahui jika Nenek Masitha datang untuk bertemu dengan tuan besar Mark dan cucunya Axel Muhammad Lee harus menyembunyikan informasi itu karena Dia tidak ingin membuat masalah diantara mereka semakin runyam.


Bryan hanya memberikan informasi tentang siapa yang di datangi oleh nenek Masitha dan tentang Axel untuk sementara ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan pastinya.


"Maafkan saya bos yang sudah lancang melakukan ini semua, dan yakinlah bahwa hal ini yang terbaik untuk Bos dengan istri bos sendiri".


Bryan pun meninggalkan Kota Tokyo Jepang. Dan berharap suatu saat nanti Bryan bisa menemukan ibu Nirmala saksi kunci dari kejadian beberapa puluh tahun silam yang membuat hubungan mereka retak dan terjadi perselisihan hingga sekarang.


Nenek Masitha sudah di dalam kamar yang ada di dalam jet Pribadinya. Nenek Masitha bangun untuk shalat tahajjud dan menumpahkan segala isi hatinya dan unek-unek yang ada di dalam kepalanya.


Air matanya bercucuran membasahi pipinya yang sudah mulai keriput itu di usianya yang sudah senja. Nenek Masitha tak henti-hentinya menangisinya ketidak berdayaaannya untuk menuntut haknya dan memperjuangkan kebenaran.


Bryan dan mengirimkan langsung ke alamat email dan whatsshap langsung ke nomor hpnya Martin Muhammad Al-ayyubi Lee. Martin yang baru saja beristirahat karena sudah sampai di kota kembang Bandung. Martin segera meraba hpnya yang ada di atas meja nakas ranjangnya.


"Ternyata dugaanku salah, Maafkan aku nek yang sudah berfikiran yang macam-macam tentang nenek".

__ADS_1


Pagi menjelang, sinar matahari sudah menyingsing dari ufuk timur. Sinarnya berhasil menyinari seluruh isi bumi. Martin terbangun dari tidurnya karena terusik oleh jari imut putri kecilnya.


Martin mengerjapkan matanya dan langsung tersenyum manis ke arah putrinya. Delisha Annira Elshanum sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal itu lah yang membuat Martin tersenyum gembira.


Putri kecilnya semakin berceloteh entah apa yang dua katakan dan yang tahu hanya dia sendiri yang mengerti.


"Nyam.. nam.. pa.. Pi... Pi.. pa.." itulah beberapa bunyi coletehan Baby Del.


"Putri Daddy sudah bangun rupanya" ucap Martin yang sudah memangku putrinya.


Baby Del sekarang memainkan hidung mancung daddy-nya.


"Dum.. dun... Dum.." mungkin seperti itulah perkataan dari bayi sudah berusia lima bulan.


"Baby Del sudah siap berangkat sayang?" tanya Martin saat menggendong putrinya yang sudah cantik yang akan menghadiri acara akad nikah dan sekaligus resepsi pernikahan Antara Bram dan Nadia.


"Mbak Marni apa sudah diperiksa ulang perlengkapan baby Del?, Saya tidak ingin mendengar jika sesampainya di sana mbak bilang maaf lupa di bawah lagi barangnya" ucap Martin yang menirukan gaya bicara Mbak Wati.


"Insya Allah semuanya sudah ada tuan Muda" ucap Mbak Marni.


"Kalau gitu kita berangkat" ucap Martin yang masih menggendong Baby Del.


Suasana di dalam mesjid yang ditunjuk sebagai tempat pelaksanaan acara akad nikah sudah dipadati dan diramaikan oleh keluarga dan kerabat dari kedua mempelai perempuan maupun laki-laki.


Raut wajah dari Bram nampak sangat tegang dan gugup. Bram seakan-akan akan menghadapi peperangan di Medan pertempuran. Keringat dingin terlihat begitu jelas dari pelipisnya. Martin yang melihat hal itu berusaha untuk mendekati Bram untuk mengajaknya berbincang-bincang agar ketegangan yang dirasakan oleh Bram menjelang akad nikahnya agar bisa mencair dan menguap seketika terbawa angin.


"Entahlah Martin, Apa aku juga bisa melalui semua ini atau tidak semakin dekat semakin membuatku berdebar tak karuan" ucap Polos Bram.


"Saya kira ini bukan pengalaman kamu yang pertama kok bisa kamu gugup seperti ini?, yakinlah sama diri kamu sendiri dan jangan lupa kamu berdoa agar Allah memudahkan lidah kamu untuk mengucapkan kata ijab Kabul itu" ucap Martin lagi.


"Betul sekali yang dikatakan Martin, Kamu harus percaya sama diri kamu sendiri bahwa kamu bisa untuk mengucapkan lafal ijab kabul dan jangan lupa berdoa" ucap Ayahnya Bram.


Beberapa saat kemudian, Bapak penghulu yang akan menikahkan mereka pun sudah datang di dalam mesjid. Dan sudah duduk manis menunggu kedatangan ke dua mempelai.


