Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 170. Pertemuan Dokter dan Cewek Tomboi


__ADS_3

Selamat Membaca..


"Maafkan Saya Pak, Saya tidak sengaja," ucap Aisyah dengan tangannya yang masih setia memunguti lembaran demi lembar kertas itu hingga lantai menjadi bersih lagi seperti semula.


"Makanya kalau jalan itu harus hati-hati jangan main nyelonong saja," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai.


Aisyah tidak menanggapi perkataan dari orang tersebut karena memang dia lah yang salah di sini.


Hingga kertas terakhir Aisyah berikan tapi, ke dua bola matanya membulat sempurna setelah melihat siapa pria yang ada dalam depannya ini.


Pria itu pun terkejut dan tidak menduga jika dia akan bertemu lagi dengan cewek pernah ribut dengannya.


"Kamu!!!" ucap mereka bersamaan.


"*Aku dulu berfikir bahwa cinta pada pandangan pertama adalah semacam mitos urban-lalu, kamu tersenyum kepadaku."


"Orang-orang mengatakan kepadaku bahwa cinta akan menemukan diriku ketika aku tidak menduganya. Kamu tiba-tiba Memasuki hidupku, dan aku merasa diriku tidak akan pernah sama lagi*."


Aisyah tidak menyangka jika hari ini dirinya dipertemukan kembali dengan pria yang pernah berniat kurang ajar padanya.


"Dunia emang sangat sempit sesempit daun kelor," sarkas Rizaldi.


Aisyah hanya membalas menatap dengan jengah perkataan dari Rizal.


"Apa sih maksud loh, ngomong gitu?" tanya Aisyah yang keheranan.


Seharusnya dia yang berucap seperti itu, malahan dia yang mendapatkan perkataan yang kurang enak didengarkan.


"Tidak apa-apa sih, aku hanya bilang hari ini aku sial banget karena ketemu seorang cewek reseh, sok suci," jawabnya.


Aisyah langsung berdiri dari posisinya semula dan menatap dengan penuh amarah cowok yang ada di hadapannya.


Rizaldi pun ikutan berdiri dan membalas menatap tajam ke arah Aisyah. Mereka saling beradu pandang. Mereka seakan-akan menyalurkan rasa benci dan dendam serta permusuhan yang ada pada mereka.


Aisyah yang biasanya irit bicara, dan terkenal dingin tapi, dengan Rizaldi cowok yang pernah buat dia malu harus berbicara cukup panjang.


Aisyah yang tidak mau mengalah sedangkan Rizaldi sama halnya dengannya. Hingga suara intrupsi seseorang yang mampu menghentikan perang dingin yang terjadi di antara mereka.


"Semoga saja aku tidak akan bertemu dengan kamu lagi seumur hidupku," ucap Dokter Rizaldi berlalu dari hadapan Aisyah.


"Aku pun sangat tidak berharap untuk bertemu Kamu lagi, dan semoga hal ini berlaku untuk selamanya."


Aisyah berjalan ke arah Lebih dalam ruangan itu. Ia ingin mengambil hasil tes DNA milik Axel.


"Kenapa aku harus ketemu pria itu di sini? apa dia orang Indonesia?" Aisyah menggelengkan kepalanya yang tidak mengerti kenapa harus kembali dipertemukan dengan Pria yang berhasil mencuri ciuman pertamanya dulu.


Aisyah tidak ingin mengingat kejadian itu. Cukup hari itu dirinya jadi pusat tontonan dari orang-orang gara-gara aksi nekat pria itu sewaktu dirinya di Los Angeles, USA.


"Kenapa aku bertemu dengan gadis tomboi itu lagi? Dia kan orang Amerika kenapa bisa ada di sini?" tanya yang super keheranan dengan kejadian yang akhir-akhir ini dia alami.


Rizaldi memegang bibirnya dan kembali mengingat kejadian itu. Hanya karena gara-gara ingin menghindar dari kejaran cewek gadungan, terpaksa dia menarik tubuh seseorang untuk menutupi wajahnya. Ia bersembunyi dari cewek kaleng itu dengan mencium bibir Aisyah.

__ADS_1


Bahkan Rizaldi tidak memungkiri jika hari itu dia sangat menikmati ciuman pertamanya dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Bahkan Rizaldi saat itu terbuai dalam ciuman itu hingga hampir saja lupa daratan dan lose kontrol.


"Manis."


Kata itu yang sampai sekarang masih terngiang di ingatannya.


