
Selamat Membaca..
Setelah kepulangan Aisyah dari Rumah Sakit, Nathan segera menghubungi nomor hp keluarganya untuk segera datang ke rumah kediaman Martin Muhammad Al-ayyubi Lee.
Kegembiraan terpancar dari raut wajah mereka. Rombongan itu cukup banyak, membuat ART dan yang lainnya harus bekerja ekstra melayani iringan lamaran tersebut.
Nathan hanya cengengesan melihat betapa banyaknya anggota keluarganya yang datang dari kampung halamannya hanya untuk mengawal acara lamarannya.
Dari pembicaraan mereka sudah diputuskan pagi harinya adalah akad nikah antara Abimanyu dengan Delisha sedangkan Nathan dan Aisyah setelah acara akad nikahnya Delisha selesai.
"Itu ide yang bagus Tuan Martin, Kami pihak keluarga dari Nathan dengan tangan terbuka menerima usulan yang Tuan berikan," tanggapan dari Pamannya Nathan.
"Sesuatu yang baik sebaiknya segera dilaksanakan jangan ditunda-tunda lagi, iya kan Ibu," ujar Nenek Masitha.
"Betul sekali Nek, kalau hal yang baik harus disegerakan saja, tidak perlu menundanya," timpal ibunya Nathan.
Mereka berbincang-bincang sampai menjelang magrib, bahkan mereka memutuskan untuk sholat berjamaah Magrib di kediaman utama keluarga Martin.
Rona bahagia sekaligus malu sangat nampak jelas di wajahnya Aisyah. Dengan kehadiran mereka mampu membuatnya melupakan sesaat kesedihannya ditinggal kawin oleh Dokter Rizaldi.
Tetapi, berbeda halnya dengan yang dirasakan oleh Delisha. Ada ketakutan dan keraguan yang muncul di dalam benaknya. Dia takut jika suatu saat nanti Abimanyu berubah setelah mengetahui jika dirinya memiliki seorang putra tanpa ada ikatan pernikahan.
Senyuman sesekali Delisha perlihatkan kepada semua orang, agar tidak ada yang mengetahui kegalauan dan kegundahan hatinya.
__ADS_1
"Ya Allah bukannya aku kufur nikmat atas lamaran ini, tetapi aku sangat takut jika Mas Abimanyu mundur bahkan membatalkan pernikahan kami jika dia tahu masa laluku."
Abi sesekali curi-curi pandang kepada Delisha. Serasa mengetahui jalan pikiran calon istrinya. Dia pun mengirimkan pesan singkat ke nomor HP-nya Delisa.
"Besok kita keluar jalan-jalan bareng Lee, aku tidak mau ada kata penolakan."
Beeeppp…
Bunyi tanda ada pesan yang masuk ke dalam hpnya Delisha. Dia sedikit terkejut dengan nada getar di hp nya. Dia melirik sekilas ke arah Abi sebelum membalas pesan chat tersebut.
Abi membalas lirikan dari Delisha dengan senyuman yang cukup menawan membuat ada getaran yang muncul dari dalam hatinya Delisha.
"Apa yang terjadi denganku? Hanya saja melihat senyumannya itu membuat hatiku bergetar tidak seperti biasanya."
"Oke."
Giliran hpnya Abi yang bergetar. Dia kemudian menatap ke arah Delisha yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Delisha tidak ingin Abi melihat wajahnya yang mulai memerah.
Abi tanpa ba-bi-bu segera membuka kunci hpnya. Dia kemudian membaca chat dari kekasih pujaan hatinya. Tapi, sedikit kecewa karena hanya satu kata yang ditulis oleh Delisha di dalam pesannya. Padahal sudah berharap ada kata sebelum atau sesudahnya yang bisa dia baca.
"Gadis yang dingin dan irit bicara."
Setelah mereka makan malam. Nenek Masitha meminta mereka untuk saling bertukar cincin pertanda mereka sudah bertunangan secara resmi.
__ADS_1
Acara pertunangan tidak seperti layaknya orang-orang dari kalangan jetset. Mereka hanya menginginkan acara kekeluargaan yang lebih kental daripada harus pamer dan berfoya-foya.
Abi maju ke depan setelah dipanggil oleh Nenek Masitha. Di dalam genggamannya sudah terdapat kotak buludru yang berisi dengan dua buah cincin. Delisha pun berjalan ke arah mereka hanya mendapatkan tatapan dari neneknya saja sudah mengerti. Abi dan Delisha saling berpandangan satu sama lainnya.
"Sayang sini tanganmu, biar Abi bisa menyematkan cincin yang sangat cantik ini di dalam jari manis mu," tutur Nenek Masitha lalu menarik perlahan tangan kiri cucunya.
Delisha segera mengulurkan tangannya ke hadapan Abimanyu. Abi tanpa aba-aba langsung meraih uluran tangannya Delisha dan mengambil sebuah cincin yang sangat cantik dengan di bagian tengahnya bertahtakan berlian yang sangat indah.
Mereka bergantian menyematkan cincin ke dalam jari mereka masing-masing. Setelah giliran mereka. Gilirannya Aisyah dan Nathan.
Orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Nathan yang absur itu. Belum diberikan aba-aba untuk mulai dia sudah menarik tangannya Aisyah untuk menyematkan cincin tersebut.
"Ya elah Pak Nathan, belum dipersilahkan sudah main nyosor saja," teriak Dennis yang suka menggoda Nathan.
Nathan hanya cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dari dulu di dalam keluarganya tidak pernah menggelar acara apa pun yang berlebihan. Kecuali acara syukuran dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain barulah mereka membuat acara yang besar.
...Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus....
...by Fania Mikaila Azzahrah...
...Makassar, Kamis 14 Juli 2022...
__ADS_1