
Selamat Membaca..
Lee baru menyadari jika kotak bekalnya tertinggal di dalam mobil maminya. Dia berlari ke arah luar berharap mobil Maminya belum jauh. Hingga dia berlari secepatnya agar tidak terlambat.
"Mami... Mami!!!!!" teriaknya sambil berlari mengejar mobil Delisha yang semakin jauh saja.
Usaha yang dilakukan oleh Lee tidak berhasil. Tubuhnya terjatuh hingga tersungkur di atas aspal. Dia segera bangkit lalu ingin kembali berdiri, tapi tiba-tiba pandangannya tertuju ke arah mobil yang menuju kearahnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Aaaahhhhh Mami!!!!
Ke dua tangannya menutupi matanya dengan refleks. Lee sudah pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi selain hanya menutup matanya.
Ciiiiiiiiiiitttttttttt....
Mobilnya tiba-tiba harus berhenti karena hampir saja dia menabrak seseorang.
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal menimbulkan suara yang cukup nyaring dan berdengung. Membuat beberapa pasang mata yang ada di sekitar jalan tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah mobil.
"Hey ada yang ditabrak," teriak seseorang warga masyarakat.
Karena teriakannya itu membuat mereka berlarian ke tempat kejadian kecelakaan.
Abimanyu segera tersadar dan turun dari mobilnya. Dia berjalan tergesa-gesa ingin memeriksa dan melihat kondisi orang yang dia tabrak.
Abimanyu tercengang melihat kondisi Lee yang sudah tidak sadarkan diri dan tubuhnya agak jauh dari posisi ban mobilnya. Dia segera menggendong tubuhnya Lee ke dalam mobilnya.
"Bagaimana dengan kondisinya Pak?" tanya seseorang ibu-ibu.
"Bawa segera ke Rumah Sakit Pak, dia sudah tidak sadarkan diri," timpal bapak yang satunya.
Abimanyu sama sekali tidak menimpali dan menjawab pertanyaan mereka lontarkan.
"Maaf Pak Saya akan segera membawanya ke RS dan bantu do'anya semoga anak ini tidak apa-apa," jawabnya lalu menidurkan Lee di jok belakang.
"Iya pak cepat ke RS kasihan anaknya," tutur ibu-ibu yang memakai hijab.
Mobilnya meninggalkan kerumunan masyakarat yang turut melihat kejadian tersebut. Abimanyu tersenyum ke arah mereka sebelum meninggalkan tempat itu.
Karena laju mobilnya yang sangat kencang, hingga lebih cepat sampai di Rumah Sakit. Abimanyu menggendong tubuhnya Lee hingga ke dalam Ruangan ICU, walaupun ada beberapa perawat yang mendorong bangkar untuk membantunya. Tapi ditolaknya dengan halus.
"Dokter berikan yang terbaik untuk anak ini," ucapnya di hadapan Dokter yang sudah menangani Lee.
"Baik Tuan," balasnya.
"Maaf Pak, sebaiknya Bapak menunggu di Luar saja," tutur Suster tersebut yang mendorong tubuh Abimanyu hingga ke depan pintu.
"Ya Allah selamatkan lah anak itu, Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya."
__ADS_1
Abimanyu duduk di bangku kursi tunggu. Dia sudah melupakan tujuan awalnya. Yaitu ingin mengikuti dan mengejar terus Delisha.
Dia terduduk di atas kursi, tangannya bertumpu di atas pahanya. Lalu sesekali mengelus wajahnya dengan gusar.
"Aku harus menghubungi Nathan untuk segera mencari tahu siapa orang tua dan keluarganya anak kecil itu."
Dia segera merogoh sakunya lalu menelpon nomor Nathan segera.
"Halo Nathan segera cari tahu siapa keluarganya anak yang Saya tabrak di depan sekolahnya sekitar dua jam lalu," jelasnya sambil melirik ke arah jam tangannya.
Abimanyu segera mematikan sambungan teleponnya lalu berjalan ke arah pintu ICU untuk melihat kondisi Lee.
Dia mondar mandir di depan pintu seperti setrikaan saja. Hingga tidak ada rasa lelah dan bosannya untuk melakukan hal itu.
Nathan yang diperintahkan untuk mencari identitas dari Lee menemui kesulitan. Pasalnya identitasnya yang tertera di daftar list siswa SD internasional itu adalah Ayahnya bernama Mark Print Atmadja dan ibunya Lusiana Horne Atmadja. Alamatnya ada di Thailand.
Nathan segera menghubungi nomor hp CEOnya untuk menginformasikan apa yang dia dapatkan. Dia masih berjalan ke sana kemari untuk menutupi kegugupan dan rasa takutnya yang menderanya. Hingga hpnya berdering dan bergetar di dalam kantong celananya.
Abimanyu segera mengambil hpnya lalu tanpa memeriksa siapa orang yang menelponnya itu.
