
Selamat Membaca..
Maya sepintas melihat sosok seorang perempuan yang sangat mirip dengan Amairah. Maya pun berinisiatif untuk mencari tahu dan mengikuti wanita yang dianggapnya Amairah.
Tapi, kenyataan harus dia terima jika perempuan itu bukanlah Amairah sahabatnya. Sedih, kecewa sangat dirasakan oleh Maya.
Dion sebagai tunangan sekaligus adik sepupu dari Amairah berusaha untuk menenangkan diri Maya, yang sudah kalut dalam kesedihannya dan kerinduannya pada Amairah.
"*Ya Allah bukakanlah pintu hatinya Mbak Amairah untuk segera bertemu dengan Maya, Aku tidak sanggup melihat Maya yang bersedih karena kerinduannya kepada Amairah yang sangat mendalam."
"Ya Allah ijinkan aku bertemu dengan Mbak Amairah walaupun hanya sesaat saja, Aku sangat merindukan sahabatku itu*."
Maya pasrah saat bertemu langsung dengan perempuan yang sedari tadi dia ikuti dan ternyata itu bukanlah Amairah.
"Kamu harus sabar dan banyak berdo'a, semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Mbak maya," ucap Dion yang menciumi kepalan tangan Maya.
Dion sedari tadi berusaha untuk memberikan ketenangan dan rasa nyaman pada Maya.
"Iya Mas, insya Allah Maya akan lebih bersabar lagi untuk terus dan selalu menunggu kehadiran Mbak Amairah kembali," ucap Maya dengan deraian air matanya.
Kafe Anhalt menjadi saksi kesedihan Maya dan ketidak berdayaaannya Dion di sore hari itu. Mereka menghabiskan waktunya di dalam Kafe itu sambil menikmati makanan dan minuman khas Jerman.
"Mas besok pagi kita ke Perusahaan Centec, semoga Ceo-nya hadir yah, jadi kita cepat kembali ke tanah air," ucap Maya yang berusaha menetralkan perasaannya.
"Insya Allah Sayang, besok kita kembali bertempur dan berjuang untuk mendapatkan tanda tangan kontrak CEO mereka," jawabnya.
"Sudah mau masuk waktu shalat Magrib yuk pulang, gak baik kalau kita berada di luar saat magrib, kata orang gitu," tutur Maya.
"Mau gak kita cari Mesjid terdekat yang ada di Kota Berlin terus kita shalat berjamaah bareng?" tanya Dion dengan tatapan teduhnya yang selalu menghangatkan hati Maya.
"Sepertinya itu ide yang bagus sayang, Maya sangat senang jika selalu shalat berjamaah bareng sama Mas," ucap Maya dengan malu-malu.
"Kalau gitu let's go."
Mereka meninggalkan Kafe tersebut dengan perasaan Maya yang sedikit terobati dan lega setelah Dion memberikan nasehat dan masukan yang sangat berarti untuk Maya.
Saling memberi dan menerima kekurangan masing-masing pasangan adalah hal yang paling terbaik untuk dilakukan dalam membina hubungan apa pun itu.
Maya dan Dion berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Mesjid Al-falah menjadi tujuannya mereka, Mesjid yang dibangun atas prakarsa masyarakat Indonesia yang tinggal dan menetap di Sekitar Kota Berlin Jerman. Dan menjadi satu-satunya Mesjid yang ada di Kota Berlin.
Maya dan Dion berpisah saat akan masuk ke dalam kamar atau ruangan khusus untuk mengambil air wudhu. Dan mereka bertemu kembali setelah akan melangkah kakinya menuju tempat shalat.
Suasana di dalam mesjid cukup ramai dipadati oleh kaum muslim yang ingin melaksanakan shalat Magrib berjamaah.
Beberapa saat kemudian Mereka pun kembali ke Hotel karena sudah larut malam, dan besok akan kembali bekerja.
Ke Esokan Harinya, Dion dan Maya sudah bersiap untuk otewe ke Perusahaan Centec milik Tuan Luis Horne, Luis Horne adalah saudara kembar Nenek Maya sekaligus istri dari tuan besar Mark Prin Atmadja.
__ADS_1
"Semoga lancar yah Mas, meeting kita bersama CEO mereka," tutur Maya yang sudah mengambil posisi duduk di samping Dion di dalam mobilnya.
"Amin ya rabbal alamin, semoga apa yang kita ingin dan harapkan berhasil, jadi kita segera pulang ke Indonesia," ucap Dion yang memasang setbelt nya ketubunya.
"Kok hatiku belum bisa menerima jika kemarin yang aku lihat bukanlah Mbak Amairah yah?, bahkan seolah-olah hati ini menyatakan Aku akan bertemu dengan Mbak Amairah."
Dion yang melihat Maya kembali bengong langsung menyadarkan Maya, Dion takut jika Maya keseringan mengkhayal dan terbengong bisa hal-hal jelek menghampirinya. Seperti kerasukan atau diikuti hal mistis.
"May sayang, hey Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dion yang berusaha membantu Maya untuk segera kembali ke alam nyatanya.
Dion menggoyangkan tubuhnya Maya dengan lembut dan hati-hati, Dion tidak ingin hanya karena membangunkan Maya sehingga membuat tubuh Maya kesakitan.
Setelah beberapa saat Maya pun tersadar dari lamunannya.
"Eehh Maaf Mas," ucap Maya.
