
Selamat Membaca..
Pintu berdaun dua itu terbuka lebar. Berdirilah di depan pintu seorang pria dalam gendongannya anak kecil. Anak itu memeluk tubuh si Pria dengan sangat erat. Seakan-akan dirinya akan terjatuh dari atas gendongan.
Orang yang membuka pintu tersebut, terkejut melihat siapa yang membuka pintunya. Mereka tidak menyangka, jika orang yang menggendong Lee adalah pria yang nantinya akan dijodohkan dengan Delisha putri tunggal pemilik rumah besar nan megah itu.
Si pria pun mengalami hal yang sama dengan pemilik dan penghuni rumah. Abimanyu tidak menyangka jika rekan bisnis dan sekaligus calon mertuanya lah pemilik rumah yang dia datangi.
"Abimanyu."
"Tuan Martin."
Mereka sama-sama tersenyum atas pertemuan mereka yang tak terduga itu.
"Kok bisa Lee bersamamu?" Tanyanya yang kebingungan.
"Daddy sebaiknya ngomongnya di dalam yuk, gak enak berbincang-bincang sambil berdiri," terang Amairah dengan ramahnya.
Martin mengambil alih untuk menggendong Lee, tetapi dicegah oleh Abimanyu.
"Tidak perlu Tuan, ijinkan saya saja yang menggendongnya hingga ke dalam kamarnya," jawabnya yang menolak bantuan dari Martin.
Martin dan Amairah hanya tersenyum menanggapi keputusan Abimanyu.
"Apa hanya perasaanku saja ya Allah, Lee dan Abimanyu ada kemiripan di antara mereka."
Amairah tak henti-hentinya menatap ke arah Abimanyu bergantian dengan Lee.
"Tidak bisa dipungkiri wajah mereka mirip jika diperhatikan dengan seksama dan lebih dekat, bentuk rahang bawah yang tegas, hidung mancung, bentuk bibirnya serta warna rambutnya pun sama, tetapi tidak mungkin jika mereka kebetulan sama hanya karena Abi akan menjadi Ayah sambungnya Lee."
Amairah antara yakin dengan tidak apa yang terlintas di dalam benaknya. Siapa pun yang melihat interaksi keduanya pasti akan beranggapan jika mereka Ayah dan anaknya.
Martin dan Amairah mengikuti langkahnya Abi di belakangnya. Mereka berjalan beriringan menuju lantai dua tempat kamar Lee berada. Lee tanpa ada suara apa pun semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhnya Abi.
"Semoga Abi bisa jadi Ayah sambung yang baik untuk Lee kelak, dan bukalah pintu hatinya putriku untuk menerima perjodohan mereka, aku yakin Abi yang terbaik untuk hidupnya Delisha dan cucuku."
Martin sangat berharap hal tersebut yang dia pikirkan jadi kenyataan. Martin berjanji akan mengupayakan dan mengusahakan agar Delisha menerima pinangan dari Abimanyu.
Lee dibaringkan di atas ranjang king size-nya dengan sangat hati-hati oleh Abimanyu.
"Makasih Uncle Abi," ucapnya Lee lalu langsung mencium pipi kanan Abi.
Abi yang mendapatkan ciuman yang tiba-tiba itu perasaannya menghangat seketika itu. Kebahagiaan membuncah di dalam dadanya, hanya diperlakukan seperti itu oleh anak kecil.
__ADS_1
"Sama-sama sayang, Uncle bahagia lihat senyuman di bibirmu ini," ujarnya yang mengelus rambut hitam kecoklatan milik Lee.
Martin dan Amairah saling berpandangan satu sama lainnya. Lalu mereka tersenyum bahagia melihat kedekatan dan keakraban yang tercipta dari keduanya.
"Jadi Lee adalah anak bungsu beliau, aku kira mereka adalah cucu dan Kakek."
Amairah maju kehadapan Lee sambil menarik selimut tebal bermotif robot Trasnformer itu yang berwarna merah. Kartun favorit kesukaannya selama ini.
"Lee sayang, Kamu istirahat yah, biarkan Uncle Abi juga turun untuk istirahat, kasihan sedari tadi mengendong Lee," terangnya Amairah yang memegang ke dua tangan cucunya.
"Tidak apa-apa kok Mama, Mama juga ikut sama Papa dan Uncle, Lee tidak masalah sendiri di sini," balasnya.
Abi maju dan tanpa aba-aba langsung menciumi keningnya Lee dengan penuh penghayatan. Hal tersebut kembali membuat Amairah dan Martin bahagia.
"Aku harus segera mendesak Delisha untuk menerima perjodohan mereka, Aku bangga melihat sifat dan perhatian yang dicurahkan oleh Abi ke cucuku."
"Kalau Kamu butuh sesuatu, tinggal panggil Mbak Marni atau Mbak Wati mereka akan menjaga Lee, enggak apa-apa kan sayang?" Tanyanya Amairah yang tidak menginginkan jika cucunya merasa sendiri dan kesepian.
"Oke Mamaku tersayang," ujarnya lalu membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjangnya.
Mereka meninggalkan kamar tidur Lee.
