Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 149. Pertemuan Kembali


__ADS_3

Selamat Membaca..


Maya dan Emaknya Alif tersenyum lega dan bahagia sekaligus terharu melihat kedekatan yang tercipta di antara mereka. Dion bagaikan seorang ayah yang sedang berusaha membujuk putranya yang sudah merajuk.


"Kalau gitu Alif harus makan dulu ya, nggak bisa ke Dufan bersama Mas Dion kalau belum makan," bujuk Maya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Maya layaknya seorang ibu kepada putra kandungnya sendiri. Maya berbicara dengan Alif dengan penuh kelembutan dan sifat ke ibuan Maya perlahan-lahan sudah keluar semenjak kehadiran Alif di Apartemennya.


Alif melepas pelukannya dion lalu beralih memeluk kakinya maya yang sedang berdiri di dekat Dion dengan kegirangan, saking gembiranya hilang sudah seketika amarah yang sebelumnya dia rasakan tergantikan dengan rasa kegembiraan yang meluap-luap.


Sedangkan di dalam kediaman Heri Aiden Tan Perkasa Papa dari Amairah sekaligus Kakek dari Axel dan si kembar sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya persiapan untuk menyambut kepulangan Anak, cucu dan menantunya.


"Bagaimana persiapannya, apa sudah beres dan kalian tidak menemukan kendala kan?" tanya pak Heri kepada anak buahnya yang diserahi tugas untuk mengatur persiapan sesuai untuk menyambut kedatangan mereka.


"Alhamdulillah, semuanya sudah beres Tuan, tinggal kateringnya yang belum selesai, karena kata Tuan tunggu Nona Muda dulu baru mereka masak," jawabnya.


"Ok, ingat lakukan yang terbaik, jangan sampai ada kesalahan dikit pun," ujarnya lalu meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan naik ke tangga rumahnya.


Pak Heri sangat bahagia setelah mengetahui kedatangan anak tunggalnya bersama ke dua cucu kembarnya. Pak Heri pun sudah menginformasikan kepada Martin jika mereka sudah berada di Jakarta beliau lah yang akan menjemputnya.


"Akhirnya Kalian bisa kembali ke Tanah air, dan maafkan Papa yang tidak bisa meyakinkan Kakekmu untuk merestui hubungan kalian."


Penyesalan yang dirasakan oleh Heri sangat beralasan setelah kepulangannya dari Thailand dan Korea Selatan hanya untuk bertemu dengan Tuan Besar Mark Prin Atmadja tidak membuahkan hasil yang baik. Pak Heri kembali menerima kegagalan bahkan perkataan yang dia dapatkan lebih parah lagi dari biasanya.


Pak Heri bahkan mendapatkan hinaan yang dilayangkan oleh Tuan Besar Mark di hadapannya yang mengingatkan kisahnya dan masa lalunya dahulu.


"Papa akan berusaha untuk meyakinkan beliau gimana pun caranya, Papa akan berusaha sekuat tenaga dan semampu Papa.'


Beberapa jam kemudian, hp Tuan Heri berdering di atas meja nakas ranjangnya. Padahal baru beberapa menit yang lalu matanya bisa terpejam. Pak Heri segera bangun dari tidurnya dengan tergesa-gesa. Pak Heri tersenyum seketika melihat siapa yang menelponnya.


"Assalamu alaikum Papa," ucap salam Martin.


"Waalaikum salam Nak, Kamu sekarang ada di mana?" tanya Pak Heri yang sudah duduk di tepi ujung ranjangnya.


"Alhamdulillah baru saja Pesawat Kami mendarat Pa, Papa katanya Amairah Papa gak usah repot-repot datang untuk jemput Kami, lagian sudah ada beberapa anak buahku yang bersiap dan berjaga menunggu kepulangan Kami di Bandara," jelasnya panjang lebar.


"Kalau itu yang Kalian inginkan Papa tidak masalah, Papa akan mempersiapkan segala sesuatunya dan segera menghubungi keluarga," ucapnya lagi.


"Makasih banyak Pa atas pengertiannya, Assalamu alaikum," ujar Martin lalu menutup sambungan teleponnya itu.


