Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 88. Mulai Terbuka


__ADS_3

Selamat Membaca..


Martin semakin kalang kabut setelah mendapatkan informasi tentang kehilangan Axel saat di bawah berjalan-jalan ke Taman yang ada di sekitar area Perumahan elit tersebut. Dan mereka juga mengetahui kalau Baby sitternya yang diberikan Amanah untuk menjaga Axel, ternyata salah satu komplotan dari orang yang menculik Axel adalah Baby sitter yang sudah lama bekerja dengan keluarga Alena.


Dion pun membawa salah satu sahabatnya yang ada di London Inggris, yang sudah sejak dulu bekerja sebagai pengawal rahasia dari orang-orang terkenal di Inggris. Bahkan kemampuannya tidak diragukan lagi dalam bidang IT dan taekwondo bahkan menguasai segala macam Tehnik bela diri maupun berbagai jenis senjata apa pun.


Kehadiran Bryan Regan membuat Martin bisa sedikit bernafas lega. Karena berkat kemampuannya lah yang sehingga mereka mengetahui jika Baby sitter tersebut adalah Penjahat.


"Baiklah mulai hari ini kamu bekerja dengan Saya dan Kamu juga harus melatih saya dalam menguasai teknik taekwondo apa pun itu namanya dan tolong datangkan anak buah Kamu ke sini, yang paling terbaik dari yang ada, dan Kamu Dion buat perjanjian dengan Bryan berapapun gaji yang Dia minta berikan kepadanya, Tapi dengan satu catatan jangan ada kesalahan apa pun itu" ucap Martin yang berlalu dari hadapan Dion dan Bryan.


"Aku pasti akan betah berkerja sama dengan Tuan, karena perempuan yang selama ini Aku cari ternyata ada di Sini".


Martin kemudian melajukan mobilnya ke arah jalan pulang ke Rumah Neneknya karena Martin sudah memutuskan untuk menetap kembali di Kediaman Nenek Masitha selama Putri kecilnya belum cukup umur untuk meninggalkan rumah tersebut dan tinggal bersama dengan anaknya di Apartemen pribadinya.


Martin memukul setir mobilnya sebagai pelampiasan emosinya yang sempat dia tahan selama dirinya berada di rumah Rian. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal tersebut.


"Aku akan lakukan apa pun untuk menemukan kalian, walaupun Aku harus mencari Kalian hingga ke ujung dunia mana pun dan walaupun butuh waktu yang sangat lama, Aku tetap akan berusaha untuk bersabar dan menanti kehadiran kamu".


Mobil Martin membelah jalan Ibu kota J dan ikut berbaur dengan pengendara mobil lainnya yang sudah berada di jalan raya terlebih dahulu. Martin teringat dengan kalung yang pernah dia pakai sebelumnya.


"Aku harus mencari kalung itu, dan Semoga ada titik terang tentang keberadaan Amairah dan putraku Axel".


Martin semakin menambah kecepatan mobilnya dan segera menuju jalan yang akan menuntunnya ke arah Rumah Kediaman Nenek Masitha. Martin tidak memarkirkan mobilnya dengan baik dan hanya meminta tolong kepada supir pribadinya Nenek Masitha.


"Pak Usman tolong parkiran mobilku ke garasi" ucap Martin yang melempar kunci ke arah Pak Usman yang seumuran dengan dirinya.


"Siap Tuan Muda" ucap pak Usman.


Martin segera berjalan ke arah kamar putri kecilnya berada, Langkah Martin cukup lebar sehingga langkahnya terbilang singkat sehingga cepat sampai di depan Kamar putrinya. Tapi baru sebagian pintu kamar tersebut terbuka, Martin sayup-sayup mendengar suara isakan tangis dari mulut Neneknya.


"Aku harus berbuat apa, jika Martin mengetahui siapa sosok orang yang sudah membuat ke dua orang tuanya meninggal Ayah, Ayah aku tidak sanggup melihat Cucuku yang sudah sangat menderita kehilangan istri dan putranya".


