
Selamat Membaca..
Sudah seminggu Amairah terbaring lemah dan tidak berdaya dan masih tidak sadarkan diri. Sedangkan kondisi putrinya yang lahir prematur sudah dinyatakan dalam keadaan yang baik dan perkembangannya sudah seperti bayi normal lainnya. Martin setiap hari bolak balik Kantor dan rumah sakit. Hanya demi kedua perempuan yang dia sayangi.
Nenek Masitha pun setiap hari menyempatkan dirinya untuk selalu berkunjung ke rumah sakit untuk membesuk cicit dan cucu menantu kesayangannya.
"Amairah sayang bangunlah, dan maafkan Mas sayang, Mas tidak ada maksud sedikit pun untuk menyakiti kamu, Mas minta maaf jika karena mas belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan semua kebenaran itu dihadapan kamu, Mas tidak bisa hidup tanpa kalian"
Martin terus mengajak Amairah untuk berbicara sambil mencium ke dua genggaman jemarinya Amairah.
"Kalau kamu sadar, Mas akan berjanji untuk mengatakan semuanya dan Mas tidak akan menutupi kenyataan siapa Mas sebenarnya dihadapan kamu bahkan mas akan bersujud dikakimu".
Martin selalu menghibah dihadapan Amairah walaupun Amairah tidak secara langsung mendengar semua perkataan yang dikatakan oleh Amaira, tetapi Martin tetap melakukan itu dan Martin berharap jika apa yang dia katakan membuat Amairah tersadar dari komanya.
"Kamu harus kuat nak, lihat putrimu sangat cantik, hidung sama matanya mirip kamu loh Martin" ucap Nenek Masitha dengan hadapan Martin dan Amairah sambil menggendong putrinya Martin yang belum diberikan nama karena Martin berharap Amairah lah yang memberikan nama yang cantik untuk anak mereka.
Sedangkan Putranya kembarannya tidak sempat Martin lihat langsung dikarenakan Dokter dan perawat segera mengambil keputusan untuk memakamkan putrinya tanpa Martin cium untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
"Ingat putri kamu butuh kamu nak, jangan terus terpuruk dan tidak memiliki semangat untuk hidup lagi, lakukan semuanya demi putri dan istri kamu, jadi nenek mohon bangkit lah nak" ucap Nenek Masitha yang memegang pundaknya Martin untuk memberikan motivasi, semangat dan terus berjuang untuk ke dua anggota keluarganya.
Sedangkan di luar ruangan, Pak Heri mencari tahu rekaman cctv disaat Pak Heri memeriksa keadaan dari cctv tersebut, melalui anak buahnya, tapi setelah memeriksa langsung rekaman tersebut, Pak Heri merasa ada kejanggalan dan ada yang mengacaukan sistem cctv rumah sakit.
"Kalian tidak becus, mengawasi cctv saja kalian tidak bisa menjaganya dengan baik?" teriak Pak Heri yang buku-buku tangannya sudah memutih dan matanya memerah pertanda Pak Heri sangat marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Pak Heri tidak percaya jika anak buahnya yang selama ini dia banggakan ternyata harus kalah dengan seorang yang tidak dikenal, Anak buahnya juga sudah sempat melakukan perlawanan terhadap peretas tersebut tetapi ternyata mereka lebih kuat dan jenius dibandingkan dengan semua anak buahnya sendiri.
"Maafkan kami Bos, Kami sudah melakukan yang terbaik dan segera memeriksakan siapa orang yang telah mengacaukan cctv tersebut, tapi Dia sangat lihai untuk menutupi jati dirinya bahkan sistem kami waktu itu diganggu oleh mereka" jelas anak buahnya Pak Heri.
__ADS_1
Pak Heri hanya menggeleng kepalanya dan takut jika ada seseorang yang sengaja mengacaukan Cctv tersebut karena ada maksud tersembunyi dari balik apa yang mereka lakukan.
"ingat tambah penjagaan kalian di sekitar ruangan putriku dan segera hubungi anak buah kamu di sekitar rumah Ariel secepatnya, jangan sampai ada yang terjadi kepada cucuku Axel" perintah Pak Heri.
Pak Heri langsung berjalan ke dalam ruangan perawatan Amairah dan melihat Martin yang ketiduran di sekitar ranjang perawatan Amairah. Sedangkan Nenek Masitha duduk di sekitar box bayi putrinya Martin yang kadang menggendong bayi tersebut jika bayi itu merasa gelisah dan tidak tenang, mungkin menginginkan digendong.
"Cicit nenek yang cantik pengen digendong yah sayang?" ucap Nenek Masitha yang langsung mengambil baby-nya Martin.