Martin mendaratkan ciuman di keningnya Amairah. Lalu mereka turun dari pesawat sambil bergandengan tangan menuruni tangga yang cukup muat untuk mereka berdua berjalan beriringan.

__ADS_1


Delisha dan Denis berjalan terlebih dahulu dan sudah menginjakkan kakinya di Bandara bersama Aisyah Akyurek.


"Ingat jangan berlarian sayang, hati-hati," teriak Amairah yang kembali dibuat tercengang dengan kelakuan anak kembarnya itu.


"Lihatlah anak-anak kita sayang, mereka sangat bahagia setelah berada di Jakarta," Martin tersenyum bahagia melihat kebahagiaan anak-anaknya itu.


"Syukur Alhamdulillah jika, anak kita semuanya bahagia dan happy tinggal di Indonesia tanah kelahiran mereka," Amairah tersenyum bangga pada anaknya karena kedua anaknya cepat dan mudah bersosialisasi maupun beradaptasi dengan lingkungan barunya mereka.


Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka hingga ke depan rumah Papanya Amairah.


Setelah berbicara dengan Martin, Pak Heri segera menghubungi semua keluarganya yang ada di Jakarta untuk segera datang ke rumahnya, dikarenakan Martin beserta keluarga kecilnya sudah sampai di Jakarta dan di dalam perjalanan sudah akan ke sana.


Mereka pun menyambut suka cita dan penuh kebahagiaan berita baik tersebut. Mereka sangat bersyukur karena Amairah dengan Martin berserta anak-anaknya selamat sampai di Indonesia.


Nenek Masitha saking bahagianya sampai-sampai tidak henti-hentinya menangis dalam perjalanan ke rumahnya Papa Heri besannya sekaligus pengacara pribadinya itu.


"Syukur Alhamdulillah ya Allah ya Rohman,ya Rohim ya Robbi atas kesempatan dan waktu yang Engkau berikan kepada Kami yang insya Allah atas ijinmu setelah sekian lama Kami pun bisa bertemu dan berkumpul seperti dahulu lagi."


Mobilnya sudah memasuki area kediaman Kakeknya si Kembar. Ternyata Sesampainya di sana sudah banyak yang berdatangan, bahkan semua keluarga besar mereka sudah hadir di sana sambil menunggu pintu rumah itu terbuka dengan kedatangan Amairah.


Kehadiran Nenek Masitha juga akan menjadi kejutan tersendiri terkhusus untuk Amairah yang selama ini tidak menyangka dan belum mengetahui jika Nenek Masitha adalah Nenek dari suaminya sekaligus pemilik rumah kontrakan yang dia sewa dulu.


Tante Hernita yang melihat Nenek Masitha segera berdiri dan menyambut kedatangannya. Beliau langsung cipika-cipiki lalu berpelukan saling melepas kerinduan mereka.


"Alhamdulillah baik sayang, kalau Kamu dan keluargamu gimana apa mereka juga baik saja?" tanya balik Nenek Masitha.


"Alhamdulillah mereka juga baik Nek, kebetulan mereka juga ada bersama kita di sini," jawabnya sambil mengarahkan jarinya telunjuknya kehadapan anak-anak dan juga cucunya.


Arumi dan Aleta adalah anaknya segera mendekati nenek Masitha untuk mencium punggung tangan Nenek Masitha yang sudah mulai keriput itu dimakan usia senjanya.


Hari ini juga Bryan pun sudah kembali setelah mendapatkan tugas dari Martin. Bryan tanpa sengaja berdiri di samping kanannya Arumi sedangkan Arumi sama dengan yang dialami oleh Bryan yang tidak mengetahui hal tersebut.


Hingga keponakannya Arumi naik ke pangkuannya untuk duduk baru lah mereka menyadari jika sedari tadi sudah duduk berdampingan layaknya sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia. Mereka pun saling adu pandang dan mata mereka sama-sama saling mengisyaratkan bahwa mereka sangatlah saling merindu dan mendamba satu sama lain.