"Tuan, anak kecil yang Tuan tabrak itu identitasnya bukan orang Indonesia, tapi orang Thailand yang lahir di London," jelasnya.
Perkataan dari asistennya membuatnya terdiam mematung mendengarkan seksama penjelasan dari Nathan.
"Kalau gitu, Kamu beralih ke Komputer seperti biasa untuk mencari siapa anak itu,Aku yakin dia bukan anak dari rakyat biasa saja kalau seperti ini."
"Aku yakin dia bukan anak biasa pasti ke dua orang tuanya memiliki rahasia yang mereka tutupi,setahuku Tuan Besar Mark sudah tua dan tidak memiliki anak, anaknya sudah lama meninggal dunia dan tidak ada kabar apa pun kalau beliau memiliki cucu."
Abimanyu meletakan hpnya didekat bibirnya. Lalu menatap ke arah pintu ICU yang sampai sekarang belum terbuka juga.
Nathan yang diserahi tugas untuk mencari informasi tentang Lee mengalami kesulitan yang cukup sulit.
Dia sudah berkutat dengan laptopnya, tapi sudah beberapa menit dia belum mendapatkan informasi sedikit pun. Bahkan apa yang dilakukannya mendapatkan rintangan yang cukup membutuhkan waktu yang tidak sebentar pula.
"Kalau seperti ini aku tidak akan dapat bonus gede yang dijanjikan oleh Tuan Muda."
Dia teringat dengan salah satu temannya yang memiliki kemampuan yang cukup kredibilitas tinggi dan kemampuannya sudah diakui.
"Bryan Adams Regan pasti bisa membantuku."
Dia segera menghubungi nomor hpnya Bryan tapi tidak tersambung dan selalu berada di luar jangkauan. Hanya operator seluler yang menjawab panggilannya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat kemudian atau tinggalkan pesan setelah nada beet berikut.
"Apa dia masih di USA, seingatku dia sudah kembali ke Indonesia, aku akan mencoba untuk menelponnya lagi nanti."
Abimanyu tidak sabaran menunggu pintu itu terbuka. Sudah hampir tiga jam Lee diperiksa oleh Dokter. Pintu berdecit pertanda pintu itu terbuka lebar.
__ADS_1
Abimanyu segera berjalan tergesa-gesa ke arah pintu. Dan menyerbu berbagai macam pertanyaan ke arah Dokter.
"Dokter bagaimana dengan keadaan putraku?" tanyanya dengan penuh kecemasan sehingga tidak sadar lagi dengan apa yang dikatakannya.
Raut wajahnya sangat nampak jelas terlihat. Ada ketakutan dan kecemasan dalam waktu yang bersamaan.
Dokter itu hanya tersenyum menanggapi sikap dari Abimanyu.
"Alhamdulillah putra bapak baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawabnya.
"Kalau tidak ada apa-apa yang perlu dikhawatirkan, kenapa pemeriksaannya sangat lama Dok?" tanyanya dengan raut kebingungan.
Apa yang dirasakannya saat ini adalah yang pertama kalinya dia alami. Seperti seorang Ayah yang ketakutan terjadi sesuatu kepada putranya.
Dokter kembali tersenyum teduh ke arah Abimanyu yang keresahan hatinya dan pikirannya tidak tenang.
"Maaf Kami melakukan berbagai pemeriksaan medis pada seluruh tubuhnya luar dalam sehingga butuh waktu sedikit lama Pak," jelasnya panjang lebar.
Barulah hatinya merasa tenang setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter yang bername tag Dokter Ardian.
"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak Dok," ujarnya dengan raut wajahnya yang sudah mulai tenang dan tidak seperti sebelumnya.
"Sama-sama Pak."
Dokter tersebut tersenyum sebelum meninggalkan Abimanyu yang masih berdiri di depan pintu.
Abimanyu segera berlari ke arah dalam ruangan ICU dan melihat tubuh kecil Lee terbaring lemah. Dia pun menarik kursi yang kebetulan ada di dekatnya lalu mendudukkan bokongnya.
Dia menggenggam tangannya Lee yang tidak terpasang selang infus. Ia mengelus rambut hitam sedikit kecokelatan milik Lee.
"Kamu mengingatkan aku saat kecil dulu."
Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Hanya melihat beberapa perban yang menutupi lukanya Lee membuatnya sedih dan hatinya teriris sembilu.
Praaaaaaangggggg...
Delisha yang sudah duduk di kursi pesawat Jet pribadinya kehausan dan hendak meraih gelas yang ada di atas meja, tapi jangkauan tangannya tidak sampai sehingga gelas itu terjatuh.
Raut wajahnya langsung berubah dan teringat dengan kondisi putranya.
"Ya Allah kenapa perasaanku tidak tenang dan selalu teringat dengan Lee, kalau sampai di New York aku akan segera menelpon Abang Axel."
...Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers all....
...********To Be Continued********...
...by Fania Mikaila Azzahrah...
__ADS_1
...Makassar, Takalar, 06 Juli 2022...