
Selamat Membaca..
Ke Esokan Harinya, pak Daniel telah mendatangi kantor polisi dan telah melaporkan semua kejahatan pak Toni beserta keluarganya. Ibu Anita dan Dea sudah menjadi buronan dan masuk daftar hitam pencarian orang DPO. Pihak kepolisian langsung mengerahkan seluruh intansi dan jajarannya untuk melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap Ibu Anita dan Dea. Bahkan beritanya sudah menjadi berita di seluruh stasiun televisi, dan sosial media.
Bram yang masih prustasi mendatangi rumah Nadia dan mengajak Nadia untuk berbicara empat mata. Bram sudah duduk di kursi tamu rumah minimalis Nadia sambil menikmati kue dan minuman buatan tangan Nadia sendiri. Sedangkan Nadia menggendong Baby Princess yang belum diberi nama karena aqiqahnya masih dipending dulu menunggu orang tuanya menikah.
"Nadia, Maafkan mas yang gagal mendapatkan tanda tangan Dea" ucap Bram yang murung karena Dea yang kabur dari rumah sakit.
"Maksudnya mas?." tanya Nadia yang tidak mengerti maksud perkataan dan arah pembicaraan dari Bram.
Nadia mengerutkan alisnya ke arah Bram tandanya tidak mengerti dengan maksud Bram.
"Dea ternyata selama ini telah menipu kita kalau dirinya koma dan mengidap penyakit kanker darah leukimia" ucap Bram.
"Maksudhya Mas?." Nadia tidak mengerti dan terkejut mendengar perkataan dari Bram.
"Dea telah bersekongkol dengan ke Dua orang tuanya dan dokter yang selama ini menanganinya kalau dirinya sakit parah dan koma, aku sudah mengantongi buktinya dan rencananya aku akan ke rumah sakit untuk menuntut dokter tersebut" ucap Bram yang sudah berapi-api ingin menghukum Dea.
"Ya Allah mereka jahat sekali mas, apa mereka tidak punya hati nurani??." tanya Nadia yang heran dengan kelakuan dari Dea dan ke dua orang tuanya.
"Pak Toni sekarang sudah di penjara sedangkan Dea dan ibu Anita ibunya telah kabur dan melarikan diri entah ke mana rimbanya" ucap Bram yang sangat menyesali kebodohannya selama ini yang tidak menyadari kebohongan besar mereka.
"Jadi rencana pernikahan kita dengan aqiqahnya princess gimana mas??." tanya Nadia yang seakan-akan kecewa dengan kenyataan yang ada.
"Insya Allah setelah perceraian Mas dengan Dea selesai, karena Mas sudah mendapatkan banyak bukti kejahatan dan pernikahan kami yang sengaja mereka rekayasa hanya untuk menutupi kejahatan pak Toni kemungkinan besarnya tanpa kehadiran Dea Saya bisa menggugat cerai Dea dan Mas sudah menyerahkan semua bukti yang ada di tangan mas kepada Pengacara Mas, Mas sama papa Mama akan berangkat ke kota kelahiranmu untuk melamar kamu langsung di depan orang tuamu" ucap Bram yang sudah bertekad untuk melamar Nadia.
"Alhamdulillah kalau begitu Mas Nadia bisa lega dan tenang mendengarnya" ucap Nadia lagi.
"Aku yakin secepatnya kita akan menikah karena pengacara yang menangani kasus kami adalah yang terbaik di kota kita yaitu Pak Heri Tan perkasa, jadi yakinlah dan percaya pada Mas secepatnya kita pasti akan menikah" Ucap Bram.
"Aku tidak sabar menunggu hari itu" ucap Nadia yang langsung memeluk tubuh Bram.
Bram yang mendapat perlakuan seperti itu langsung membalas pelukan Nadia dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia. Hidung mancung ke duanya sudah saling bertemu dan bergesek tinggal satu centi saja maka bibir mereka akan bertemu, Nadia sudah memejamkan matanya dan siap menerima perlakuan Bram, sedangkan Bram pun sudah menutup ke dua matanya, tapi suara tangis princess bayi mereka menggagalkan rencana Bram. Nadia dan Bram saling berpandangan dan tersenyum malu-malu karena apa yang akan mereka lakukan terganggu oleh tangisan Princess.
...----------------...
