
Selamat Membaca..
"Segera hubungi yang lain untuk secepatnya bertindak sebelum terlambat.." ucapnya yang terdiam sesaat setelah mendengar perkataan anak buahnya.
Tut.. tut.. tut..
Sambungan telpon pun terputus dengan sepihak, Bryan segera menelpon kembali nomor handphone anak buahnya yang selalu ditugaskan olehnya untuk selalu mengawasi semua apa yang dilakukan oleh cucunya Mark Prin Atmadja sedari dulu.
Bryan segera mempercepat langkahnya dan menghubungi nomor anak buahnya tadi yang menelponnya, ternyata nomornya sudah tidak aktif.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa nomornya mereka tidak ada yang aktif?" Tanyanya yang kebingungan dengan apa yang terjadi di sana.
Dennis yang tidak memperhatikan laju mobilnya tanpa sengaja menabrak pembatas jalan saking seriusnya dan dibuat pusing dengan nomornya Liora yang tidak aktif.
"Aaaahhhhh!!" Teriak Dennis
Mobilnya segera berasap, dan lumayan banyak. Kondisi Dennis yang kepalanya terbentur dengan setir mobilnya mengeluh sakit di bagian keningnya.
"Kenapa mobilku tiba-tiba remnya blong?" Tanyanya yang kebingungan dengan kondisi mobilnya.
Prang…….
Bunyi kaca jendela mobilnya yang tiba-tiba pecah yang hampir saja mengenai kepalanya segera menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dennis bersembunyi saat melihat ada beberapa orang yang telah mengepung mobilnya.
"Aku harus segera mengirim pesan ke nomor Aisyah, Bryan dan Kakak Axel," tuturnya lalu meraih hpnya yang tergeletak di atas lantai mobil yang sempat terjatuh saat mobilnya tabrakan.
"Aaahh," teriaknya meringis kesakitan saat lengannya tanpa sengaja bersentuhan dengan setir mobilnya.
"Siapa mereka sebenarnya, kenapa mereka mengincarku?" tanyanya yang melihat ke sekelilingnya ternyata sudah dikepung oleh puluhan orang yang bersenjata lengkap.
Di dalam ruangan yang cukup mewah yang jauh dari tempat tersebut. Seorang perempuan meringis kesakitan yang terbaring sambil meringkuk di atas dinginnya lantai.
"Kakek, tolong jangan sakiti mereka jika kakek menyakitinya itu sama saja dengan membunuhku perlahan-lahan," teriaknya di balik pintu kokoh itu.
__ADS_1
Air matanya sedari tadi sudah menetes membasahi pipinya. Dia tidak tahu dengan cara apa agar kakeknya bisa berubah menjadi manusia yang baik dan melupakan segala dendam dan masalahnya di masa lalunya.
"Abang Dennis, tolong adek, aaahhhhh!!" Teriaknya sambil melempar vas bunga mawar merah yang terpasang di atas meja.
Brukkk……
Beberapa pengawal yang berdiri dan berjaga di balik pintu itu tidak bergeming dan goyang sedikit pun. Mereka hanya menjadi pendengar setia dari kejadian tersebut.
"Aku harus berusaha lolos dari sini, aku akan meminta tolong pada Abang Dennis," ungkapnya yang berdiri dari posisi duduknya.
Dia mengelilingi ruangan itu, tapi sama sekali tidak ada celah sedikitpun untuk membantunya sebagai tempat untuk meloloskan dirinya.
"Kenapa di ruangan ini tidak ada jendelanya," terangnya yang kembali melempar buku ke arah Televisi.
Dennis yang sudah dikepung dipaksa untuk keluar dari dalam mobilnya. Dennis tidak mungkin mampu untuk melawan orang-orang yang memakai senjata api dengan jumlah yang sangat banyak pula.
"Aku menyerahkan diri ke tangan mereka mungkin itu jalan satu-satunya yang terbaik, dan semoga Kakak dan yang lainnya segera mengetahui dimana posisiku berada," terangnya sambil mensilent nada dering handphonenya.
"Ayo segera keluar dari mobilmu, percuma saja jika kamu sembunyi dari kami," kata Seorang pria yang memegang senjata laras panjang dengan tampang yang sangat sangarnya.
Dennis sama sekali tidak membantah atau pun melawan dari perintah orang tersebut. Dennis berjalan dengan sedikit pincang ternyata kakinya terjepit di pedal gas mobilnya saat kecelakaan tadi.
