Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 62. Senyuman itu


__ADS_3

Selamat Membaca..


"Martin apa mau ikut nenek atau kamu balik ke Apartemen kamu?, kalau mau ikut sama nenek saja kita pulang ke rumah Jan sudah lama kamu gak nginap di rumah" ucap nenek Masitha yang sedari memperhatikan gelagat Martin yang aneh.


"Aku tunggu supir pribadiku saja Nek, aku mau pulang ke apartemen saja" ucap Martin yang sedari tadi memperhatikan terus jam tangannya.


"Kalau aku gak diajak yah Nek?." tanya Dion kepada nenek Masitha.


"Kamu aku ajak nanti nginap di rumah kalau kamu udah berhasil menaklukkan calon mantenmu" ucap Nenek Masitha yang tertawa kecil sambil memberikan kode kepada Dion agar Dion memperhatikan gerak-gerik Martin.


Dion yang diberikan kode tersebut langsung tanggap darurat.


"Kalau bos gimana kapan nih ajak istri bos ke rumah nenek" ucap Dion.


Martin yang mendengar perkataan Dion langsung menutup mulutnya Dion dengan sangat keras.


"Sekali lagi kamu bicara seperti itu di depan nenek aku akan memotong gajimu dan bonusmu bulan ini tidak ada" ucap Martin yang berbisik di telinga Dion.


Dion hanya menganggukkan kepalanya Saja tanda setuju.


"Martin dasar loh yah nenek loh sebenarnya yang selama ini merencanakan pernikahan kalian dengan begitu sempurnanya bahkan nenek Masitha menjebak kalian agar kalian segera menikah dan aku dapat bonus yang besar dari nenek hehehehe".


"Ingat jangan bicarakan pernikahan aku dengan Amairah dengan siapa pun itu apa lagi Nenek karena belum saatnya nenek tahu, aku tidak ingin nenek sakit gara-gara aku menikahi seorang janda yang beranak satu ok". ucap Martin lagi yang kembali mengecilkan suaranya.


Dion hanya menaikkan dua jarinya Tanda setuju dan mengerti.


"Kenapa sih main petak umpet segala, nikah kan itu ibadah yah dan ladang pahala untuk kita semua tapi aku heran dengan ini Orang malah mempermainkan pernikahan walaupun di dalam hatinya ada rasa untuk Amairah tapi terlalu gengsi untuk menyatakan, sudah ada bukti anak diantara mereka juga" .


"Karena kalian tidak ada yang mau ikut bersama Nenek kalau gitu nenek pulang dulu, Nenek capek mau istirahat sambil memikirkan kapan cucuku membawa istrinya ke rumah" ucap Nenek Masitha sambil berlalu dari hadapan mereka.


Martin langsung menarik tangan Dion dengan kuat dan menyeret Dion ke arah tembok penghalang agar apa yang dua lakukan tidak dilihat oleh Nenek Masitha yang masih setia duduk di kursi mobilnya sambil menunggu supir pribadinya yang ke Toilet.


"Jangan-jangan kamu sudah membocorkan rahasiaku kepada Nenek, buktinya Nenek berkata demikian" ucap Martin yang prustasi jika Neneknya mengetahui pernikahannya dengan perempuan janda beranak satu.


"Ya Allah Martin.. Martin kenapa sih kamu susah banget untuk percaya dengan Saya, jangan cepat mengambil kesimpulan hanya karena Nenek Masitha berkata seperti itu,bisa saja kan beliau hanya menyarankan kepada kamu agar kamu segera menikah kan Nenek Masitha tidak melihat kamu menikah" ucap Dion yang tertawan jahat di dalam hatinya.


"Pulang sana, semakin lama kamu di dekatku semakin membuatku pusing" usir Martin yang bergaya seperti orang yang sedang mengusir Ayam saja.


Dion pun berlalu dari hadapan Martin dan andai saja sekarang dia berada di tempat yang sepi mungkin Dion akan tertawa terbahak-bahak.


