Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 162. Kisah Penyelamatan Emaknya Alif


__ADS_3

Selamat Membaca..


Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji.


Bukan baru kali ini nenek Masitha tidak memercayai jika Pria yang baik, penyayang, jujur dan baik hati berubah menjadi pendendam bahkan menjadi angkara murka yang menghancurkan ke tiga keluarga besar saling bermusuhan menjadi terpecah belah.


"Ya Allah Engkau lah pembolak hati dan perasaan seseorang, maka dengarkanlah permohonanku, Aku mohon bukalah pintu hatinya Nurman agar segera merubah sifatnya yang telah keliru."


"Setelah Aku mendengar pembicaraan mereka, aku pun segera menyelesaikan pekerjaanku waktu itu, dan berjalan ke arah Gudang tempat dimana Alif dikurung dan disekap," jelasnya.


"Terus apa yang terjadi lagi dengan Alif Bu?" tanya Amairah yang sudah matanya sembab saking kerasnya dia menangis.


Matanya Pak Heri yang sedari tadi menjadi pendengar setia, matanya pun sudah berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika ada orang yang sudah tertutup mata hati dan nuraninya, sehingga tidak memperdulikan apa pun yang dia lakukan.


Ibu Nurmala menghela nafas panjang. Seakan-akan ada beban berat yang akan terlepas dari pundaknya itu.


"Aku pun tanpa pikir panjang segera berjalan ke Gudang itu, aku sangat terkejut melihat kondisi Alif yang sedang terbaring dengan kedua tangan dan kakinya terikat, dengan kondisi yang sudah tidak sadarkan diri lagi."


Sesekali Ibu Nurmala sesegukan saat menjelaskan semuanya kepada mereka. Hidung sudah memerah dan sesekali mengeluarkan air bening.


"Ya Allah sungguh miris melihat anak sekecil itu harus dihukum yang tidak punya salah sedikit pun," terang Maya yang baru-baru saja ikut bergabung dengan mereka.


Amairah memegang tangan Ibu Nurmala dengan penuh kasih sayang dan penuh kelembutan.


"Aku tidak ingin ingin menunda lama lagi, jadi aku segera menyelamatkan tubuh Alif, aku menggendong tubuh Alif hingga ke dalam mobil berbak milik Abang Nurman," tuturnya lagi.


Nenek Masitha dan Amairah menutup mulutnya setelah mendengar penjelasan dari Ibu Nurmala.


Amairah ingin menghentikan pembicaraan Ibu Nurmala, karena tidak sanggup mendengar apa lagi membayangkan apa yang dialami oleh Alif waktu itu.


Tapi, Amairah juga tidak sabar dan kepo dengan nasibnya Alif. Amairah ingin mengetahui apa betul Alif adalah putra sulungnya.


"Jadi apa Ibu bisa menyelamatkan Alif dengan mudah atau bagaimana?" tanya Maya yang sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutan dari kisah penyelamatan Alif.


"Belum Nona Maya, Saya baru mencari cara untuk membawa tubuhnya Alif hingga keatas mobil yang akan mereka pakai, hanya itu satu-satunya cara yang ada, jika membawa ke tempat lain pasti ujungnya akan gagal usaha yang saya lakukan."

__ADS_1


"Ada yah orang yang setega itu, kalau aku diposisinya Ibu pasti akan Aku lapor ke polisi agar si Nurman segera ditangkap dan dijobloskan ke dalam penjara, biar dia juga merasakan gimana rasanya menderita," tutur Maya dengan menggebu-gebu.


"Maya husss, biarkan emaknya Alif selesaikan perkataannya, Sedari tadi selalu memotong pembicaraan," sanggah Nenek Masitha yang tersenyum melihat kemarahan dan rasa jengkel yang membuncah di dalam hatinya Maya.


"Maaf Nek," ucap Maya yang cengengesan.


"Wajar lah Kalau Nona Maya bereaksi seperti itu,aku pun adiknya sangat marah dan murka dengan kelakuan kakakku yang tidak pernah menyadari kesalahannya."


Ibu Nirmala menundukkan kepalanya saking sedihnya dan menyesal dengan semua kelakuan kakaknya sendiri.


"Jadi apa yang terjadi setelah Ibu sudah berada di dalam bak mobil pick up itu?" tanya Amairah lagi.


"Saya tidak berhasil menyelamatkan diri dari gudang itu, karena anak buahnya Abang Nurman sudah datang, jadi saya memutuskan untuk segera bersembunyi dibalik pintu dan menunggu mereka meninggalkan gudang itu, tapi ternyata mereka berhasil memasukkan tubuh lemah Alif ke dalam mobil kampas tersebut.


