
Nenek Masitha pun membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dengan tubuhnya Alif. Nenek Masitha hanya terkejut melihat reaksi Alif yang sangat berbeda dengan cucunya Axel.
"Sayang, cucunya Nenek, gak baik bentak Emak apa Alif tidak kasihan lihat emak kalau dibentak seperti itu,apa Alif ingin ada juga orang yang bentak Alif?"
"Tidak apa apa kok Mbak, emang gitu Alif kalau menginginkan sesuatu tapi tidak dipenuhi kadang emosinya langsung meledak-ledak begitu saja, untung kalau Alif tidak menghancurkan barang-barang yang ada di hadapannya," jelas Emaknya Alif dengan wajah sendunya.
Ibu Nurmala yakin jika sifat tempramen dan gampang emosinya itu gara-gara kecelakaan maut itu yang mereka alami dan berbagai penyiksaan yang dialami oleh Alif sebelum berhasil dia selamatkan.
"Ya Allah apa yang terjadi kepadamu cucuku, kenapa Axel cucuku yang dulu dengan yang sekarang sangat berbeda."
Air mata Neneknya berlinangan membasahi wajahnya yang sudah mulai nampak guratan keriput di bagian lipatan bagian kening, di sekitar kantung matanya.
"Pokoknya Alif harus ikut Nenek,kalau Alif gak ikut sama Nenek, Alif akan mogok makan," ucapnya dengan wajahnya yang ditekuk, matanya memerah, ke dua tangannya dilipat ke dadanya.
Denise dan Delisa yang berlarian saling kejar-kejaran saat mengetahui jika Nenek dan Alif sudah kembali.
"Brother Alif, Denis is here," ucap Denis.
Dengan suara cempreng mereka yang memenuhi halaman rumah mewah itu.
Alif menoleh ke arah adik kembarnya lalu tersenyum dengan penuh kasih sayang. Alif yang semula wajahnya dipenuhi amarah berubah drastis.
Denis dan Delisha bergelantungan di lengan ke duanya. Denis di lengan kiri sedangkan Delisha di bagian kanannya.
"Hey, Kakak Alif Denis kangen loh sama Kakak, kalau Kakak Alif apa tak kangen sama Delisa?" tanyanya Delisha dengan wajahnya yang penuh harap.
"Kakak juga kangen banget loh sama Delisa sama Dennis juga," jelasnya yang membungkukkan sedikit tubuhnya agar terlihat sejajar dengan tubuh ke duanya.
"Seriously Brother Alif misses us too?"
"Oooh!! Are you serious, Sis? Dennis is very happy to hear that,"
Perbincangan mereka disaksikan oleh orang dewasa yang berada di sana. Nenek Masitha terharu melihat mereka lebih cepat akrab dari dugaannya.
Dia pun mendekati mereka, lalu segera memeluk tubuh ke tiga cucunya itu. Ibu Nurmala pun terkejut melihat Alif yang hanya gara-gara kedatangan duo kembar langsung berubah dari marah dan sekarang penuh dengan canda tawa.
"Kalau gitu kalian masuk ke rumah yah sayang, kalian tunggu nenek di dalam saja, apa kalian tidak ingin mencicipi kue buatan Mommy Amairah?" tanya Neneknya.
"Kue!!, mau banget Nenek," jawab Alif.
"Kalau Alif mau, cepetan masuk langsung ke dapur," ucapnya.
Mereka segera berlari ke arah dapur. Mereka tidak sabar setelah mendengar Momsnya buat kue khusus untuk mereka bertiga.
"Mommy," teriak mereka bertiga.
Denis dan Delisha langsung memeluk pinggang Amairah yang tertutupi apron yang sangat cantik dan pas ditubuhnya.
Amairah yang sedang memeriksa kue yang ada di dalam open microwavenya segera menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Hey putra putrinya Mommy, kok berlarian sih sayang, hak baik berlarian entar jatuh atau nabrak orang gimana?" tutur Amairah dengan penuh kelembutan dan wajah teduhnya yang selalu dihiasi dengan senyuman.
Alif yang hanya terdiam saja, malu untuk maju ke arah mereka dan ikut bergabung. Menurutnya mereka adalah keluarga sedangkan dia hanya orang luar yang berharap dianggap anak oleh Amairah.
Amairah tidak mengetahui jika Alif putranya ibu Nurmala ikut bersama ke dua anak kembarnya.
Tiba-tiba Alif berseru di hadapan mereka.
"Mommy Amairah."
Amairah yang sedang memeluk tubuh ke dua anaknya langsung menoleh ke arah sumber suara. Amairah melihat Alif dengan wajah yang sulit untuk dibaca maksudnya.
