
Selamat Membaca...
Suasana makan malam di rumah Pak Heri sangat kental dengan rasa kekeluargaan. Canda tawa mewarnai makan malam tersebut. Para Maid ikut bahagia melihat majikannya bahagia. Biasanya mereka lihat Pak Heri makan sendiri sudah bertahun-tahun. Bahkan biasanya pak Heri lebih banyak menghabiskan waktu makannya bersama dengan Karyawannya di kantor atau dengan rekan bisnisnya atau pun kliennya yang kebetulan mengajak Pak Heri untuk makan bersama.
"Rumah kakak ternyata besar sekali, tapi sayangnya tidak ada Nyonya besar di rumah kakak" ucap Ibu Her yang sedih dan tidak menyangka kalau kakak sulungnya akan betah menduda dan tidak berniat untuk membina rumah tangga lagi.
Ada tipe Pria yang sudah ditinggal mati oleh istri dan pasangannya tetapi masih setia hingga akhirnya hayatnya mereka tetapi ada juga pria yang jelas-jelas Masih berstatus suami orang tapi dengan sadarnyadan dengan hati yang tega tak berperasaan menduakan sang istri tercinta.
Pak Heri melap tangan dan mulutnya menggunakan tissue. Dan tidak menanggapi perkataan adiknya. Pak Heri terdiam sesaat sambil menunggu Henita menyelesaikan makannya.
"Bayang-bayang Nona Mia dan anak kami setiap saat hadir di dalam hidupku dan aku pernah mencoba untuk membuka hatiku untuk perempuan lain tapi aku tidak bisa bahkan aku tidak mampu untuk melakukannya" ucap Pak Heri.
"Cinta kakak kepada Nona Mia yang sangat besar sehingga kakak tidak bisa melupakannya, tapi Aku minta maaf kak Aku tidak becus menjaga Ayana hingga Ayana hilang" ucap Ibu Hernita yang murung karena menyesali kesalahannya.
"Kakak tidak pernah menyalahkan kamu, karena ini sudah takdir Kakak yang harus kehilangan Istri, Ayana dan Kamu dalam waktu terbilang singkat tetapi seandainya kalian tidak menghilang mungkin aku tidak akan seperti sekarang ini" ucap Pak Heri.
"Maksudnya Kakak?." tanya Hernita yang juga sudah menyelesaikan makannya.
"Dibalik kesedihanku ada kebahagiaan lain yang dipersiapkan oleh Allah untukku, waktu itu aku mencari keberadaan kalian dan tanpa sengaja Kakak bertemu dengan orang yang sangat baik yang rela membiayai sekolah dan mengangkat kami menjadi bagian dari anggota keluarganya" jelas Pak Heri.
"Alhamdulillah kalau gitu kakak, berarti kita senasib disaat aku kehilangan kalian aku juga tanpa sengaja bertemu dengan seorang yang sangat baik dan berhati mulia yang dengan hati yang ikhlas mengangkat Saya menjadi anaknya bahkan sekarang aku menjadi menantu mereka" ucap Hermita yang tersenyum malu-malu dengan perkataannya sendiri.
"Alhamdulillah kalau gitu dek, Kakak sangat senang mendengarnya, semoga pernikahan kalian selalu dalam lindungan Allah SWT dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah" ucap Pak Heri.
"Amin, makasih banyak Kakak" ucap Ibu Her.
"Entah kenapa susah sekali kakak menemukan keberadaan dari Putri Kakak padahal segala cara kakak sudah tempuh, tetapi kakak Selalu teringat dengan senyuman Nona Mia dibalik senyum seorang perempuan" ucap oak Heri yang teringat dengan senyuman Amairah.
"Maksudnya Kakak ada perempuan yang senyumannya mirip dengan Kakak ipar?." tanya Ibu Hernita yang jiwa keponya muncul seketika.
"Awalnya Saya bertemu dengan perempuan itu karena kebetulan perempuan tersebut menyewa rumah dari salah satu klien saya dan Klien saya tersebut meminta saya untuk mendatangi dan melihat siapa yang menyewa rumahnya apakah orang baik atau bukan dan kebetulan perempuan tersebut tengah hamil tua dan dihari pertama kami bertemu dirinya melahirkan anak pertamanya dan anehnya sampai detik ini perempuan tersebut tidak pernah mengatakan kepada Saya tentang status Pernikahannya sedangkan dirinya sudah memiliki putra yang sangat lucu, pintar dan ganteng dan satu hal sampai sekarang yang mengganjal dalam pikiranku disaat aku menggendong untuk pertama kalinya putranya itu tiba-tiba muncul perasaan yang sama persis dengan apa yang aku rasakan saat Ayana aku gendong untuk mengumandangkan Adzan ditelinganya, Aku bahkan melihat bayangan wajahnya Ayana disaat bayi Axel menatapku" ucap pak Heri panjang lebar.
"Kenapa Kakak tidak menyelidiki status dan kehidupan perempuan tersebut karena Aku yakin bahwa kakak mampu untuk melakukannya" ucap Hernita.
