Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 153. Ketakutan dan Kebimbangan


__ADS_3

Selamat Membaca..


Masih Flashback..


Ibu Sumartini sudah duduk di atas kursi roda dan didorong perlahan dan sangat pelan oleh perawat yang bername tag itu Azizah.


"Ini ruangan putra Ibu, silahkan masuk kalau ingin kembali ke rumahnya ibu, tinggal berteriak saja, Saya ada di ruangan sebelah itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan.


Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh suster itu.


"Makasih banyak," ucap tulus ibu Sumartini.


Anak kecil itu terkulai lemah di atas ranjang, tubuhnya juga dipenuhi oleh luka yang perlahan mengering, kepalanya dibalut perban yang telah dioperasi dua hari yang lalu. Hidungnya terpasang alat pernafasan serta selang infus di tangan kirinya.


"Alhamdulillah, ibu sangat bersyukur Kamu juga selamat nak," lalu menggenggam tangan mungil itu.


Tetesan air mata membasahi pipinya dan teringat saat-saat mobil yang mereka tumpangi tadi jatuh ke dalam jurang, hingga mereka bisa keluar dari mobil itu hingga dengan susah payah dan perjuangan yang sangat luar biasa.


Tetesan air matanya mengenai salah satu tangannya Alif hingga perlahan membuka kelopak matanya yang sejak tiga hari yang lalu terbaring lemah dan pingsan.


"Ibu harap Kamu baik-baik saja dan tidak ada yang berbahaya terjadi padamu," ucapnya lalu mencium tangannya Alif.


"Aku di mana?" tanyanya dengan suara yang sangat lemah dan tidak berdaya serta matanya sayu yang mengisyaratkan betapa lemahnya saat ini.


"Nak Kamu sudah bangun, apa yang Kamu rasakan katakan sama ibu nak," ucap Ibu Sumartini yang mengkhawatirkan keadaan Alif.


"Ibu siapa, aku ada di mana?" tanyanya dengan suara lemahnya.


"Aku ibu Nur... eehh ibu Sumartini, Kamu Sekarang ada di rumah sakit nak, apa ada yang Sakit? kalau ada yang sakit Ibu akan segera panggilkan dokter," jelasnya.


"Mungkin aku merahasiakan saja identitasku di hadapan orang-orang agar Abang Nurman tidak mengetahui jika Aku selamat dan masih hidup."


Sejak saat itu lah, Dia merubah semua identitasnya dan jika ada yang bertanya dan mencari surat-surat tentang identitasnya terbakar di dalam mobil box itu.


"Kepala sama seluruh tubuhku yang sakit Bu," jawabnya.


"Apa ibu boleh tahu nama Kamu siapa Nak? masa Kamu dipanggil dengan sebutan nak terus," ucapnya sambil tersenyum melihat tingkah Alif.


Anak itu kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu Sumartini. Tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri pun kebingungan dengan pertanyaan dan jawabnya. Anak itu berusaha untuk menjawabnya, tapi tidak tahu harus berbicara apa.


"Apa Kamu tidak ingat nama Kamu siapa?" tanyanya lagi.


Anak itu hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu akan menjawab apa. Ibu Sumartini menutup mulutnya dan perlahan menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka jika anak sekecil itu harus menderita dan hilang ingatan.

__ADS_1


"Apa dia amnesia? apa mungkin karena berapa kali kepalanya terbentur dan dioperasi sehingga hilang ingatan."


"Apa Ibu tahu namaku?" tanya Anak laki-laki itu dengan polosnya.


"Nama Kamu adalah Alif Faturahman putranya Ibu, jadi mulai sekarang kalau ada yang bertanya nama Kamu siapa, kamu cukup menjawab Alif yah," terang Ibu Sumartini.


"Iya Bu," jawabnya kemudian.


"Setelah kita dibolehkan pulang oleh Dokter, kita harus pergi jauh dari sini dan mencari tempat tinggal baru yang aman untuk kita tinggali yang sangat jauh dari sini," ucapnya.


Alif pun hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ke arah emaknya.


"Kamu panggil emak saja yah jangan panggil ibu," pinta Emaknya Alif.


Mulai hari itu, mereka hidup berpindah-pindah mencari tempat yang aman dan cocok untuk mereka tinggali hingga mereka sampai di Kota Semarang, tapi satu bulan yang lalu mereka terpaksa harus pergi dari sana karena ada yang ingin menculik Alif dan menjual Alif ke gembong penjualan anak.


