
Selamat Membaca...
Masih dengan Flashback on..
Persahabatan yang awalnya tercipta atas dasar saling berbagi suka dan duka, saling terbuka dengan kehidupan pribadi masing-masing dan mempunyai prinsip awal yang sama, yaitu sama-sama menginginkan membangun sebuah usaha yang bisa membantu masyarakat di Desanya bisa memiliki kehidupan yang layak dan baik. Tapi harus ternoda dengan kelicikan dari salah satu dari mereka karena faktor kecemburuan dan perlakuan kasar yang kerap kali Dia dapatkan dari Ayahnya.
Malam itu di Sebuah Pabrik Tekstil yang sedang naik daun, terjadi sesuatu yang bisa mengakibatkan nyawa seseorang bisa melayang. Nurman Hakim yang kedapatan sedang mengambil banyak uang dari tempat penyimpanan uang di Kantor pabrik tersebut kedapatan dan tertangkap basah oleh ke dua sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.
Awalnya tindakan yang dilakukan oleh Nurman tidak pernah diketahui oleh Ahmed Muhammad Lee dan Nurman Prin Atmadja, tetapi suatu hari tanpa sengaja Ahmed melihat langsung dengan mata kepalanya Nurman sedang mengambil beberapa lembar uang, awalnya Ahmed diam saja dan masih bersikap biasa, tetapi makin ke sini tingkah laku Nurman semakin meresahkan saja, Nurman setiap hari mengambil uang tanpa ijin dari ke dua sahabatnya, sehingga Ahmed memberitahukan kepada Abraham tentang kejadian tersebut.
Awalnya Abraham tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ahmed sebelum melihat langsung bukti apa pun itu. Dan Abraham pun dan Ahmed diam-diam mendatangi pabrik tersebut dan tidak seorang pun karyawan dan buruh yang mengetahui kedatangannya. Nurman pun kedapatan dan tertangkap basah Oleh ke dua sahabatnya. Adu mulut pun terjadi diantara mereka. Hingga Nurman kalap yang sudah dipengaruhi oleh minuman beralkohol dan setan yang selalu datang menggodanya untuk berbuat tidak baik.
"Aku akan buktikan kepada kalian siapa yang lebih pantas untuk memimpin pabrik, kalian atau saya" ucap Nurman yang langsung merogoh saku celananya dan mencari sesuatu benda.
Ahmed dan Abraham kaget melihat benda yang berhasil diambil di dalam saku celananya, yaitu sebuah pistol dan langsung menodongkan pistol tersebut ke arah tepat di jantung Ahmed. Dan hal tersebut dilihat langsung oleh Masitha istri dari Ahmed. Masitha hanya menutup mulutnya tak kuasa berkata dan berbuat apa-apa saking takutnya melihat pistol tersebut.
"Apa yang akan kamu lakukan Nurman? sadarlah kalau apa yang kamu perbuat itu tidak baik" Ucap Abraham yang mencoba untuk menenangkan Nurman.
"Nurman sadarlah, kami ini Sahabat kamu dari sejak kecil hingga sekarang, Nurman sadarlah dan turunkan pistol itu" ucap Ahmed yang masih berusaha untuk membujuk Nurman.
"Persetan dengan apa yang kalian katakan, yang jelasnya Saya harus membunuh kalian semua hingga Aku saja yang tersisa hidup di Sini dan akan jadi penguasa tunggal dari pabrik ini hahahaha!" Nurman tidak perduli lagi dengan semua perkataan dari sahabatnya.
Tetapi karena Nurman sudah seperti orang kesetanan yang sudah melupakan segala-galanya sehingga tanpa aba-aba langsung menarik pelatuk pistolnya. Dan karena tidak adanya suara yang keluar dari pistol tersebut membuat semua orang yang ada di sekitar Pabrik tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya. Bahkan hari itu, pihak keamanan dan karyawan yang biasanya lembur diliburkan oleh Nurman.
