Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 152. Selamat


__ADS_3

Selamat Membaca..


Flashback on...


Hanya sekedar berdiri pun mereka sulit untuk dia lakukan betapa sakit dan banyaknya luka ditubuhnya masing-masing akibat dari mobil yang terguling-guling hingga masuk ke dasar jurang. Mereka selamat itu sudah mukjizat menurutnya.


Mobil itu menungging hingga ujung paling depannya sudah rinsek, hancur tak terbentuk lagi. Supir dan penumpangnya yang duduk di bagian depan sudah tidak bernyawa lagi, satu pun dari mereka tidak ada yang selamat.


"Alhamdulillah, Kami masih hidup," ucapnya saat mobil itu tidak bergerak lagi.


Ibu Sumartini merangkak ke arah luar dengan susah payah, ia ingin meraih kain yang ada di dalam kardus tersebut. Kardus itu berisi beberapa potong kain yang bisa dia jadikan pengikat tali.


Ibu Sumartini terus berusaha sekuat tenaganya yang tersisa. Dia tidak ingin menyerah dan mengalah dengan keadaan, Ia berprinsip selama nafasnya masih berhembus, dia akan berusaha untuk bisa keluar dari mobil itu dan mencari bantuan segera.


Dia pun menaikan tubuh anak kecil itu hingga ke atas punggungnya, lalu segera mengikatnya dengan sekuat tenaga agar kuat, berapa kali Dia lakukan tapi selalu gagal dikarenakan kondisi mobil yang tidak baik sehingga sedikit bergerak saja tubuh mereka akan goyang dan bergeser ke dasar mobil.


"Bismillahirrohmanirrohim, harus bisa," ucapnya saat mencoba menaikkan tubuh kecil itu di punggungnya.


Bukan Ibu Sumartini namanya jika tidak berusaha untuk mencobanya hingga akhirnya berhasil juga.


Perlahan setelah berhasil mengikat tubuhnya dengan tubuh anak kecil itu, Dia merangkak naik dan berpegangan di pinggiran mobil yang bisa dijangkau nya itu. Setelah diujung pintu mobil. Dia menatap ke arah bawah mobil yang cukup tinggi jika dia harus melompat dan hanya jalan itu satu-satunya yang bisa dia tempuh.


"Tinggi juga dan di bawah sana banyak bebatuan yang cukup tajam, tapi berdiam diri juga di sini tidak ada gunanya dan bisa saja mobilnya bergoyang hingga masuk ke dalam jurang yang lebih dalam lagi."


Ibu Sumartini pun melompat walaupun kakinya sudah gemetaran dan rasa sakit di sekujur tubuhnya semakin dia rasakan begitu hebatnya. Hingga kadang kala membuatnya hampir saja menyerah dengan situasinya.


"Aaaaahhhhhhhhh," teriaknya saat melompat.


Tubuhnya mampu berdiri di saat kakinya berhasil mendarat di atas batuan yang cukup terjal dan tajam itu. Ujung bebatuan langsung bersentuhan dengan kulit telapak kakinya yang membuatnya harus menjerit dan berteriak kesakitan.


Darah segar mengucur deras keluar dari telapak kakinya.


"Ya Allah sakitnya," air matanya pun sudah menetes membasahi pipinya yang sejak tadi berusaha untuk dia tahan.


Sedangkan Anak kecil yang Dia gendong sama sekali tidak bergerak sedikit pun dan sudah lama tidak sadarkan diri lagi.


"Alhamdulillah kita sudah berhasil ke luar dari mobil itu," ucapnya lalu berjalan tertatih dan memegang batuan yang cukup besar yang bisa dia jangkau.


Baru beberapa langkah, ada suara benda besar yang bergerak dan tidak lama terguling dan terjatuh ke dalam jurang dan ada hanya sekitar lima menit saja ada suara ledakan yang bersumber dari dalam jurang itu hingga ada kepulan asap hitam yang sangat tebal.


Ibu Sumartini berbalik sedikit dan menutup matanya melihat mobil itu sudah meledak terbakar.


"Alhamdulillah untung saja Kami sudah berhasil keluar dari sana."


Ledakan itu mampu terdengar hingga ke beberapa rumah pemukiman warga masyarakat yang terdekat dari sana.

__ADS_1


Ibu Sumartini melanjutkan kembali perjalanannya menuju tempat yang cukup aman untuk mereka berlindung agar Anak buah Kakaknya tidak mengetahui keberadaannya itu.


"Ya Allah apa yang terjadi kenapa aku tidak bisa melihat dengan jelas, kepalaku juga sangat pusing dan sakit, apa yang terjadi padaku?" tanyanya yang takut dengan kondisi fisik tubuhnya.


Hingga beberapa saat kemudian tubuhnya pun jatuh ke atas tanah yang berumput hijau itu. Untungnya rumput yang tumbuh itu cukup lebat sehingga tubuhnya tidak terlalu sakit saat pingsan.


Di dalam rumah mewah itu, seseorang sedang berteriak kencang saking bahagianya setelah mendengar informasi bahwa anak kecil itu sudah mati terbakar bersama mobil pick up berbak itu.


