Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 25. Kehilangan


__ADS_3

Selamat membaca..


Heri Tan perkasa tidak menyangka jika dihari kelahiran putrinya sekaligus menjadi hari terakhir Istrinya di dunia ini. Hujan yang turun sedari tadi dengan lebatnya seketika berhenti sejak kepergian Mia untuk selamanya.


Tangis ratapan Heri di samping tubuh kaku sang istri tercinta. Heri sangat menyesal karena dirinya tidak mengetahui keadaan kesehatan istrinya selama hamil.


"Mia maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu dengan baik, Maafkan mas yang belum bisasa memberimu kebahagiaan" ucap Heri disela tangisnya.


Bayi mungil mereka hanya menatap ke arah Ayahnya yang sedang berduka. Heri tidak menyangka dengan kenyataan bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh Mia untuk selamanya.


Heri segera mengurus kepulangan jenazah Mia ke rumahnya dan mengurus pemakaman sang istri tercinta. Semua tetangga turut berduka cita atas berpulangnya istri dari Heri. Mereka mengenal sosok Mia yang baik, ramah dan Sholehah.


Selama seminggu Heri tidak beranjak keluar rumah, Heri terus-menerus mengenang masa indah bersama sang istri. Tetapi Heri tidak ingin terus larut dalam duka nestapa dan teringat dengan nasib putri dan ke dua adiknya.


Heri pun mencari pekerjaan dan untungnya ada perkebunan kelapa sawit baru dibuka di daerah tersebut yang membutuhkan karyawan yang banyak. Heri pun diterima bekerja. Sudah satu bulan Herie bekerja di perkebunan kelapa sawit tersebut.


"Herman kalau kamu pulang sekolah bantu Hernita untuk jaga Ayana yah dek, kalau Ayana rewel kamu boleh minta tolong sama ibu Nurhayati" ucap Heri disaat dirinya sudah memakai sepatu bootsnya.


"Siap kak" jawab Herman adik keduanya.


"Kamu jaga Ayana yah dek, kakak sudah beli susunya Ayana, kakak taruh di dalam lemari" ucap Heri.


Heri pun berangkat bekerja. Sampai Magrib Heri belum pulang juga ke rumahnya sedangkan ke dua adiknya sudah mulai khawatir.


"Kakak kok belum pulang yah Her" ucap Hernita yang memberikan dot botol susu untuk Ayana.


"Iya yah, biasanya kakak tidak seperti ini" ucap Herman yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


Ayana sudah tidur dan Hernita pun ikut tertidur pulas di samping Ayana. Sedangkan Herman masih mengerjakan tugasnya sambil menunggu kepulangan kakaknya.


Angin malam itu bertiup kencang sehingga menerbangkan kain gorden lusuh itu dan mengenai lampu minyak tanah yang ada di atas Meja.


Heri ternyata sedang lembur dengan iming-iming gaji lembur yang tinggi sehingga Heri menerimanya. Heri pun pulang ke rumahnya dan tidak lupa singgah ke warung makan untuk membeli ayam goreng untuk adiknya dan susu formula untuk anaknya.


Tapi betapa kaget sekaligus shock ketika melihat rumahnya sudah rata dengan tanah dan yang tersisa puing-puing bangunan yang tidak berhasil dimakan oleh sijago merah. Heri terduduk di atas tanah dan tidak kuasa melihat bangunan rumah gubuk reoknya yang ada di depannya. Karena kondisi rumah yang berhimpitan satu dengan yang lainnya sehingga banyak bangunan rumah yang ikut menjadi korban dari kebakaran tersebut. Heri bertanya kepada tetangga yang kebetulan masih ada di lokasi kebakaran tersebut.


"Pak apa yang terjadi pada rumahku dan dimana anak dan adik-adikku?." tanya Heri kepada salah seorang warga masyarakat.


"Maaf bapak tidak melihat keberadaan dari anak dan adikmu karena tadi keadaan yang sangat kacau dan banyak orang yang berlalu lalang untuk menyelematkan diri mereka sendiri" jawab bapak tersebut.

__ADS_1


"Makasih banyak pak" jawab Heri yang sudah tidak tahu harus berbuat apa.


"Coba kamu cari ke balai Desa nak, karena semua yang menjadi korban kebakaran berada di balai desa sementara waktu" ucap salah seorang bapak yang melihat Heri kebingungan mencari keberadaan adik dan anaknya.


Heri sudah melupakan barang-barang yang sempat tadi dia beli dan segera berlari ke arah balai Desa yang cukup jauh dari rumahnya. Heri sampai di balai Desa dan hanya menjumpai beberapa tetangga saja. Heri pun kembali bertanya kepada seorang ibu-ibu.


"Mata ibu, apa ibu melihat adikku?." tanya Heri.


"Oohh Herman dan anakmu dilarikan ke Puskesmas karena mereka mengalami luka bakar" Jawab Ibu tersebut.


Heri sedikit bisa bernafas lega karena adik dan anaknya masih dalam keadaan yang selamat walaupun kondisi mereka belum diketahui. Heri kembali berlari ke puskesmas. Untung saja puskemas tersebut tidak terlalu jauh. Heri ngos-ngosan setelah dirinya sampai ke puskesmas. Heri menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mencari mereka.


"Maaf suster, apa ada anak kecil dan seorang bayi perempuan di rawat di sini yang menjadi korban kebakaran tadi??." tanya Heri.


"Tunggu Saya cek dulu" ucap perawat tersebut.


"Gimana sus?." tanya Heri yang sudah tidak sabar.