Tubuh Abraham terjatuh ke lantai "Brukkkkk" darah segar mengucur dari dada kirinya tepat di jantungnya.
Ahmed yang sedari awal sudah berfikiran bahwa dirinya lah yang pertama akan mati tapi ternyata Ahmed didorong dengan sekuat tenaga oleh Abraham sehingga Abraham lah yang terkena tembakan tepat di jantungnya.
"Tidakkkkkk!!" teriak Ahmed yang langsung bangkit dan berlari ke arah Abraham yang sudah tumbang dan bersimbah darah.
Ahmed langsung memangku sahabatnya itu.
"Abraham sadarlah, Aku akan membawa kamu ke rumah Sakit" ucap Ahmed yang sudah bersiap untuk menggendong tubuh sahabatnya itu, tetapi langsung dicegah oleh Abraham.
__ADS_1
"Tiiiidak usah Aaaahmed, Aaaaku suuuuudaaaahh tiiiiiiidaaaak kuaaaat laaagi, jaaaaga pabrik ini Ahmed, maaaafkan Aaaaku" ucap Abraham untuk yang terakhir kalinya.
"Bertahan lah sahabatku, kamu akan baik-baik saja, Aku yakin dokter akan menyelamatkan kamu" ucap Ahmed disela tangisnya yang tidak kuasa melihat kondisi sahabatnya itu.
Masitha terduduk di lantai saking terkejutnya melihat sahabat suaminya harus meregang nyawa ditangan sahabatnya sendiri.
"Nurman kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu di hadapan polisi dan aku tidak akan membiarkan kamu lolos dari sini" ucap Ahmed yang langsung menerjang tubuh Nurman.
Mereka pun berkelahi dan tidak ada yang ingin mengalah, bahkan tubuh dan wajah mereka sudah babak belur tapi masih tidak ada yang berhenti, hingga mereka berkelahi sampai di dekat tangga dan karena tidak ada yang mengalah, akhirnya tanpa sengaja kaki Nurman tergelincir hingga terjatuh dari lantai dua. Ahmed yang melihat kejadian tersebut langsung berlari untuk menolong Nurman yang masih sanggup untuk berpegangan.
"Nurman ayok pegang tanganku" ucap Ahmed yang berteriak agar Nurman melakukan apa yang dia perintahkan.
Tapi Nurman hanya tertawa sinis ke arah Ahmed bahkan terkesan tertawa licik.
"Kamu tidak perlu berpura-pura baik dan mau menolongku, Aku tahu kamu pasti bahagia dengan kematianku nanti" ucap Nurman.
"Apa yang kamu katakan Nurman, Aku tidak pernah berfikiran seperti itu, dan tolong dengarkan kata-kataku ini, pegang tanganku, Aku akan membantu kamu" ucap Ahmed yang tidak putus asa untuk meyakinkan Nurman agar mendengar perkataannya itu.
"Aaaaaahhhhh" teriakan terakhir yang mampu diucapkan oleh Nurman.
"Tiiiiidakkkkkkk!!" teriak Ahmed.
Suara tangisan Ahmed langsung menggema di seluruh sudut Pabrik, Ahmed langsung terduduk dan tidak menyangka jika dalam semalam Dia harus kehilangan Dua sahabatnya sekaligus. Ahmed langsung berdiri dan berlari ingin memeriksa keadaan Abraham tapi apa daya Abraham sudah tiada.
"Abraham sadarlah Kawan, Aku Ahmed sahabatmu, Apa kamu tega melihat Aku sendiri di dunia ini? Aku mohon bangunlah" ucap Ahmed disela tangisnya.
Masitha pun langsung berdiri dan mendekati suaminya untuk membantu suaminya itu.
"Mas bangunlah, Kakak Abraham sudah tiada sebaiknya kita bawa tubuh Kakak Abraham ke Rumah Sakit" ucap Masitha muda yang ikut menangis dan bersedih melihat kondisi terakhir dari Abraham.
