
Selamat Membaca..
Berniat menyenangkan pasangan juga jadi bagian dari adab serta tata cara berhubungan suami istri sesuai Sunnah dan syariat Islam.
Istri yang baik dalam Islam adalah dia yang berniat menyenangkan suaminya dalam segala hal yang dilakukannya, termasuk saat bercinta.
Dalam Islam membahagiakan suami itu penting karena surga istri ada di bawah kaki suaminya. Suami pun juga harus memperlakukan istrinya dengan baik.
Karena hubungan intim suami istri tentu dilandasi dengan niat untuk saling memberi kesenangan pada diri sendiri dan juga pasangan.
Intending to please your partner is also part of the adab and procedures for marital relations according to the Sunnah and Islamic law.
A good wife in Islam is one who intends to please her husband in everything he does, including when making love.
In Islam, making the husband happy is important because the wife's paradise is under her husband's feet. Husbands also have to treat their wives well.
Because the intimate relationship of husband and wife is certainly based on the intention to give each other pleasure to yourself and your partner.
Matahari sudah terbit di sebelah timur, Sang Raja Siang menampakkan taringnya menyinari seluruh jagad raya ini. Sebagian orang masih beegelung di dalam selimutnya.
Tapi sebagian besar ada yang sudah kembali keaktifitas seperti biasanya. Mereka berjuang demi orang tersayangnya. Demi sesuap nasi hingga membuatnya terbangun lebih awal dari yang lain.
Amairah menghubungi nomor hp kakeknya yang di Amerika USA. Amairah berniat untuk meminta bantuan dan pertolongan dari Kakeknya, agar segera membantunya untuk menemukan dan mencari keberadaan dari Nurman.
Amairah tidak ingin melihat dan mendengar pelaku kejahatan yang membuat keluarganya bercerai berai gara-gara orang itu. Dia tidak ingin membiarkan Nurman menghirup udara bebas dan berkeliaran ke mana pun sesuka hatinya.
Sambungan telpon pun tersambung, walaupun Kakeknya sangat sibuk mengerjakan beberapa dokumen pentingnya setelah melihat dan mengetahui jika cucu tunggalnya yang menelponnya pekerjaan itu langsung dia tinggalkan tanpa harus berfikir terlebih dahulu.
"Assalamu alaikum nak," ucap Tuan Besar Luis Horne dengan menyadarkan kepalanya ke sandaran kursi kebesarannya yang empuk itu.
"Waalaikum salam Kakek, gimana kabarnya Kakek, apa sudah makan malam?"
"Waalaikum greetings Grandpa, how are you Grandpa, did you have dinner?"
"Alhamdulillah kabar Kakek sangat baik setelah Axel sudah bersama kalian," jawabnya.
Amairah tidak terkejut sedikit pun ketika Kakeknya bertanya tentang hal itu. Bagi menurutnya itu wajar saja, jika Kakeknya mengetahui kabar dan informasi tersebut. Jaringan Kakeknya sangat banyak, jadi perkara berita kecil seperti itu untuk beliau sangatlah mudah.
Siapa yang tidak mengenal Tuan Besar Luis di dunia bisnis. Mungkin hanya orang-orang baru mengenal dan berkecimpung di dunia bisnis yang tidak akan mengenal beliau.
"Kamu tenang saja, apa yang Kamu inginkan Kakek sudah laksanakan sedari beberapa hari yang lalu, Kakek mohon fokus pada penyembuhan putra Kamu Axel, tidak perlu risaukan yang lain," jawabnya dengan senyuman.
"Makasih banyak Kakek, Amairah boleh minta sesuatu lagi?" tanya Amairah dengan penuh kehati-hatian.
"Apa yang cucuku inginkan?" tanya Kakeknya dengan memutar ballpoint yang ada di dalam genggamannya.
"Amairah meminta Kakek datang ke Indonesia," jawabnya.
Tuan Luis kembali tersenyum sangat tipis sehingga sangat sulit untuk dilihat senyumannya itu.
"Insya Allah, jika kakek sudah punya banyak waktu luang pasti Kakek akan ke rumahmu?"
__ADS_1
"Makasih Kakek, aku tunggu yah kedatangannya Kakek," jawabnya dengan senyuman yang manis walaupun hanya dia menyadari senyuman itu.
"Kakek tutup dulu yah, Kakek masih banyak kerjaan."
"Jaga kesehatan Kakek, jangan kerjaan mulu yang diperhatiin."
"Kakek tutup dulu, assalamu alaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah sarapan pagi, Martin dan Amairah beserta Axel ke Rumah Sakit DA untuk memeriksakan kondisi kesehatan Axel serta mengambil beberapa sampel sebagai prosedur tes DNA nya.
"Alif mau ikut Daddy gak?" tanya Martin saat mereka sudah selesai makan.
Alif menatap terlebih dahulu ke arah Daddy Martin sebelum menjawabnya.
"Alif mau ikut sama Daddy, kemana pun Daddy pergi," jawabnya.
