
Selamat Membaca....
Tidak terasa perut Amairah sudah 9 bulan, rasa khawatir yang selama tidak pernah dia rasakan pun muncul juga. Amairah khawatir dengan dirinya jika sudah melahirkan siapa yang akan mengadzani anaknya nanti jika lahir. Itu lah yang dikhawatirkan oleh Amairah.
Setiap bulan Amairah memeriksakan kandungannya ke Dokter kandungan yang praktek tidak jauh dari rumahnya. Amairah setiap kali periksa selalu menggunakan jasa taksi online.
Rumah yang bercat hijau tua telah menjadi saksi bisu dari perjuangan seorang perempuan yang memilih untuk meninggalkan kota tempat kelahirannya demi memberikan kehidupan yang baik untuk calon bayinya.
Pagar rumah minimalis tersebut berdecit pertanda ada seseorang yang membuka pintu pagar tersebut. Pintu pagar rumah yang kurang lebih tujuh bulan telah dihuni oleh Amairah seorang diri. Pagar tersebut terbuka lebar dan masuklah seorang pria yang umurnya kira-kira sekitar 50an. Yang berjalan tegak dengan perawakan tinggi tegap, kulit putih Langsat ciri khas kulit orang pribumi dan kelopak mata yang agak sipit Dengan sedikit uban di kepalanya, berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah Amairah.
Amairah yang mendengar suara pintu pagar rumahnya terbuka segera berjalan ke arah luar dan mengintip dengan menyingkap sedikit tirai jendela agar Dia bisa melihat jelas siapa orang tersebut.
Orang tersebut mengetuk pintu rumah yang bercat hijau tua yang senada dengan warna cat dinding depan rumah Amairah. Amairah segera membuka pintunya dan sesekali memegang perutnya yang agak sakit. Setelah pintu terbuka Amairah langsung memberondong bapak tersebut dengan pertanyaan.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?." tanya Amairah pada bapak tersebut.
"Maaf Apa saya bisa duduk?." tanya Pria tersebut.
"Silahkan duduk pak" ucap Amairah yang mempersilahkan duduk tamunya.
"Makasih" ucap pria tersebut sambil mendudukkan tubuhnya ke Kursi yang ada di teras rumahnya.
"Maaf pak, kalau boleh tahu Bapak cari siapa atau ada yang busa saya bantu?". tanya Amairah pada Pria tersebut.
Pria tersebut hanya membalas perkataan Amairah dengan senyuman.
"Maaf kedatangan saya ke sini hanya ingin melihat kondisi rumah ini dan siapa orang yang sekarang ini yang menjadi penghuni rumah bos saya," ucap Pria tersebut.
"Ooh gitu yah pak" ucap Amairah yang mulai khawatir dan takut jika tiba-tiba dirinya di suruh pindah dari rumah tersebut.
"Oiy perkenalkan nama bapak Heriyanto Tan" ucap pak Heri sambil menjabat tangan Amairah.
Tapi Amairah belum sempat mengulurkan tangannya untuk berkenalan, perutnya Tiba-tiba sakit dan mules.
"Aaauhhh" ucap Amairah yang mengelukan perutnya yang sakit.
"Ada apa nak?." Tanya Pak Heri.
"Perut saya sangat sakit pak, mungkin saya akan melahirkan" jawab Amairah yang memegangi perutnya yang semakin sakit.
"Kalau gitu bapak akan bantu kamu, ayok nak ke mobil bapak" ucap pak Heri dan membantu Amairah untuk berjalan.
Pak Heri segera berlari untuk membuka pintu mobil untuk Amairah. Amairah pun masuk ke dalam mobil tersebut.
"Pak minta tolong yah pak, ambilkan tasku yang ada di atas Meja" ucap Amairah sambil sesekali menghela nafasnya dan berusaha menahan Sakit perutnya yang semakin menjadi saja.
__ADS_1
"Tahan yah nak, kita akan segera ke rumah sakit" ucap pak Heri dibalik kemudi mobilnya.
Pak Heri teringat disaat istrinya melahirkan dan dirinya sendiri yang membantu dan mengantar isterinya ke rumah sakit. Pak Heri bersedih karena di hari itu pula dirinya harus kehilangan Istri tercintanya sedangkan Istrinya berhasil melahirkan seorang putri yang sangat cantik dan waktu itu pak Heri sangat terpukul karena dihari kelahiran putrinya dirinya Harus kehilangan sosok perempuan yang sangat dia cintai.
"Pak bisa lebih cepat sedikit" ucap Amairah yang mampu membuyarkan lamunannya.
"Iya nak, tunggu dan sabar yah" ucap pak Heri sambil melirik Amairah lewat kaca spion mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Mereka sudah sampai di rumah sakit, beberapa perawat segera membantu Amairah dan Amairah sudah di bawah ke dalam ruang khusus bersalin.
"Teruslah berdo'a nak dan ingat nama Allah nak, insya Allah kamu akan melahirkan dengan selamat" ucap pak Heri lalu melepaskan pegangan tangannya karena pintu ruangan bersalin akan ditutup.
Oak Heri kembali teringat dengan masa lalunya, karena tidak adanya biaya sehingga istrinya waktu itu tidak bisa diselamatkan. Oak Heri kembali teringat disaat istrinya pergi Dia sempat memberikan sebuah liontin perak yang sangat cantik. Itu adalah peninggalan dari orang tua istrinya. Sebenarnya istri pak Heri adalah orang kaya tapi karena memilih untuk menikah dengan pak Heri yang cuma seorang supir pribadi dari ke dua orang tua istrinya sehingga mereka tidak direstui dan harus diusir dari rumah ke dua orang tua istrinya.
