
Selamat Membaca..
Axel yang sedang bermain sepeda di dekat Taman yang tidak jauh dari rumahnya. Mbak Marni dan Mbak Wati sudah melarang dan menjaga ketat Axel agar main sepedanya tidak terlalu jauh dan kencang saat mengayuh sepeda itu. Axel sangat gembira dengan sepedanya itu karena itu adalah hadiah dari pak Heri.
Tawa bahagia dari bibir Axel Tak pernah pudar. Bahkan Axel sangat bahagia bermain bersama temannya di Taman itu. Tapi Axel menambah kecepatan sepedanya dan sudah meninggalkan area taman dan mengarah ke jalan poros yang banyak kendaraan besar dan Roda empat yang lalu lalang.
Axel semakin mengjauh sedangkan Mbak Marni dan Mbak Wati sudah mengingatkan Axel agar tidak keluar dari lokasi Taman.
"Axel jangan ke sana nak, bahaya banyak mobil yang melewati jalan itu" teriak Mbak Marni sambil terus berlari dibelakang Axel.
"Tunggu Mbak Axel, kasihan Mbak yang sudah tidak kuat mengejar Axel" teriak Mbak Wati yang sudah ngos-ngosan berlari mengejar Axel.
Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil yang sangat mewah dengan kaca jendela yang mengkilap dengan kecepatan tinggi. Mobil tersebut sudah membunyikan klaksonnya agar Axel menyingkir di jalan raya, tapi Axel tidak menghiraukan suara klakson mobil tersebut yang cukup nyaring bunyinya.
Karena kecepatan laju dari mobil tersebut hingga supir tersebut tidak sengaja menyerempet sepeda Axel, suara ban mobil yang tiba-tiba direm pas menimbulkan suara yang cukup bising, sedangkan tubuh Axel terbanting jauh sekitar 10 meter dari kap mobil depan.
"Mommy aaaaaahhhh tolong Axel!!!." teriak Axel sebelum tubuhnya terjatuh ke atas aspal yang cukup panas karena terpapar sinar matahari yang begitu teriknya Siang itu.
Mbak Marni dan Mbak Wati melihat langsung kejadian itu hanya bisa menutup ke dua mulutnya dan tidak percaya sekaligus shock dengan apa yang dilihatnya sehingga sesaat hanya mematung ditempatnya berdiri. Pak supir dan pemilik mobil tersebut segera berlari ke arah Axel untuk segera menolongnya. Mbak Marni berlari segera untuk menolong Axel yang tubuhnya sudah berlumuran darah.
Mbak Marni segera memangku tubuh kecil Axel dan terus menangis Kasihan dengan kondisi Axel. Darah mengucur dari kepala dan hidungnya.
"Mina" ucap Axel sebelum menutup matanya perlahan.
"Axel jangan tinggalin Mbak, Axel sadarlah ini Mbak Marni bersamamu" ucap Mbak Marni yang berusaha untuk membangunkan Axel yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Pemilik mobil tersebut segera merebut tubuh Axel dan menggendongnya ke dalam mobilnya dengan terburu-buru dengan wajah yang sangat cemas.
"Ayo cepat kita ke rumah sakit" ucap bapak tersebut sambil memangku tubuh Axel yang sudah tidak sadarkan diri tapi darah semakin mengucur deras dari kepalanya Axel.
Mbak Marni dan Mbak Wati pun buru-buru ikut ke dalam mobil bapak itu. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga mobil tersebut berhenti di depan pintu masuk rumah sakit dengan suara decitan ban mobil yang berhenti.
Bangkar di dorong cukup kuat dan cepat oleh beberapa suster hingga masuk ke ruangan operasi. Dokter pun berdatangan untuk menangani Axel. Bapak yang menabrak Axel langsung mendekati dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk cicitku berapa pun biayanya Saya akan bayar" ucap bapak tersebut.
Mbak Marni dan Mbak Wati mondar mandir di depan pintu rumah sakit hingga tubuh Mbak Marni menabrak supir pribadi bapak tersebut.
