Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 174. Drama si Merah


__ADS_3

Selamat Membaca..


"Mas Aku harus ganti pakaian dulu yah, gak bebas dan gerah juga."


Maya langsung ngacir ke dalam kamar mandi sebelum Dion membalas perkataannya. Dion hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya yang seperti anak ABG saja.


Maya bersandar di balik pintu toilet dengan memegang dadanya. Maya mengingat jika Amairah tadi memberikan satu paper bag sebelum mereka berangkat ke Gedung.


Maya meraih paper bag itu dan memeriksa apa yang ada di dalamnya. Maya menjerit saat melihat apa yang ada di dalam Paper bag pemberian Amairah.


Maya melempar benda itu hingga teronggok di atas lantai keramik kamar mandinya.


Maya segera menutup mulutnya agar suara teriakannya tidak kedengaran hingga ke luar.


"Mbak Amairah kok kasih hadiah yang seperti ini, ada-ada saja," ia berjalan ke arah lingerie seksi yang tadinya dia lempar.


Maya menjinjing benda itu di depan matanya hingga sejajar dengan kepalanya.


"Ya Allah ini apa? kok modelnya seperti ini?" Maya menggelengkan kepalanya dengan keheranan melihat benda itu.


Benda itu adalah lingerie merah yang sangat seksi. Maya yang baru pertama kali melihat pakaian seperti itu wajar saja terkejut.


Maya membolak-balik lingerie seksi itu dan menggelengkan kepalanya saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya.


"Apa sih maksudnya Mbak Amairah kasih hadiah seperti ini? apa tidak ada lainnya yang bisa Mbak Amairah berikan untuk Saya?"


Dion sudah berbaring di atas ranjang dengan wajah serius. Dion membuka Mbah Google untuk mencari artikel tentang cara menghadapi malam pertama yang baik dan anti gagal.


Dion melihat beberapa gambar yang menurutnya sungguh menggoda imannya. Dion menutup matanya yang tanpa sengaja melihat foto seorang wanita dengan pakaian yang sangat minim dan tipis.


Setelah beberapa saat Dion berhasil menemukan apa yang dia inginkan. Dion senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hingga Dion melupakan Maya sudah cukup lama menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi.


Maya kebingungan cara memakai pakaian tersebut. Dengan penuh kesabaran dan sudah berulang kali dicoba, akhirnya berhasil juga lingerie itu membungkus tubuhnya.


Maya memutar tubuhnya di depan cermin. Berputar beberapa kali.


"Ternyata cantik juga yah aku pakai, pantas saja Mas Martin tidak bosan seharian di dalam kamarnya bersama dengan Mbak Amairah kalau dia memakai pakaian seperti ini."


Maya tersenyum melihat penampakan tubuhnya yang begitu terpampang jelas. Hingga puncak mount Everesthya yang masih kemerahan itu tampak nyata.


"Apa Mas Dion suka kalau aku pakai lingerie ini yah? tapi kalau mas Dion gak suka gimana?"


Banyak pertanyaan yang bersileweran di dalam pikirannya. Maya sudah memegang gagang pintu dan bersiap untuk memutar handel pintu, tapi Maya kembali mengurungkan niatnya.


"Apa Aku harus keluar dengan pakaian seperti ini? tapi kalau Mas Dion gak suka gimana? tapi kata Mbak Amairah Mas Dion akan sangat bahagia dan suka."


Dion di luar sedari tadi mesem-mesem sendiri tidak jelas, hingga pintu berdecit. Dion segera mematikan layar HPnya lalu menyembunyikan hpnya tersebut dibawah bantalnya dengan sarung bantal berwarna merah muda.


Maya berjalan sangat hati-hati dan pelan. Maya berjinjit saking malunya dan tidak percaya diri dengan apa yang dipakainya sekarang.


Dion terbelalak melihat penampakan Istrinya. Dion serasa melihat bidadari surga yang baru turun dari khayangan.


Sesekali ia mengusap matanya dan wajahnya saking tidak percayanya melihat istrinya.


"Mas Dion, apa ada yang aneh dengan penampilan Maya?" dengan wajahnya sudah nampak memerah menahan rasa malunya.


Maya meneliti seluruh tubuhnya dengan seksama.


"Apa Maya tidak cocok memakai pakaian seksi yah?" Maya terus memberondong pertanyaan demi pertanyaan untuk suaminya.


Dion satu pun tidak menjawab pertanyaan dari Maya. Malahan Dion tersenyum penuh kelicikan melihat tubuhnya Maya yang begitu terekspos.


Dion bangkit dari ranjang menuju tempat di mana istrinya berada. Lalu membisikkan sesuatu kata-kata yang membuat Maya bergidik ngeri.


"Kamu sangat seksi dan cantik, membuat gairah Mas langsung ingin melahap seluruh tubuhmu."

__ADS_1


Maya merinding seketika saat perkataan itu meluncur dari bibirnya Dion.


Maya segera digendong ala bridal style ke atas ranjang.


"Kalau Mas menginginkannya, Mas mohon Kamu pakai pakaian seperti ini yah."


Kedua matanya Dion sudah berkabut penuh gairah cinta yang bergelora di dadanya.


Dion mematikan lampu utama di dalam kamarnya menggantikan dengan lampu yang cukup remang-remang.


Dion mengingat apa yang ada di dalam artikel tersebut hingga apa yang dilakukannya terkesan sangat kaku dan terkontrol, tidak ada kebebasan.


Karena sudah tidak menahannya lagi, Dion sudah melupakan apa yang dibacanya barusan. Dion hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang pria dewasa yang sudah beristri.


"Mas, Aku takut."


"Kamu tidak perlu takut, Mas akan sangat pelan dan hati-hati kok."


