
Selamat Membaca..
Dia pun menelpon Bosnya yang sedari tadi menunggu info mereka.
"Bos, gadis itu sudah berhasil Kami tangkap dan dia sudah berada di dalam kamar itu," ujarnya.
"Oke, cepat bawa Pria hidung belang itu ke dalam kamar itu dan jangan sampai ada yang melihat kalian."
"Oke Bos."
Delisha dilempar ke atas ranjang. Lalu mereka meninggalkan Delisha di dalam Kamar itu.
"Kamu sudah masuk perangkap ku, Aku harus segera menghubungi kakek untuk melanjutkan rencana selanjutnya."
Upaya orang itu berhasil meminumkan minuman yang sudah dicampurkan obat perangsang wanita dengan tipe Spanish Fly. Delisha menghabiskan minuman hingga tandas. Sebagian minuman ada yang berhasil meluncur melewati ronga dan kerongkongan lehernya dan sebagiannya lagi membasahi bibir dan leher jenjangnya, pakaiannya pun basah.
Delisha berusaha untuk mencoba tidak menelan minuman itu. Tetapi, rambutnya ditarik kuat, mau tidak mau mulutnya terbuka menganga hingga minuman itu berhasil meluncur ke dalam mulutnya Delisa.
Setelah berhasil, Pria botak segera menghubungi nomor orang yang memerintahkannya.
"Sesuai dengan yang Nona inginkan, Kami sudah menjalankan tugas dengan baik dan rapi," dengan seringai liciknya.
"Aku suka hasil kerja kalian, lanjutkan sesuai petunjukku."
Wanita itu kembali duduk di singgasananya yang awalnya berdiri menatap ke luar jendela.
"Aku akan menambahkan gaji dan bonus kalian tiga kali lipat dari perjanjian awal," senyuman itu tidak terlihat manis tetapi seakan-akan memiliki makna yang tersirat.
"Makasih banyak Nona Besar," jawabnya.
Tut... Tut.. tut..
Sambungan telpon kembali terputus. Si botak sangat sumringah mendengar apa yang dikatakan oleh Junjungannya itu.
"Hahahaha," tawanya memenuhi seisi ruangan ditempati oleh Delisha.
"Apa katanya Bos?" tanya rekannya yang bermuka penasaran dengan inti percakapan dari Bosnya.
"Kita akan dapat bonus yang banyak, setelah ini," jawabnya.
"Serius bos?" anak buahnya yang dua orang itu antara percaya dengan tidak perkataan dari bosnya.
"Serius, jadi Kamu jaga dia dengan baik, aku akan bergabung dengan anak sekolah itu untuk berpesta," ujarnya dengan berlalu dari hadapan antek-anteknya.
Sedangkan Delisha yang pura-pura pingsan di atas tempat tidur, sedang berfikir dan memutar otaknya untuk mencari cara agar segera lolos, sebelum obat itu berhasil.
"Aku harus berusaha kabur dari sini, apa pun caranya."
Kondisi kedua tangannya yang terikat, tidak menghalanginya untuk mencari cara agar bisa bebas dari jeratan penculik itu.
"Kita di depan pintu saja nungguin gadis ini, panas soalnya di dalam sini," pandangannya tertuju pada rekannya lalu beralih ke Delisha.
Rekannya hanya menganggukkan kepalanya dan langsung bergerak ke luar kemudian menutup pintu.
Beberapa menit kemudian, Delisha berteriak meminta tolong. Ia mengeluarkan segala kemampuan suaranya agar menarik perhatian dari penjaga itu.
"Tolong... Tolong," teriaknya yang sangat kencang.
Beberapa kali Delisha mencoba hal tersebut, tapi tidak berhasil.
__ADS_1
"Kenapa mereka tidak ada yang datang? apa mereka meninggalkanku seorang diri di sini?"
Delisha kebingungan karena percobaannya untuk kabur dari sana gagal.
"Aku harus berusaha lebih maksimal lagi, aku harus bisa," tangannya terus bergerak agar ikatan tali ditangannya bisa longgar sehingga dia dapat sedikit leluasa untuk bergerak.
Sedangkan di depan pintu, ke dua orang itu sedang berpesta minuman. Mereka tidak ingin kalah dengan bosnya dan anak sekolah itu.
"Ingat jangan sampai mabuk, nanti bos murka sama kita."
"Sip," jawabnya singkat sebelum menenggak minumannya hingga tandas.
Ke dua pergelangan tangannya sudah memerah bahkan sedikit mengeluarkan darah akibat gesekan dari tali dengan kulitnya.
"Sepertinya tadi aku masukin di dalam tasku gunting kuku, mungkin alat itu bisa aku pakai."
Tangannya mencoba meraih tasnya, tubuhnya sedikit dikendurkan ke arah belakang, agar tangannya lebih leluasa dan mudah untuk meraih tas selempangnya.
"Aku harus bisa," perlahan tapi pasti dia terus berusaha untuk membuka resleting tasnya dengan tenaga yang dia miliki.
"Alhamdulillah akhirnya gunting kukunya sudah aku pegang, aku harus mencoba menggunakan alat ini," senyuman tipisnya menghiasi wajahnya disela rasa khawatir dan takutnya.
