Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 199. Lamaran


__ADS_3

Selamat Membaca..


"Aku dapat gelang ini saat Kamu berjalan dan kemungkinannya terjatuh dari ujung gaunmu waktu itu," jelasnya.


Raut wajahnya langsung berubah bahagia karena gelangnya sudah ditemukan.


"Alhamdulillah ternyata gelangku sudah aku temukan," terangnya dengan penuh kebahagiaan.


"Berarti dia gadis yang selama ini kucari hingga hampir 9 tahun, dunia ini ternyata tak selebar daun kelor."


Abi bersyukur karena gadis kecilnya yang sekian lama dicarinya, akhirnya bisa bertemu juga. Walaupun hanya dia yang tahu jika mereka pernah bertemu dalam situasi dan kondisi yang cukup membuat hidup mereka jungkir balik.


"Apa benar itu gelangmu yang hilang? kalau boleh tahu Kamu dapat gelang itu dari mana?" Tanyanya sembari menatap ke arah Delisha yang menuntut jawaban dari Delisha tersebut.


Delisha menatap ke arah Abi dengan menautkan kedua alisnya. Dia penasaran kenapa Abimanyu sangat ingin mengetahui asal muasal dia memperoleh gelang tersebut.


"Gelang ini sudah berada di dalam pergelangan tanganku sekitar 9 tahun lalu," jawabnya.


Senyumannya terus mengembang setelah berhasil mendapatkan kembali gelangnya.


"Kalau masalah siapa yang memberikannya maaf!, saya tidak bisa memberitahu Anda karena ini privasiku," jelasnya yang sedikit jengah dengan pertanyaan dari Abi.


"Berarti tepat sekali dugaanku, dia gadis kecilku yang aku cari, aku akan segera mempercepat pernikahan kita."


Dia kemudian diam-diam mengirim chat ke nomornya Nathan. Dia meminta untuk segera mengurus persiapan acara lamaran untuknya.


"Maafkan saya menggangu aktifitasnya, saya hanya ingin mengetahui bagaimana dengan rencana pernikahan kita, apa sudah ada keputusanmu?" Abi menatap tajam ke arah Delisha.


"Tidak apa-apa, lagian saya juga berniat untuk mengajak Anda bertemu, tapi ternyata chatnya lebih duluan masuk ke dalam nomorku," terangnya.


"Jadi jawabannya adalah?" Abi berbicara dengan penuh harap.


"Oke, saya siap untuk menjadi istrimu, tapi apa Anda tahu kalau saya perempuan yang tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangan," tuturnya dengan sesekali menyesap minumannya.


"Tidak masalah," balasnya.


"Saya tidak suci lagi, seperti kebanyakan perempuan lainnya yang ada di luar sana, dan maaf saya berbicara jujur di depan Anda agar tidak ada penyesalan di belakang," ungkapnya.


"Oke, tidak masalah yang paling penting Kamu bersedia jadi istriku hanya itu saja," ujarnya.


Abi tidak ingin memasang target apa pun. Baginya yang penting dia bisa menikahi gadis kecilnya yang sudah lama dia cari.


Abi malahan sangat senang karena pencariannya sudah membuahkan hasil. Dia tidak perlu repot-repot melakukan pencarian lagi.


"Bagaimana kalau minggu depan kita menikah?"


Delisha terkejut saat mendengar perkataan dari Abi. Delisha tidak menyangka jika pria ini tidak ingin menunda lebih lama lagi pernikahannya. Padahal Delisha ingin bertunangan saja dulu.


"Tapi?"


"Maaf saya tidak ingin dibantah ataupun ditolak," ujarnya dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

__ADS_1


"Ya Allah ini orang maksa banget, emangnya gak ada sudah waktu lain selain minggu depan apa?"


Delisha memonyongkan bibirnya di hadapan Abimanyu. Dan ngomel-ngomel tidak jelas.


Abi yang melihat hal tersebut segera menarik bibirnya Delisha. Hingga senyuman tipis muncul di balik wajahnya yang dingin itu.


"Iiihh apaan sih, kenapa ditarik sih Pak?" Tanyanya yang memukul tangan Abi yang sudah lancang menarik bibirnya.


"Kamu semakin cantik jika bertingkah seperti itu," jawabnya.


"Ihh enggak jelas amat jadi orang, mana ada cantiknya kalau bibir monyong."


Abi semakin melebarkan senyumannya di depan Delisha. Mereka ternyata nyambung dan berbincang-bincang hingga sore hari. Hubungan mereka sudah tidak seperti dulu awal mereka bertemu.


Hari ini, sudah tidak ada rasa canggung dan kaku lagi. Mereka sudah seperti orang yang bernostalgia dengan masa lalunya yang baru hari ini bertemu kembali.


Sebelum magrib mereka memutuskan untuk pulang. Sedangkan Abi masih menunggu Nathan untuk menjemputnya. Dia ingin langsung ke rumahnya Pak Martin calon mertuanya. Dia akan melamar secara resmi Delisha di hadapan keluarga besarnya.


Beberapa saat kemudian, asisten pribadinya sudah datang ke Resto. Dia berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Nathan berdiri di hadapannya.