Maya hanya menganggukkan kepalanya. Dion segera membuka lingerie seksi itu dengan sekali saja menarik tali pengikat dan pengait lingerie itu. Maya sudah tidak memakai apa pun.


Membuat apa yang sedari dulu tidak pernah berkibar sekarang bangkit dari tidurnya. Tiang bendera itu berdiri dengan tegaknya hingga Maya menutup mulutnya melihatnya.


Maya hanya menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya sedangkan tangan yang satunya memegang bagian sensitifnya.


Dion perlahan menciumi wajahnya Maya hingga setiap inci sudah dia ekspansi. Maya menggelinjang kegelian dengan ciuman yang diberikan oleh Dion di sekitar leher jenjangnya.


"Mas geli aaahhh," tawa Maya pecah hingga membuat Dion semakin gesit dan tidak berhenti dengan apa yang dilakukannya.


"Sayang nanti kalau mas itu, kamu harus tahan yah," dengan wajah yang sudah tidak bisa menahan hasratnya yang terpendam.


"Apa sangat sakit yah Mas?" wajahnya Maya penasaran.


"Ada yang bilang sakit tapi, lama-lama tidak sakit lagi malahan sangat enak."


Dion memelintir puncak gunung Himalaya dan sesekali menyesapnya. Membuat lenguhan kencil lolos dari mulutnya Maya yang merah merona itu.


Dion merayap ke atas hingga hidung mancung mereka saling bertabrakan. Mata mereka saling beradu. Nafas mereka saling memburu. Jantung keduanya berdebar dengan kencang.


Dion menyentuh bibirnya Maya dengan jarinya. Dion menempelkan bibir mereka. Maya dengan sigap membuka mulutnya dan menunggu Dion bertindak lebih di atas bibirnya yang kenyal dan terasa manis itu.


Dion mencium bibir itu awalnya hanya ciuman biasa saja, hingga berubah menjadi ciuman yang sangat menuntut dan menantikan balasan dari Maya.


Maya mulai mencoba untuk berinisiatif melakukan serangan balasan di atas bibirnya Dion.


Perlahan dengan penuh kelembutan lama-lama ciuman itu semakin kasar. Lidah mereka saling bertaut. Mengecap sesekali hinggap saliva mereka bertukaran. Andai saja nafas mereka tidak ngos-ngosan mereka kemungkinannya tidak akan berhenti.


"Sayang bibir Kamu sangat manis melebihi manisnya madu."


Dion mengecup sekilas bibir yang sedikit montok itu.


Tangan Dion sudah menjalar turun hingga bkr daerah intim Maya. Dion tidak menyangka jika aset perempuan ternyata bentuknya seperti itu.


Dion tersenyum melihatnya. Maya yang melihat suaminya senyum-senyum tidak jelas. Langsung merapatkan kedua kakinya.


"Buka sedikit sayang, Mas akan mulai."


Maya menuruti perkataan dari suaminya tanpa ada protes atau perlawanan sedikitpun.


"Tidak sakit kan sayang?"


Dion hanya menganggukkan kepalanya.


Perlahan tapi pasti Dion sudah menancapkan tiang benderanya ke dalam lubang sejuta rasa itu.


Kreeeeekkkk....

__ADS_1


"Aaaaaaaaahhhhh!!!!"


Suara itu bersamaan dengan suara teriakan dari Maya. Dion mendengar suara yang cukup besar dari mulut Maya segera menutup mulutnya Maya dengan kedua tangannya.


"Tahan yah sayang, kalau sakit, gigit saja tangannya Mas."


Maya mengganguk dengan sangat pelan. Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya menahan sakitnya di bagian intinya.


Dion kembali melanjutkan pekerjaannya, dengan penuh kehati-hatian dan dalam beberapa percobaan selalu gagal tapi, Dion tidak pantang mundur. Dion segera menambah kecepatan dan kekuatannya untuk segera menerobos pintu masuknya yang masih tertutup rapat dan tersegel itu.


Dengan sekali hentakan keras yang sangat kuat akhirnya mampu membuat segel itu terkoyak. Maya menggigit tangannya Dion dengan kuatnya.


Dion semakin menambah daya gedornya karena akses jalan menuju surga dunia sudah terbuka.


Air mata Maya semakin deras membasahi pipinya.


"Henmnmmmppphh."


Beberapa menit kemudian, Dion dan Maya bersamaan mencapai puncak kenikmatan indahnya surga dunia hingga ke puncak langit tertinggi.


Peluh membasahi seluruh tubuh mereka. Peluh keringat membasahi kening hingga ke pipi mereka. Tubuhnya berkilauan terkena sinar cahaya lampu kamarnya.


Dion tumbang di samping tubuhnya Maya yang masih bergetar menahan sakit dan perih dibagian daerah sensitifnya.


"Sayang, makasih banyak, Kamu menjaganya dengan sangat baik."


Dion mendaratkan ciuman di atas kening Maya. Mereka tersenyum bahagia karena bisa melewati malam pertama yang begitu panjang dan penuh drama lingerie.


Dion merentangkan tangannya agar Maya bisa meletakan kepalanya di atas bahunya Dion.


"I love you forever."


"I love you to honey."


"Andai saja saya tahu seperti ini nikmatnya malam pertama pasti saya tidak akan main kabur dari pertunanganku."


Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak.


Hari ini Fania Crazy up loh Kakak Readers.


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


...Judulnya:...


...1. Sang Penakluk...


...2. Bertahan Dalam Penantian...


...3. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...


...********To Be Continue********...


...by Fania Mikaila AzZahrah...


...Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu, 26 Juni 2022...

__ADS_1


__ADS_2