"Maafkan Aku, ini semua gara-gara Aku yang mengatakan pada kamu tentang kejahatan Nurman, Andai saja Saya diam saja, pasti kalian masih selamat dan hidup" ucap ratapan Ahmed.
Tapi Ahmed langsung berdiri dan berjalan ke arah tangga untuk mengambil pistol tersebut dan baru saja Ahmed memegang pistol itu, Pintu pabrik terbuka lebar dan masuklah beberapa anggota polisi, anggota masyarakat dan adik kembar dari Abraham.
__ADS_1
Adik kembar Abraham langsung berlari naik ke atas tangga setelah melihat tubuh saudara kembarnya tergeletak tak berdaya di atas lantai.
"Ahmed!!! apa yang telah kamu lakukan pada kakakku haaa??" teriak adiknya Abraham.
Ahmed yang diserang dengan tuduhan yang tidak dia lakukan hanya mampu terdiam dan shock akibat dari peristiwa yang baru saja terjadi seperti rollcoster saja.
"Jangan diam saja bajingan, ayok bicara" ucap Adiknya Abraham dan langsung memukuli wajah dan tubuh Ahmed.
"Kakak stop jangan pukuli Ahmed, Suamiku tidak bersalah, bukan suamiku yang melakukan ini semua" bela Masitha yang sudah kasihan melihat suaminya yang tidak berdaya dipukuli terus menerus oleh saudaranya Abraham.
Ahmed hanya terdiam dan tidak mampu membela dirinya. Ahmed terlalu bodoh saking shokcnya melihat kematian dari dua sahabatnya sekaligus yang membuatnya tidak bisa berfikir baik dan normal dan langsung memegang pistol tersebut dihadapan polisi dan keluarganya Abraham.
"Diam kamu, kamu tidak perlu membela suami kamu karena sudah ada bukti yang kami lihat jadi apa pun yang kamu katakan itu tidak berguna lagi" ucap Adiknya Abraham sambil mendorong tubuh Masitha yang langsung terdorong jauh.
"Aaaahhh sakit" teriak Masitha yang langsung memegang perutnya yang sudah buncit karena kebutulan Masitha sedang hamil anak keduanya dan kandungannya sudah berusia 6 bulan.
Ahmed hanya terdiam membisu dan tidak bisa berucap sepatah kata pun untuk membela dirinya. Dan terdiam saja melihat istrinya yang sudah terbaring tak berdaya dan banyak darah segar yang menetes membasahi ************ dan pahanya.
"Ayok bawa dia ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut dan tolong ibu hamil itu segera bawa Ibu itu ke rumah sakit" ucap Kepala kepolisian.
Awalnya Adik Abraham mengetahui hal tersebut dari sepucuk surat yang tiba-tiba tergeletak di lantai kamarnya dan surat kaleng itu berisi bahwa malam ini Ahmed berencana untuk membunuh Abraham, tetapi Adiknya Abraham sama sekali tidak menggubris isi surat kaleng tersebut yang menganggap itu hanya lelucon saja, tetapi hingga larut malam Kakaknya tidak pulang dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi pihak kepolisian agar membantunya untuk mencari keberadaan Kakaknya. Hingga mereka melihat langsung dengan mata kepalanya bahwa Ahmed memegangi sebuah pistol.
...********Bersambung********...
Semoga dengan baca Bab ini tidak ada lagi Readers yang salah kaprah tentang apa sebenarnya yang terjadi sehingga Amairah dan Axel menghilang yah Kakak ✌️.
Jangan bosan Yah untuk mampir baca Novel Recehku Cinta Yang Tulus ✌️🙏.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap CYT dan biasakan untuk selalu menekan tombol Like setiap selesai Baca ✌️🙏.
By Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Kamis, 05 Mei 2022
__ADS_1