"Bagaimana dengan yang aku perintahkan?" Tanyanya saat sudah berada di dalam mobilnya.


"Semuanya sudah siap Bos, tinggal kita meluncur ke rumahnya calon istri Bos," jawabnya.


Dia kemudian menghubungi Pak Heri dan Tuan besar Mark agar mereka mengetahui jika dia akan melamar malam ini juga.


Niat baiknya mendapat lampu hijau dari calon kakeknya. Mereka bahkan bahagia saat mengetahui jika Delisha sudah siap menikah.


Mobilnya meluncur dengan mulus di atas aspal. Tidak ada kendala atau pun hambatan yang berarti dia temui ketika berada di jalan raya.


Guyuran air dari shower mampu meredakan panas ditubuhnya yang seharian menjalani rutinitas dengan padatnya.


"Semoga dia bisa menjadi papinya Lee yang penuh tanggung jawab, dan menerima putraku seperti putranya sendiri."


Beberapa saat kemudian, Abi sudah sampai di depan pintu rumahnya Delisha. Dengan berbagai barang seserahan lamaran sudah berjejer dengan rapi di dalam tangan beberapa anak buahnya.


Senyuman diwajahnya tidak pernah pudar. Dia sudah tidak sabar ingin menikahi gadis kecilnya itu.


Abi perlahan menekan bel, berulang kali dia tekan barulah pintu itu terbuka. Mbak Wati yang bertugas untuk membuka pintu itu dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Mulutnya menganga, matanya terbuka lebar saat menyadari jika calon suami dari Nona Mudanya sudah datang melamar.


Abi belum berbicara sepatah katapun, Mbak Wati segera berlari ke arah dalam. Dia segera berlari ke arah kamarnya Nyonya Muda Amairah.


Nenek Masitha yang melihat Mbak Wati berlarian hanya menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan ke arah pintu, Beliau mengetahui kedatangan Abi.


Abi menyambut kedatangan Nenek Masitha dengan segera meraih tangannya untuk segera dia cium punggung tangannya.


"Sudah lama nak?" Tanyanya.


"Baru nyampe kok Nek," balasnya sambil memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera membawa semua barang seserahan ke dalam kediaman Nenek Masitha.

__ADS_1


"Maaf kedatangan Abi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Abi tidak ingin menunda lebih lama lagi saat Delisha bersedia menikah denganku Nek,"tuturnya.


"Syukur Alhamdulillah, Nenek malahan sangat senang Nak, mendengar kabar tersebut," ucapnya lalu memegang lengan Abi.


Mbak Wati dan Amairah berjalan tergesa-gesa ke arah pintu depan. Mereka tidak ingin membuat calon anggota baru keluarganya menunggu terlalu lama.


Langkahnya terhenti saat melihat Abi dan Nenek Masitha sudah duduk berhadapan dan tertawa bersama.


Nenek Masitha yang melihat cucu menantunya sudah datang, dia meminta untuk segera memanggil Delisha untuk segera menemui calon suaminya.


"Amairah tolong panggil Delisha nak, kasihan anak Abi sudah menunggu cukup lama," perintahnya.


Amairah tanpa sepatah kata pun langsung berjalan ke arah lantai dua tempat kamarnya Delisha berada.


"Delisha sayang, buka pintunya nak," Sambil mengetuk pintu kamar putrinya.


Delisha segera membuka pintunya karena kebetulan sudah selesai berpakaian. Amairah tersenyum manis ke arah putrinya.


"Kamu sangat cantik sayang, Mama pangling melihatmu," terang Amairah yang memuji kecantikan anaknya.


"Makasih banyak Moms, oiya Moms Lee sudah tidur, kok Delisha enggak lihat Lee?" Tanyanya yang menatap ke arah pintu kamar putranya.


"Dia bersama dengan Aisyah katanya tugas sekolahnya banyak jadi harus dibantu oleh Aisyah," tuturnya.


"Ohh gitu," ucapnya singkat.


"Ayok kita turun, Nak Abi ada di bawah," lalu mengapit tangan putrinya.


Delisa menatap ke arah Mommynya yang tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Perasaan tadi baru ketemu,kok dia datang lagi?" Tanyanya yang keheranan dengan kedatangan Abi.


Mereka berjalan menuruni tangga sambil berbincang-bincang.


"Dia datang untuk melamar Kamu," ujar Amairah.


"Ternyata dia membuktikan perkataannya, aku kira dia hanya bercanda," cicitnya.


Amairah menatap ke arah Delisha yang ingin memastikan saja apa yang barusan dikatakan oleh putri tunggalnya itu.


"Kamu tadi bilang apa Sayang?" Tanyanya.


"Hemmm, tidak apa-apa kok moms," jawabnya yang sedikit berbohong untuk menutupi perkataannya.


Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya seperti saudara adik kakak saja. Kedekatan mereka tidak seperti Mama dan anak tapi, mereka lebih seperti sahabat saja.


Delisha sudah berdiri di hadapan Abi, baru saja ingin mendudukkan tubuhnya tetapi kegiatannya terhenti saat seseorang memsnggikny.


"Mami!!!!!"


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus.

__ADS_1


By Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Senin, 11 Juli 2022


__ADS_2