Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
Bab. 214. Penyerangan


__ADS_3

Selamat Membaca..


Nathan yang melihat hal tersebut segera bertindak dan sigap melempar sebuah senjata api ke arah bosnya.


Delisha yang menyadari hal tersebut segera membuka tasnya dan mengambil senjata yang selalu setia menemaninya ke mana-mana.


Dia berguling ke arah kiri dan membidik sasarannya yang berada di atas pohon.


Dorrr!!!! Doorrr!!! Dorrr!!!!


"Abang hati-hati!!" Teriak Delisha saat Abi berusaha untuk melindungi dirinya.


Delisha segera berguling ke kiri dan memanfaatkan pohon besar untuk segera berlindung sambil terus menembaki beberapa orang yang menyerangnya.


Abimanyu yang melihat aksi dari Delisha tidak menduga jika, calon istrinya itu memiliki kemampuan yang terpendam.


"Sepertinya aku harus segera menghubungi Kakak," ucapnya dengan merogoh hpnya.


Delisha segera menelpon nomor hp kakaknya Axel. Delisha tersenyum tipis karena kakaknya segera mengangkat teleponnya lalu bersiap ke tempatnya berada.


"Jangan lama Kak, mereka banyak,Saya takut kami tidak mampu melawan mereka," terangnya dengan sesekali muncul di balik pohon untuk menembak dari salah satu kawanan penjahat itu.


"Oke tunggu kakak, kebetulan kakak tidak jauh dari tempatmu berada," ujarnya dengan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Delisha segera memasang headset di telinganya untuk memudahkan berkomunikasi dengan saudaranya dan keluarganya.


Dia menghubungi nomor Aisyah setelah menyadari ternyata ada ratusan orang yang silih berganti berdatangan mengepung mereka.


Mereka saling adu tembak satu sama lain. Abi sesekali melirik ke arah Delisha berada. Awalnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan dari Delisha, tetapi melihat dari kemampuan bertarung Delisha dia sedikit bisa bernafas lega.


Mereka hanya bertiga menghadapi mereka yang jumlahnya lebih banyak. Kemampuan menembak yang mereka miliki mampu mengimbangi jumlah mereka yang tidak sedikit itu.


"Kenapa Kakak lama sekali? padahal tadi katanya sudah dekat dari sini," tanyanya yang kebingungan dengan Axel yang belum muncul juga.


Delisha tidak leluasa bergerak karena memakai rok mini sehingga pergerakannya terbatas.


"Kenapa jumlah mereka semakin banyak? padahal sudah banyak yang berhasil kami tumbangkan," dia keheranan melihat mereka seperti amoeba saja yang terus membelah diri.


Anggota dari lawan mereka semakin bertambah banyak saja. Seperti mati satu tumbuh seribu.


Abi juga sudah menghubungi body guard terbaik yang dia miliki untuk segera datang. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya mereka.

__ADS_1


"Mereka semua dilengkapi dengan senjata yang sangat canggih dan keluaran terbaru, Bos sepertinya mereka bukan dari orang biasa," ucap Nathan yang tidak jauh posisinya dari tempatnya dengan Abi.


"Apa yang Kamu katakan benar adanya, mereka datang sporadis dan aku yakin ada yang menggerakkan mereka tidak jauh dari tempat ini," balasnya.


Nathan refleks mengamati di sekitar mereka. Dan yang dikatakan Abi benar, tidak jauh dari mereka ada seseorang yang duduk di dalam mobilnya dengan memakai topeng selalu mengamati mereka.


Tidak lama kemudian, beberapa mobil hitam berdatangan ke arah mereka. Ternyata itu adalah bala bantuan dari kakaknya Delisha.


Axel dan yang lainnya segera turun dari mobilnya. Mereka dilengkapi dengan senjata yang cukup canggih dan sudah memakai rompi anti peluru terbaik.


Axel segera mendatangi tempat adiknya dan memberikan beberapa jaket anti peluru dan senjata baru.


Baru lah perlawanan mereka berimbang satu sama lainnya. Daerah tempat mereka berada cukup jauh dari pemukiman warga dan lalu lalang kendaraan sehingga mereka tidak menggangu kenyamanan masyakarat.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Axel yang memeriksa keadaan dari adiknya.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja kak," jawabnya.


"Maafkan kakak yang terpaksa terlambat datang," terangnya dengan sedikit menyesal.


"Enggak apa-apa kak, Kak Dennis di mana, kok belum muncul juga?" Tanyanya sembari menembaki beberapa orang dengan tepat sasaran.