Martin Semakin menajamkan pendengarannya dan menempelkan telinganya di sekitar pintu Kayu jati tersebut.


"Apa maksudnya Nenek berbicara seperti itu, dan yang Dia pegang adalah fotonya Kakek?".


"Mungkin Mama harus memberitahukan Martin tentang ini semua sebelum Martin mendengar dari mulut orang lain yang belum tentu apa yang Dia katakan adalah kebenaran".


Nenek Masitha sudah membulatkan tekadnya untuk memberitahu kepada Martin tentang rahasia besar yang selama ini dia tutupi dari Martin. Nenek Masitha ingin membuka pintu kamar cicitnya, tapi dibuat terkejut oleh kehadiran Martin di depan pintu. Nenek Masitha hanya tersenyum hambar dan yakin sekali Kalau Martin sudah mendengar sebagian apa yang dia katakan tadi.


"Gimana kabarmu Nak, Apa kamu baik-baik saja dan gimana dengan perkembangan pencarian Istri dan putramu?". tanya Nenek Masitha yang mengalihkan arah pembicaraan.


Martin langsung memeluk tubuh Neneknya dan langsung menumpahkan segala gunda gulananya ke dalam pelukan Neneknya yang selalu membuatnya tenang jika sedang menghadapi dilema dan Masalah yang cukup tidak bisa dia selesaikan.

__ADS_1


"Kamu harus kuat dan sabar Nak, perbanyak lah berdo'a dan meminta tolong kepada Allah SWT untuk kebaikan anak dan istrimu dan semoga segera ditemukan" Ucap Nenek Masitha yang masih belum punya cara untuk menyampaikan kebenarannya.


"Martin ingin bertanya pada Nenek, apa Nenek pernah melihat kalung yang pernah Martin pakai, kalau ada tolong berikan kalung itu Nek kepada Martin, Karena kalung itu bisa jadi jalan untuk Aku mengetahui siapa Mami dari Istriku" ucap Martin yang memohon kepada Neneknya.


Nenek Masitha langsung berjalan ke arah lemari yang ada di dalam kamar tersebut. Dan mengambil sebuah kotak perhiasan khusus kalung. Nenek Masitha pun duduk di tepi ranjangnya dan menepuk seprei yang ada di sampingnya agar Martin segera duduk. Martin pun mengikuti perintah neneknya tanpa banyak tanya.


"Nak ada yang ingin nenek katakan kepada kamu dan kalung ini juga yang akan membawa kamu untuk mengetahui asal usul istrimu yang selama ini tidak kamu ketahui" tutur Nenek Masitha.


"Maksudnya Nenek apa, Apakah ada hubungannya dengan yang Nenek ucapkan tadi di dalam kamar putriku?" tanya Martin.


Nenek Masitha hanya menganggukkan kepalanya. Dan mulailah bercerita tentang kehidupannya sewaktu mereka masih muda dulu. Nenek Elisabeth pun mulai berbicara.


"Tapi Nenek mohon jangan lah kamu menyalahkan siapa pun setelah mengetahui kebenaran yang ada" pinta nenek Masitha.


"Martin janji sama Nenek tidak akan marah atau apapun itu" Jawab Martin yang sudah seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu neneknya bercerita.


Flashback on..


Du sebuah kota kecil hiduplah tiga pemuda yang sama-sama baru lulus dari universitas yang ada di Ibu kota Indonesia. Mereka akhirnya pulang setelah sekian lama menuntut ilmu di Kota.


Mereka berkumpul kembali setelah beberapa hari mereka kembali ke rumah masing-masing.


"Bagaimana kalau kita mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan yang bergerak di bidang tekstil kebetulan kita memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut dan masalah modalnya, kalian tidak perlu khawatir karena saya ada sedikit tabungan" usul Abraham Prin Atmadja.