Pagi yang begitu cerah, Matahari telah menunjukkan taringnya menyinari seluruh isi bumi. Cahayanya menerpa bunga-bunga yang mulai mengeluarkan kuncupnya. Kupu-kupu beterbangan mencari dan menghisap madu nektar bunga. Burung-burung berkicauan di atas dahan pepohonan.
Seorang anak kecil dengan tawa riangnya bermain sepeda di taman yang tidak jauh dari rumahnya ditemani oleh duo's baby sitter nya. Axel sangat senang karena mendapat sepeda baru dari Momsnya. Axel anak yang periang, mudah bergaul dengan siapa saja, dan aktif tentunya yang kadang membuat seseorang menjadi kelimpungan dengan tingkahnya.
"Axel hati-hati sayang, Jangan kayuh sepedanya terlalu cepat, kasihan Mbak Marni capek nih, gak kuat ngejar Axel" teriak Mbak Marni yang sudah ngos-ngosan mengejar Axel yang semakin mengencangkan Kayuhan sepedanya.
"Ayo kejar Axel Mbak, kalau Mbak bisa" ucap Axel yang semakin menambah kecepatan laju Kayuhan sepedanya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan datanglah sebuah mobil hitam yang begitu mengkilap kaca mobilnya, dengan kecepatan sedang sedangkan Axel semakin mempercepat juga kecepatan sepedanya.
"Axel awas nak, ada mobil di depan!!!." teriak Mbak Wati yang melihat kedatangan mobil tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Axel semakin mempercepat hingga sepedanya tertabrak mobil tersebut, Axel terlempar beberapa meter dari jalan raya.
"Aaaaahhhhh Mommy!!!!!!." teriak Axel sebelum sepedanya terlempar ke atas dan mengenai kap mobil hitam mewah tersebut.
Mbak Marni dan Mbak Wati segera berlari menuju Axel, sedangkan sang supir langsung ngerem mendadak dan suara decitan dari ban mobil tersebut sangatlah besar dan menandakan mobil tersebut berhenti secara tiba-tiba.
"Pak Alan apa yang terjadi??." tanya salah satu penumpang mobil tersebut.
"Anu... anu.. pak ada anak kecil yang tidak sengaja nabrak mobil kita dengan sepedanya" jawab pak Alan yang gagap karena ketakutan.
Orang yang bertanya itu langsung membuka pintu mobilnya dan buru-buru ke luar untuk melihat kondisi anak kecil itu.
"Axel ayo nak buka matamu, mbak takut nih Axel" ucap Mbak Marni yang sudah memangku tubuh kecil Axel sambil meneteskan air matanya.
Tanpa aba-aba pemilik mobil itu langsung menggendong Axel ke dalam mobilnya.
"Ayo cepat ikut saya kita bawa ke rumah sakit" ucap bapak tersebut kepada Mbak Marni dan Mbak Wati.
Mereka pun menuruti perintah Bapak tersebut.
Sedangkan mbak Mirna dan Mbak Wati wajahnya sudah nampak pucat pasi takut dan khawatir terjadi sesuatu pada Axel.
"Pak Alan cepat kita ke rumah sakit terdekat dari sini" perintah bapak tersebut.
"Axel harus bertahan yah, Axel yang kuat" ucap Mbak Marni dengan tersedu-sedu.
"Mommy... Mommy to....long Axel" ucap Axel sebelum menutup matanya.
Mbak Wati yang melihat hal tersebut histeris dan semakin menangis. Mobil mereka sudah memasuki area rumah sakit. Bapak tersebut yang menggendong tubuh Axel yang sudah tidak sadarkan diri berlari sambil berteriak-teriak.
"Suster...!!." teriaknya.
Suster pun berlari ke arah bapak tersebut sambil membawa dan mendorong Bangkar dengan kecepatan tinggi. Dan langsung mengambil alih Axel dan menaikkan Axel ke bangkar tersebut. Axel kemudian di larikan masuk UGD. Tim dokter dan perawat segera berlari dan menangani Axel.
"Tolong Bapak dan ibu di luar saja" ucap perawat tersebut yang melarang mereka masuk ke dalam ruangan UGD karena akan melakukan tindakan kepada Axel.
"Dokter tolong berikan perawatan yang paling terbaik di rumah sakit ini kepada cicitku berapa pun biayanya akan saya bayar" ucap bapak tersebut yang khawatir melihat kondisi Axel dan tidak sadar kalau dirinya telah menganggap Axel cicitnya.
Tim dokter dan Perawat sibuk menangani Axel dan Mbak Marni tidak tahu apa harus menghubungi Amairah atau tidak dan terus mondar mandir di depan mbak Wati.
