
Selamat Membaca..
Delisha menangkup ke dua pipi Mommynya dan menghapus jejak air mata di pipinya Amairah.
"Mommy ayok kita pulang, apa Mommy tidak rindu dengan Daddy sama Nenek Masitha?" tanya Delisha dengan polosnya.
Amairah tidak mampu berkata-kata apa-apa lidahnya keluh seketika sedangkan air matanya sedari tadi menetes membasahi pipinya dan menangis tersedu-sedu tanpa henti.
Bryan yang selama ini tidak pernah meneteskan air matanya di depan khalayak umum hanya melihat pertemuan seorang anak dan ibunya yang terpisah sejak lama. Aisyah Akyurek pun yang biasanya dan selama ini berwajah kaku dan datar yang tidak memperlihatkan air matanya dan sisi lemahnya ikut hanyut dalam kesedihan akan pertemuan antara anak dan ibu yang harus terpisah karena janjinya dan keadaan yang terpaksa membuatnya harus terpisah.
Amairah tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat putri kecilnya mengerti dengan keadaannya. Amairah menghapus jejak air matanya.
"Sayang putrinya Mommy harus sabar yah tunggu Mommy pulang, pasti Mommy pulang, tapi Mommy mau cari dulu Kak Axel kalau sudah ketemu pasti Mommy pulang," ucap Amairah yang berusaha untuk menenangkan putrinya hanya dengan perkataan itu yang dirasa Amairah pantas untuk dia berikan pada putri kecilnya itu.
"Mommy janji?" ucap Delisha lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari Amairah.
Amairah tanpa beban langsung menautkan juga jarinya dan menganggukkan kepalanya dihadapan putrinya.
"Hore Mommy Delisha akan pulang," teriak Delisha yang langsung turun dari duduknya lalu loncat-loncat kegirangan dan sudah melupakan luka goresan yang ada di kakinya.
Amairah hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan, aku tidak kuasa membuat putriku kecewa, tapi aku juga terlanjur berjanji pada putriku untuk segera pulang, apa mungkin pulang adalah jalan yang terbaik."
Amairah berperang dengan pikirannya sendiri dan dilema dengan langkah dan jalan apa yang harus ia pilih.
Bryan yang berdiri seperti patung sedari tadi tiba-tiba bunyi dering Handphonenya membuat suasana sepi menjadi ramai dengan deringan ponselnya itu. Bryan segera mengangkat telponnya lalu memberikan kode kepada Amairah kalau yang menelponnya adalah Martin.
Amairah menganggukkan kepalanya agar Bryan mengangkat saja telponnya itu, tanpa harus memperdulikan Amairah berada di sana.
"Assalamu'alaikum Tuan Muda," ucap Bryan setelah telpon berhasil tersambung.
"Waalaikum salam, Bryan apa Kamu masih di Mall, di mana Delisha aku ingin bicara dengan putriku," ucap Martin.
Bryan segera menyerahkan hpnya ke tangan imut Delisha. Delisha sigap menyambut tangan Bryan dan mengambil hp itu.
"Halo Daddy," ucap Delisha.
"Hallo princessnya Daddy, Kamu masih di Mall gak sayang?" tanya Martin yang berjalan tergesa-gesa ke atas lift.
__ADS_1
"Iya Daddy, Del masih di Mall, ada apa Daddy?" tanya Delisha dengan wajah imutnya.
"Sayang tunggu Daddy yah, Daddy akan segera sampai di tempat Delisha lima menit lagi," jelas Martin.
Perkataan Martin itu membuat Amairah dan Bryan saling berpandangan. Amairah pun pasrah jika memang hari ini adalah hari pertemuannya kembali setelah kurang lebih tiga tahun lamanya mereka berpisah dengan diwarnai berbagai peristiwa yang mendasari perpisahan mereka.
Amairah pun bangkit dari posisi berlututnya berniat untuk segera meninggalkan Toko itu, tangan kecil Delisha terus memegang tangannya dan menariknya agar Mommy nya tidak pergi lagi. Dengan sekuat tenaga juga Amairah melepaskan pegangannya.
Hingga tarikan tangannya Delisha Annira Elshanum terlepas dari tangannya. Amairah segera bergegas berjalan, tapi langkahnya terhenti dengan intrupsi dari suara bariton yang selama ini dia rindukan.
"Amairah," ucapnya.
Hanya kata-kata itu yang terlontar dari bibirnya yang mampu membuat langkah Amairah terhenti dan kembali mematung.
Martin berjalan ke arah Amairah. Langkah Martin yang cukup lebar membuatnya segera berdiri di hadapan Amairah. Senyuman diwajahnya selalu tersungging saking bahagianya bisa dipertemukan kembali dengan pujaan hatinya, dengan istrinya tersayang.
"Amairah kumohon jangan pergi lagi dari hidupku, Amairah Maafkan Mas yang sudah berbohong untuk menutupi jati dirinya Mas, Mas tidak ada niatan untuk membohongi Kamu hanya saja Mas belum punya waktu yang tepat untuk berkata jujur di hadapan Kamu," tuturnya.