"Iiihh kenapa juga aku harus memuji perempuan yang setengah cowok itu."


Rizaldi menggelengkan kepalanya tapi, senyuman dibibirnya tidak luntur tanpa dia sadari.


Dia kembali teringat saat pipinya memerah dan panas akibat tamparan Aisyah setelah ciuman mereka berhenti. Bahkan wajahnya memerah saat itu saking kerasnya tamparan keras dari yang dilayangkan oleh Aisyah.


"Ya Allah semoga saja hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya."


Asisten dan beberapa suster yang mengikuti langkahnya heran melihat Dokter yang terkenal jenius, pintar, cerdas dan tampan itu bersikap aneh menurut mereka.


Seorang Dokter berbicara sendiri, marah-marah tanpa sebab dan tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Hal itu yang membuat mereka saling berpandangan tidak mengerti.


Aisyah sudah bertemu dengan petugas laboratorium yang diserahi tugas dan tanggung jawab oleh Dokter Rizaldi.


"Ini Mbak hasil tes DNA Tuan Martin," ucapnya sambil menyodorkan sebuah map yang berisi keterangan hasil tesnya.


"Makasih banyak," ucap Aisyah lalu menjabat tangan petugas tersebut.


"Sama-sama Mbak."


Aisyah kembali berjalan ke arah pintu keluar dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


Dia sudah melupakan pria yang sangat mengesalkan itu. Aisyah tidak berharap jika dia tidak akan bertemu kembali dengan orang mesum itu. Karena mengingat jika memungkinkan besar Indonesian adalah negara asal pria itu.


Beberapa saat kemudian, mobilnya sudah memasuki area Kediaman Utama Nenek Masitha.


Aisyah kembali ke mode irit bicaranya. Jika berhadapan dengan dokter yang menurutnya menyebalkan itu lah Dirinya jauh dari kata irit bicara dan dingin.


"Assalamu alaikum, Tuan Martin ada di mana Mbak Marni?" tanya Aisyah.


Mbak Marni yang ditanya segera menghentikan aktifitasnya lalu menolehkan kepalanya ke arah Aisyah berada. Mbak Marni tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Aisyah.


"Tadi Aku lihat Tuan Martin berjalan ke arah ruangan pribadinya," ujarnya.


"Makasih Mbak," ucapnya seraya meninggalkan Mbak Marni yang kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tok... Tok...


Pintu terbuka dan masuklah Aisyah dengan map berada di dalam genggaman tangan kanannya.


Martin dan Amairah mengalihkan perhatiannya ke arah komputer dan beberapa berkas ke arah kedatangan Aisyah.


Martin tersenyum ke arah Aisyah lalu berkata, "Silahkan duduk Aisyah," ucapnya.


Aisyah duduk di depan Martin sedangkan Amairah berada di samping kirinya. Dia segera menyodorkan berkas yang sedari tadi dia pegang.

__ADS_1


"Makasih banyak Aisyah."


Martin segera membuka map itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara penasaran, takut, bimbang, dan penasaran.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Martin dengan sangat hati-hati membuka map tersebut, dia sangat teliti saat satu persatu membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu.


Raut wajahnya berubah-ubah dari serius, penasaran, air matanya perlahan menetes sekarang senyuman itu terbit dari ujung bibirnya.


Amairah yang melihat hal tersebut, segera mengambil berkas itu dengan lembut walaupun sangat kepo dan penasaran juga.


"Mas apa yang terjadi sih, apa Alif Faturahman putranya ibu Nurmala bukanlah Axel?" tanyanya yang sangat ingin tahu dengan hasilnya.


"Baca lah Kamu akan tahu jawabannya," balasnya.


Aisyah yang berada di dalam ruangan itu bersama pasutri tersebut, hanya terdiam dan menyaksikan interaksi dari keduanya.


Amairah dengan penuh kehati-hatian membuka map itu juga. Dia mengarahkan pandangannya tepat ke atas banyaknya tulisan medis tentang kesehatan Alif.


Ke dua bola matanya membelalak sempurna. Dia tergugu, bibirnya gemetaran, tangannya pun yang memegang kertas itu ikut bergetar. Air matanya yang berkaca-kaca perlahan menetes membasahi wajahnya.


Ia menutup mulutnya dengan tangannya yang tidak memegang kertas. Dia tidak bisa bergerak sedikit pun saking tidak kuasanya melihat hasilnya.


Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


Judulnya:



Sang Penakluk


Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



...********To Be Continue********...

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 25 Juni 2022


__ADS_2