Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 118. Yes Tunangan


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kafe yang suasana dan desainnya yang sangat romantis itu menjadi pilihan tempat Maya melarikan diri dari penat dan kekacauan hati dan pikirannya.


Maya menikmati senja di sore itu dengan segelas minuman dingin yang mampu menyejukkan dan membuang dahaga. Hingga minuman itu tandas tak bersisa.


Dion berjalan perlahan ke arah kursi yang diduduki oleh Maya, karena posisi Maya yang membelakangi pintu sehingga tidak mengetahui kedatangan Dion.


"Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu pada dirinya, tapi kenapa meski harus kabur dan lompat lewat jendela sih, kalau hanya ingin ke sini, benar-benar calon istriku kelakuannya selalu membuat geleng-geleng kepala."


Maya ingin menambah minumannya yang sudah habis itu sehingga dia berdiri dan segera berjalan ke arah Pelayan. Maya baru saja memutar tubuhnya, tapi langkahnya terhenti dan air matanya menetes membasahi pipinya.


"Maya Erlene Keysha Will marry me?"


Singkat, padat dan jelas itulah ucapan yang terlontar dari bibir Dion Aiden Tan perkasa.


Dion mengucapkan kata-kata itu sambil berlutut di hadapan Maya dengan sebuah buket mawar merah dan sebuah kotak buludru yang sangat cantik, berisi cincin yang sangat cantik pula.


Maya semakin tak mampu berkata-kata, lidahnya keluh seketika, batinnya menjerit menginginkan untuk mengatakan ya, tapi di satu sisi, besok adalah hari pertunangannya dengan seorang pria yang sudah ditentukan oleh ke dua orang tuanya.


"Mas, Maya ingin bilang Yes, tapi bagaimana dengan ke dua orang tuaku, jika kali ini aku tolak, pasti perasaan mereka hancur dan kecewa, tapi aku tidak mampu hidup tanpa Mas Dion."


"Bagaimana Maya Elene Keysha?" tanya Dion yang sebenarnya dia melakukan hal ini untuk melihat apa kah Maya akan lebih memilih dia atau ke dua orang tuanya.


Dengan penuh pertimbangan, Maya akhirnya menjawab pinangan dari Dion. Dan berat hati Maya menolaknya.


"Maaf Mas, Maya tidak bisa, Maya akan bertunangan besok dengan pria pilihan orang tuaku," ucapnya di sela isak tangisnya.


Setelah menjawab pertanyaan dari Dion, Maya langsung berlari dari hadapan Dion. Maya masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil itu Maya semakin terisak dalam tangisnya.


"Maaf, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua, Selamat tinggal Mas Dion."


Maya menangis dan menyandarkan kepalanya di setir mobilnya. Setelah beberapa saat dan sudah merasa cukup baikan, barulah Maya menjalankan mobilnya kembali ke rumahnya.


Malam sudah menyapa, dan sang Dewi Malam sudah menampakkan kecantikannya di atas langit. Dion pun melajukan mobilnya setelah melihat Maya meninggalkan Kafe.


Maya berjalan ke dalam kamarnya, ketika suasana di dalam rumahnya sudah nampak sepi. Sanak keluarga dan kerabat dekat sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Kalau Mas Dion adalah bukan tercipta untukku maka jauhkanlah dia dari hidupku begitu pun sebaliknya."


Pagi pun menyingsing, sinar matahari telah menyapa dengan cahayanya. Di kediaman keluarga Maya sudah nampak sibuk membicarakan pertunangannya yang akan berlangsung beberapa jam lagi.


"Sayang Kamu sudah siap belum?, ini pegawai dari salon langganamu sudah datang, buka pintunya dong sayang, kasihan kalau mereka harus menunggu lebih lama lagi," ucap Ibu Marissa.


Ibu Marissa cemas sekaligus khawatir jika Maya kembali berulah, tapi itu tidak mungkin terjadi, karena seluruh pojok Rumahnya sudah berdiri seorang pengawal yang menjaganya.


Ibu Marissa kembali ingin mengetuk pintu itu lagi dan tiba-tiba pintu itu sudah terbuka.


"Maya sudah siap kok Mi, suruh saja orangnya masuk ke dalam kamarnya Maya," ucapnya dengan lesu dan seakan-akan belum makan seharian saja.