"Makasih banyak Kamu sudah menjaga dan menolong Lee," tutur Martin.
"Kamu tidak perlu merisaukannya, lagian Kamu sudah bertanggung jawab menjaga dan merawatnya dengan sepenuh hati, dan Kami sangat bersyukur dengan hal itu," timpal Amairah.
"Aku sangat tersanjung karena sedari tadi kalian selalu memujiku yang membuat perasaan ini bahagia diperlakukan dengan baik oleh kalian."
Ucapan tulus itu terlontar dari mulutnya Abi sepenuh hatinya.
Mereka sudah menuruni undakan tangga. Senyuman selalu terpancar dari wajah mereka.
"Kalau gitu silahkan beristirahat sebentar sembari menunggu masakan masak lalu kita makan siang bersama di sini," ujar Amairah.
"Makasih banyak Nyonya, saya sangat bersyukur karena diperlakukan dengan sangat istimewa padahal ini pertama kalinya saya berkunjung ke rumah Nyonya dan Tuan," jelasnya.
"Kamu tidak perlu sungkan dan insya Allah kelak Kamu akan menjadi menantu dan bagian dari Kami juga," balas Martin.
"Amin Tuan, semoga Delisha putri Tuan menyetujui dan menerima dengan setulus hati lamaran dan niat baik ku itu," terang Abi.
Abimanyu sudah memantapkan hati dan perasaannya untuk segera mempercepat lamarannya. Dia sudah memutuskan jika minggu depan akan datang kembali ke rumah keluarga Martin untuk melamar Delisha menjadi pendamping hidupnya.
"Sedari tadi Kamu terus memanggil Saya dengan sebutan Tuan, Daddy berharap mulai hari ini Kamu harus memanggil saya dengan panggilan Daddy seperti ke tiga anakku," jelas Martin.
__ADS_1
"Tiga, bukannya empat yah dengan Lee, kok Tuan Martin ngomongnya tiga anaknya."
Abimanyu ingin bertanya tentang penuturannya yang barusan dia ucapkan. Tetapi Abi mengurungkan niatnya dan tidak ingin dianggap terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan keluarga calon istrinya tersebut.
Baru berusia menit mereka bercengkrama santai, Axel dan Dennis sudah datang menghampiri mereka.
"Assalamu alaikum," ucap keduanya saat sudah berhadapan dengan yang lainnya.
"Waalaikumsalam," jawab Martin dan Abi.
Abi berdiri lalu menjabat tangan Dennis dan Axel secara bergantian. Mereka sama-sama sudah saling mengenal walaupun tidak terlalu akrab.
Jabat tangan dan pelukan hal yang mereka lakukan seperti layaknya sahabat lama yang baru bertemu satu sama lain.
Axel dan adiknya sudah mengetahui tadi pagi saat mereka sarapan. Martin yang menjelaskan kepada mereka kalau Abimanyu Adinatha Kim adalah calon suaminya Delisha adik bungsunya.
Dennis mengambil tempat duduk di sampingnya Abi sedangkan Axel duduk di samping kanannya Martin Daddy-nya.
Mereka melanjutkan perbincangan di antara mereka. Sesekali terdengar tawa renyah dari pria dewasa tersebut.
Sedangkan di dalam Istana yang megah, seorang perempuan cantik yang masih sangat muda duduk berhadapan dengan seorang pria yang sudah sangat dewasa bahkan terbilang tua. Rambutnya yang hampir memutih semua, tapi postur tubuhnya masih tinggi, tegap dibandingkan dengan usianya yang sudah menginjak 70an lebih itu.
Beliau memegang tangan cucunya lalu berkata, " Delisha apa lagi yang Kamu pertimbangkan sayang, Abimanyu adalah pria yang paling cocok untuk jadi pendampingmu kelak, dia pria yang baik, bertanggung jawab, pekerja keras, mapan dan satu nilai plus dari Abi adalah dia pria yang tampan dan pastinya kelak akan membahagiakanmu."
Delisha menatap ke dalam ke dua bola mata Kakeknya. Sebelum menanggapi perkataan dari kakeknya.
"Delisha akan pertimbangkan dengan matang-matang Kek," ujarnya.
"Masa lalumu jadikan pelajaran yang berharga untuk melangkah menapaki kehidupan yang baru yang lebih baik, jangan menganggap semua pria itu sama Nak," ujarnya lagi.
Mereka duduk di teras belakang Kediamannya. Sembari menikmati indahnya sinar matahari sunset yang berkilauan dengan warna jingga yang semakin mempercantik suasana indahnya sore hari itu menjelang magrib.
Secangkir kopi hangat dan segelas teh hijau khas Thailand menemani santai sore mereka.
Asap dari minumannya masih mengepul ke atas dengan aroma khas yang membuat mereka semakin santai dan rileks.
...Fania dan keluarga besar mengucapkan selamat hari raya idul Adha 1443 Hijriah, bagi Readers CYT yang menjalankannya....
...Mohon Maaf Lahir dan Bathin....
...By Fania Mikaila Azzahrah...
...Makassar, Minggu, 10 Juli 2022...
__ADS_1