Martin tanpa segan langsung berlutut di hadapan Amairah. Mereka jadi sorotan dari beberapa pasang mata yang memandang mereka yang kebetulan berada di dalam area toko itu.
"Amairah hukumlah Mas dengan cara apa pun, tapi Mas mohon jangan tinggalkan Mas, apa Kamu tahu betapa hancur dan tersiksanya diri dan batin ini setelah kepergian kamu sayang," ucap Martin yang masih betah berlutut di depannya Amairah.
Kebimbangan menghantui pikiran dan perasaan Amairah dan tidak tahu harus berbuat apa. Apa melangkah dan meninggalkan mereka kembali atau harus kembali bersama keluarga kecilnya.
"Amairah sayangku belahan jiwaku, cintaku kamu lah nafasku, kamu lah hidupku dan hanya kamu lah yang mampu membuatku menjadi orang yang tidak waras bahkan aku hampir gila mencari keberadaanmu," ucap Martin yang awalnya sangat sumringah karena telah bertemu kembali dengan istrinya.
Amairah mematung ditempatnya dan kebingungan dengan apa yang harus dia perbuat. Apa yang dilakukan oleh Martin berlangsung hingga beberapa menit lamanya. Kram dan letih berlutut seperti itu, tapi Martin tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan jika ada yang mengambil gambarnya dan langsung mengunggahnya ke Sosmed Martin pun tidak masalah dan tidak mau ambil pusing.
Delisha melihat apa yang sedang dilakukan oleh ke dua orang tuanya langsung berjalan ke arah Amairah dan memeluk tubuh Mommy nya dan menangis tersedu-sedu.
"Mommy ayo pulang ikut Delisha, Mommy apa Mommy gak kasihan dengan Daddy yang sedari tadi berlutut di hadapan Mommy?" rengek Delisha yang berharap apa yang dilakukannya berhasil meluluhkan kerasnya hati dari Amairah.
Martin pun tidak kuasa lagi untuk berkata-kata. Hanya air mata yang mampu mewakili segala perasaannya yang bergemuruh di dalam dadanya.
Matanya Amairah pun sudah sembab dan memerah. Riasan Wajahnya pun sudah nampak kacau karena terkikis oleh air matanya.
Amairah perlahan melepaskan tautan tangannya Martin dari ke dua tangannya dan segera melepaskannya. Amairah kembali berlari dari hadapan anak dan suaminya. Langkahnya sudah mengjauh, tapi teriakan dari putrinya membuatnya kembali menghentikan laju langkah kakinya dan menolehkan kepalanya.
Wajahnya langsung seketika pucat pasi melihat tubuh suaminya sudah tergeletak di atas lantai keramik Mall.
__ADS_1
"Daddy bangun, huhuhu," ucap Delisha di samping tubuh daddy-nya.
Amairah berlari ke arah suaminya berada. Bryan pun sudah berusaha untuk menyadarkan Big Bos nya itu, tapi hasilnya tetap sama Martin tetap terbujur kaku tanpa ada reaksi apa pun.
"Bryan apa yang terjadi!!" teriak Amairah yang sudah duduk di samping suaminya.
Amairah memeriksa keadaan di seluruh tubuhnya Martin.
"Ya Allah tubuhmu Mas panas banget, Bryan segera bawa Mas Martin ke Rumah Sakit.
Delisha ketakutan melihat kondisi daddy-nya yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Tangisannya tidak berhenti bahkan semakin kencang saja. Bryan membopong tubuh jangkung tegap dan besar Martin dibantu oleh beberapa anak buahnya Amairah.
Amairah melepas sepatu high heels nya agar lebih leluasa berjalan saat menggendong putrinya.
Pertemuan kembali ke duanya dibumbui dengan drama yang cukup membuat seseorang akan panik melihatnya. Pandangan mata semua pengunjung mall tertuju padanya di mana Martin segera dilarikan ke RS terdekat.
Fania tidak bosan untuk mengucapkan Makasih Banyak Kepada Kakak Readers yang telah Memberikan Dukungannya kepada Cinta Yang Tulus dengan cara apa pun itu ππ
Dan Makasih banyak yang sudah memberikan Giftnya, makasih banyak juga untuk Readers yang telah memberikan saran, masukan dan Kritikannya, insya Allah Fania akan selalu belajar dan berusaha memperbaiki kesalahan dalam pengetikan atau pun penulisannya ππ₯°
Tetap Dukung CYT dengan cara:
Like setiap Babnya π
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya β₯οΈ
Rate Bintang 5 βββββ
Jika ada Poin atau Koinnya bisa berikan juga Gift agar Author lebih bersemangat lagi untuk menulis ππ₯°.
Sambil menunggu Updatenya CYT Kakak Readers juga bisa mampir baca Novel recehan lainnya Fania judulnya:
Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
Bertahan Dalam Penantian
Maaf jika selalu ada kesalahan dalam penulisannya atau Typonyaπ
by Fania Mikaila AzZahra
__ADS_1
Makassar, Rabu, 01 Juni 2022