"Ada anak laki-laki yang dirawat di ruangan Seroja di kamar 5 paling ujung Pak tapi...." Jawab suster tersebut.


Heri sudah berlari sebelum suster tersebut menyelesaikan perkataannya.


"Herman ini kakak adek" ucap Heri yang berusaha membangunkan adiknya.


"Kakak" ucap Herman yang membuka perlahan matanya dengan suara yang lemah.


"Apa kamu baik-baik saja dek, jangan banyak gerak dulu" ucap Heri.


"Ayana sama Hernita di bawah ke rumah sakit yang ada di kota kak" ucap Herman dengan nada suara yang sangat lemah.


"Ya Allah bagaimana caraku ke Kota sedangkan adikku juga sakit dan aku ambil uang dari mana" Monolog Heri.


Terpaksa Heri tidak berangkat ke kota untuk mencari keberadaan putrinya dan adiknya karena belum ada biaya. Dua hari kemudian adiknya sudah bisa pulang dan Heri tidak tahu harus kemana dan tinggal di mana karena mereka sudah tidak punya apa-apa dan untung biaya perawatan Herman gratis dari pemerintah.


Heri dan Herman berjalan ke arah depan puskesmas dan tidak sengaja mendengar perkataan dari seseorang kalau oak Desa akan ke kota dan banyak warga masyarakat yang akan menumpang untuk ikut ke Kota. Seperti mendapat angin segar dari permasalahan yang dihadapi Heri. Heri dan adiknya segera ke rumah oak Desa Heri pun berangkat ke kota bersama beberapa warga masyarakat dengan memakai truk.


Keesokan harinya, Heri mendatang rumah sakit yang sesuai arahan dari puskesmas. Tapi alangkah hancurnya dan terpuruknya Heri setelah mengetahui kalau anak dan adik perempuannya sudah tidak dirawat lagi di rumah sakit dan tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaannya.


"Ya Allah cobaan apa lagi yang engkau berikan kepada hambamu ini" ucap Heri yang terduduk di lantai rumah sakit sambil meraung meratapi nasibnya.

__ADS_1


Sejak itu Heri ke sana kemari mencari keberadaan anak dan adiknya dan tidak punya rumah sehingga Heri dan adiknya mencari tempat berteduh untuk istiraht jika malam hari datang. Suatu hari Heri dan adiknya membersihkan Mesjid yang sudah menjadi tempat tinggalnya sementara kedatangan seorang Tuan yang kaya raya yang sedang membawa berbagai macam bantuan untuk mesjid dan melihat Heri dan adiknya. Bapak tersebut menawari pekerjaan kepada Heri. Heri tanpa pikir panjang menerima tawaran itu. Di usianya yang masih muda baru berusia 20 tahun Heri Tan perkasa sudah dihadapkan pada berbagai cobaan dalam hidup tapi Heri tidak pernah berputus asa terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.


Sejak itu pula Heri dan adiknya diangkat menjadi anak dari bapak tersebut yang kebetulan bapak tersebut tidak memiliki seorang keturunan. Heri dan Herman pun melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. karena kerja keras dan keuletannya dalam sekolah sehingga Pak Agus Mulyadi bangga kepada mereka. Dan sejak itu pula kehidupan Heru dan adiknya drastis berubah menjadi lebih baik dan hidup nyaman. Heri tidak berhenti mencari putri dan adiknya jika memiliki waktu luang.


Flashback off..


Air mata pak Heri terus berjatuhan seakan-akan stoknya tanpa batas. Pak Heri tidak berputus asa dan tetap mencari keberadaan adik dan putrinya.


"Grandfa jangan nangis kalau nangis Axel juga ikutan nangis huuuuhhh" ucap Axel yang akhirnya ikut menangis tersedu-sedu di samping pak Heri.


Karena sudah sore, Pak Heri pulang dan tidak lupa pamit kepada Mia istrinya.


"Aku pulang dulu dan jika aku sudah menemukan putri kita baru lah aku kembali lagi ke Sini menemuimu" ucap oak Heri.


Ke Esokan Harinya Amairah dan ke dua sahabatnya kembali beraktifitas seperti biasa. Mereka masing-masing sibuk dikubikel mereka, dan tidak ada lagi yang berani untuk bergosip atau sekedar berbincang-bincang saja jika jam kerja masih berlaku. Amairah, Maya dan Nadia memilih untuk makan di warung depan kantor mereka. Kebetulan rumah makan tersebut baru juga dibuka beberapa hari sehingga mereka penasaran ingin mencicipi menu makanan yang tersedia di sana. Tanpa sengaja Nadia kembali melihat Bram yang berjalan masuk ke dalam warung tersebut. Bram sudah resign dari tempat kerjanya Setelah Dea istrinya di rawat di RS.


Nadia pun berjalan ke arah Bram. Bram yang sudah pasrah dan capek main petak umpet dengan Nadia akhirnya memilih untuk berbicara empat mata. mereka memilih Keluar dari warung tersebut dan mencari tempat yang cocok berdiskusi.


Bersambung..


Fania kasih bonus visualnya Maya dan Nadia yah.


Ini Maya dengan gayanya yang sedikit tomboi tapi cantik.



Kalau yang ini Nadia calon mama Muda



ini Amairah yah Readers yang akan buat klepek-klepek ayahnya Axel



Gimana dengan bonus visualnya Mereka, cocok gak dengan karakter mereka 🤔🤔.


Makasih banyak kepada Readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca Novel recehku 🙏🙏✌️.


By FANIA Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, 30 Maret 2022


__ADS_2