"Aku sudah menyelidikinya bahkan hingga hari ini tetapi hasilnya masih sama tidak ada sedikit pun yang Kakak ketahui dari perempuan tersebut" ucap Pak Heri.
"Perempuan itu pasti cantik tapi aku tidak percaya kalau Kakak tidak sanggup menemukan identitasnya?" timpal ibu Hermita.
"Dia sangat cantik, baik hati seperti Nona Mia" ucap Pak Heri yang kembali teringat dengan Amairah.
"Jangan-jangan Kakak suka dengan perempuan itu?." tanya Hernita.
"Kamu ngaco, itu tidak mungkin karena usia kami terlampau jauh dan aku menganggap Amairah adalah anakku sendiri kalau anakku Ayana hidup pasti seumuran dengan Amairah" ucap Pak Heri.
"Amairah" ucap singkat Hernita yang kaget setelah mendengar nama Amairah disebut dan Ibu Hermita langsung teringat dengan Momsnya Axel Tapi Ibu Her buru-buru membuang jauh-jauh pikirannya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, Pasti mereka Orang yang berbeda" monolog Hernita.
"Aku kasihan sekaligus bangga dengannya karena diusia yang masih terbilang muda sanggup untuk melahirkan dan membesarkan putra semata wayangnya dengan baik dan tidak mudah putus asa dan mengeluh bahkan dia termasuk perempuan yang kuat dan gigih" jelas pak Heri yang kagum dengan karakternya Amairah.
"Kok kita sama yah Kak, aku juga mengenal seorang perempuan yang menurutku wonder woman banget, tapi sayangnya Dia single parent yang menghidupi putranya seorang diri dan kasihan dia anak yatim piatu yang sejak kecil tidak mengetahui siapa sosok ke Dua orang tuanya karena katanya Dia hanya Anak angkat" tutur Hernita.
Setiap orang punya kehidupan yang berbeda-beda dan penuh dengan warna. Perbincangan mereka hingga tengah malam dan Ibu Hermita pun meminta ijin untuk pulang ke rumahnya. ibu Hernita tidak ingin membuat suami dan anaknya khawatir jika dirinya belum pulang juga.
"Kalau gitu Aku pulang dulu Kak, insya Allah besok aku akan ke sini, kalau aku punya waktu senggang" ucap Hernita disaat dirinya sudah duduk di kursi penumpang di dalam mobilnya.
"Hati-hati, Aku titip salam untuk Suami dan anakmu, kapan-kapan datang lah ke rumah bersama anak-anak dan suamimu" ucap Pak Heri.
Mobil yang dipakai oleh Ibu Hermita semakin jauh meninggalkan kediaman Pak Heri megah dan besar itu.
Beberapa hari kemudian, Bram dibuat prustasi karena bukti-bukti yang dia dapatkan hilang. Adam sudah mencari keberadaan bukti tersebut tetapi hasilnya sama. Adam sangat menyesali keteledorannya yang belum sempat mengkopi file tersebut. Bram awalnya sudah bahagia karena sudah memiliki bukti kuat untuk membebaskan Ayahnya dari tuduhan korupsi yang dilakukan oleh Ayahnya Dea pak Toni dan segera menikahi Nadia jika sudah resmi bercerai dengan Dea. Kandungan Nadia pun sudah memasuki bulan ke 9, tetapi Nadia belum berniat untuk mengambil cuti.
Adam menelpon Nadia untuk segera bertemu dan membicarakan tentang hal tersebut. Adam sebenarnya masih punya jalan keluar yang lainnya tetapi hal tersebut bisa dibilang gampang-gampang susah juga. Karena untuk bertemu langsung dengan pemilik perusahaan tempat Ayahnya bekerja bukanlah hal yang mudah. Pemimpin tertinggi sering ke luar negri. Adam juga sudah mencoba hingga tiga kali mendatangi rumah pribadi bos Ayahnya tapi hasilnya nihil.
"Assalamualaikum Nad, bisa gak kita ketemu di taman tempat kita bertemu Tempo hari?." tanya Bram.
"Waalaikum salam, sepertinya kalau sekarang Aku gak bisa banyak kerjaanku yang numpuk kalau jam pulang kantor baru aku bisa" Jawab Nad.
"Kalau gitu aku tunggu kamu jam 5 sore di Taman Cinta" ucap Bram yang kemudian buru-buru menutup telponnya karena pintu kamar perawatan istrinya terbuka.
"Gimana dengan kondisi putriku hari ini, apa Dia baik-baik saja atau kamu tidak menjaganya dengan baik" ucap Ibu Mertuanya Bram yang sudah menampilkan wajah garangnya dan sombongnya ke hadapan Bram.
"Aku sebenarnya tidak pernah setuju dengan permintaan putriku yang ingin menikah denganmu, kamu tahu kenapa?? ucap ibu mertuanya Adam yang menjeda perkataannya
"Karena kamu adalah pria miskin yang tidak ada apa-apanya lagi dimataku, kamu pria yang tidak berguna dan Ayahmu seorang Penjahat" ucap ibunya Dea.