Istrinya bernama Diana Nasution Frans. Itu nama yang sangat cantik yang membuat pak Heri tidak menikah lagi. Tapi sungguh malang nasib pak Heri, karena putrinya yang dia titipkan sementara waktu di tempat penitipan anak hilang karena waktu itu terjadi kebakaran.
Pak Heri sangat terpukul dengan kejadian itu. Hingga membuat dirinya harus memilih hidup seorang diri dan berjuang untuk memperbaikinya kehidupannya sambil terus mencari keberadaan putrinya yang hilang. Hingga Pak Heri sudah menjadi seorang pengacara dari keluarga dan pengusaha ternama, pemilik dari rumah yang dikontrak oleh Amairah.
Amairah berjuang demi anaknya, Sakit yang dirasakan oleh Amairah sungguh tidak tertahankan.
"Ayok ibu dorong dengan kuat" ucap ibu dokter.
"Aku tidak sanggup lagi Ibu dokter" ucap Amairah yang sudah ingin pasrah karena tidak kuat lagi untuk mengedan.
Amairah pun menarik nafasnya yang panjang dan sekali tarikan nafas, anaknya pun lahir. Suara bayi pun menggema memenuhi ruangan tersebut. Dokter dan perawat tersenyum bahagia karena bisa membantu seorang ibu untuk melahirkan buah hatinya.
"Alhamdulillah selamat Ibu, putra ibu lahir dengan selamat dan sehat, anak Ibu cowok" ucap ibu dokter.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah" ucap syukur Amairah.
Perawat pun segera menaruh bayi Amairah di atas tubuh Amairah untuk membantu inisiasi dini.
"Kami bersihkan putra ibu dulu yah ibu" ucap perawat.
"Anak ibu ganteng yah, hidungnya mancung dan rambutnya agak cokelat seperti rambut turis gitu" ucap perawat yang membantu membersihkan tubuh putra Amairah.
"putra ibu sudah bersih, Siapa yang mau adzanin apa Ayahnya ada Ibu?." tanya Suster yang menggendong bayi Amairah.
Amairah refleks menjawab kalau kakeknya yang akan melakukan hal itu. Karena yang terlintas dipikirannya adalah Pak Heri.
"Kakeknya suster ada di depan" ucap Amairah, yang bingung karena tidak mungkin Amairah bilang Ayahnya sedangkan Amairah saja tidak tahu siapa ayah anaknya.
"Maaf pak, putri bapak bilang kalau bapak yang akan mengadzani cucu Bapak" jelas Suster tersebut.
Pak Heri bengong sendiri dengan perkataan dari suster karena dirinya tidak punya anak dan juga cucu. Tapi Pak Heri teringat jika dia tadi membantu Amairah ke rumah sakit untuk melahirkan.
__ADS_1
"Ooh iya suster sini aku kumandangkan adzan ditelinga cucuku yang ganteng ini" ucap pak Heri yang sudah menggendong bayi Amairah.
Pak Heri terharu melihat putra Amairah yang ada dalam gendongannya dan langsung meneteskan air matanya setelah mengumandangkan adzan ditelinga putranya Amairah.
"Jadilah jagoan yang selalu menjaga, melindungi mamamu dan kebanggaan Orang tuamu nak" ucap do'a tulus dari pak Heri sambil menyeka air matanya.
Amairah pun dibawah ke ruangan perawatan VVIP. Pak Heri ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya Amairah. Karena pak Heri kembali bersemangat seakan-akan Dia adalah Kakek kandung dari anak Amairah.
"Putra kamu sangat tampan" ucap pak Heri yang memandang wajah putra Amairah dan entah kenapa setelah melihat wajah dari putranya Amairah, Pak Heri teringat seseorang yang mirip dengan wajah anak tersebut.
"Makasih banyak pak, untung saja ada bapak yang menolong Amairah, kalau tidak ada bapak pasti Amairah bingung siapa yang Amairah suruh untuk mengumandangkan adzan untuk anakku" Ucap tulus Amairah.
"Apa kamu sudah punya nama untuk putramu?." tanya pak Heri.
"Belum ada pak, karena dulu setiap kali aku USG selalu tidak nampak jenis kelaminnya hehehe" ucap Amairah yang tersenyum manis ke arah pak Heri.
Pak Heri kembali teringat dengan mendiang istrinya yang jika tersenyum mirip dengan Amairah.
"Andai saja putriku masih hidup mungkin aku juga sudah menimang cucu." monolog Pak Heri
Bonus Visualnya Para pemain CYT:
Visual Baby Axel Muhammad El Rumi
Amairah si Mamud
Kalau Yang ini Meeta sepupu dari Amairah sekaligus Istri ke Dua dari Adam suaminya Amairah
Kalau Yang ini Model Top Ibu kota sekaligus Kekasih dari Martin, Nikita Aiman
Bersambung..
Typo mohon dimaklumi yah 🙏
Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang sudah menyempatkan waktunya untuk mampir 🙏.
Dukung terus CT dengan cara Like, Favorit Vote, Rate Bintang 5 dan komentarnya yah 🙏.
__ADS_1