"Kamu baik-baik saja kan sayang atau perasaan Kamu gak enak gitu?" Tanya Dion yang kembali mematikan mesin mobilnya yang sudah menyala tadi.
"Aku baik-baik saja kok Mas, kita lanjutkan perjalanannya, entar terlambat lagi," ucap Maya yang tidak ingin mengatakan apa yang dia rasakan di hadapan Dion.
"Kalau gitu kita berangkat, bismillahirrahmanirrahim," ucap Dion lalu melajukan mobilnya ke arah jalan protokol di Kota Berlin.
"Maaf Mas, aku tidak bisa berkata jujur dengan apa yang aku rasa saat ini, cukuplah aku yang tahu, aku tidak ingin memberikan beban fikiran kepada Mas."
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit dari Hotel tempat mereka menginap hingga ke Perusahaan Centec di Berlin.
Maya dan Dion berharap kedatangannya kali ini membuahkan hasil yang maksimal untuk Perusahaan mereka di Indonesia.
Maya dan Dion langsung disambut kedatangannya di pintu utama Perusahaan tersebut oleh beberapa petinggi dan karyawan perusahaan tersebut. Padahal mereka belum menjelaskan atau pun menyampaikan kepada resepsionis atas kedatangannya. Dion dan Maya hanya saling berpandangan dan tidak mengerti.
"Makasih banyak Pak atas sambutannya yang luar biasa ini, dan sejujurnya Kami tidak menyangka jika akan disambut seperti ini," jelas Dion yang sedari tadi senyumannya tidak pernah pudar saat mulai pintu dibukakan untuknya.
Maya pun demikian dengan yang dilakukan oleh Dion. Mereka pun berjalan ke arah dalam perusahaan tempat mereka akan bertemu dan membahas perjanjian kontrak mereka.
Perusahaan Primatex yang dipimpin oleh Martin Muhammad Al-ayyubi Lee itu nantinya akan mendapatkan keuntungan yang sangat tinggi dan cukup besar, jika kontrak kerjasama mereka berhasil ditanda tangani oleh Petinggi Perusahaan Centec.
Maya dan Dion sudah duduk di kursi yang mereka sediakan. Ruangan rapat pertemuan mereka sungguh desainnya sangat bagus dan istimewa.
"Maaf Pak silahkan kalian menunggu kedatangan Pemilik Perusahaan Kami di dalam ruangan ini, dan silahkan dinikmati minuman dan makanannya sambil menunggu beliau," ucap Direktur utama itu.
"Makasih banyak pak atas sambutan dan pelayannya yang sangat istimewa ini," ucap Maya yang berdiri dan sedikit membungkukkan badannya.
"Kalau gitu Saya pamit dulu Pak, Selamat pagi," ucap orang tersebut.
Dion dan Maya mulai mencicipi hidangan yang ada di depan mereka sambil menunggu kedatangan dari pemilik perusahaan. Mereka menunggu beberapa saat dan berbincang-bincang santai karena hanya mereka berdua saja di dalam ruangan itu.
Pintu lebar nan menjulang tinggi itu terbuka lebar dan masuklah beberapa orang ke dalam ruangan itu. Maya dan Dion pun menolehkan wajahnya ke arah pintu itu.
Maya terperangah melihat rombongan itu dan langsung berdiri dari kursinya. Dion pun tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh ke dua matanya.
Sedangkan di dalam ruangan lain yang ada di belahan dunia lainnya. Petinggi perusahaan Primatex sedang berdiri di depan jendela kaca itu sambil menatap jauh ke atas langit yang biru.
Aku pergi bukan berarti tak setia
__ADS_1
Aku pergi demi untuk cita-cita
Maaf bila mungkin kita harus terpisah
Relakanlah mungkin ini sudah takdirnya
Kutak ingin ada benci
Ku tak ingin ada caci
Yang aku ingin kita s'lalu
baik-baik saja
Kenangan kita takkan kulupa
Ketika kita masih bersama
kita pernah menangis, kita pernah tertawa
pernah bahagia bersama
Semua akan selalu kuingat
Semua akan s'lalu membekas
Kita pernah bersatu dalam satu cinta
Dan kini kita harus terpisah
Aku pergi.
Martin harus rela terpisah dari sang istri tersayang. Mungkin rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan oleh Amairah yang membuatnya belum bisa kembali. Itu lah yang selalu ada di dalam benak seseorang yang mengenal baik Amairah.
Martin mengusap air matanya yang membasahi pipinya, kerinduannya kepada sang istri tercinta membuatnya kadang kala menangis dalam kesendiriannya.
Allah selalu berikan yang terbaik untukmu, mungkin bukan bukan yang terbaik yang kamu inginkan, tapi pasti yang terbaik kamu butuhkan.
............
FANIA TIDAK AKAN PERNAH BOSAN UNTUK MENGUCAPKAN MAKASIH BANYAK KEPADA KAKAK READERS YG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA KEPADA CINTA YANG TULUS DENGAN BERBAGAI CARA.🥰😘
Tetap Dukung CYT yah caranya Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan.
Bagi yang Punya Poin, Koin silahkan berikan Giftnya biar Author semakin semangat Untuk Update lagi. Vote juga boleh sangat boleh malah.
Dan yang ingin berkomentar japri atau PC saja yah 🤭✌️
Mohon Maaf Jika Sering kali ada Kesalahan dalam Penulisannya 🙏
...********Bersambung********...
By Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at, 27 Mei 2022
__ADS_1