Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
Bab. 212. Kejujuran Abi


__ADS_3

Selamat Membaca..


Abimanyu mulai berjalan ke arah luar Mall, tapi langkahnya kembali terhenti saat suara lembut khas Delisha mampu menghentikan apa yang dilakukannya.


Abi menolehkan kepalanya ke arah Delisha lalu berkata," ada apa sayang?" Tanyanya dengan senyum tipisnya.


Delisha yang dipanggil dengan sebutan sayang wajahnya langsung bersemu merah hingga salah tingkah.


"Abang itu," tunjuk Delisha ke arah kakinya Abimanyu.


Abi mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Delisha.


"Ada apa dengan kakinya Abang?" Tanyanya yang keheranan dengan maksud dari perkataan Delisha.


"Abang tidak boleh memakai alas kaki, Abang harus bertelanjang kaki hingga ke rumahnya Abang," ujarnya.


"Maksudnya sepatunya Abang dilepas gitu?" tanyanya.


Delisha hanya menganggukkan kepalanya ke hadapan Abimanyu.


Abi segera membuka sepatunya berserta kaus kakinya. Delisha melirik ke arah Nathan yang bersembunyi di balik pohon yang kebetulan tumbuh berjejer di pinggir sekitar jalan yang dilaluinya.


"Semakin lama dia semakin mirip dengan Big Bos saja sifatnya," cicitnya.


"Nathan apa aku suruh Kamu bicara atau ambil sepatunya Bos Kamu?" Tanyanya Delisha dengan menatap jengah ke arah Nathan.


Nathan segera menjalankan apa yang diperintahkan oleh Delisha. Abi hanya tersenyum menimpali pembicaraan mereka.


"Abang yuk lanjut jalannya sudah hampir jam 12 malam loh," ujarnya lalu berjalan lebih duluan.


Semua tes yang diberikan oleh Delisha untuknya sudah biasa dia lakukan selama ini. Baginya hal sangat mudah. Tapi, tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa kemampuan Abi melebihi dari yang Delisha ketahui.


Mereka berjalan santai saja. Hal ini malahan disukai oleh Abimanyu karena baginya bisa berduaan walaupun ada Nathan yang berjalan tidak jauh dari mereka.


Delisha sebelum ikut berjalan dengan mereka sudah mengganti high heelsnya dengan sepatu sneaker. Sehingga memudahkan langkahnya. Andai saja tidak mungkin langkahnya akan terganggu dan akan tumitnya akan lecet.

__ADS_1


"Abang apa sudah terbiasa berjalan seperti ini tanpa memakai alas kaki?" Tanya Delisha dengan sesekali menendang benda-benda yang kebetulan ada di jalan.


Abi menatap sekilas sebelum menjawab pertanyaan dari Delisha, "Kalau masalah jalan kaki seperti ini Abang sudah terbiasa mulai Abang kecil hingga umur 12 tahun baru Abang tidak melakukan hal ini."


Delisha menatap ke arah calon suaminya dengan wajah penasarannya.


"Ke dua orang tua Abang hanya dari keluarga miskin bahkan untuk makan dalam sehari saja kadang kami puasa untuk menghemat biaya," jawabnya.


Delisha hanya diam menyimak dari perkataan Abi dengan sesekali melompat kecil seperti anak kecil saja.


"Tapi suatu hari Papa ke Ibu Kota meninggalkan kami di desa, setelah beberapa tahun lamanya Papa kembali mencari kami, memutuskan untuk meninggalkan desa dan menetap di ibu kota, mulai dari situlah kehidupan keluarga Abang perlahan berubah berkat kegigihan dan kerja keras dari Papa hingga seperti sekarang ini."


"Pantesan dia tidak masalah dengan tes yang aku berikan, haaa gagal kalau gini."


Delisha tersenyum menertawai dirinya sendiri yang taktiknya kurang tepat malahan salah.


"Pekerjaan kasar semuanya Abang sudah pernah jalani, Abang sudah mengenal pekerjaan cari uang sejak umur 6 tahun, setiap hari Abang sama kakak berkeliling kampung menjajakan kue buatan Mama," terangnya.


"Tidak mungkin Abang melakukanya? Adek tidak percaya," ujarnya Delisha yang meremehkan kemampuan Abimanyu.


Abimanyu hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Delisha.