Setelah bayi tersebut digendong dalam pangkuan Nenek Masitha, si Baby langsung terdiam dan kembali terlelap.
Pak Heri langsung berjalan ke arah Nenek Masitha dan langsung melihat cucunya yang sedang rewel sebelum digendong oleh Nenek Masitha.
"Gimana dengan si kecil Nek, apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Heri yang menoel pipinya Si Baby yang sudah nampak mulai tembem dan ada cubby nya.
"Alhamdulillah semakin membaik dan tidak terlalu rewel lagi, hanya jika lapar dan haus barulah dia menangis" jawab Nenek Masitha.
"Nenek apa masih mengingat dengan tuan Alberto prin Atmadja?" tanya Pak Heri.
"Nenek mohon jangan bahas mereka di depan Martin, Nenek tidak ingin memberikan kepada Martin yang sudah cukup banyak menanggung penderitaan selama beberapa hari belakangan ini" ucap Nenek Masitha.
Pak Heri hanya tersenyum dan tidak ingin melanjutkan pertanyaannya yang awalnya hanya ingin memastikan saja Apa Martin sudah mengetahui siapa sosok dalang dibalik kecelakaan mobil yang dialami oleh ke dua orang tuanya. Pak Heri pun khawatir jika otak dari kekacauan sistem cctv-nya adalah Tuan besar Mark yang tidak lain adalah mantan Ayah mertuanya sendiri dan sekaligus kakek dari Amairah.
"Semoga pelaku dari kekacauan ini bukanlah bersumber dari tuan besar, tapi kalau tuan besar yang melakukan semua itu, apa maksudnya dan tujuannya?".
"Heri mungkin nanti malam Saya tidak datang ke rumah sakit karena kebetulan ada salah satu anggota keluarga yang di kota J yang meninggal dunia jadi Saya akan berangkat ke Jakarta setelah dari sini" tutur Nenek Masitha.
"Nenek tenang saja, Saya akan mengerahkan seluruh anak buah terbaik saya untuk menjaga sekitar ruangan ini dan juga Saya akan menghubungi Hernita untuk segera menggantikan Nenek menjaga mereka" jelas Pak Heri.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu Saya bisa tenang pergi ke Ibu Kota" ucap Nenek Masitha yang mencium pipi cicitnya sebelum keluar dari kamar perawatan tersebut.
"Nenek hati-hati yah dan hubungi nomor hpku jika sudah sampai di Sana" ucap Pak Heri.
Nenek Masitha hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Pak Heri.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, Pak Heri keluar ruangan untuk mencari segelas kopi dan juga makanan untuk Martin. Awalnya Martin yang ingin keluar tapi dicegah oleh Pak Heri.
"Kamu di sini saja, biarkan Ayah saja yang keluar" cegah Pak Heri ketika Martin yang ingin berdiri.
"Tapi takutnya Martin merepotkan ayah, jadi biarkan Martin saja yang keluar" sanggah Martin yang tidak ingin menyusahkan Ayah mertuanya itu.
Martin awalnya merasa canggung untuk memanggil pak Heri sebagai Ayah mertuanya berhubung selama ini Pak Heri sudah menjadi Pengacara yang dipercaya oleh Keluarga besarnya yang sudah cukup lama.
"Makasih banyak kalau gitu" ucap Martin yang menguap dan ingin tidur kembali karena rasa kantuknya yang tiba-tiba datang padahal dirinya baru beberapa jam terbangun dari tidurnya.
"Kok Aku ngantuk lagi yah padahal baru berapa jam terbangun dan ini mata sudah tidak bisa terbuka".
Martin mengucek matanya agar tidak tertidur dan merasa heran dengan kondisinya yang tiba-tiba sangat ingin merebahkan tubuhnya. Karena tidak kuasa menahan kantuknya akhirnya pun tertidur pulas di dekat Amairah. Begitu pun juga dengan semua anak buahnya Pak Heri yang berjaga di sekitar ruangan perawatan Amairah.
Pak Heri yang tanpa sengaja membuat seseorang terjatuh karena langkah kakinya yang tergesa-gesa sehingga tidak menyadari jika ada perempuan tua yang sudah uzur berjalan di depannya dan tabrakan tak terelakan. Pak Heri langsung membantu Nenek itu yang sudah tidak berdaya untuk berdiri dari posisi duduknya di lantai keramik yang dingin.
Bersambung...
Fania dan keluarga besar CYT Mengucapkan selamat hari raya idul Fitri minal aidzin walfa izdin mohon maaf lahir dan batin.🙏
Fania juga Ucapkan Makasih banyak kepada seluruh Readers setianya Cinta Yang Tulus atas dukungannya 🙏
__ADS_1
By fania mikaila azzahrah
Makassar, Senin- 02 Mei 2022