"Maafkan saya Nona saya tidak sengaja" ucap Pak Dahlan supir pribadi yang baru sebulan bekerja dengan Pak Mark Prin Atmadja.
Mbak Marni hanya melongok menatap wajah pak Dahlan saja tanpa menjawab pertanyaan dari Pak Dahlan. Mbak Wati langsung menyenggol lengan Mbak Marni agar tersadar dari lamunannya.
"Eeehhh tidak apa-apa kok Mas" ucap Mbak Marni yang tersenyum manis ke arah pak Dahlan yang sementara waktu melupakan kecemasannya gara-gara terpesona pada dirinya pandangan pertama kalinya dengan Mas Dahlan.
Satu jam kemudian, pintu ruangan Operasi terbuka, tapi lampu operasi masih menyala tandanya operasi masih berjalan.
"Maaf apa diantara kalian ada yang golongan darahnya O ?? karena rumah sakit sedang kehabisan stok golongan darah O Karena kebetulan hari ini banyak yang membutuhkan golongan darah O" Ucap Dokter tersebut.
"Ambil saja darahku sebanyak yang bisa dokter ambil karena golongan darahku juga O" ucap Mark.
"Kalau gitu, bapak ikut kami tapi bapak harus terlebih dahulu diperiksa kesehatannya sebelum kita mengambil tindakan" ucap perawat.
"Baik" ucap Pak Mark.
Axel masih bertarung di atas meja operasi, pak Mark sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit dan sedang melakukan transfusi darahnya untuk Axel.
__ADS_1
Di Perusahaan Prima tekstil, Amairah tidak sengaja menumpahkan nampan yang berisi gelas. Semua mata tertuju ke arah Amairah. Amairah tidak tenang dan merasakan tidak nyaman.
"Apa yang terjadi dengan Axel putraku, kenapa sedari tadi aku terus memikirkannya".
Maya yang memperhatikan gerak gerik Amairah heran dengan yang terjadi kepada Amairah.
"Tinggalkan saja pecahan belingnya biarkan og yang membereskan semua itu" ucap Maya.
Amairah pun berdiri dan berjalan kembali ke Pantry untuk mengambil minuman dingin. Amairah kembali termenung di saat tangannya sedang membuka lemari pendingin tersebut. Maya yang mengikuti sedari tadi Amairah pun bingung dengan sikap Amairah yang tidak seperti biasanya.
"Kalau kamu sakit pulang saja lah, biarkan aku yang menyelesaikan pekerjaan yang tersisa di atas meja kerjamu" ucap Maya.
"Entah kenapa perasaanku tidak tenang sedari tadi memikirkan terus keadaannya Axel, aku takut terjadi sesuatu kepada putra aku May" ucap Amairah yang meminum air putih dingin tersebut hingga isi dari gelas tersebut tandas.
"Kalau kamu khawatir telpon saja Mbak Marni atau mbak Wati dari pada kamu bekerja tapi tidak fokus juga" ucap Maya yang memberikan solusi kepada Amairah.
Amairah langsung merogoh tasnya dan mencari gawainya. Amairah pun menghubungi nomor hp Mbak Marni. Beberapa kali Amairah mencoba untuk menghubungi nomor hp nys mbak Marni tapi tidak dijawab. Amairah semakin khawatir dan terus mencoba untuk menelpon nomor hp Mbak Marni.
"Assalamu alaikum Mbak, Mbak apa Axel baik-baik saja, apa aku bisa bicara sebentar dengannya?." tanya Amairah yang menyerang Mbak Marni dengan berbagai pertanyaan.
Sedangkan Mbak Marni tidak mampu menjawab satu pun pertanyaan yang dilontarkan oleh Amairah yang pertanyannya sangat mudah tapi sulit untuk diucapkan oleh Mbak Marni.
"Axel... Axel Bu" ucap gagap Mbak Marni.