Delisha menutup mulutnya mendengar penjelasan dari Abimanyu bukan karena pernah tidak makan selama dua hari tapi karena taktiknya kurang berhasil dan tidak cocok.


Abi mengira Delisha simpatik padanya. Padahal hanya karena kecewa dengan cara yang sudah dipilihnya. Delisha sedari tadi hanya sibuk menertawai dirinya sendiri yang baru kali ini menemui kegagalan dalam merencanakan sesuatu untuk mengetes calon suaminya.


Selama ini Delisha, apa pun yang dilakukan olehnya selalu saja sukses tidak pernah menemui kegagalan. Tapi, untuk kali ini kegagalan yang harus dituainya.


"Apa yang Kamu lakukan tidak berhasil jadi kalau besok-besok ingin ngetes Abang yang lebih ekstrim saja," balasnya dengan senyuman simpulnya.


Delisha terdiam sesaat baru refleks tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya saking lucunya menertawai dirinya sendiri.


Abimanyu berjalan ke arah Delisha lalu tanpa aba-aba memeluk tubuh calon istrinya dengan hangat. Delisha yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya terdiam. Tangannya mengulur kebawah.


"Delisha maafkan Abang, semua kesedihan dan kemalangan yang terjadi di dalam hidupmu semuanya gara-gara Abang, Abang sangat menyesal setelah tahu kalau karena Abang kamu sempat sakit."

__ADS_1


Perkataan yang begitu tulus yang diucapkan oleh Abimanyu membuat hatinya Delisha terenyuh dan tersentuh.


Delisha terkejut saat ada tetesan air yang sedikit hangat membasahi punggungnya. Tubuhnya Abi bergetar dalam tangisnya. Dia pun sesegukan. Dia sudah melupakan statusnya yang seorang CEO ternama.


Kegarangan dan ketegasannya luntur sudah di dalam pelukannya Delisha. Pria yang tidak disangka bisa menangis ternyata meneteskan juga air matanya demi perempuan yang sudah lama dia sayangi. Perempuan sudah susah payah dengan perjuangan yang begitu besar melahirkan putranya.


"Maafkan Abang yang terlambat menemukanmu, sejak malam itu Abang mulai mencarimu, tapi pencarian Abang selalu menuai kegagalan," ujarnya yang sesekali sesegukan.


Delisha membalas pelukan dari Abi. Memang untuk saat ini dia belum tahu persis apa yang diinginkan oleh hatinya. Dia masih ragu dengan apa yang dia rasakan tetapi, dia tidak memungkiri bahwa ada getaran aneh yang muncul di dalam hatinya jika dia diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Abang tidak memaksamu untuk memaafkan Abang, tapi satu hal yang Abang pinta mohon terima lamaran Abang, jujur saja Abang tidak bisa dalam sehari saja tidak melihat dirimu, mendengar suaramu hingga gak melihat senyumanmu itu."


Delisha diam-diam meneteskan air matanya, dia ikut terharu mendengar kejujuran dari Abi. Ia tidak menyangka jika pria yang begitu dingin ternyata jatuh cinta padanya.


"Berikan kesempatan dan waktu kepada Abang untuk membuktikan semua perkataanku, jika aku sungguh-sungguh mencintaimu dan ingin menjalani sisa hidup Abang hanya bersamamu."


Delisha hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan semua ucapan Abi.


"Hanya Kamu gadis yang mampu membuatku jatuh cinta berulang kali bahkan selalu mencintai diawal kita bertemu hingga detik ini, insya Allah semuanya tidak akan pernah berubah hingga akhir waktu.


Abi ingin memajukan wajahnya untuk dia cium pipinya Delisha hingga ujung matanya melihat ada sosok bayangan hitam di balik pohon besar itu.


Abi langsung mendorong tubuhnya Delisha hingga mereka jatuh keatas aspal.


"Delisha!!! berbaring jangan bangun." Teriak Abi.


Nathan yang melihat hal tersebut segera bertindak dan sigap melempar sebuah senjata api ke arah bosnya.


Delisha yang menyadari hal tersebut segera membuka tasnya dan mengambil senjata yang selalu setia menemaninya ke mana-mana.


Dia berguling ke arah kiri dan membidik sasarannya yang berada di atas pohon.


Doorrrr!!!! dorr!!!


makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, minggu 17 Juli 2022


__ADS_2