Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 187. Awal Dari Segalanya


__ADS_3

Selamat Membaca..


Amarahnya sekejap mata menghilang terbawa angin, hanya melihat senyuman dari wajahnya Dennis.


Dennis semakin tersenyum saat melihat reaksi dari cewek yang cukup cantik yang berdiri mematung di depannya. Tapi, sayangnya kecantikannya itu tidak ada artinya di mata Dennis. Yang ada hanya amarah dendam yang semakin membara setiap kali bertemu dengannya.


Tetapi, demi dendamnya yang sudah lama ada dan hari ini memiliki kesempatan untuk melaksanakannya segera, maka dari itu dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.


Gadis itu mematung terdiam seribu bahasa, tapi getaran dan debaran jantungnya memompa dengan cepat.


"Aku tidak boleh menunda lebih lama lagi, hari ini harus segera Aku laksanakan rencanaku hari ini juga."


Denis selalu tersenyum ke arah Liora, tapi anggapan Liora adalah Dennis suka padanya sehingga membuatnya besar kepala padahal hanya tersenyum karena rencananya hampir tercapai.


Berbanding terbalik 360 derajat dengan yang dirasakan oleh Liora. Wajahnya seketika memerah menahan malu. Selalu berseri-seri selama Denis berada di sampingnya.


Liora bahkan melupakan jika pakaiannya sudah kotor penuh dengan noda minuman. Minuman yang sengaja ditumpahkan oleh Dennis mengenai pakaiannya hingga berubah warna.


"Maaf, aku tadi tidak sengaja melakukannya," tangannya meraih tissue lalu membersihkan seluruh permukaan pakaiannya Liora.


"Eehh tidak udah Kak, aku masih bisa untuk bersihkan sendiri kok," ujarnya dengan mencegah tangannya Dennis yang sudah mengelap bagian yang terkena jus buah tersebut.


"Tidak apa-apa Kok, sebagai ucapan permintaan maafku padamu," Dennis sudah berlutut di hadapan Liora.


Perlakuan dari Dennis yang menurutnya sangat romantis membuatnya semakin bahagia dan getaran dan debaran jantungnya semakin berdebar kencang saja.


Beberapa saat kemudian, mereka menghabiskan waktunya berbincang-bincang santai hingga malam.


Liora sudah gelisah karena supir pribadinya sedari tadi tidak mengangkat telponnya. Padahal sudah jam 10 malam. Denis yang melihat kegelisahan yang dirasakan oleh Liora kembali tersenyum lagi.


"Kamu kenapa?" tanyanya dengan mengaduk-aduk minumannya.


"Eehh tidak apa-apa kok, aku hanya menunggu supir kakekku, tapi hingga sekarang belum juga datang."


"Kalau Kamu tidak keberatan, Aku ingin menawarkan bantuan, tapi itu sih tergantung dari Kamu mau atau tidak."


"Gak usah, aku gak mau repotkan Kakak, lagian masih bisa pulang dengan naik taksi," sanggahnya yang tidak ingin merepotkan Dennis walau pun dia sangat ingin diantar oleh cowok gantengnya kelewat itu.


"Aku tidak suka penolakan dalam bentuk apa pun, ayok ikut kakak, biar kakak yang antar Kamu."


Dia menarik tangannya Liora. Mereka segera berjalan ke parkiran. Wajahnya Liora memerah menahan malu dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Bahagia karena bisa berjalan bareng sambil bergandengan tangan dengan pria yang sudah memporak porandakan hatinya. Malu karena banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka dan kadang saling berbisik.


Mereka sudah duduk di jok mobilnya. Dennis segera mengemudikan mobilnya ke arah alamat yang disebutkan oleh Liora. Mobil Jaguar f-type warna putih itu sudah masuk area Apartemennya.


Liora ingin membuka sabuk pengamannya, tapi percobaan pertama tidak berhasil, percobaan ke dua kembali gagal total. Dennis yang melihat hal tersebut segera membantu Liora untuk melepaskan pengait setbel tersebut dari tubuhnya Liora.


Tapi karena jarak mereka terlalu berdekatan, hingga hidung mancung mereka saling bertabrakan. Ke dua bola matanya membulat sempurna saat wajahnya Dennis sangat dekat dari pandangan matanya.


Liora seakan-akan tidak bisa bernafas dengan normal, hingga serasa udara yang ada di dalam rongga hidungnya sudah tidak ada stoknya. Jantungnya berdendang seperti genderang mau perang.


Perlahan tapi pasti, Dennis memajukan wajahnya hingga tidak ada lagi sekat pemisah diantara mereka. Denis mendaratkan bibirnya di atas bibirnya Liora.


Liora refleks menutup matanya. Dia sudah bersiap menanti apa pun yang akan dilakukan oleh Dennis di atas bibirnya.


