
Selamat Membaca..
Malam itu menjadi malam terpanjang yang dilalui oleh Delisha dengan Pria yang menolongnya.
Delisha yang dalam kondisi yang tidak stabil dan lose kontrol menginginkan lebih pada tubuhnya.
Pengaruh obat itu semakin membuatnya lupa daratan bahkan melupakan segala-galanya.
Mereka sama-sama menyalurkan hasrat yang terpendam. Gadis yang baru berusia 16 tahun itu untuk pertama kalinya melakukan hubungan intim harus menyerahkan mahkotanya kepada pria yang bukan suaminya.
Obat yang diminumkan untuknya membuatnya kehilangan kesadaran hingga melupakan apa pun, yang penting malam itu apa yang diinginkan oleh tubuhnya terpenuhi.
Sedangkan di tempat lain, dua orang sudah kelimpungan dan kewalahan mencari keberadaan Delisha yang tidak ditemukan.
"Bagaimana, kita tidak berhasil menemukan gadis itu lagi," ujarnya.
Nafas mereka ngos-ngosan setelah berlarian cukup jauh.
"Kita pulang saja dulu, kita cari gadis lain saja untuk penggantinya, Bos pasti tidak akan tahu jika kita mengganti orangnya," sambil tersenyum licik.
"Ide kamu sangat bagus, kalau pun besok perempuan itu mengetahuinya, kita sudah kabur dari sini," timpalnya.
"Ayok sebelum terlambat."
Mereka kemudian berbalik arah untuk kembali ke Villa dan melaksanakan rencananya.
Di dalam Villa itu, ke dua pria tadi melihat ada seorang gadis yang kebetulan berjalan ke arah kamarnya Delisha, kamar yang dipakai mereka untuk menyekap Delisha.
Mereka saling bertatapan dan tersenyum licik penuh arti.
"Let's go."
Mereka berjalan diam-diam di belakang gadis itu. Dengan langkah kaki yang sangat pelan dengan cara mengendap-endap. Mereka sudah berada di belakang Cristin.
Saat pintu dibuka oleh Christin, ke dua pria itu bergerak cepat mendorongnya sekuat tenaga. Mereka langsung menutup pintu itu.
"Hey!! kenapa kalian menutup pintunya."
"Ayok cepat hubungi pria tua hidung belang itu untuk segera datang ke sini."
"Dia pria tua hidung belang tapi teman Kita juga yang sangat beruntung," ujarnya.
"Bagaimana kalau setelah dia kita ikut mencicipi tubuh gadis itu, bagaimana menurut Kamu?" pertanyaan itu mengundang gelak tawa dari keduanya dan senyuman kebahagiaan yang sudah membayangkan tubuh sang gadis.
Rekannya pun segera menelpon pria yang akan menjalankan tugasnya sebagai pria yang rencananya akan menghabiskan malamnya bersama Delisha.
"Keluarkan saya dari sini, apa yang kalian lakukan, aku tidak mengenal kalian."
Cristin sedari tadi memukul pintu bertujuan agar dirinya segera dibebaskan dari sana.
Tidak lama kemudian, Pria tua itu sudah berada di hadapan mereka.
"Perempuan itu sudah berada di dalam dan ingat setelah kamu tidur dengannya harus melapor pada bos bahwa Kamu sudah berhasil," terang temannya.
"Beres, yang penting malam ini saya berpesta dan menikmati tubuh anak sekolah itu," dengan seringain liciknya.
"Jangan banyak bicara Kamu masuk saja dan jangan lama kami juga ingin menikmatinya."
"Oke."
__ADS_1
Kamar The Palms Empaty Suite menjadi saksi penyatuan dua anak manusia yang sama-sama terbuai dalam kenikmatan yang tiada tara.
Pria dewasa dengan pengalaman pertamanya mampu membuat Delisha tersenyum manis penuh kenikmatan.
Dengan penuh kelembutan, pria itu memperlakukan Delisha layaknya kaca porselen jika tidak berhati-hati maka akan pecah.
Ciuman yang begitu menuntut harus berakhir karena masing-masing kesulitan untuk bernafas. Nafas keduanya ngos-ngosan karena pasokan udara yang semakin menipis bahkan berkurang di dalam rongga mereka.
Pria itu menyentuh ujung bibirnya Delisha yang ada sisa salivanya.
"Mulai hari ini Kamu adalah gadis kecilku."
Delisha hanya tersenyum saja tanpa ada niatan untuk membalas perkataan dari pria itu.
Pria itu kembali memainkan lidahnya di dalam mulut Delisha yang sudah menjadi candunya. Manisnya bibir itu membuatnya melayang hingga semakin menginginkan hal lebih bersama gadis kecilnya.
Tanpa mereka sadari, pakaian yang melilit tubuh sudah terlepas dan terlempar ke segala arah. Tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka.
Pria itu membelalakkan matanya melihat tubuh gadis kecilnya yang begitu menantang. Dengan mount Everest yang sungguh padat, berisi dan sedikit besar dari ukuran gadis seumurannya. Pinggul dan pantat yang montok, perut yang rata.
Pria mana yang akan tidak tergoda dan goyah imannya jika disuguhkan dengan body yang seperti gitar kecil Spanyol.
Delisha semakin kepanasan dan tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi. Pria itu merangkak ke atas ranjang. Dan memulai apa yang diinginkan oleh tubuhnya sendiri.
Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Delisha lalu membisikkan kata-kata yang membuat Delisha tersenyum kegirangan.
"Malam ini aku akan buktikan dan tunjukkan siapa Raja."
Pengaruh obat itu mampu membuat Delisha kehilangan akal sehatnya, yang ada di dalam pikirannya hanya menginginkan sesuatu yang lebih saja. Bahkan sudah melupakan tentang keluarganya.
Tangannya mulai bergerilya memegang penuh kelembutan puncak gunung Bromo. Berulang kali dia menjajaki di area itu seakan-akan tidak ada kepuasan dan rasa bosan yang dia peroleh.
"Hemmphhh."
Pria itu tersenyum melihat ke dua bola matanya Delisha yang bersinar redup terang silih berganti yang sudah tidak tahan lagi.
Pria itu pun ikut hanyut dalam permainan lembutnya. Hingga benar-benar terbuai dalam kehangatan dan kenikmatan surga dunia yang belum mencapai puncaknya.
Pria itu menuntun Delisha agar apa yang akan dia lakukan nantinya tidak membuat Delisha terluka dan kesakitan.
Perlahan tapi pasti pria itu mulai menuntun benda miliknya, tapi usaha pertamanya menuai kegagalan.
"Ternyata Kamu masih tersegel sayang, berarti aku adalah orang pertama yang meraup indahnya milikmu, dan aku berharap sampai kapan pun Kamu tidak akan memberikannya kepada siapa pun hanya untuk Aku."
Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya, awalnya sangat penuh kelembutan dan kehati-hatian tapi, karena tidak membuahkan hasil sehingga dia melakukannya sedikit memaksa dan menekan dengan sedikit kekuatan yang dia miliki.
"Aaahhhhhhhhh!!!"
Delisha mencengkeram erat punggung pria itu bahkan kuku panjangnya berhasil mencakar dengan kuat punggung kekar itu. Semakin menggigit pula bibirnya saking tidak kuatnya menahan sakitnya di bagian daerah sensitifnya yang terus digempur oleh Sang pria yang tidak dikenalnya sama sekali.
Air matanya menetes membasahi pipinya. Pria itu melihat buliran air matanya Delisha. Ia mengarahkan tangannya untuk menghapus air matanya Delisha.
"Maaf."
Pria itu kemudian mencium bibirnya Delisha bertujuan untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasakan, untuk membuat Delisha tidak menggigit bibirnya hingga bisa melukai dirinya sendiri.
Hingga berulang kali percobaan dia lakukan akhirnya membuahkan hasil yang sangat maksimal. Benda pusaka itu berhasil menerobos masuk ke dalam. Segel itu berhasil ditembus dengan berbagai usaha sekuat tenaga.
Dia melakukan berbagai penetrasi di dalam milik gadis kecilnya. Berulang kali dia lakukan hingga dia mencapai puncak kenikmatan surga dunia.
__ADS_1
Semburan lava panas membasahi seluruh dinding rahim terdalam milik Delisha. Bukannya berhenti untuk melakukan hal itu, tapi malahan dia semakin tertantang untuk mencoba terus hingga tidak terhitung lagi berapa kali dia menyemburkan cairan yang bisa berakibat kehamilan pada Delisha.
Awalnya Delisha kesakitan yang tidak terhankan hingga perlahan sudah bisa rileks dan santai. Ia pun bahkan meminta hal yang lebih lagi dan lagi.
Durasi waktu yang mereka butuhkan sudah tidak terhitung lamanya dan banyaknya. Dengan berbagai gaya Pria itu memberikan kenikmatan surga dunia untuk gadis kecilnya.
Tubuhnya pun tumbang saat tidak kuasa lagi untuk melanjutkan semuanya. Saking lelahnya mata Delisha terpejam bersamaan dengan pria itu mencabut tiang benderanya.
Dia terkulai lemas di samping tubuh seksi Delisha. Pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Senyuman itu tidak pernah pudar dari bibirnya. Saking girangnya telah menjadi yang pertama dalam hidupnya Delisha.
"Aku tidak tahu Kamu itu siapa dan dari mana, tapi entah kenapa hati ini menyukai semua yang ada di tubuhmu."
Ciuman yang begitu lembut dan mesranya mendarat di atas keningnya Delisha.
Matanya terpejam setelah mengucapkan perkataan itu.
Wedding rings are only a symbol of happiness, but true happiness is in the ark of the household.
A great marriage is not when the perfect couple gets together, but when the imperfect couple learns to enjoy their differences.
Bonus Visualnya Si Kembar yaitu Delisha Annira Elshanum Lee
Dennis Ritchie Arfathan LeeK
.................
Semua Author akan bahagia jika, ada Readers yang selalu setia membaca karya-karyanya, apa lagi Readers tersebut hadir untuk Like setiap Babnya. Fania pun seperti itu dan Saya tidak menampik dan munafik dengan semua itu, walaupun novelku hanya sekedar novel recehan saja.
Setelah membaca tolong dong untuk menulis komentar yang bisa membuat Author termotivasi dan bersemangat untuk menulis. Dan jika ada Raeders yang memberikan hadiah pasti othornya akan bertambah bersemangat.
Tetap Dukung CYT dengan:
Cara Like setiap Babnya
Rate bintang lima
Gift Poin atau Koin Seihklasnya
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.
Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.
Judulnya:
Bertahan Dalam Penantian
Tidak ada Jodoh yang Tertukar
********To Be Continue********
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa, 28 Juni 2022