Karena Bram tidak sanggup lagi mendengar cacian ibunya Dea, Bram Segera berdiri dan berjalan keluar untuk mencari angin.
"Semoga aku mampu untuk bersabar menghadapi sikap kasar dari ibunya Dea" ucap Bram disaat dirinya duduk di bangku taman rumah sakit.
Sedangkan di dalam ruangan Perawatan Dea. Suara tawa yang menggema memenuhi ruangan tersebut. Dea bangun dari komanya dan langsung berdiri dan ikut tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan dari Bram.
Sebenarnya Dea tidak menderita penyakit apa pun. Dan selama ini Dea hanya berpura-pura sakit hanya untuk menipu Bram agar Bram setuju untuk menikahinya. Dea terpaksa melakukan hal itu karena atas permintaan dari Ayahnya. Dan sebuah fakta yang hanya Dea ketahui kalau dirinya menerima perjodohan dari permintaan Ayahnya karena untuk menutupi hubungannya dengan seorang Pria yang sudah beristri. Tetapi hanya Dea seorang yang tahu.
Diam-diam Pria tersebut setiap malam datang ke ruangan perawatan Dea jika Bram tidak ada di sana.
"Akting kamu luar biasa, ibu acungi jempol loh" ucap ibunya Dea sambil menaikkan jarinya ke arah Dea.
"kalau Aku tidak bisa mengelabui Bram dan berpura-pura terus tertidur pasti Ayah akan menggorok leherku" ucap Dea yang tersenyum licik ke arah ibunya.
"Tapi begonya Bram yang tidak menyadari apa yang kita lakukan" ucap Ibunya Dea yang memegang pipinya Dea.
__ADS_1
"Tapi Bram saja yang bodoh yang tidak bisa membedakan mana orang sakit dengan tidak" ucap Dea yang memperbaiki make up-nya yang luntur akibat ulah ibunya tadi.
Sudah jam 5 sore, Bram sudah duduk di bangku Taman tempat Dia dan Nadia berjanji bertemu. Bram sedang memeriksa beberapa pesan yang masuk ke HPnya. Nadia segera mengambil handphonenya dan tasnya di meja kerjanya dan pamitan kepada Amairah dan Maya.
"Maaf yah say, Aku tidak bisa menemani kalian lembur, Aku ada janji soalnya dengan Bram" jelas Nadia yang sudah bersiap untuk pulang.
"Gak apa-apa kok Nad, pertemuan kalian lebih penting dan insya Allah Saya dan Maya bisa mengatasi dan mengerjakan ini semua" ucap Maya sambil menunjuk ke arah tumpukan berkas yang ada di atas Meja kerjanya.
"Aku sebenarnya ingin cuti beberapa hari Minggu depan karena kebetulan teman Aku ada yang mau nikah hari Minggu dan rencananya aku ke sana hari Sabtu pagi" ucap Amairah.
"Aku titip oleh-oleh kalau begitu Amai" ucap Maya.
"Oleh-oleh bernyawa atau yang tidak nih?." tanya Amairah yang menaikkan alisnya ke arah Maya.
"Ihh apaan sih, kalau cowok mah banyak juga di sini tak perlu mencari ke kota pun aku sudah bisa" ucap Maya yang membalas candaan dari Amairah.
"Alhamdulillah baguslah kalau gitu berarti tidak lama lagi kita akan keondangan nih Amai" ucap Nadia yang masih ikut nimbrung dengan ke dua sahabatnya dan lupa kalau Bram sudah berjamuran di Taman menunggu kedatangannya.
"Loh pulang sana, aku kira kamu ada janji dengan Bram, kasihan dia sudah menunggu lama kamu loh" ucap Maya yang tertawa dengan sikap Nadia.
"Kalau gitu aku pamit dulu, Assalamu alaikum" ucap Nadia.
"Waalaikum salam" ucap ke duanya.
Bram sudah menghabiskan beberapa botol minuman kaleng. Tapi batang hidung Nadia belum muncul juga. Bram sudah lelah menunggu kehadiran Nadia.
"Maaf aku terlambat" ucap Nadia yang tersenyum manis ke arah Bram.
Lelah Bram yang menunggu Nadia terobati dengan senyuman tulus dan manis dari Nadia.
"Tidak Kok, aku baru duduk sebentar saja" jawab Bram.
Sedangkan Nadia tersenyum karena tahu kalau Bram berbohong buktinya kaleng bekas minumannya sudah berserakan di sekitar kakinya. Nadia pun duduk dan baru sekitar Satu menit kemudian Nadia merasakan sakit yang sangat dibagian perutnya.
"Salah sakit Mas" ucap Nadia yang mengeluhkan sakit dibagian perutnya.
Bram mendengar Nadia sakit langsung kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Nadia wajahnya sudah pucat pasi dan air keringat sudah membasahi seluruh wajahnya.
Bersambung..
Maaf jika terdapat typo dalam pengetikan cerita ini 🙏🙏✌️.
Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang telah memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.
Met Menjalankan Ibadah Puasa yah 💪🤲.
__ADS_1
by FANIA Mikaila AzZahrah
Makassar, 05 April 2022