"Tidak ada gunanya berada di dalam mobil itu terus, kamu sama saja memperlambat proses pekerjaan kami," ujarnya lagi dengan menodongkan senjata api di ujung keningnya Dennis.
"Kalian ini siapa dan apa salahku pada kalian? Sepertinya aku sama sekali tidak mengenal kalian," tutur Dennis dengan senyuman tipisnya.
"Kamu tidak perlu banyak tanya, yang paling penting kamu cukup diam dan mengikuti apa yang kami katakan, ayo cepat jalan jangan sengaja mempersulit pekerjaan kami," jawabnya yang menyuruh Dennis untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Dennis kembali tersenyum meremehkan ke arah mereka. Dennis melakukan hal itu bertujuan agar bisa mengulur waktu lebih lama lagi sambil menunggu bala bantuan dari kakeknya. Dennis tadi juga mengirim chat tanda darurat jika dirinya dalam bahaya. Setiap hp dari cucunya Tuan Luis pasti dilengkapi dengan alat pelacak dan pengirim sinyal sos jika mereka dalam keadaan bahaya.
Tuan Besar Luis yang sedang memimpin jalannya rapat pertemuannya dengan relasi bisnisnya dari Arab Saudi dan Turki segera menghentikan beberapa saat aktivitasnya. Setelah Beliau mendengar hpnya berbunyi. Dia segera memeriksa setelah meminta izin pada rekan kerja tersebut.
"Tidak mungkin!!" Ujarnya yang membuat semua perhatian orang-orang tertuju padanya karena suaranya yang cukup lantang dan besar sehingga suasana seketika langsung hening.
__ADS_1
Mereka takut jika sudah tidak sengaja menyinggung perasaan pemilik Perusahaan Volkswagen tbk, jika hal itu terjadi maka perusahaan dan nasib mereka akan berada di ujung tanduk. Mereka hanya bisa saling melempar pandangan satu sama lainnya, tidak ada yang berani sedikit pun untuk berkomentar.
"Berani sekali dia melakukan hal itu pada cucuku, Albert!!" Teriaknya yang memanggil namanya asisten pribadinya sekaligus anak buah kepercayaannya yang tidak diragukan lagi.
Albert yang dipanggil pun segera menghadap depan membungkukkan tubuhnya sedikit ke hadapan junjungannya, " ada apa Tuan Besar?" Tanyanya dengan raut wajah yang tidak bisa terbaca sedikit pun.
"Segera hubungi orang di Indonesia, terutama Martin dan Aisyah, katakan padanya jika Dennis telah ditangkap oleh anak buahnya Nurman," perintah Tuan Besar Luis dalam bahasa Indonesia karena dia tidak ingin orang-orang tahu kalau terjadi pergolakan besar di dalam kehidupan intern keluarganya.
"Baik Tuanku," jawabnya dengan singkat dan segera berjalan ke arah luar untuk menjalankan perintah dari Tuan Luis.
"Kita lanjutkan meetingnya dan Maaf ada sedikit gangguan kecil, maklum ada seekor kucing yang berusaha jadi harimau," terangnya dengan dibarengi senyuman liciknya.
Mereka kembali ke apa yang sempat tertunda. Di dalam benaknya Tuan Luis, dia selalu memikirkan keadaan cucu kesayangannya. Dia tidak menampik jika kecemasan dan ketakutan itu menyertai pekerjaanku saat itu juga, tetapi dia juga tidak bisa dengan seenak jidatnya memutuskan atau pun menghentikan aktivitasnya dan mencampuradukkan pekerjaan dengan urusan pribadinya.
Martin yang mendapatkan kabar tersebut bukan main shocknya. Dia segera menghubungi Bryan dan putranya Axel untuk segera bergerak mencari keberadaan anak keduanya. Amairah yang kebetulan berjalan masuk ke dalam ruangan kerja pribadi suaminya yang membawa nampang. Dia berjalan santai dan raut wajahnya tiba-tiba berubah drastis saat mendengar perkataan dari suaminya itu.
Pranggggg….
"Itu tidak mungkin!! Mas pasti bohong kan?" Teriaknya yang berlari segera ke Martin tanpa perduli dengan kakinya yang tidak sengaja menginjak pecahan beling itu dari cangkir dan piring yang berhamburan di atas lantai.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus, jangan lupa untuk mampir juga ke novel terbaruku dengan judul:
Pesona Perawan
Dilema diantara dua pilihan
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Kamis, 28 Juli 2022
__ADS_1