
Selamat Membaca..
*Tidak ada orang yang benar-benar kuat, terkadang mereka bersedih dengan cara tersenyum.
Kadang kita lupa, ujian paling berat dalam hidup datangnya dari hal-hal yang kita cintai*
Amairah melepaskan tautan tangannya Martin dari ke dua tangannya dan segera melepaskannya. Amairah kembali berlari kecil dari hadapan suami dan anaknya.
Langkahnya perlahan mengjauh dari Toko itu, tapi teriakan dari putrinya membuatnya kembali menghentikan laju langkah kakinya dan menolehkan kepalanya ke arah putrinya berada.
Langkah kaki Amairah terhenti ketika mendengar teriakan dari bibir putri kecilnya. Amairah menghentikan laju langkahnya dan segera berbalik melihat apa yang terjadi dengan Delisha yang berteriak kencang.
Wajahnya pucat seketika melihat kondisi dari Martin yang sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai keramik. Amairah segera berlari kembali ke dalam Toko itu.
"Daddy bangun, huhuhu," tangis Delisha semakin pecah ketika tidak reaksi apa pun lagi dari daddy-nya.
Amairah berlari ke arah suaminya berada. Bryan pun sudah berusaha untuk menyadarkan big Bos nya itu, tapi hasilnya tetap sama Martin tetap terbujur kaku tanpa ada reaksi apa pun lagi.
"Bryan!! apa yang terjadi dengan Mas Martin?" tanya Amairah yang langsung memangku kepala suaminya ke atas pangkuannya.
Amairah memeriksa keadaan di seluruh tubuhnya Martin.
"Ya Allah tubuh Mas Martin panas banget, Bryan bantuin Saya untuk segera bawa Mas Martin ke Rumah Sakit," teriak Amairah yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Daddy bangun, jangan tinggalkan Delisha huhuhu," ucap Delisha yang ketakutan jika terjadi sesuatu kepada Daddy nya itu.
Bryan segera membopong tubuh atasannya itu dibantu oleh beberapa anak buahnya Amairah. Mereka sedikit kesulitan dikarenakan tubuh Martin yang cukup tinggi, tegak, dan besar membuat mereka sedikit tergopoh-gopoh untuk membawa Martin ke dalam mobilnya.
Amairah segera menggendong tubuh putrinya dan melepas high heels nya agar memudahkan langkahnya disaat menggendong tubuh putrinya.
Banyak pasang mata yang memandangi mereka dengan wajah yang kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Tubuh Martin sudah berada di dalam mobil dan pahanya Amairah menjadi bantal untuk sandaran kepalanya Martin, sedangkan putrinya duduk di kursi depan dipangku oleh Aisyah.
"Bryan apa lagi yang Kamu tunggu, Aku mohon segera bawa kami ke RS," teriak Amairah yang meminta Bryan untuk mengantar new segera ke rumah Sakit.
"Untuk pertama kalinya aku melihat Nona Muda seperti ini, kegelisahan ketakutan dan kegundahan serta rasa cemas bercampur aduk yang tercetak jelas di wajahmu nona."
"Delisha tenang yah sayang, Daddy baik-baik saja kok," ucap Amairah dari arah belakang jok mobilnya.
Amairah berusaha menenangkan putrinya padahal ia sendiri tidak bisa tenang dan berfikiran jernih melihat kondisi dari Martin yang sekarang sudah menggigil kedinginan.
"Bryan! tolong lebih cepat lagi," teriak Amairah yang meminta agar Bryan menambah kecepatan mobilnya.
Hingga tidak terasa mobil mereka sudah berada di depan Loby RS. Bryan dan anak buahnya Amairah segera memindahkan Martin ke dalam UGD.
Raut wajah cemas belum pudar dari wajahnya Amairah bahkan ketakutan selalu datang menghampirinya.
"Ya Allah jaga dan lindungilah suamiku, jangan biarkan terjadi sesuatu kepada suamiku."