Dia berusaha untuk tersenyum untuk menenangkan pikirannya dan gejolak ketakutan yang muncul dari dalam dirinya.
Beberapa saat kemudian, tali itu sudah terpotong sedikit.
"Alhamdulillah sedikit lagi," peluh keringat membasahi pipinya dan seluruh tubuhnya.
Gaun yang dipakainya sudah basah saking kerasnya usaha yang dia lakukan.
"Aku tidak boleh menyerah dengan keadaan ini, jika tidak aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi nantinya dengan diriku."
Perjuangannya tidak sia-sia belaka, tali itu pun sudah putus.
"Syukur Alhamdulillah."
Delisha segera bangun dari baringnya setelah tali ikatannya putus dan terbuka.
"Aku harus pergi dari sini sebelum obat yang mereka berikan bereaksi."
Baru beberapa detik ucapannya itu lolos dari bibirnya. Kepalanya sudah pusing, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya sangat panas. Hingga tubuhnya tersungkur ke dinding.
"Ya Allah apa yang terjadi padaku? jangan-jangan obat itu sudah mulai bereaksi."
Ia mencengkeram dengan kuat ujung gaunnya untuk menutupi rasa yang tiba-tiba menyerang dan menggerogoti tubuhnya.
"Aku harus lawan sebelum pria hidung belang itu datang."
Dengan tertatih, Ia terus berjalan ke arah pintu. Gagang pintu dia coba untuk putar dan ternyata pintunya tidak terkunci. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Dia menyembuhkan sebagian kepalanya dan celingak-celinguk melihat ke sekelilingnya. Dia menemukan dua orang yang sudah terkapar di atas lantai dengan kondisi ke dua tangan mereka masih setia memegang botol minumannnya.
Delisha keluar dari kamar itu dengan mengendap-endap, langkah kakinya sangat kecil dengan berjinjit.
Ia melewati ke dua orang itu yang tertidur dengan pulas nya. Sesekali pengaruh obat itu menyerang pertahanannya. Tapi, ia sekuat tenaga berusaha untuk melawannya.
"Aku harus bisa," dia meremas bajunya yang di sekitar dadanya.
Perlahan tapi pasti, langkahnya hingga dia sudah berada di ambang pintu antara Villa dengan halaman yang cukup luas.
__ADS_1
Dia menutup pintu dan menguncinya agar pria itu tidak bisa mengejarnya. Setelah terkunci, Delisha terus berlari hingga ke jalan raya.
Pria yang dipinta untuk menemani dan menghabiskan waktunya bersama Delisha sudah datang dan terkejut melihat dua orang rekannya tertidur di lantai dengan keadaan yang sungguh membuat jengah dan pusing rekannya itu.
"Hey!!! bangun cepat sebelum bos datang," teriaknya yang menggoyangkan tubuh temannya dengan mengunakan kakinya.
Pria itu menggeleng karena usahanya tidak membuahkan hasil yang maksimal.
"Aku harus memeriksa keadaan di dalam, apa gadis itu masih di dalam."
Pintu itu pun terbuka dan masuklah dia dan melihat ruangan kamar itu kosong melompong.
"Ke mana perginya gadis itu? kalau seperti ini aku rugi dua kali, gagal nikmati tubuh yang masih polos dengan gaji serta bonus yang dijanjikan oleh Nona Muda."
Dia menendang pintu kamar itu. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan mencari wadah untuk dia isi. Air itu akan dia pakai untuk menyadarkan ke dua temannya. Dan usahanya berhasil.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah yang kebingungan serta tangannya mengusap wajahnya yang penuh dengan air.
"Apa yang terjadi? seharusnya aku yang bertanya pada kalian berdua, di mana gadis itu haaa!!!"
Mereka saling bertatapan terlebih dahulu lalu refleks berdiri dari lantai lalu berlari ke dalam kamar tersebut.
"Apa!!!" teriak keduanya.
"Kalian tidak perlu berteriak seperti itu, cepat cari gadis itu sampai dapat!!"
Mereka tanpa menimpali perkataan dari rekannya segera mencari Delisha.
Sedangkan di dalam sebuah ruangan yang cukup besar dan mewah dengan fasilitas lengkap. Seorang gadis memutar gelasnya yang berisi minuman yang berwarna merah.
Dengan senyuman liciknya dan kadang tertawa terbahak-bahak jika mengingat rencananya berhasil.
Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak.
Semua Author akan bahagia jika, ada Readers yang selalu setia membaca karya-karyanya, apa lagi Readers tersebut hadir untuk Like setiap Babnya, setelah membaca menulis komentar yang bisa membuat Author termotivasi dan bersemangat untuk menulis. Dan jika ada Raeders yang memberikan hadiah pasti othornya akan bertambah bersemangat.
...Tetap Dukung CYT dengan:...
...Cara Like setiap Babnya...
...Rate bintang lima...
...Gift Poin atau Koin Seihklasnya...
...Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya....
...Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️....
...Judulnya:...
...1. Bertahan Dalam Penantian...
...2. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...
...********To Be Continue********...
...by Fania Mikaila AzZahrah...
Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa, 28 Juni 2022
__ADS_1