Amairah berjalan ke arah Alif berada. Alif langsung berlarian ke arah Amairah dan memeluk erat tubuh itu. Ada rasa aneh yang dirasakan Amairah saat Alif memeluknya.
Ada gelenjar aneh yang tiba-tiba muncul di dalam relung hatinya yang paling terdalam.
"Mommy, Alif sangat merindukan Moms," ujarnya dengan menenggelamkan wajahnya di dalam dada Amairah.
Amairah refleks membalas pelukan Alif dengan lebih hangat dan akrab penuh penjiwaan.
"Mommy juga kangen dengan Axel," ucapnya dengan deraian air matanya.
"Axel putranya Mommy, kenapa baru pulang sayang, Mommy rindu banget dengan Axel," ucap Amairah lalu menciumi seluruh wajah Alif.
"Alif yang diperlakukan seperti itu, hanya terdiam dan tersenyum. Alif sangat bahagia karena ternyata Mommynya sikembar juga sayang sama dia.
"Mommy maaf aku bukan Axel, tapi Alif Faturahman putra tunggalnya ibu Nurmala," jelasnya.
Kebahagiaan yang membuncah di wajahnya Amairah seketika berubah. Kecewa dan sedih sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Mommy ini Kakak Alif yang tinggal di rumahnya Aunty Maya, bukan Kakak Axel yang hilang itu," ujar Delisha.
Amairah yang sudah terbang tinggi hingga ke langit ke tujuh langsung dihempaskan ke dasar terdalam rasa kecewanya.
Dia sangat bahagia melihat Alif yang dia kira Axel, tapi kenyataannya Alif bukanlah Axel.
"Tapi hati ini mengatakan dia adalah putra sulungku Axel Muhammad Lee yang sudah lama menghilang."
"Kalau Mommy Amai ingin memanggil Alif dengan panggilan Axel nggak apa-apa kok Moms, Alif gak mau lihat Mommy bersedih dan menangis," ucap Alif lalu menghapus jejak air mata diwajah cantik mommy mereka.
Amairah hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan usul dan idenya Alif. Amai kembali memeluk tubuh Alif dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Kalau gitu, siapa yang mau bantu Moms buat kue yang enak?" tanya Amairah yang mencoba untuk mencairkan suasana di antara mereka.
"Alif, Dennis dan Delisha," jawab mereka secara bersamaan.
Mereka pun membuat kue yang akan dijadikan makanan cemilan mereka di sore hari itu. Hingga beberapa saat kemudian, semua jenis kue yang mereka buat sudah matang dan siap disajikan.
__ADS_1
"Yuk kita bawa ke depan selagi hangat sayang," pinta Amairah.
"Keunya lezat yah moms, Alif sudah ga sabar pengen coba," ucap Alif dengan matanya yang berbinar cerah secerah mentari sore itu.
Amairah kembali meneteskan air matanya di hadapan putranya Ibu Nurmala. Melihat kebahagiaan mereka, kebahagiaan yang berlipat dirasakan oleh Amairah.
"Aku sangat bahagia melihat senyum bahagia di wajahnya mereka, andai saja Alif adalah Axel putraku yang sudah hampir 5 tahun menghilang, kebahagiaan ini
lengkap sudah."
Sedangkan di Samping rumah, Nurmala dan Nenek Masitha berjalan ke arah belakang rumah di mana letak tempat kebunnya berada.
"Nurmala, ada yang ingin Mbak tanyakan pada Kamu," ucap Nenek Masitha yang tidak menoleh sedikit pun hanya terus berjalan lurus.
Ibu Nurmala menatap sekilas ke arah Nenek Masitha.
"Kira-kira apa yang ingin Mbak tanyakan? insya Allah kalau bisa Saya akan jawab," balasnya.
"Semoga Kamu bisa jujur kepada Mbak," terangnya lalu menatap ke dalam bola matanya Nurmala.
"Insya Allah Mbak," jawabnya.
"Alif sebenarnya itu siapa? apa benar dia adalah putramu?" tanya Nenek Masitha.
"Alif adalah.....," perkataan Ibu Nurmala terpotong dan terhenti dikarenakan kedatangan ke tiga bocah kecil yang berlarian ke arah mereka.
Di dalam kedua tangan Amairah terdapat nampang yang berisi beberapa jenis kue yang masih menyembulkan asapnya. Pertanda kue itu masih sangat panas.
Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🥰
Jangan Lupa juga mampir ke Novelku yg lainnya dengan judul:
Sang Penakluk
Bertahan Dalam Penantian
Tidak ada Jodoh yang Tertukar
Tetap Dukung CYT dengan cara: Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan untuk mendapatkan notif dari setiap Updatenya, Vote dan Giftnya juga yah ✌️
...*********Bersambung*******...
__ADS_1