Sedangkan di Kantor Perusahaan Textile tempat berkerja Amairah suasana yang awalnya tenang menjadi gaduh karena Amairah tiba-tiba menjatuhkan gelas yang berisi minuman di dalam nampang. Amairah ke Pantry untuk membuat beberapa minuman sebagai teman saat dia sedang bekerja.
Perasaan Amairah langsung tidak enak dan kepikiran dengan keadaan putranya di rumah.
"Amai kamu baik-baik saja kan??" tanya Maya yang membantu Amairah untuk membersihkan pecahan beling dari gelas tersebut.
"Aku kepikiran terus dengan Axel Maya, aku takut terjadi sesuatu sama Anakku" ucap Amairah.
__ADS_1
"Kami telpon ke rumah saja dulu untuk menanyakan kabar Axel, masalah yang in biarlah aku yang panggil OG untuk bersihin semua ini" ucap Maya.
Amairah pun mengambil hpnya lalu menelpon nomor hp Mbak Marni tapi sekian kali Amairah menelpon, Mbak Marni sama sekali tidak menjawab Telpon Amairah. Amairah semakin khawatir dengan keadaan putranya.
Sedangkan di Rumah Sakit DA Mbak Marni tidak tahu harus bicara apa jika mengangkat telponnya Amairah.
"Mbak Wati ibu Amairah menelpon nih, apa yang harus akui katakan kepada Ibu?." tanya Mbak Marni yang kebingungan.
"Angkat saja telponnya dan katakan kepada ibu Amairah yang sejujurnya saja dari pada dia Marah Kalau kita terlambat untuk mengatakan hal ini" ucap Mbak Wati.
"Assalamu alaikum Bu" ucap Salam Marni yang sudah takut jika dirinya akan kena marah.
"Waalaikum salam, Mbak Axelnya di mana, Aku mau bicara Mbak sebentar saja" ucap Amairah.
Mbak Marni terdiam sesaat dan tidak tahu harus berkata apa. Mbak Wati yang ada di dekatnya langsung memegang tangan Mbak Marni dan menganggukkan kepalanya tandanya untuk menyuruh Mbak Marni untuk berbicara jujur saja.
"Anu Mbak.. anu Axel.." ucap Mbak Marni yang gagap dan tidak jelas.
"Anu apa Mbak, ayok lah mbak bicara yang jelas" ucap Amairah.
"Maafkan saya Mbak, Axel sekarang di rumah sakit" ucap Mbak Marni.
"Apaaaaaaa!! apa yang terjadi dengan Axel Mbak tolong bicara yang jelas?." tanya Amairah.
"Tadi waktu bermain sepeda Axel keserempet mobil" ucap Mbak Marni.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, jadi Kalian ada di man sekarang?". tanya Amairah lagi.
"Kami ada di rumah sakit DA jalan X" ucap Mbak Marni lagi.
"Tunggu aku di sana aku akan segera menyusul kalian" ucap Amairah yang langsung mematikan telponnya dan bergegas ke ruangan atasannya untuk meminta ijin kalau dia akan ke rumah sakit.
Manajernya kaget mendengar kalau Amairah sudah punya anak dan anaknya sekarang di rumah sakit karena setahu beliau Amairah itu masih cewek single yang belum pernah menikah.
"Makasih banyak Bu" ucap Amairah kepada atasannya dan langsung berlari ke arah luar menuju ruangannya untuk mengambil tasnya dan berpamitan kepada Maya.
"Aku ijin pulang dulu yah, tolong aku titip ini untuk diserahkan kepada Bapak Samuel aku ke rumah sakit dulu, Axel keserempet mobil dan sekarang ada di rumah sakit m" ucap Amairah yang sudah berlari seakan-akan ada yang mengejarnya dan karyawan yang melihat Amairah heran dengan yang dilakukan oleh Amairah.
Bahkan ada semua orang yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala karena dengan kecepatan larinya Amairah yang berlari sambil menenteng sepatunya. Amairah terus berlari ke arah parkiran dan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Amairah sangat takut terjadi sesuatu kepada putra semata wayangnya itu. Amairah tidak ingin jika kecelakaan itu membuat anaknya dalam keadaan bahaya.
...******** Bersambung ********...
Makasih banyak atas dukungannya dan pantengin terus setiap Updatenya yah 🙏
Mohon maaf jika terdapat banyak Typonya 🙏
fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Makassar, 15 April 2022