"Ada apa dengan Axel Mbak, tolong bicara yang jelas" ucap Amairah dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Axel keserempet mobil Mbak" ucap Mbak Marni yang sudah menangis tersedu-sedu.
Amairah yang mendengar kabar itu langsung berdiri dan tidak sengaja menjatuhkan hpnya. Hal tersebut kembali menjadi perhatian oleh rekan kerjanya. Amairah langsung menangis tersedu-sedu dan kembali terduduk di kursinya.
"Apa yang terjadi Amairah, tolong tenanglah" ucap Maya yang berusaha untuk menenangkan Amairah yang sudah nampak kacau.
"Kalau gitu apa lagi yang kamu tunggu, cepatlah ke ruangan ibu menejer terus minta ijin" ucap Maya yang mengingatkan Amairah.
Amairah yang mendengar hal tersebut langsung berdiri tanpa sepatah kata pun dan berlari kecil menuju ruangan menejer Humas.
Tok.. Tok..
Amairah mengetuk pintu ruangan Ibu Talia Joy selaku kepala menejer Humas.
"Silahkan duduk Amairah, ada yang bisa ibu bantu?" tanya ibu Talia Joy Tobing yang melihat raut wajah dari Amairah yang tidak tenang dan matanya sembab.
"Ibu Saya Ingin minta ijin pulang soalnya putra saya kecelakaan dan sekarang di rawat di RS" ucap Amairah yang to the poin saja.
"Amairah sudah punya anak, bukannya statusnya masih single yah?".
Ibu Talia tidak ingin menunjukkan wajah bingung sekaligus terkejutnya karena bukan saatnya sekarang untuk menginterogasi Amairah dan kepo dengan kehidupan pribadinya Amairah.
"Kalau emang putramu kecelakaan ibu ijinkan kamu pulang" ucap Ibu Talia Joy Tobing.
"Makasih banyak Bu, insya Allah Amairah akan mengerjakan pekerjaan Amairah yang tertinggal setelah keadaan putraku sudah membaik" ucap Amairah lagi.
"Kamu fokus saja dengan kesembuhan dari anakmu terlebih dahulu masalah pekerjaan nanti saja kamu pikirkan" ucap Ibu Talia dengan bijaknya.
"Makasih banyak Bu, Amairah pamit kalau begitu, Assalamu alaikum" ucap Amairah yang langsung tancap gas menuju kubikelnya untuk mengambil tasnya.
"Aku pamit dulu yah Maya" ucap Amairah yang buru-buru berjalan ke arah Parkiran setelah pamit kepada Maya.
__ADS_1
"Hati-hati Jangan ngebut" teriak Maya.
Amairah hanya menaikkan jempolnya tanda Setuju.
Amairah berlari kencang ke arah parkiran mobil dengan menenteng sepatu high heelsnya. Tingkah Amairah menjadi tontonan gratis oleh sebagian rekan kerjanya. Tapi Amairah tidak peduli dengan peduli dengan hal tersebut. Amairah sudah berada di jalan raya berjibaku dengan pengemudi kendaraan roda empat lainnya. Amairah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi tidak seperti biasanya. Amairah agak kesal dengan lampu hijau yang menurutnya tiba-tiba menyala. Amairah memarkirkan mobilnya secara asal dan meminta tolong kepada tukang parkir untuk memarkirkan mobilnya dengan baik.
Amairah kembali berlari dari arah parkiran hingga ke depan ruangan operasi dengan bertelanjang kaki. Sakitnya tidak dihiraukan oleh Amairah jika ada kerikil kecil yang menusuk telapak kakinya. Amairah melihat Mbak Marni dan Mbak Wati yang duduk tidak jauh dari Ruangan operasi dan langsung memeluk tubuh Mbak Wati.
"Mbak apa yang terjadi kepada Axel, kenapa bisa terjadi seperti ini, ya Allah tolonglah putraku" ucap Amairah yang tersedu-sedu.
