Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 231. Bukan Yang Pertama


__ADS_3

Selamat Membaca..


Abimanyu sudah mengungkung tubuhnya Delisha yang sudah nampak polos tanpa selembar kain apa pun. Kegiatan yang seharusnya sudah berlangsung beberapa jam yang lalu, harus terhenti sesaat karena trauma yang diderita oleh Delisha kambuh lagi tapi berkat cintanya yang tulus, Delisha berangsur-angsur pulih dan membaik.


"Kalau sakit, kamu harus tahan yah, Abang akan membuat kamu akan mengingat hari hingga kamu tua nanti," tuturnya yang sudah dipenuhi kabut gairah.


Abi mulai mencumbu istrinya dengan sentuhan demi sentuhan yang membuat Delisha nyaman. Delisha tidak mampu menahan dan menggelinjang kegelian saat tangan kekar dan besar milik Abi bermain di area puncak gunung Bromo miliknya. Satu persatu Abi menyesapi rasa yang ada. Dia sama sekali tidak melewatkan satu inci saja dari tubuhnya Delisha.


Abi tersenyum melihat bagian intinya Delisha yang sudah berkedut tidak tahan untuk segera diamasuki olehnya. Abi belum pu as untuk mengeksplorasi bagian atas milik istrinya. Abi tidak menampik jika dia merasakan sensasi yang berbeda diawal mereka melakukannya dengan tanpa status sah dan sudah bersertifikat halal itu.


"Aku sangat suka dengan semua yang kamu miliki sayang, aku Seakan-akan tidak bisa berpindah dari atas sini," ucap Abimanyu yang kepalanya timbul tenggelam di atas dua puncak gunung Bromo milik Delisha.


"Aku pun sangat bahagia Abang, tapi aaahhh heeemm," ucapnya Delisha yang kembali menutup mulutnya karena malu jika mengeluarkan suara-suara de sa hannya."


Abimanyu semakin dibuat melayang dengan mencicipi aset terpenting yang dimiliki oleh Delisha. Tangannya tidak tinggal diam, dengan menyusuri padang ilalang yang ditumbuhi oleh semak belukar yang mampu menghipnotis Abimanyu untuk semakin memperdalam apa yang dilakukannya.


"Kamu harus tahan jika sakit pegang seprei saja sayang, jangan kamu cakar tubuh ini," racau Abi yang sudah bersiap untuk menenggelamkan dirinya di dalam tubuhnya Delisha.


Perlahan tapi pasti, Abi sudah menancapkan miliknya di dalam pusat intinya istrinya. Delisha yang tidak sengaja melihat langsung milik suaminya spontan menutup matanya.


"Sebesar itu kah punya suamiku?"tanyanya yang tidak percaya melihat hal tersebut.


Abimanyu tidak membuang waktu lagi, Walaupun awalnya agak sedikit kesusahan karena sudah hampir sembilan tahun tak terjamah oleh apa pun sehingga perjalanan menuju gua terindah di dunia ini harus tersendat dan sedikit terhambat. Tapi dorongan demi dorongan Abimanyu lakukan hingga mampu menerobos pintu mulut gua untuk ke dua kalinya dalam keadaan yang berbeda.


"Aaahhhh, heeemm!!" Teriak Delisha yang refleks menutup mulutnya saat menyadari bahwa dia berteriak kencang saat punya Abi telah sukses tertancap dengan sempurna di dalam sana.

__ADS_1


Abimanyu yang melihat peluh keringat bercucuran membasahi wajah cantik istrinya segera meraih tissue yang sudah tersedia di sisi ranjang king size-nya.


"Tahan yah, Abang akan sedikit mempercepat temponya sayang," racau Abimanyu yang terus memimpin jalannya permainan serta memompa dirinya di atas tubuh seksi istrinya.


Awalnya sedikit sakit yang dirasakan oleh Delisha tapi lambat laun sudah terbiasa sehingga mampu mengimbangi permainan mereka. Delisha sudah bertekad dalam hatinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada Abi. Baginya membahagiakan suami adalah ganjarannya pahala yang besar.


Berbagai gaya dan penetrasi mereka lakukan hingga mereka sudah melupakan sudah berapa kali hal itu terjadi hingga nafas mereka yang ngos-ngosan memenuhi seluruh penjuru ruangan tersebut. Delisha mengambil beberapa lembar tissue lalu membersihkan keringat yang mengucur deras di kening suaminya.


Dinginnya udara dari mesin pendingin ruangan tidak mampu meredam panasnya gelora asmara yang memuncak di keduanya. Hubungan yang terjalin antara mereka berlandaskan pada hubungan yang halal dan resmi memberikan kesan yang berbeda.