"Demi adikku aku akan lakukan apa pun itu, dendam ini harus terbalaskan, aku ingin Kamu juga merasakan sakit dan hancurnya dahulu Delisha, bahkan aku ingin melihat Kamu lebih menderita darinya."


Ciuman mereka berhenti saat mereka hampir kehabisan nafas. Sedari tadi, Dennis selalu menyuguhkan senyuman untuk Liora.


"Kamu sangat cantik sayang," jarinya mengelus ujung bibirnya Liora.


Dengan wajah yang kemerah-merahan menahan rasa malunya ia berkata, "Makasih banyak Kak."


"Aku mencintaimu," ucap Dennis yang kembali ingin mencium bibirnya Liora tetapi langsung dicegah oleh Liora.


Liora menarik tangannya Dennis menuju unit Apartemennya.


"Ini yang aku tunggu sedari tadi dari Kamu."


Mereka berjalan bergandengan tangan hingga ke dalam kamar pribadinya Liora.


"Sangat berani, seperti ini lah dirimu yang berani menjebak adikku dulu hingga masa depannya hancur dan tidak berani untuk menikah dengan siapa pun."


Liora terus melakukan aksinya hingga mampu membangunkan Singa yang sudah lama tertidur dan tidak pernah terusik di dalam kandangnya.


Dennis tidak heran dengan apa yang dilakukan oleh Liora. Baginya Liora hanyalah gadis binal dan nakal yang sangat lihai dan pintar, memerankan perannya di atas ranjang.


"Hari ini aku akan buktikan siapa Dennis Ritchie Arfathan Lee."


Liora terus menggoda Dennis hingga pertahanannya runtuh.


Hingga mereka terbawa arus suasana yang begitu syahdu, hingga pakaian yang mereka pakai sudah terlepas dari tubuh mereka.

__ADS_1


Denis tidak menampik dan menyangkal jika, tubuhnya Liora membuatnya tertantang ingin mencicipi tubuh seksi nan mulus itu.


"Ada apa denganku? kenapa aku tidak bisa mengontrol perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam hatiku."


Liora semakin dibuat terbang melayang dengan perlakuan yang diberikan oleh Dennis di atas tubuhnya.


Dennis mengungkung tubuhnya Liora, hingga Liora sudah tidak leluasa lagi untuk bergerak menahan gejolak asmara yang sudah berada di ubun-ubunnya.


Liora sesekali mengalungkan ke dua kakinya sebagai tanda dia tidak kuasa menahan serbuan serangan dari Dennis.


"Kamu sangat seksi Baby, aku akan berikan yang terbaik untuk Kamu malam ini, sampai-sampai tidak bisa melupakan setiap apa yang aku lakukan hari ini untukmu."


Percobaan demi uji coba terus berlangsung. Hingga beberapa kali terjadi, tapi belum bisa membobol gawang, tapi Dennis terus berusaha untuk melakukan hal itu.


Awalnya sangat kaku, tapi seiring berjalannya waktu, gerakan demi gerakan mulai nampak halus. Hingga berujung dengan goyangan yang sangat kuat dengan satu kali hentakan dan tarikan dari tiang bendera yang kokoh mampu menembus ke bagian terdalam dinding rahim Liora.


Sehingga teriakan keras bersamaan dengan air matanya mengalir deras bersamaan dengan jebolnya pertahanan gawang milik Liora.


"Aaaaahhhhhh!!!


"Kenapa dia harus berteriak dan menangis? bukannya apa yang Aku lakukan membuatnya berteriak keasyikan, sekarang malah meneteskan air matanya, apa dia terlalu bahagia?"


Walaupun sakit, Liora menahan sakit dan perih dibagian sensitifnya akibat dari robeknya benda yang selama ini menahan dan menjadi pelindung terkuat dari daerah intimnya.


Semburan lava panas disertai dengan cairan yang hangat menembus kebagian paling terdalam miliknya.


Kenikmatan yang dirasakan oleh Denis, hampir saja melupakan alasan dan tujuan utamanya untuk melakukan hal itu semua.


Tubuh Liora terkulai lemas setelah Denis menghentikan pekerjaannya. Dennis melihat ada noda darah di atas seprei bersama dengan cairan kentalnya.


"Ohhhh, sial ternyata dia masih perawan," teriaknya lalu segera berdiri untuk memunguti semua pakaiannya lalu dengan tergesa-gesa memakainya.


"Tidak ada yang boleh lihat Aku berada di sini, Aku harus segera pergi dari hidupnya untuk selamanya.


Bonus Visualnya Liora Anastasia Abraham.



...********To Be Continued********...


by Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


Takalar, Minggu, 03 Juli 2022


__ADS_2