Pak Mark yang berada di sana langsung menatap tajam ke arah Amairah. Pak Mark kembali teringat dengan perempuan muda yang bertemu dengannya di dalam Lift beberapa bulan yang lalu.
"Apakah dia gadis yang bertemu denganku beberapa bulan yang lalu dan senyuman itu yang mirip dengan Mia putriku".
"Maafkan Saya Bu, kami tidak menjaga Axel dengan baik ini semua gara-gara keteledoran kami saat menjaga Axel yang sedang bermain sepeda" ucap Mbak Marni yang bersimpuh di kaki Amairah memohon maaf.
"Jangan seperti ini Mbak, ini tidak baik ayok berdiri, apa boleh buat mbak ini sudah menjadi garis tangan Axel dan kita hanya bisa berdoa dan berpasrah diri kepada Allah SWT agar Axel baik-baik saja" ucap Amairah yang masih sesegukan.
"Aku ingin mencari tahu siapa sosok perempuan tersebut yang mirip dengan putriku yang hilang dan kebetulan putranya sama dengan golongan darahku dan yang membuat Aku heran tadi aku menyebut putranya sebagai cicitku".
Pak Mark kemudian berdiri dan agak mengjauh dari orang-orang dan langsung menelpon nomor hpnya Pak Antonio keponakannya untuk menyelidiki dan mencari tahu siapa sebenarnya Amairah.
Beberapa jam kemudian, ruangan operasi terbuka dan lampunya pun padam. Dokter keluar dari ruangan tersebut sambil membuka maskernya. Amairah langsung berjalan mendekati dokter tersebut.
"Apa yang terjadi dengan putraku dan bagaimana sekarang keadaannya dokter?." tanya Amairah yang sudah khawatir.
"Alhamdulillah putra Ibu sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius dan tidak ada yang perlu ibu khawatirkan dengan keadaan putra ibu" jelas pak dokter panjang lebar.
"Alhamdulillah Makasih banyak pak dokter" ucap syukur Amairah.
Axel sekarang sudah berada di dalam ruangan ICU RS untuk menunggu kondisi Axel membaik lalu memindahkan Axel ke ruangan perawatan setelah kondisinya membaik.
Pak Heri Tan yang kebetulan sedang berada di depan rumah Amairah bingung karena Rumah yang dalam keadaan sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pak Heri langsung menelpon ke nomor hpnya Mbak Wati.
"Assalamu alaikum mbak Wati" ucap Pak Heri.
"Waalaikum salam pak Heri" jawab salam Mbak Wati.
"Oy Axel di mana yah Mbak? kebetulan Saya ada di depan nih tapi pintu pagar tergembok?." tanya Pak Heri.
"Axel di rumah sakit Pak tadi keserempet mobil dan sekarang sedang di rawat di ruang ICU pak" ucap Mbak Wati yang menangis melihat tubuh kecil Axel yang kepalanya dibalut perban putih dan beberapa alat kedokteran terpasang di tubuhnya.
"Axel di Rawat di rumah sakit mana? dan tolong share alamat Rumah sakit tersebut" ucap Pak Heri yang kembali ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah rumah sakit DA sesuai Alamat yang dikirim oleh Mbak Wati.
Sedangkan di rumah Sakit, Amairah tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan dari putra semata wayangnya itu.
"Ya Allah lindungilah putraku dan sembuhkanlah segala macam penyakitnya dan berilah kami Kesabaran".
Pak Mark berjalan ke arah Amairah dan tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Amairah. Pak Mark kemudian menangis tersedu-sedu di balik punggung Amairah. Semua orang yang berada di sana heran melihat sikap pak Mark. Mereka tidak menyangka oak Mark akan memeluk tubuh Amairah padahal mereka tak ada hubungan apa pun. Amairah hanya membalas pelukan dari Pak Mark dan ada desiran halus yang menerpa hati dan perasaannya.
...********Bersambung********...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus.🥰🙏
Dan tetap Like setiap Babnya 🙏.
Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, 16 April 2022