"Gimana dengan kamu Nurman Hakim apa kamu setuju dengan rencana kami?" tanya Abraham kepada sahabatnya itu yang sedari tadi hanya terdiam dan entah apa yang Dia pikirkan.


"Aku setuju dengan rencana kalian, tetapi aku minta maaf jika Aku hanya menyumbang sedikit saja, kalian kan tahu kalau Aku baru saja kehilangan Ayahku dan semua hartanya habis di sita oleh Bank" ucap Nurman Hakim.


"Kalau masalah itu kamu tenang saja, kamu seperti dengan orang lain saja dan tidak tahu karakter kami ini" ucap Ahmed Muhamad Lee.


"Kalau gitu kita buka usaha kita mulai besok di atas tanah milik Orang tuaku saja, karena mereka sudah setuju dengan rencanaku" ucap Abraham Prin Atmadja.


"Baik lah besok kita mulai dari meminta ijin kepada pak Desa dan mencari ibu-ibu yang siap bekerja tetapi mampu menjahit pakaian dalam model apa pun dan utamakan mereka bisa mengoperasikan mesin jahit dengan baik" ucap Ahmed Muhammad Lee lagi.


"Serahkan kepada Saya masalah meminta ijin tersebut, tidak mungkin paman saya menolak perijinan kita lagian kita akan memberikan Pajak kepada pemerintah setempat" ucap Nurman Hakim.


"Kalau gitu sepakat besok kita masing-masing mengerjakan tugas kita masing-masing untuk mempercepat proses rencana kita apa lagi di Desa kita semakin bertambah petani kapas dan ulat sutera yang bisa kita manfaatkan sebaiknya" ucap Ahmed lagi.


Keesokan harinya mereka sudah menjalankan tugas masing-masing dan tidak butuh waktu lama peletakan batu pertama dari pembangunan pabrik tersebut telah dimulai pekerjaannya. Hingga beberapa bulan ke depan akhirnya berdirilah Perusahaan Tekstil pertama yang ada di Desa mereka. Semua kalangan masyarakat merasa senang dan bahagia dengan pembangunan pabrik tersebut yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi atau pun siap pakai.


Hingga beberapa tahun kemudian. Pabrik tersebut semakin hari semakin berkembang bahkan semakin maju dengan banyaknya cabang pabrik yang berhasil mereka dirikan di tempat lain. Hingga pegawai dan karyawan pabrik mereka pun sudah ribuan dan otomatis pemasukan dan penghasilan laba dari bisnis mereka semakin bertambah banyak. Hingga suatu hari, Pabrik mereka kehilangan beberapa juta uang setiap harinya. Awalnya mereka tidak mencurigai siapa pun sebelum ada bukti yang mereka dapatkan.


Hingga suatu hari Ahmed Muhammad Lee memergoki seseorang yang dia kenali membuka laci meja tempat penyimpanan uang itu terbuka dan dengan mata mereka langsung melihat orang tersebut mengambil beberapa lembar uang. Ahmed tidak langsung menegur orang tersebut tetapi hanya mengamati beberapa hari kedepan karena, Ahmed berfikir positif.

__ADS_1


"Mungkin dia sangat butuh uang itu dan malu untuk meminta kepada kami".


Hingga beberapa hari kemudian, Hal seperti itu terjadi lagi dan lagi dan akhirnya Ahmed memutuskan untuk memberitahukan kepada Abraham tentang hal tersebut dan awalnya Dia tidak percaya dengan penjelasan dari Ahmed.


"Itu tidak mungkin Ahmed, Pasti Nurman bukanlah orang yang melakukan hal tersebut dan aku yakin kamu hanya salah paham saja" ucap sanggahan dari Abraham yang tidak percaya dengan perkataan dari Ahmed.


"Kalau kamu tidak percaya, ayok kita ke gudang dan langsung memeriksa tapi tanpa ada yang mengetahui kedatangan kita" jelas Ahmed.