Bram ditemani oleh Ayahnya dan di samping kanannya Martin. Sedangkan Nadia diantar oleh Maya dan juga Mamanya Nadia. Mereka beriringan berjalan hingga ke altar pernikahan yang sudah setia Pak penghulu menunggu mereka.


Pak penghulu ditunjuk sebagai pengganti Papa dari Nadia yang sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Nadia dengan balutan gaun pengantin yang sangat cocok dan serasi dengan tubuhnya sedangkan Bram memakai busana Jas yang senada dan serasi dengan pakaian yang dipakai oleh Nadia.


"Apa Mas Bram sudah siap untuk menikahi putri dari bapak Adiwijaya yaitu Nadia?" tanya Pak penghulu.


Sedangkan yang ditanya malah hanya diam membisu dan mematung seakan-akan jasadnya meninggalkan raganya yang terbang entah kemana.


Semua orang sudah berbisik-bisik tetangga, dan Martin segera membantu untuk menyadarkan Bram yang bengong dengan memukul lengan Bram dengan cukup keras.

__ADS_1


"Bram" ucap Martin.


Upaya yang dilakukan oleh Martin pun berhasil membuat Bram tersadar dan kembali ke dunianya yang sekarang.


"Maaf, silahkan Pak dimulai, Saya sudah siap" ucap Bram yang sedikit tersenyum karena sudah membuat orang kelimpungan.


"Saya Nikahkan dan kawinkan engkau dengan Putri dari bapak Adijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Emas 24 Karat dan uang tunai senilai 18 juta dibayar tunai" ucap Bapak penghulu.


"Saya terima Nikah dan kawinnya Nadia binti Adiwijaya putri dari bapak Adiwijaya dengan mas tersebut dibayar tunai" ucap Bram yang suaranya sedikit bergetar mengucapakan lafal ijab qobul tersebut.


"Bagaimana saksi Sah?" tanya pak penghulu dengan menatap seluruh isi mesjid.


"Sah" ucap semua orang di dalam sana.


"Alhamdulillah" ucap pak penghulu dan membaca beberapa do'a serta nasihat pernikahan.


Mereka yang hadir ikut mengaminkan semua doa dari pak penghulu. Rasa haru dan bahagia terasa setelah membaca doa dan beberapa nasihat untuk kedua pengantin baru tersebut.


Nadia segera meraih tangan suaminya yang baru beberapa menit resmi menjadi suaminya dan mencium punggung tangan Bram penuh takjim. Bram pun mencium kening istrinya Nadia dan tak sanggup menahan air matanya yang membasahi pipinya.


"Selamat, semoga pernikahannya langgeng sampai kakek nenek" ucap Martin saat menjabat tangan Bram yang statusnya sekarang sudah menjadi suami sekaligus seorang Ayah dari putri kecilnya yang sudah berumur hampir setahun.


Karena kemelut dan masalah pelik yang pernah mereka hadapi gara-gara tipuan dari Dea yang waktu itu ngaku kalau koma gara-gara sakit kankernya. Sedangkan Pak Toni sudah mendekam di penjara dan Ibunya Ibu Anita sampai sekarang belum ditemukan jejaknya oleh pihak kepolisian.


Semua yang hadir dan segenap tamu undangan bersyukur dan ikut bahagia bersama dengan kebahagiaan ke dua mempelai. Doa dan ucapan terus mengalir dari bibir Semua yang hadir di sana dan banyak juga ucapan tulus untuk mereka yang datang dari laman Sosmed mereka.


................


Alhamdulillah lega yah rasanya akhirnya othor Nikahkan juga mereka, othor takut nambah dosa mereka aahh ehhehe.


Semoga tidak ada lagi yang komplen dengan alur ceritanya dan Fania berharap tolong berkomentar yang bijaksana dan baiklah dan berikan masukan dan Kritikan yang membangun jangan asal ingin muncul viral dan eksis di kolom komentar 🙏.


Semoga apa Yang Fania tulis tidak merugikan pihak manapun dan kalau bisa ambil baiknya buang lah jeleknya di tong sampah.🤭✌️.


Bagi Readers tolonglah untuk baca dari awal agar tidak ada kesalah pahaman dan bisa mengerti dengan mudah alur dari Novel Receh FANIA 🙏✌️.


MAKASIH BANYAK UNTUK DUKUNGANNYA KEPADA CINTA YANG TULUS, FANIA SANGAT BERSYUKUR KARENA MASIH ADA YANG MAMPIR BACA KARYA REMAHAN RENGGINANKU INI 🙏.


MOHON DIMAKLUMI JIKA KAKAK READERS MENEMUKAN KESALAHAN DALAM PENGETIKAN CERITA INI 🙏.


Tetap Dukung CYT dengan Cara LIKE Setiap Episodenya, Favoritkan Dan Rate Bintang 5 Yah 🙏.


...********Bersambung********...

__ADS_1


By Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Rabu 18 Mei 2022


__ADS_2