"Kalau gitu Alif bersiap dulu baru kita berangkat," ujar Martin.
"Ibu Nurmala tolong dibantu Alif yah untuk bersiap, Saya ingin mengajaknya ke luar sebentar, gak apa-apa kan Bu?" tanya Martin.
"Silahkan kok Tuan Martin, kalau itu yang terbaik untuk Alif," tutur Emaknya Alif.
"Alhamdulillah makasih banyak Bu," ucap Martin.
Alif sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.
Alif sudah duduk di tengah-tengah antara Martin dan Amairah. Alif sangat bahagia karena bisa pergi bersama ke dua orang yang rencananya akan dia anggap orang tua kandungnya sendiri.
Hal itu jelas terlihat di wajahnya. Senyuman selalu menghiasi wajahnya. Amairah yang melihat ke arah Alif ikut bahagia.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja mereka sudah sampai di RS. RS tempat mereka jadwalkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan medis terhadap Alif.
Martin dan Amairah menuju ruangan khusus untuk ruangan tempat yang dipilih untuk dijadikan tempat pemeriksaan tesnya.
Tapi, mereka baru sampai di depan pintu ruangan Dokter yang akan menangani kesehatan Alif, langkah mereka terhenti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Alif.
"Mommy, kok Alif di bawah ke RS, apa Emak bilang sama Mommy kalau dua hari kepalanya Alif sakit?" tanya Alif dengan wajah polosnya.
Martin dan Amairah yang mendengar perkataan Alif tersebut, membuat mereka saling berpandangan.
"Katanya mau bawa Alif ke suatu tempat yang bagus, tapi kenapa malah ke Rumah Sakit Moms?" tanya Alif dengan keheranan.
"Maksudnya Alif sakit kepala, sudah berapa hari sakitnya?" tanya Amairah yang memegang ke dua pundak putranya.
Martin pun terkejut dengan perkataan dari Alif yang menyatakan, jika kepalanya sering sakit akhir-akhir ini.
Alif heran kenapa, dirinya di bawah ke RS, padahal hanya dia seorang yang tahu jika akhir-akhir ini kepalanya sering sakit.
Amairah terkejut mendengar penuturan dari Alif. Dengan wajahnya yang terkejut sekaligus khawatir, jika penyakit yang diderita oleh Alif berbahaya.
__ADS_1
"Kalau sekarang apa kepala Alif masih sakit atau ada yang Alif rasakan yang lain-lain di dalam sini sayang?" tanya Amairah yang masih cemas dengan kondisi kesehatannya Alif.
Amairah menunjuk ke arah kepala dan tubuhnya Alif.
"Kalau sekarang, kepalanya Alif masih puyeng Moms," ujarnya.
"Kalau gitu, apa Alif ingin diperiksa sama dokter?" tanya Amairah.
Alif menganggukkan kepalanya lalu berkata," Alif mau.. mau banget Moms."
"Kalau gitu kita ke dalam ruangan ini yah, tapi Alif harus janji sama Mommy untuk selalu nurut dan dengerin semua perkataan dokter sama Mommy atau Daddy juga yah," terang Amairah.
"Alif janji akan turutin semua perkataan Mommy, Daddy dan Dokter yang penting Alif sehat dan sembuh," balasnya dengan senyuman kebahagiaan.
Martin hanya terdiam melihat reaksi dari istrinya dan Alif yang masih belum diketahui lebih jelas identitasnya. Walaupun Amairah sudah yakin 100% setelah berbicara dengan Kakeknya yang ada di New York City.
Sesibuk apapun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang'. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga.
Tapi, kamu juga harus siap dengan kehidupan setelahnya. Pernikahan adalah hak untuk menemukan kesempatan saling berbahagia dan bertengkar sesering mungkin.
Anda tidak menikahi seseorang yang bisa hidup dengan Anda. Tetapi, anda menikahi seseorang yang tidak bisa hidup tanpa Anda.
Bagiku yang terpenting bukanlah siapa yang ku nikahi, tapi bagaimana aku membangun pernikahan itu dengan keyakinan dan komitmen.
No matter how busy you are, no matter how far you go, family is your home'. Money and popularity can't afford to be with family.
But, you also have to be prepared for the afterlife. Marriage is a right to find opportunities to be happy with each other and fight as often as possible.
you don't marry someone you can live with. However, you marry someone who cannot live without you.
For me the most important thing is not who I marry, but how I build that marriage with faith and commitment.
Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak yang sudah rela dan ikhlas membaca novel yang sangat biasa dan recehan ini 🙏🥰
...Tetap dukung CYT dengan cara:...
...Like setiap babnya...
...Rate bintang lima...
...Gift poin atau koin...
...Favoritkan...
...Votenya juga...
...********Bersambung********...
...by Fania Mikaila AzZahrah...
...Takalar, Sulawesi Selatan...
__ADS_1
...Kamis, 23 Juni 2022...