Dion dan Nenek Masitha sepulang dari London Inggris, mereka langsung balik ke rumah masing-masing, sedangkan Martin saat mereka berpisah di pintu keluar dan memperhatikan Dion dan Neneknya sudah masuk ke dalam mobilnya, Martin langsung memutar balik tubuhnya dan segera berlari ke arah tempat penjualan tiket pesawat.


Martin hanya memesan tiket pesawat komersial agar tidak ketahuan oleh Neneknya dan yang lain. Martin tidak sabar ingin segera bertemu dengan Amairah. Senyuman Amairah selalu terbayang di pelupuk matanya.


Martin kembali teringat dengan kalung yang dia pernah dia pakai. Tapi dia lupa menyimpan di mana kalung itu padahal rencananya dia ingin memberikan kalung itu kepada Amairah. Walaupun sebenarnya Martin bisa memberikan yang lebih bahkan yang sangat mahal pun bisa. Horang kaya gaes yeh hehehe.


Tapi kalung itu membuatnya sangat tertarik dengan model kalung itu yang terkesan antik tapi mewah dan seakan-akan ada magnet yang membuat Martin jatuh hati dengan kalung itu. Martin segera menelpon Dion untuk membantunya mencari kalung tersebut karena Martin teringat terakhir kalinya dia pakai kalung itu saat dia ke pesta reunian teman kuliahnya yang berujung Dua digrebek oleh Warga dan berakhir dengan kata SAH.

__ADS_1


"Halo Dion" ucap Martin.


"Iya ada apa" ucap Dion yang setengah tersadar dari tidurnya.


"Kamu mau aku tambahin bonusmu bulan ini atau Aku pangkas habis" ucap Martin yang mengancam Dion.


Dion yang mendengar hal tersebut segera bangun dan mengumpulkan semua nyawanya.


"Iya aku mau bonusku ditambah dong bosku" ucap Dion yang sudah duduk bersila di atas ranjangnya.


"Tolong cari kalung aku yang hilang di hotel disaat aku digrebek dan berujung menikahi janda itu, kamu cari sampai dapat jangan telpon Saya jika kamu belum menemukannya, dan jika kamu berhasil menemukan kalungku itu aku lipat gandakan bonusmu" ucap Martin lalu menutup telponnya.


"Gila yah ini orang kalau merintah gak lihat jam, Dia gak tahu kalau aku ini butuh istirahat yang cukup agar ketampanan ku tidak berkurang".


Dion kemudian menelpon nomor Nenek Masitha dan ingin menginformasikan bahwa Martin mencari kalungnya Amairah yang pernah dia pakai tapi hilang saat di hotel.


"Halo Nek" ucap Dion.


"Halo.. halo.. beri salam kek dulu apa sih susahnya untuk mengucapkan salam, mengucapkan salam itu Masih pakai gratis loh" ucap Nenek Masitha yang sudah jengah dengan kebiasaan cucunya yang nelpon selalu lupa untuk mengucap salam.


Dion tertawa cengengesan mendengar Omelan Nenek Masitha.


"Assalamu alaikum Nenek" ucap Dion.


"Waalaikum salam, ada apa Dion apa ada kabar anak nakal itu sudah siap membawa istrinya dan anaknya ke rumah" ucap Nenek Masitha yang duduk di kursi sambil memperhatikan foto Amairah yang memangku Axel putranya.


"Martin memberikan perintah kepada Saya untuk mencari kalungnya Amairah yang hilang Nek" ucap Dion.


"Oke Nek" ucap Dion yang bahagia dan sudah membayangkan akan mendapatkan bonus yang banyak dari Martin.


Dion kembali menarik selimutnya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh telpon Martin.


Nenek Masitha kembali menelpon anak buahnya yang diperintahkan khusus olehnya untuk mematai-matai Martin. Nenek Masitha tersenyum saat orang tersebut mengatakan kalau Martin berangkat ke kota S.