Maya akan melakukan berbagai macam perawatan pada tubuhnya sebagai persiapan untuk menyambut pertunangannya. Mulai dari perawatan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


Waktu terus berlalu, sudah pukul 7 malam waktu London. Keluarga dan kerabat sudah berdatangan di rumahnya Maya. Awalnya ibu Anna ibu dari Dion menginginkan perayaan tersebut dilaksanakan di gedung bintang lima dan mengundang relasi dan rekan bisnisnya, tapi Ibu Marissa khawatir jika Maya akan berulah lagi di saat pertunangannya yang berujung dengan penghinaan yang mereka dapatkan seperti yang telah lalu.


Maya sudah tampil cantik dengan balutan gaun yang sangat pas dan cocok ditubuhnya. Maya sedari tadi berusaha untuk menahan tangisnya.

__ADS_1


Tok.. tok... tok..


"Maya apa Kamu sudah siap sayang?, kalau sudah siap turun yuk, calon suami dan keluarganya sudah datang, kasihan mereka sudah nunggu lama."


"Iya Mi, sabar Maya sudah siap kok," teriak Maya dari dalam kamarnya.


Maya dan Ibu Marissa menuruni tangga, sedari tadi Maya terus menunduk dan tidak ingin melihat wajah dari calon suaminya.



Calon suami Maya dengan stelan jas hitamnya yang sangat pas dan cocok ditubuhnya.


"Karena calon mempelai perempuan sudah hadir bagaimana kalau kita segera mulai acara pertunangan saja," ucap Pak Heri paman dari Dion.


"Sepertinya calon pengantin perempuannya malu-malu sedari tadi menundukkan terus kepalanya," ucap ibu Hernita dengan senyuman khasnya.


"Semua calon pengantin pasti malu-malu, Kamu juga seperti itu dulu, apa Kamu sudah lupa?, tanya Pak Agung Wijaya.


Yang muda hanya menyaksikan candaan mereka saja seperti halnya Arumi yang selalu menghindar jika Bryan tak sengaja berada di dekatnya. Martin dan Putri kecilnya Baby Del dan Nenek Masitha sudah hadir dari Indonesia. Mereka akan menjadi saksi dari pertunangan Dion dan Maya.


Maya pun diantar oleh Arumi dan Kakak sepupunya. Mereka berjalan mendekati Dion yang sedari tadi tersenyum bahagia penuh kemenangan, karena akhirnya dia akan bertunangan dengan pujaan hatinya.


"Ini cincinnya pakaikan di jari manis Maya, Nak," ucap Maminya Dion.


Dion pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Maminya dan Maya mengulurkan jari manisnya tanpa harus memandang wajah Dion terlebih dahulu. Cincin yang bertahtakan berlian itu sudah terpasang dengan indah di jari manisnya.


"Sekarang giliran Maya, ini sayang cincinnya pakaikan di jari calon suamimu," ucap ibu Marissa Maminya Maya.


Maya tanpa basa-basi langsung menyematkan cincin itu ke jari Dion.


Wajah mereka nampak bahagia dan lega serasa beban berat yang beberapa bulan ini mereka pikul akhirnya terselesaikan dengan senyuman kebahagiaan dari wajah mereka yang sedari dahulu mereka nantikan. Berbagai ucapan doa tulus mereka panjatkan.


Cheryl langsung berjalan ke arah Maya dan langsung memeluk tubuh calon iparnya itu.


"Selamat yah Kak cantik, akhirnya akan menikah juga dengan Abangku," ucap Cheryl Vania.


Maya seperti mengenal suara itu langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Cheryl. Sedangkan Cheryl yang ditatap seperti itu hanya tersenyum cengengesan saja.


"Dia kan gadis yang menjadi pacarnya Mas Dion kok dia juga ada di sini dan tadi dia bilang abangnya, maksudnya aku akan menikah dengan saudaranya, pasti ada kekeliruan di sini."


Maya mendongakkan kepalanya ke atas dan wajah pertama yang dia lihat adalah wajahnya Dion yang tersenyum sangat manis tanpa gula kepadanya. Dion hanya mengangkat jarinya dan memperlihatkan cincin yang dipakainya ke hadapan Maya.


"Apa yang terjadi di sini, kenapa mas Dion yang memakai cincin itu atau mungkin hanya mirip saja, tapi kenapa mas Dion ada di sini, saya sama sekali tidak mengundangnya."


"Gimana Maya, apa yang Kamu rasakan sekarang, semoga Kamu bahagia dengan pertunangan kamu dan Paman harap Kamu tidak akan kabur lagi," ucap pak Heri.


Seluruh ruangan menjadi riuh dan heboh dengan suara tawa mereka. Maya pun tersipu malu karena semua yang dikatakan pamannya adalah benar adanya. Maya melihat ke sekeliling ruangan dan pandangannya mengitari setiap sudut ruangan.