Hingga tanpa mereka tahu sebelumnya mereka bertemu dengan Maya yang kebetulan sedang melakukan perjalanan dari Kota Bandung kembali ke Jakarta.


Flashback off..


"Ya Allah apa Aku harus berterus terang kepada mereka siapa Alif sebenarnya saja, agar hidupnya Alif lebih aman jika tiba-tiba ada lagi yang mengancam hidupnya Alif," ucapnya di saat melipat pakaian Alif.


Ibu Sumartini dalam keadaan yang galau dan kebingungan serta ketakutan yang melandanya.


Berbagai macam pemikiran buruk menghantuinya, banyak suara bisikan yang dia dengar yang semakin membuatnya kebingungan sekaligus ketakutan dalam waktu yang bersamaan.


"Aku tidak sanggup untuk berpisah dengan Alif, Aku sangat menyayangi Alif melebihi diriku sendiri,"


Ibu Sumartini menangis histeris dan tidak bisa membayangkan jika apa yang ditakutinya itu menjadi kenyataan.


Maya yang sudah bersiap berangkat ke rumah Nenek Masitha segera meninggalkan apartemennya dan lupa pamit kepada Ibu Sumartini tadi ingin pamitan, tapi pintu kamarnya Emaknya Alif tertutup dan terkunci rapat. Maya tidak ingin mengganggu Ibu Sumartini yang kemungkinannya sedang beristirahat.


"Aku pergi saja, pasti emaknya Alif akan menyadari jika saya pergi sebentar," ucap Maya yang sudah mengemudikan mobilnya menuju kediaman Nenek Masitha.


Jalan cukup padat malam itu padahal sudah pukul 10.00 malam lebih.


"Malam cukup ramai padahal bukan malam minggu," ucapnya yang ikut dalam kemacetan yang cukup panjang padat merayap.


Maya menyalakan musik melalui tape mobilnya untuk mengusir rasa jenuh dan kebosanannya itu.


"Apa Aku menelpon Ibu Tini saja yah, agar beliau tidak takut atau pun khawatir," ucapnya lalu meraih hpnya yang ada di atas dasbor mobilnya.


Hpnya sudah di dalam genggamannya dan bersiap mencari nomor hpnya Ibu Tini, tapi hpnya terlebih dahulu berdering dan yang menelponnya adalah Dion calon suaminya.

__ADS_1


"Assalamu alaikum Mas," ucap salam Maya.


"Waalaikum salam, Sayang Kamu ada di mana?" tanya Dion.


"Aku ada di jalan di sekitar bundaran HI nih Sayang, emang ada apa?" tanya balik Maya.


"Apa Nenek Masitha menelpon Kamu?" tanya Dion.


Dion pun segera bergerak menuju kediaman Nenek Masitha setelah menyelesaikan pekerjaannya di Perusahaan Simatex. Dion juga berada di dalam mobilnya yang akan ke rumah nenek Masitha, sayangnya harus terjebak dengan kemacetan yang cukup panjang.


"Iya Mas, Nenek tadi menelponku dan memintaku ke rumahnya, kenapa emangnya Mas?" tanya Maya yang sesekali melihat ke arah depan dan berharap segera terbebas dari kemacetan.


"Aku juga ditelpon sama Nenek, tapi nggak tahu apa sebenarnya tujuannya Mas dipanggil ke sana, kalau Kamu sayang, apa Kamu tahu dipanggil ke sana untuk apa? tanya Dion yang sebenarnya sangat bosan dan jengkel dengan kemacetan yang terjadi setiap hari bahkan hampir setiap saat di Ibu Kota Jakarta.


"Entahlah Mas, semoga saja hal yang baik yang akan kita dengar dari Nenek Masitha," ujarnya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah kembali menyalakan mesin mobilnya karena sudah terbebas dari kemacetan tersebut. Maya dan Dion sama-sama heran dan bertanya ada apa dibalik semua itu.


Jangan Lupa untuk Mampir ke Novelku yg judulnya:


...1. Sang Penakluk...


...2. Bertahan Dalam Penantian...


...3. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...


Tetap dukung Cinta Yang Tulus dengan cara:


...Like Setiap Episodenya 👍...


...Favoritkan ♥️...


...Gift Poin atau Koin Seikhlasnya 🎁...


...Rate Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐...


...Vote nya juga masih ada 💚...


...********Bersambung*******...


...by Fania Mikaila Azzahrah...


...Takalar, Selasa 14 Juni 2022...

__ADS_1


__ADS_2