Beberapa jam kemudian, Pesawat Boeing 77777 dengan logo seekor burung yang perkasa sudah mendarat dengan selamat di Bandara Kota S. Martin pun menelpon anak buahnya yang terlebih dahulu sudah menunggunya di Bandara dengan sebuah mobil yang nantinya akan dia pakai.


"Ingat jangan katakan kepada Nenek kalau aku ada di sini, jika ketahuan oleh Nenek aku akan pecat kamu" ucap Martin yang berlalu masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


Anak buahnya hanya diam tanpa kata dan menganggukkan kepalanya saja. Martin awalnya mengemudikan mobilnya ke arah apartemen pribadinya yang ada di tengah kota S tapi langsung memutar balik lagi mobilnya. Martin kemudian melajukan ke arah kediaman neneknya yang ada di kota S tapi tidak jadi lagi. Akhirnya Martin mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Martin hanya mengikuti arah jalan raya saja. Dan tanpa dia sadari ternyata mobil dan jalan raya menuntunnya hingga sampai ke rumah minimalis modern yang bercat hijau tua senada dengan warna pagar besi dan taman yang menghiasi halaman rumah tersebut yang nampak asri.


"Ini kan rumah peninggalan nenek yang sekarang disewa oleh seorang ibu dengan anaknya, kok bisa-bisanya aku ke Sini yah?."


Martin heran dengan sikapnya sendiri. Martin tidak menyangka kalau dia akan sampai ke Sini padahal awalnya dia ingin menemui Amairah.


"Apa aku masuk saja yah dan berpura-pura kalau ingin memeriksa keadaan rumah karena selama ini Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang telah menyewa rumah itu".


Dengan berbagai pemikiran Martin pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Kebetulan rumah tersebut lampunya belum padam walaupun sudah jam 11 malam tapi Martin sudah membulatkan tekadnya untuk masuk seakan-akan ada sesuatu yang menariknya untuk masuk.

__ADS_1


Langkah Martin yang cukup lebar dan langkahnya tidak tersendat karena pagar besi tersebut ternyata tidak tergembok sehingga Martin leluasa untuk masuk ke dalam halaman rumahnya Amairah. Sedangkan sang pemilik rumah baru saja menidurkan putranya yang sempat rewel karena meminta sesuatu yang terbilang sangat mustahil untuk Amairah penuhi.


"Moms, Axel kangen sama Uncle ganteng, antar Axel yah Moms ketemu sama uncle ganteng" rengek Axel yang sudah hampir 4 bulan tidak bertemu dengan Martin yang dia anggap sahabatnya dan Axel memanggil Martin dengan sebutan Uncle ganteng.


"Insya Allah Mommy akan ajak Axel bertemu dengan Uncle ganteng tapi bukan sekarang besok saja yah Sayang, sekarang sudah tengah malam waktunya Axel untuk bobo" ucap Amairah yang bingung gimana caranya mempertemukan Axel dengan Uncle ganteng yang Axel maksud.


"Mommy janji dan gak bakalan boong kan?." Tanya Axel yang matanya sudah berkaca-kaca dan takut jika Mommynya kembali berbohong seperti saat dia dirawat di RS.


"Mommy janji, jadi Axel tidur yang nyenyak biar besok kita bisa bertemu dengan Uncle ganteng" ucap Amairah sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kecil Axel.


Axel pun kembali berbaring dan masuk ke dalam selimutnya walaupun pergerakannya terbatas karena kondisi kakinya yang masih kadang sakit. Amairah pun mematikan lampu kamarnya Axel lalu perlahan menutup pintu.


Amairah menangis tersedu-sedu dan tidak tahu bagaimana caranya agar putranya mengerti kalau untuk bertemu dengan uncle ganteng adalah hal yang terbilang susah dan mustahil.