Amairah mengikuti langkah kaki Perawat dan Dokter untuk berjalan masuk ke ruang UGD, tapi langkahnya terpaksa terhenti oleh hadangan dari tangan salah satu perawat.
__ADS_1
"Maaf Nyonya Anda tidak boleh masuk ke dalam, Anda menunggu di luar saja," cegah perawat itu.
Amairah dan yang lainnya otomatis menuruti perkataan dari Perawat itu dan langsung mundur ke arah belakang.
"Mommy," ucap Delisha yang merentangkan kedua tangannya.
Wajah putri kecilnya sudah sembab dikarenakan sedari tadi menangis terus. Amairah langsung menggendong tubuh anaknya. Amairah mengelus punggung putrinya agar bisa lebih tenang.
"Aku sudah menduga kalau hal ini bakalan terjadi pada dirinya," ucap Bryan yang sedari tadi bersandar di dinding RS sambil melipat kedua tangannya.
Amairah menatap ke arah Bryan dan memintanya untuk menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Dua minggu terakhir ini, Martin tidak memperhatikan pola makan dan tidurnya, Martin terlalu larut dalam kesibukannya untuk terus bekerja dan berusaha melupakan seseorang yang terlalu egois untuk pulang," terang Bryan.
Bryan sebenarnya adalah anak buah dan kaki tangan terbaik dari Kakeknya setelah Bryan memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan perusahaan penyedia jasa keamanan yang selama ini sudah membesarkan namanya. Sehingga Bryan mengetahui seluk-beluk kehidupan di antara Martin dan Amairah.
"Maksudnya?" tanya Amairah lagi.
"Martin tidak perduli lagi dengan kesehatannya, bahkan dalam sehari hanya makan sekali saja itu pun kalau dia sudah beradu argument denganku sehingga Dau terpaksa makan, begitu pun juga dengan pola tidur dan istirahatnya, Martin ingin menjadikan dirinya layaknya mesin robot yang tidak ada rasa capeknya sama sekali," tutur Bryan.
Amairah berusaha untuk menidurkan putrinya di dalam gendongannya dengan cara mengelus lembut rambut dan sesekali punggung putrinya itu. Apa yang dilakukan oleh Amairah berhasil, Delisha pun perlahan memejamkan matanya dan tertidur pulas dalam dekapan Mommy nya.
"Aisyah tolong bawa pulang ke rumah Delisha, tapi jangan jauh-jauh darinya dan kalau bangun tanya saja kalau papinya baik-baik saja," jelasnya.
Aisyah tidak berbicara sepatah kata pun hanya mengikuti instruksi dan arahan dari Amairah saja. Karena seperti itu lah kebiasaan dari Aisyah irit bicara, tapi tindakan luar biasa.
"Apa Kamu sudah tidak mencintainya lagi? kalau emang seperti itu kenapa Kamu tidak melepaskan saja dan mengakhiri hubungan pernikahan kalian dan memberikan kesempatan kepada perempuan lain yang akhir-akhir ini berusaha mendekati Martin," ucap Bryan bersamaan dengan Amairah mendudukkan bokongnya di atas kursi tunggu.
"Siapa perempuan yang dimaksud oleh Bryan? benarkah Mas Martin sudah membuka hatinya untuk wanita lain selain aku?"
Sekelebat pertanyaan muncul dibenaknya, Amairah tidak ingin munafik dan menyangkal apa yang dia rasakan saat Bryan berkata seperti itu.
"Raut wajahmu itu membuktikan kalau kamu takut dan tidak ingin Martin berpaling dari kamu, tapi keegoisan kamu yang menutupi hatimu selama ini."
Dion yang mendapatkan kabar tentang kondisi Martin yang jatuh pingsan segera mendatangi Rumah Sakit tempat Martin dirawat.
Nafas Dion memburu dan ngos-ngosan karena sedari tadi berlarian mulai dari keluar dari perusahaan tempat bertemu dengan kliennya hingga ke parkiran dan sesampainya di RS Dion kembali berlari karena takut jika terjadi sesuatu pada bos sekaligus suami dari kakak sepupunya.