Abraham pun mengikuti saran dari Ahmed. Mereka pun duduk di pojokan gudang sekaligus dijadikan kantor tersebut tanpa ada yang mengetahui kehadiran mereka di sana. Pintu terbuka dan masuklah Nurman dengan berjalan perlahan ke arah meja dan memeriksa sekaligus mencari kunci lemari tersebut.


"Ternyata kamu di sini , apa mereka sudah mengetahui kalau saya yang selalu mengambil uang tersebut? tapi sepertinya mereka tidak tahu karena mereka terlalu percaya dan bodoh dengan apa yang Saya lakukan hahahah!".


"Ya Allah ternyata apa yang dikatakan oleh Ahmed benar adanya dan tempo hari Dia meminta pinjaman uang sebesar 19 juta katanya untuk pengobatan Ayah dan ibunya yang sudah sakit-sakitan tapi ternyata dia hanya pakai untuk main perempuan, judi dan mabuk-mabukan, dan ini tidak boleh dibiarkan berlarut larut dan pasti kita akan mengalami kerugian yang besar jika terus berlanjut dan tidak ditangani dengan baik".


Abraham langsung berdiri dari persembunyiannya dan langsung mendekati Nurman yang sudah sangat bahagia bisa kembali mencuri uang yang tidak sedikit jumlahnya.


"Ternyata kamu lah orang yang selama ini telah mencuri dan Aku sempat tidak percaya jika kamu yang telah tega melakukan semua ini" ucap Abraham.


"Nurman apa yang terjadi kepada kamu, kenapa kamu berubah haa!?" tanya Ahmed yang tidak menyangka sahabat yang dia kenal selama ini baik, bertanggung jawab dan jujur tiba-tiba berubah drastis.


"Apa kalian mau tahu alasannya Haaa? Saya cemburu melihat keluarga kalian yang setiap hari semakin bahagia sedangkan saya, Bapak Saya tidak pernah perduli dengan kehidupan Anak-anaknya bahkan sering pulang dengan dalam keadaan mabuk dan tidak jarang memukul ibuku" ucap Nurman.


"Tapi apa salah kami sehingga kamu membenci kami yang tidak tahu apa-apa dan tidak punya salah sama kamu" ucap Abraham.


"Kalian mau tahu kesalahan kalian adalah tidak ada, tapi Saya ingin berkuasa di semua bisnis dan usaha yang kita rintis dari nol menjadi milikku seorang" ucap Nurman.


"Itu tidak mungkin Nurman, ini adalah usaha kita bertiga lagian dulu kamu tidak pernah memberikan kami modal sedikit pun dan apa kamu sudah melupakan semua itu Nurman Hakim?" ucap Abraham yang sudah tersulut emosinya.


"Hahahaha apa pun yang kalian katakan Aku tidak perduli dan jika kalian tidak setuju maka kalian harus Mati di tanganku" ucap Nurman Hakim yang meraih sebuah pistol yang terselip di dalam saku celananya dan penuh senyuman kelicikan.


Nurman langsung menghadapkan arah pistolnya ke arah tepat jantung Ahmed dan Nurman sudah bersiap untuk menarik pelatuk pistolnya di saat Masitha datang membawa bekal makanan untuk suaminya yang katanya akan lembur malam itu.


...********Bersambung********...


Makasih atas dukungannya dan tetap dukung Cinta Yang Tulus yah dengan Cara budayakan untuk Like, Rate Bintang 5 dan Favoritkan CYT,✌️🙏.


Dan Kakak juga bisa mampir ke Novelku yg lain yang Judulnya Bertahan Dalam Penantian dijamin kisahnya berbeda dengan CYT.


Makasih banyak.


by Fania Mikaila Az-zahra


Makassar, Rabu, 04 Mei 2022

__ADS_1


__ADS_2