Abi terus dan terus melakukannya seakan-akan tidak ada rasa lelahnya untuk terus berimprovisasi di atas tubuhnya Delia yang sudah membuatnya mabuk kepayang. Hingga erangan kenikmatan indahnya surga dunia meluncur dari bibirnya. Disertai dengan keluarnya lava panas yang memenuhi seluruh dinding rahim milik istrinya.


"Semoga kamu segera hamil sayang," ujarnya sebelum tumbang di sisinya Delisha.


Nafas mereka memburu saking derasnya gelombang hasrat yang sudah lama terkurung dan terkunkung dalam jiwanya. Hingga hari ini Abimanyu tidak tanggung-tanggung untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.


Abi mengatur beberapa anak rambutnya Delisha yang menutupi sebagian keningnya dengan lembut. Abi mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Tak bosan-bosannya memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Delisha.


"Abang cukup Adek yang melihat senyuman manis ini, Adek tidak mau ada perempuan lain diluar sana yang melihatnya," tuturnya sembari mengelus ujung bibirnya Abimanyu.


Abi menganggukkan kepalanya tanda setuju dan sangat bahagia karena jiwa posesif Istrinya muncul dan itu tandanya Delisha sangat mencintainya.


"Abimanyu Adinata Kim, aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah ada pria lain yang akan menggantikan posisi Abang di dalam hatinya Adek," tutur Delisha sambil menyentuh dada bidang Abimanyu.


Abi yang mendengar perkataan yang baru pertama kali Delisha ucapkan mampu membuatnya terbang melayang hingga ke ujung puncak langit tertinggi di angkasa.

__ADS_1


Abi segera meraih kedua tangannya Delisha lalu menciumnya satu persatu sembari berkata," Abang pun sama meminta hal itu juga pada dirimu, kalau boleh jujur Abang sangat bahagia karena kamu mampu menjaganya dan mempersembahkan hanya untuk Abang seorang, Abang tidak perlu mengucapkan perkataan tapi, Abang akan membuktikan bahwa Abang sangat mencintai kamu sejak awal kita bertemu hingga detik ini dan hingga napas ini tidak berada di dalam diriku."


Delisha tersenyum manis penuh kebahagiaan saat mendengar penjelasan dari suaminya. Abi memangku kepalanya Delisha di atas bahunya lalu tak bosan-bosannya mengelus rambut panjang hitam sedikit kecoklatan milik Delisha dengan penuh kasih sayang yang tulus.


"Maafkan Abang dulu sudah Mengambil semuanya dalam keadaan kamu yang tidak berdaya, Abang…," ucapan Abi terpotong disaat Delisha menaruh ujung jarinya di atas bibirnya Abi.


"Abang itu semua terjadi karena sudah jalannya seperti itu dan takdirlah yang mempertemukan kita walaupun adek sedikit menyesal karena kita bertemu dalam keadaan yang tidak normal tapi, Adek sangat bahagia karena dari hubungan dan pertemuan kita itu hingga lahirlah Lee putra kita dan kita bisa bersatu di hari ini," jelasnya dengan panjang lebar yang membuatnya sangat bahagia dengan penuturan Delisha.


Lengkaplah sudah kebahagiaan yang dirasakan oleh Abimanyu di hari bahagia dan sakral dalam kehidupannya. Takdir sangat baik dan berpihak kepadanya karena mendapatkan istri yang sangat cantik dan baik hati serta Sholehah.


"Adek malahan sangat bersyukur dan bahagia karena Abanglah yang menolong Adek waktu itu jika bukan Abang, adek tidak akan bisa bayangkan gimana masa depanku dan hidupku setelah itu," ungkapnya yang membalas ciuman singkat Abimanyu di atas bibinya.


"Mulai detik ini tetaplah mencintaiku dengan setulus hatimu hingga apapun yang datang menerjang kehidupan kita janganlah sekali-kali untuk pergi meninggalkan Abang dan teruslah mencintaiku dengan segenap hatimu," ucap Abi lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan bersiap terlelap dalam tidurnya. Kecupan manis dan singkat dia daratkan diatas puncak kepala Delisha yang sudah terpejam dan tertidur.


Mohon dukungannya kakak dan tolong mampir ke Novelku yg baru, Sepoi banget yang baca, judulnya:



Pesona Perawan


Dilema diantara dua pilihan


by fania mikaila Azzahrah


Makassar, Selasa 26 Juli 2022

__ADS_1



__ADS_2