Martin dan Dion setelah melakukan pertemuan dengan pemilik Perusahaan yang akan nantinya menanamkan modal ke Perusahaannya ada di Indonesia, Martin meminta Dion untuk menggantikan posisinya untuk bertemu kembali dengan klien keduanya hari ini. Sedangkan Martin mengikuti Delisha ke Mall.
Kondisi cuaca yang sangat dingin dengan hujan salju membuat Martin terpaksa tubuhnya terkena salju yang sangat dingin hal itu lah yang memperparah kondisi kesehatannya walupun sebelum bertemu dengan Amairah dan putrinya Martin sudah mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Langkah Dion terhenti seketika melihat ke arah Perempuan yang berdiri di depan pintu masuk UGD. Perempuan itu lah penyebab satu-satunya yang memperburuk kondisi kesehatan Martin.
"Mbak Amairah," ucap Dion.
Amairah yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang langsung mengalihkan pandangannya dari pintu UGD yang sedari tadi belum terbuka.
Amairah hanya menatap ke arah Dion dan menyunggingkan senyuman khasnya.
Beberapa saat kemudian, pintu UGD terbuka lebar dan keluarlah dokter dan seorang perawat yang berjalan di belakang dokter tersebut.
__ADS_1
"Maaf siapa di antara kalian keluarga dari pasien yang bernama Martin Muhammad Al-ayyubi Lee?" tanya Dokter dengan tatapan menyelidik ke Arah orang-orang yang berada di sekitar UGD.
Amairah langsung maju ke depan dokter tersebut.
"Maaf saya istrinya Dokter," jawab Amairah.
"Tuan Martin hanya mengalami kelelahan dan karena sebelumnya terkena hujan salju yang menambah parah daya tahan tubuhnya, Nyonya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kondisinya, setelah dirawat dan minum obat beliau akan segera sembuh, tapi tolong untuk mengingatkannya agar lebih menjaga kesehatannya lebih baik lagi," terang Dokter dengan panjang lebar.
"Alhamdulillah," ucap singkat Amairah.
Dion segera bertindak untuk segera mengurus administrasi rawat inap dari Martin dan memindahkan Martin ke kamar perawatan VIP. Mereka mengikuti langkah beberapa perawat dan suster yang mendorong bangkar yang ditempati oleh Martin.
Bryan dan Dion diminta oleh Amairah untuk segera pulang karena sudah larut malam. Amairah yang ingin menjaga suaminya dan berkeinginan agar disaat Martin sadar dan membuka matanya orang yang pertama kali dilihat Martin adalah dirinya.
Amairah duduk di kursi yang disediakan di sekitar ranjang perawatan Martin. Amairah memegang ke dua tangan suaminya dan tak segan meneteskan air matanya yang membasahi tangan kekar suaminya.
"Mas maafkan Amairah ini semua gara-gara Aku Mas jadi seperti ini, Maafkan Amairah Mas, Amairah janji tidak akan pergi jauh dari kalian."
Karena kelelahan dan juga sudah mengantuk tanpa terasa Amairah tertidur nyenyak di samping Martin yang tangannya terus menggenggam tangan suaminya.
............
Alhamdulillah hari ini Fania UpDate 2 bab, semoga saja suka 👌.
FANIA Ucapkan Makasih Banyak Kepada Kakak Readers yang Selalu meluangkan waktunya untuk mampir dan membaca Karya recehan Fania ini.🥰🥰
FANIA sayang Kakak Readers all 😘🥰
Sementara menunggu Updatenya Cinta Yang Tulus Kakak Readers Juga bisa mampir ke dua novel Aku lainnya.
Dengan Judul:
🧡Tidak ada Jodoh yang Tertukar
💚Bertahan Dalam Penantian
Jika ingin memberikan dukungannya kepada CYT dengan cara:
Like 👍
Favoritkan ♥️
Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐
Berikan Gift Poin atau Koinnya jika punya kelebihan yah 🙏✌️
...********Bersambung********...
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Rabu 01 Juni 2022
__ADS_1