Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 17. Kisah Nadia


__ADS_3

Selamat Membaca...


Suasana perkantoran masih seperti sebelumnya, semua Sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, dan tidak ada waktu untuk bersantai hanya sekedar berbincang-bincang saja. Jika jam istirahat maka baru lah mereka akan bercanda dan berbincang-bincang.


Jiwa kepo Nadia dan Maya muncul setelah mendengar perkataan dari Amairah. Mereka melanjutkan perbincangan mereka disaat jam istirahat. Tapi mereka belum membuka percakapan mereka, Ibu Margaretha sudah datang untuk menginformasikan bahwa Makan siangnya dibatalkan dan diundur ke malam hari.


"Nona-nona Cantik, acara makan siang bareng dipending hingga malam hari karena CEO kita masih ada urusan penting yang harus beliau kerjakan" ucap Ibu Margaret sebelum meninggalkan ruangan Divisi Keuangan.


"Kalau gitu kita makan di kantin saja" ucap Amairah.


"ayok" ucap Maya.


Mereka berjalan ke arah Kantin. Seperti biasa Kantin akan sangat ramai dikunjungi oleh karyawan jika jam istirahat.


"Hari ini cukup ramai yah" ucap Nadia yang menatap ke sekeliling Kantin.


Tanpa sengaja Nadia melihat seseorang yang dia kenal yang membuatnya meneteskan air matanya. Nadia tidak menyangka kalau orang yang selama ini dekat dengannya dan yang selalu perhatian kepadanya ternyata selingkuh dibelakangnya dan memutuskan hubungan mereka.


Maya yang melihat kondisi Nadia langsung menyenggol lengan Amairah yang terlalu fokus ke layar hpnya sehingga tidak sadar kalau Nadia sudah menangis. Amairah melihat ke arah Maya sedangkan Maya langsung melirik ke arah Nadia. Mereka langsung memegang tangan Nadia.


"Nad, kamu baik-baik saja kan?". tanya Amairah.


"Aku baik-baik saja" jawab Nadia yang menolehkan wajahnya ke arah lain agar ke dua sahabatnya tidak mengetahui kalau dirinya menangis.


"Kalau kamu baik-baik saja, terus itu ingusmu maksudnya apa?." tanya Maya.


"Aku kepedesan May makanya aku seperti ini" ucap Nadia yang mengambil tissue untuk melap sisa air matanya.


"Kamu itu paling tidak pintar berbohong yah, kepedasan dari mana coba, makanan yang kita pesan saja belum datang terus rasa pedes itu dari sana yah?." tanya Maya dan mengarahkan telunjuknya ke arah Bram mantan pacarnya Nadia.

__ADS_1


"Nadia move on dong beb, biarkan yang berlalu menjadi kenangan yang tidak perlu kau sesali terus, dan yakinlah kalau Bram jodohmu pasti kalian akan bersatu kalau Bram bukan jodohmu pasti Allah akan mengjauhkan dia dari sisimu" jelas Amairah panjang lebar.


"Betul kata Mai, aku yakin akan ada cowok yang lebih dari Bram yang akan menjadi jodohmu yakinlah itu" ucap Maya.


"Andai saja semudah itu, aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi Aku tidak bisa karena" ucapan Nadia terpotong karena tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya dan akhirnya menangis tersedu-sedu di hadapan ke dua sahabatnya.


"Nadia jangan gini dong, Bram sangat beruntung jika kamu tangisi, dia akan merasa dirinya sangat berharga dan semakin akan menyakitimu" ucap Maya.


"Aku hamil anaknya Bram" ucap Nadia.


Maya melotot ke arah Nadia saking kagetnya mendengar kejujuran dari Nadia. Dan untungnya meja mereka jauh dari keramaian sehingga jika mereka berbicara tidak mudah untuk orang lain dengar.


"Maksudmu Nad?." Tanya Maya yang sangat terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Cukup May, jangan lanjutkan perkataan mu, kita akan bahas masalah ini di rumahku ok" ucap Amairah yang tidak ingin jika rahasia besar dari sahabatnya menjadi santapan tukang gosip.


Makanan yang mereka pesan pun datang, Nadia juga sudah cukup tenang dan membuat beberapa orang yang melihat mereka saling berbisik tapi Amairah dan Sahabatnya tidak peduli dengan bisik-bisik tetangga.


Tiba-tiba Nadia mual setelah mencium aroma dari suiran ayam goreng tersebut. Nadia langsung berlari ke arah toilet. Nadia mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Nadia muntah-muntah dan kepalanya pusing. Nadia terduduk di lantai Toilet. Nadia kembali menangis tergugu karena takut jika ada yang mendengar tangisannya.


"Aku harus Gimana lagi ya Allah?." ratap Nadia yang pasrah dengan nasipnya.


Amairah dan Maya langsung berlari mengikuti langkah Nadia. Amairah meminta kepada Maya untuk mengambil minyak angin di dalam laci meja Kerjanya.


"Nad, kamu di dalam kan, Nad buka pintunya dong, Saya Amairah nih??" tanya Amairah sambil mengetuk pintu toilet yang tertutup dari dalam.


Nadia membuka pintu toilet dan keadaan Nadia cukup kacau karena sudah bercucuran keringat dari wajahnya, dan sudah pucat pasi. Nadia kakinya sudah seperti jeli gamat yang tidak bisa Nadia langkahkan kakinya. Amairah segera membantu Nadia berjalan dan membantu Nadia untuk duduk.


"Minum dulu air ini" ucap Amairah dan menyodorkan botol air mineral kehadapan Nadia.

__ADS_1


"Makasih" ucap Singkat Nadia.


Nadia langsung memeluk tubuh sahabatnya dan kembali meneruskan tangisannya. Amairah mengelus punggung Nadia.


"Kamu yang sabar yah, nanti kami akan bantu kamu untuk mencari jalan keluar dari masalah kamu ini" ucap Amairah yang berusaha untuk menenangkan Nadia.


"Makasih Mai" ucap Nadia yang menunduk karena malu memperlihatkan wajah sedihnya dihadapan Amairah.


"Aduh ada yang mewek ni gaees, kasihan Yah gara-gara diputuskan sama pacarnya kamu jadi sakit" ucap Mutia Ramadhani yang selama ini tidak menyukai ke-tiga sahabat ini.


Mai ingin berdiri dan membalas perkataan Mutia tapi Nadia memegang tangan Amairah dan menggelengkan kepalanya.


Mutia kemudian berlalu dari hadapan mereka. Maya pun datang dengan berlari.


"Ini minyak anginnya" ucap Maya yang nafasnya masih ngos-ngosan karena harus berlari.


"Makasih Maya" ucap Nadia.


Malam hari pun datang, Mereka berbondong-bondong mendatangi restoran seafood tempat mereka akan makan malam. Tak terkecuali dengan Amairah, Maya dan Nadia. Kondisi Nadia pun sudah membaik.


Mereka sudah sepakat akan mendatangi Bram dan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.


Bersambung...


Lelah Mata.. Lelah Hayati..


Besok lanjut Updatenya..


Jangan Lupa untuk mampir dan baca CYT Yah 🙏.

__ADS_1


Makasih banyak Kakak atas dukungannya 🙏


__ADS_2