"Ya Allah apa aku harus kembali berbohong kepada anakku tapi kalau aku berbohong aku harus pakai alasan apa dan jika aku menolak permintaan dari putraku pasti Axel akan kembali kecewa dan sedih".


Amairah menangis tersedu-sedu di depan pintu kamar Axel dan tubuhnya merosot ke bawah dan terduduk di atas lantai yang dingin. Mbak Marni yang melihat hal tersebut ingin jujur dan berterus terang ingin mengatakan kalau uncle ganteng itu adalah Pak Martin suaminya sendiri. Mbak Marni sudah berdiri di belakang punggung Amairah sebelum pintu rumah Amairah diketuk oleh seseorang. Amairah melihat ke arah jam di dinding dan bingung siapa yang bertamu ke rumahnya yang sudah tengah malam. Amairah berjalan gontai ke arah pintu. Dan langsung mengunci kenop pintunya agar terbuka.


"Maaf cari siapa?." ucap Amairah saat pintu sudah berhasil terbuka sebagian.


Amairah terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang sudah berstatus suaminya selama kurang lebih 2 bulan berdiri dengan gagahnya di hadapannya. Amairah langsung tersenyum sangat manis ke arah Martin saat pintu sudah berhasil terbuka dengan lebarnya.


Martin refleks membalas senyuman Amairah yang tidak kalah manisnya. Mereka hanya terdiam dan saling berpandangan tanpa suara. Tiba-tiba jantung Martin berdisko dan berdetak lebih kencang dari biasanya. Martin pun tanpa sengaja memegang bagian dadanya. Amairah yang kaget melihat Martin yang tiba-tiba memegang dadanya langsung memegang Martin dan takut jika terjadi sesuatu kepada suaminya.


"Apa yang terjadi Mas , apa Mas baik-baik saja?." tanya Amairah.


Martin yang diperhatikan seperti itu salah tingkah dengan reaksi Amairah yang menurutnya berlebihan.


"Ayok masuk Mas, istirahat dulu" ucap Amairah yang menarik tangan Martin dengan pelan menuju kursi tamu.


Amairah langsung cabut ke dalam dapur untuk mengambil segelas air putih. Sedangkan Mbak Marni dan Mbak Wati heboh setelah Mbak Marni mengabarkan kalau Martin datang ke rumahnya dan sekarang Martin ada di ruang tamu.


"Berarti malam ini bakal ada yang anu anu gitu yah Mbak Marni" ucap Mbak Wati yang pikirannya sudah berkelana memikirkan Amairah dengan Martin majikannya.


"Upps jangan kencang-kencang bicaranya nanti mereka dengar" ucap Mbak Marni yang langsung menutup mulut Mbak Wati.


"Gimana kalau kita ngintip mereka saja" usul Mbak Wati yang sudah over dosis keponya.


Du'os Baby sitter nya Axel kemudian mengintip dari balik celah pintu kamar mereka yang terbuka sedikit pintunya. Kamar mereka yang berdekatan langsung dengan Ruang tamu membuat mereka bebas untuk mengintip.


"Ayok diminum dulu Airnya mas agar keadaan Mas membaik" ucap Amairah yang langsung mengarahkan gelas tersebut ke arah mulut Martin.


Martin pun langsung membuka mulutnya sehingga posisi mereka langsung berhadapan satu sama lain dan wajah mereka jaraknya hanya terpisah beberapa centimeter saja. Martin terus memandangi wajah Amairah yang menurutnya malam ini berbeda dengan hari dimana mereka bertemu. Martin dengan tanpa sadar langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Amairah. Martin langsung memegang tengkuk Amairah dan Amairah yang mengerti dengan apa yang diinginkan oleh suaminya langsung menutup matanya. Amairah ingin mengabdikan seluruh hidupnya kepada suaminya walau pun mereka belum sama-sama menyadari bahwa mereka saling cinta.


...********Bersambung********...


Makasih banyak atas dukungannya 🙏

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 18 April 2022


__ADS_2