Hingga pintu nan tinggi itu yang bercat cokelat tua itu terbuka lebar barulah mereka memutuskan kontak mata mereka. Dua orang anak kecil berlarian ke arah dalam rumah megah dan besar itu yang sudah dipenuhi oleh banyaknya anggota keluarga mereka.


Dennis dan Delisha berlarian berlomba untuk menjadi yang paling tercepat sampai seakan-akan mereka tidak pernah sedikit pun merasakan kelelahan setelah menempuh perjalanan yang jauh.


Martin dan Amairah bergandengan tangan berjalan masuk ke rumah yang baru kali ini Amairah injakan kakinya. Mereka kayaknya sepasang pengantin baru yang ditunggu sedari tadi kedatangannya.


Mereka mengumbar senyum kebahagiaan mereka ke arah semua keluarga besar yang hadir di tempat itu. Amairah berlari ke arah Papanya itu dan langsung memeluk erat tubuhnya Pak Heri.

__ADS_1


"Papa, maafkan Amai Papa," tangisnya Amairah pun pecah dikala dalam pelukan Papanya.


"Putriku, Papa yang seharusnya minta maaf pada Kamu nak, Papa sudah menyembunyikan...," perkataan Pak Heri terpotong karena langsung dicegah oleh Amairah menggunakan tangan kanannya.


Amairah menggelengkan kepalanya lalu menghapus jejak air mata papanya. Satu persatu mereka berpelukan dengan Amairah hingga anggota keluarganya yang belum pernah Amairah temui.


Tante Hermita pun sangat bahagia dan terharu dengan pertemuan kembali dengan keponakan cantiknya yang sejak kecil ia rawat sebelum insiden yang memisahkan mereka hingga kembali bertemu, tapi tanpa saling kenal dengan identitas baru mereka.


Amairah pun berjalan ke arah sisi rumah di mana Martin berada dan sedang berbincang-bincang dengan Neneknya.


"Mas," panggil Amairah.


Martin dan orang yang berada di sampingnya bersamaan menoleh ke arah Amairah. Wajah Amairah terkejut dan tanpa aba-aba langsung berlari ke arah Nenek Masitha yang Amairah kira hanya sebatas sebagai pemilik rumah yang pernah disewanya dulu di Kota Surabaya.


Mereka saling melepas rindu dan saling bercengkrama satu dengan yang lainnya. Mereka menghabiskan waktunya mereka sambil berbincang-bincang santai hingga ada anak kecil laki-laki yang tanpa sengaja menjatuhkan dan memecahkan benda itu di atas lantai keramik.


Semua mata tertuju pada sosok anak kecil itu. Amairah pun berjalan ke arah sumber suara kegaduhan tersebut karena hanya penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi, baru selangkah kakinya melangkah ada yang memanggilnya.


"Amairah sayang," panggilnya.


Ternyata yang memanggilnya adalah nenek Masitha.


"Biarkan Nenek yang memeriksanya Kamu di sini saja bersama mereka," cegah Nenek Masitha kepada Amairah.


Amairah pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Nenek Masita pun berjalan ke arah dapur Karena penasaran beliau pun masuk.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Nenek Masitha yang bertanya kepada semua orang yang berada di dalam dapur.


Ibu Sumartini yang mendengar suara tersebut langsung menengadahkan kepalanya ke arah Nenek Masitha, tapi apa yang terjadi wajah Emaknya Alif seketika pucat pasi, tubuhnya bergetar ketakutan dan wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat yang bercucuran.


"Itu tidak mungkin, pasti aku salah lihat?"


Jreng.... Jreng..


Siapa kah yang berbicara tersebut dan apa yang terjadi padanya? yang penasaran cuzz tunggu episode selanjutnya yah 🙏


Makasih banyak atas dukungannya kakak Readers all 😘🥰


Jangan Lupa untuk tetap mendukung Cinta Yang Tulus dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Vote dan Giftnya ✌️🥰


...********Bersambung********...

__ADS_1


...by Fania Mikaila AzZahrah...


...Takalar, Minggu, 12 Juni 2022...


__ADS_2