Maya hanya melihat ada beberapa pemuda yang berada di dalam ruangan itu.


"Tidak mungkin sepupuku sendiri yang Aku temani, lebih-lebih Martin itu tidak masuk akal dan mas Dion itu lebih tidak masuk akal lagi, tapi cincin yang aku pakai sama dengan cincin yang ada di jarinya?"


Maya perlahan berjalan ke arah Dion, dan semua mata memandang ke arah mereka. Dion yang menyadari kalau Maya mendekatinya hanya terdiam dan tersenyum menantikan kedatangan Maya. Maya meneteskan air matanya dihadapan Dion, tanpa kata hanya isakan tangisnya yang terdengar sangat menyayat hati. Maya langsung memeluk tubuh Dion.


"Mas Maafkan Maya yang harus bertunangan dengan orang lain, Maya sangat mencintai Mas Dion tapi Maya tidak ingin membuat kecewa mami dan papi," ucapnya di sela Isak tangisnya.

__ADS_1


Dion tidak berkata apa-apa hanya membalas pelukan dari Maya. Dion akhirnya bisa bernafas dengan lega dan sangat bahagia karena akhirnya Maya mengungkapkan perasaannya sendiri dan jujur kalau Maya mencintainya.


Dion memegang dagu Maya dan mengarahkan wajah Maya tepat di hadapannya.


"Mas sangat bahagia karena akhirnya Kamu mengungkapkan perasaan Kamu tanpa ragu sedikit pun, dan makasih banyak Mas tidak akan buat kamu kecewa dan sedih, Mas janji akan buat Kamu bahagia seumur hidupmu,"


"Tapi gimana caranya Mas, sedangkan Maya sudah bertunangan dengan pria lain," ucap Maya yang masih menangis tersedu-sedu.


"Makanya kalau bertunangan itu jangan asal iya saja, sesekali tatap wajah calon suami Kamu agar tidak ada kekeliruan seperti seperti yang terjadi padamu," ucap Dion.


"Maksudnya Mas, Maya tidak paham?" ucap Maya dengan wajah yang kebingungan.


Dion hanya mengarahkan pandangan Maya ke arah di dinding yang bertuliskan


"Happy Engagement Maya Erlene Kheysha dengan Dion Aiden Perkasa Tan."


Maya langsung shock dan terkejut setelah mengetahui kenyataan yang ada.


"Mas pasti bohong, dan ini tidak mungkin pasti ada kesalahpahaman yang terjadi di sini?"


"Sayang lihat ke dalam bola mata Mas dan tanya mereka yang ada di Sini, apa pertunangan kita ini bohongan atau hanya sekedar settingan saja?" tutur Dion.


Maya pun melihat ke wajah anggota keluarganya dan seluruh orang yang berada di sana menyaksikan pertunangan tersebut. Mereka yang ditatap hanya mengganggukkan kepalanya tanda ya benar adanya.


"Ya Allah akhirnya aku akan menikah dengan pria yang aku cintai, Alhamdulillah aku sangat bahagia Mas," ucap Maya yang sangat kegirangan karena telah mengetahui kalau Dion lah yang telah menjadi tunangannya.


Maya bahkan bereaksi diluar dugaan. Maya bahkan melompat saking gembiranya di hadapan Dion. Dan tak henti-hentinya memeluk tubuh Dion.


"Kenapa sih gak bilang sedari dulu sih Mas, kalau gitu Maya tak perlu repot-repot harus main kabur segala," terang Maya.


Semua yang melihatnya hanya tersenyum bahkan ada yang terbahak-bahak melihat tingkah Maya.


"Kamu yah, apa kamu pernah bertanya sama mereka siapa calon tunangan kamu tidak kan, lihat fotoku saja mungkin kamu gak pernah lihat, iya kan?" tanya Dion sambil menarik lembut hidung bangir Maya.


Maya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum malu.


Semua orang ikut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua pasangan sejoli itu. Hanya Martin yang harus merasa sedih dan kesepian karena istrinya masih belum ditemukan keberadaannya.



Kebahagiaan yang terpancar dari ke dua wajah mereka.


Akhirnya setelah tujuh purnama Dion dan Maya bertunangan juga. Lega yah readers mereka bisa bersatu dan kesalahpahaman Maya pun sudah clear. Dion juga tidak perlu lagi melakukan segala cara untuk mengetes perasaan Maya terhadapnya.


............


Makasih banyak untuk Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang tulus.


Tetap dukung CYT dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏.


Mohon maaf jika ada typo atau kesalahan dalam penulisannya 🙏


...********Bersambung********...


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, Rabu, 25 Mei 2022


__ADS_2