"Aku pun segera ikut ke dalam mobil itu dengan cara bersembunyi di balik pohon."


"Aku semakin penasaran dengan kelanjutan kisahnya Emaknya Alif."


Raut wajah mereka yang ada di dalam ruangan itu tidak menyangka jika anak sekecil itu harus menjalani hidup yang sangat menyiksa jiwa raganya hingga mereka memutuskan hanya terdiam dengan seribu bahasa. Menunggu apa selanjutnya yang akan mereka dengar lagi.


"Beberapa saat kemudian, mobil pun melaju meninggalkan Rumahnya Abang Nurman menuju daerah yang sangat jauh dari sana, hingga menuju daerah puncak yang jalan Kami lalui ternyata adalah perbukitan yang ke dua sisi jalannya adalah jurang, hingga hujan pun turun mengguyur seluruh jalan yang kami lalui semakin memperparah kondisi jalan, dan mobil Kami terguling ke dalam jurang."


Dion dan Bryan ikut bersama dengan Maya. Sedangkan Martin pun sudah duduk di dekat Istrinya tercinta yang sedari tadi memeluk pinggang Istrinya dengan posesif dan menyalurkan rasa aman dan tenang kepada Amairah.


"Semoga Alif itu adalah anakku Axel yang menghilang, tapi jika Dia adalah Axel aku tidak akan membiarkan di Nurman menghirup udara bebas, kalau perlu dia juga berakhir di penjara seperti Kakek Ahmed."


"Mas aku yakin Alif adalah Axel putra sulung kita, dari sikap dan wajahnya mirip dengan Mas," ucap Amairah yang sesekali mengambil tissue untuk mengelap air matanya.


"Saya berusaha untuk terus membantu Alif untuk keluar dari mobil itu, dengan susah payah Aku terus berusaha untuk keluar dari sana dengan menggendong tubuh Alif di punggungku, hingga dengan penuh perjuangan yang tidak pernah pupus dari pikiran dan hatiku, aku tidak ingin mengalah dengan keadaan yang penting anak kecil yang ada di dalam gendonganku selamat."


"Hatimu sangat mulia Nurmala, kami sangat bangga sama Kamu dan tanpa Kamu Alif pasti sudah tidak ada di antara kita," jawab Martin.


"Apa yang dilakukan oleh Ibu Nurmala patut kita apresiasi dan contoh, jika menolong orang lain itu jangan pandang bulu, jangan terlalu banyak pertimbangan dan menolong itu tidak perlu pakai alasan apa pun," ucap Pak Heri yang bangga dengan sikap emaknya Alif.


"Astagfirullahaladzim, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu, jika aku yang berada di sana," ucapnya Maya yang semakin tersulut emosinya.


Amairah tidak menduga jika perjuangan yang dilakukan oleh Ibu Nurmala sangat tidak lah mudah.


"Aku yakin Alif adalah putraku, walaupun emaknya Alif tidak mengetahui jika Alif adalah anakku, apa Aku sebaiknya, aku lakukan tes DNA saja untuk memastikan kecurigaanku selama ini."


Ibu Nurmala semakin terisak dalam tangisnya, masa lalu yang ingin dia lupakan terpaksa dia ceritakan lagi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Saya masih bersyukur Mbak karena Allah masih bisa menyelamatkan Kami, walau pun kondisinya Kami sangat memprihatinkan," ucap sendu Emaknya Alif.


"Saya bangga sama Kamu Nurmala, berkat pertolongan Kamu dan kegigihan Kamu, seorang anak kecil bisa terselamatkan nyawanya, walaupun Kamu tidak mengetahui siapa anak itu dan Kamu bukan keluarga dari anak itu," terang Nenek Masitha.


"Iya, betul yang Nenek katakan, hatinya Ibu Nurmala sungguh sangat berhati besar dan rela berkorban untuk orang lain, ibu Nurmala sangat gigih untuk menolong Alif," jelas Pak Heri.


Manusia yang paling baik adalah manusia yang sering membantu orang lain.


Membantu orang lain tanpa pamrih dapat, membawa kebahagiaan yang abadi. Itu dapat membantumu membangun hubungan jangka panjang. Membuka lebih banyak pintu untukmu, dan membawa khusus kesuksesan yang berarti.


Fania ucapkan Syukur Alhamdulillah dan Makasih banyak kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰


...Tetap Dukung CYT dengan:...


...Cara Like setiap Babnya...


...Rate bintang lima...


...Gift Poin atau Koin...


...Favoritkan selalu...


Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak 👌✌️.


Judulnya:



Sang Penakluk


Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



...********Bersambung********...


by Fania Mikaila AzZahrah


Takalar, Sulawasi Selatan, Senin, 20 Juni 2022

__ADS_1


__ADS_2