"Akhirnya semua penerus Kamu sudah mampus Ahmed dan kalian akan bertemu di dalam neraka, Aku sudah berhasil membunuh cucu pertama Kamu Mark Prin Atmadja hahahaha,"


Dua hari kemudian, Ibu Sumartini terbangun dari tidurnya panjangnya. Dia mengarahkan pandangannya ke seluruh arah pojok ruangan tersebut yang semua dindingnya bercat putih bersih itu.


"Aaaaahhh sakit."


Ibu Sumartini memegang kepalanya yang masih sedikit sakit dan pusing tersebut.


"Aku di mana?" yang keheranan saat melihat kesekelilingnya.


Jarum dan selang infus terpasang di tangan kanannya.


"Apa aku di Rumah Sakit? bagaimana dengan anak itu?" tanyanya yang langsung turun dari ranjangnya dan berjalan menarik tiang selang infus itu bersamanya. Dia ingin meraih gagang pintu tapi pintu itu terbuka sendiri dari arah luar.


Ibu Sumartini semakin melangkah kakinya ke arah Suster yang kebetulan akan masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa kondisi tubuhnya setelah dua hari pingsan.


"Tapi suster bagaimana dengan kondisi anakku, Aku ingin melihatnya?" tanyanya yang mulai panik dan sangat khawatir dengan kondisi dari anak kecil itu.


"Alhamdulillah kalau masalah putra ibu sudah baikan setelah menjalani operasi di kepalanya," jawabnya sambil membantunya kembali ke atas ranjangnya.


"Alhamdulillah kalau begitu Sus," ujarnya.


"Ibu fokus dengan proses penyembuhan ibu terdahulu lalu memikirkan hal lainnya," Suster itu segera memeriksa selang infus yang sudah tidak terpasang baik di tempatnya.


"Suster Saya tidak punya apa-apa lagi, semua barang-barang saya ada di mobil yang terbakar itu, jadi bagaimana saya akan melunasi semua biaya rumah sakit," ucapnya dengan nada sendu.


Dia terpaksa berbohong agar tidak ada yang mengetahui jika mereka adalah korban dari rencana pembunuhan.


"Ibu tidak perlu merisaukan itu semua, Alhamdulillah Ibu bersyukur karena ada beberapa warga masyarakat yang membantu ibu untuk melapor pada Pemerintah untuk membantu mengatasi dan melunaskan semua biaya perawatan dan pengobatan Ibu dan anaknya ibu," jelasnya dengan panjang lebar.


"Alhamdulillah, makasih banyak atas bantuan dan pertolongan kalian," ucapnya dengan sangat tulus dan bersyukur karena mereka masih bernafas lega.


"Apa Aku boleh melihat putraku Sus?" tanya dengan menggubah agar diijinkan untuk bertemu dan melihat keadaan dari anak kecil itu.


"Bisa Bu, tapi tunggu dulu Saya akan cari kursi roda untuk membantu ibu agar lebih leluasa bergerak," terangnya lalu berjalan ke arah luar untuk mengambil kursi roda yang akan dipakai oleh Ibu Sumartini.


"Makasih banyak Sus," ucapnya yang sangat bahagia karena masih banyak orang yang membantumu dengan setulus hatinya mereka.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, perawat itu sudah kembali dengan mendorong kursi roda yang kosong. Ibu Sumartini sudah duduk di ujung ranjangnya sambil menunggu perawat itu karena kembali.


"Hati-hati, sini pegang tanganku," ucap Perawat itu yang sudah bekerja sangat baik membantu Ibu Sumartini.


Dia sudah duduk di atas kursi roda dan didorong perlahan dan pelan oleh perawat yang bername tag itu Azizah.


"Ini ruangan putra ibu, Silahkan masuk, kalau ingin kembali ke ruangannya ibu hanya tinggal berteriak saja, Saya ada di ruangan itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan.


Beliau hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Suster itu.


"Makasih banyak."


Anak kecil itu terkulai lemah di atas ranjang. Tubuhnya juga dipenuhi oleh luka yang perlahan mengering, kepalanya dibalut perban, dan hidungnya terpasang alat pernafasan serta selang infus di tangan kirinya.


"Alhamdulillah ibu sangat bersyukur Kamu juga selamat Nak," lalu menggenggam tangan mungil itu.


Ceritanya masih Flashback saat peristiwa yang dialaminya bersama Alif.


Syukur Alhamdulillah Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus 🥰. Fania sangat bahagia karena masih ada yang setia hadir untuk Like dan baca Novel recehannya Fania ✌️.


Mampir juga Yah di Novelku yg lainnya dengan judul:


...1. Sang Penakluk...


...2. Bertahan Dalam Penantian...


...3. Tidak ada Jodoh Yang Tertukar...


...Tetap Dukung CYT dengan cara:...


...Like Setiap Episodenya 👍...


...Favoritkan ♥️...


...Gift Poin atau Koin Seikhlasnya 🎁...


...Vote Bagi yang masih punya Vote 🤍...


...Rate Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐...


...********Bersambung********...


by Fania Mikaila Azzahrah


Takalar, SulSel, Selasa, 14 Juni 2022

__ADS_1


__ADS_2