"Dennis dia mengejar orang yang berada di dalam mobil, kami mencurigai kalau otak dari semua penyerangan terhadap kalian adalah dia," jelasnya.


Sedangkan, Dennis berusaha untuk mengejar mobil yang didalamnya terdapat seorang yang memakai topeng.


"Kamu tidak akan lolos dari saya, aku harus mendapatkan informasi dari dia."


Mereka sudah seperti orang yang adu balapan di sirkuit saja. Bahkan kecepatan dari mobil mereka sudah melampaui batas maksimal.


Hingga mobil sedan hitam itu berhenti dengan tiba-tiba karena jalan yang dilaluinya ternyata jalan buntu. Orang tersebut segera keluar dari mobilnya dan berusaha untuk menghindari kejaran dari Dennis.


"Hey berhenti!! Jika tidak aku akan menembakmu," teriak Dennis yang siap untuk menembaki orang itu.


Baru ingin menarik pelatuk pistolnya, orang itu segera meraih ujung tembok lalu melompati pagar yang cukup tinggi dengan lincahnya.


Dennis yang melihatnya tidak mau kalah. Dia pun berlari cepat dan menyusul orang itu. Karena kecepatan Dennis cukup cepat sehingga orang itu mampu terkejar olehnya.


"Hey berhenti!!! Dennis kembali berteriak untuk mengehentikan langkahnya orang itu.


Dennis berteriak, tapi tidak menghentikan kecepatan larinya. Hingga orang itu tersandung dan terjatuh ke atas rumput. Tubuhnya tengkurap di atas rumput taman.

__ADS_1


Denis memanfaatkan kesempatan tersebut, dia segera menambah kecepatan larinya dan segera menarik topi orang itu.


Dennis terkejut melihat orang itu saat topinya terlepas. Rambutnya yang panjang dan berkilauan terkena cahaya lampu dan sinar rembulan malam.


Dennis lalu memegang ke dua tangannya, agar orang itu tidak bergerak dan mudah untuk dilumpuhkan.


"Tidak ada gunanya kamu memberontak atau pun melawan," ucap Dennis dengan seringai liciknya.


Dennis kemudian membalik tubuh orang itu lalu segera membuka topeng orang itu. Ia kembali dibuat shock saat melihat wajah dari wanita itu.


Dennis spontan melepas cekalan tangannya yang tadinya sudah memegang kuat tangan wanita itu.


Sedangkan si wanita dengan gesit memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang kaki Dennis dengan sekuat tenaganya. Lalu tersenyum licik ke arah Dennis.


Dennis yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba tersungkur ke arah belakang.


"Jangan meremehkan kemampuan seorang perempuan," tuturnya sebelum meninggalkan Dennis yang terbaring di atas rumput sintesis itu.


Wanita itu terus berlari dan sesekali melirik ke arah Dennis yang sudah berdiri dari posisinya semula.


Wanita itu mengacungkan jari tengahnya ke arah Dennis.


"Kita pasti akan bertemu lagi!!" Teriaknya saat sudah masuk ke dalam mobil yang datang menjemputnya.


Dennis tidak menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan perempuan itu. Dia berdiri kebingungan dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Anggota Penjahat yang semakin sedikit dan beberapa diantara mereka yang sudah tidak memiliki senjata lagi dimanfaatkan oleh Abi untuk menyerang mereka dengan kekuatan tanpa memakai senjata apapun itu.


Mereka bertarung dengan memakai tangan kosong. Abi mengeluarkan segala kemampuan yang dia miliki. Tanpa henti mereka berusaha untuk segera melumpuhkan lawannya.


Nathan yang melihat Aisyah bertarung bukannya membantu malahan hanya berteriak histeris, jika ada yang menyerang calon istrinya itu.


Beberapa saat kemudian, senyuman terbit di ujung bibirnya Axel saat mereka sudah berhasil mengalahkan anggota penjahat yang tersisa dan pihak kepolisian pun turut membantu mereka serta menangkap dengan memborgol penjahat yang masih hidup.


"Alhamdulillah kita berhasil menumbangkan mereka semua," terang Delisha.


Baru sepersekian detik Delisha mengucapkan kata itu, tiba-tiba ada bunyi suara tembakan yang cukup memekakkan telinga dan membuat beberapa orang yang berada di TKP langsung mengarahkan pandangannya.


"Tidak!!!!!" Teriak Delisha.


Makasih banyak atas dukungannya kepada semua Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.

__ADS_1


By Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 18 Juli 2022


__ADS_2