
Kenapa harus takut lagian sudah pernah lihat juga bentuknya gimana," balesnya sembari tersenyum lalu berjalan ke arah luar.
Abi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Delisha yang membuatnya harus kembali mengingat kejadian malam itu.
"Kenapa mulutku ini bisa nyerocos gak jelas yah, apa nanti tanggapannya Abang." Dia Terus menyesali perbuatannya yang meluncur tanpa disaring terlebih dahulu.
Delisha bersandar di dinding dengan menutupi wajahnya menggunakan tangannya. Dia tidak mengira jika akan spontan berbicara seperti itu. Wajahnya memerah menahan rasa malunya seperti merahnya buah apel.
Debaran jantungnya semakin cepat, seakan-akan jantungnya memompa darahnya begitu cepat dengan irama yang tidak teratur.
"Kenapa dengan dadaku, apa yang terjadi padaku?" Delisha memegang bagian dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
Dia sendiri tidak mengerti apa yang melanda hati dan perasaannya.
"Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?" Ia kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, saat dia sudah tersadar dengan perasaan yang tiba-tiba menderanya.
Abi yang berada di dalam kamar mandi tersenyum penuh arti dan terbayang-bayang dengan perkataan Delisha.
"Yes berhasil, dia sudah mulai membuka hatinya untuk menerima cintaku, gadis kecilku Abang akan buktikan kepadamu betapa besarnya cintaku padamu."
Martin dan Amairah yang baru tahu dengan musibah yang menimpa anaknya awalnya shock dan ketakutan. Tetapi setelah melihat kondisi dari Axel di RS, mereka bisa tenang dan lega.
Saat kedatangan mereka, Axel sedang dibantu makan siang oleh Camelia suster cantik yang sudah menjadi perawat pribadinya.
"Bapak harus makan yang banyak,agar besok bisa pulang ke rumah, apa bapak tidak merindukan keluarga bapak?" Tanyanya sambil menyodorkan sendok yang sudah berisi penuh makanan.
Axel hanya terdiam dan tidak ingin membuka mulutnya. Axel marah gara-gara tadi, Camelia terlambat datang ke ruangannya. Menurut Axel, Camelia sengaja melakukan hal itu. Padahal Camelia harus mengantar putrinya ke tempat penitipan anak sebelum datang ke RS.
Camelia tidak putus asa untuk membujuk Axel yang sangat seperti anak kecil saja. Martin dan Amairah masih berdiri di ambang pintu dan mereka berencana untuk menjadi pendengar dari apa yang mereka lakukan di dalam sana. Mereka saling pandang dan tersenyum bahagia.
"Sudah jam 2 loh, kalau Bapak tidak minum obat, sakintya malah bbisa bertambah parah," ujarnya dengan sendok makan yang masih berada di dalam genggamannya.
"Emangnya aku bapakmu, sedari tadi memanggillku dengan sebutan bapak segala, apa aku setua itu?" Tanyanya dengan melihat jengah kearah Camelia.
__ADS_1
Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum menimpali perkataan dari Axel.
"Bukannya menjawab malah senyam-senyum segala lagi, jangan tersenyum seperti itu sama pria lain aku gak suka," ujarnya yang langsung memalingkan wajahnya ke arah tembok.
Camelia yang mendengar perkataan tersebut langsung menatap ke arah Axel dengan penuh pertanyaan. Tapi, lidahnya keluh hanya sekedar untuk berbasa-basi saja pun tidak bisa dia lakukan.
Perkataan dari Axel membuatnya jadi tidak mengerti dengan arah pembicaraannya, sedari tadi selalu berbicara seolah-olah Axel ingin menyampaikan sesuatu hal penting pada Camelia tetapi, penyampaiannya yang tidak secara langsung.
"Apa sih maksudnya ngomong gitu, emangnya salah kalau tersenyum sama semua orang termasuk ke hadapan pasien, apanya yang salah yah?"
Camelia terdiam sesaat dan memikirkan baik-baik perkataan dari Axel yang menurutnya ganjil.
Lamunan mereka buyar saat pintu berdecit, masuklah kedua orang tuanya Axel. Mereka bersamaan melihat ke arah pintu.
"Moms, Dad," ucap Axel sumringah melihat kedatangan orang tuanya.
Camelia langsung berdiri dari tempat duduknya di atas ranjang bangkar milik Axel.
Mereka sudah mendapatkan informasi tentang perasaannya Axel kepada suster cantik tersebut. Apa lagi mereka juga tadi mendengar perkataan keduanya yang sudah menyiratkan kalau diantara mereka ada rasa yang tidak seperti perawat ke pasiennya.
"Anu.. anu Bu, Tuan Muda tidak mau makan jadi obatnya belum diminum," jawab Camelia yang sedikit gagap lalu memperlihatkan obat yang tadi sempat dia pegang.
Amairah menatap ke arah putra sulungnya dengan ramah, "sayang kok enggak mau makan, emangnya ada apa? Apa Mommy boleh tahu?"tanyanya yang pura-pura tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka.
Axel yang biasanya irit bicara pas ditanya langsung menyahut saja dan tanpa basa-basi lagi.
"Ini semua gara-gara dia Moms, aku gak suka kalau dia terlalu ramah sama pria lain," jawabnya dengan wajahnya yang cemberut ke arah Camelia.
Camelia yang mendengar perkataan dari mulutnya Axel spontan menutup mulutnya.
"Ya Allah, Bapak eeehhh Tuan Muda maksudnya senyum itu ibadah loh Tuan Muda jadi sewajarnya lah saya membalas senyuman mereka," ujarnya yang tidak menyangka jika hanya karena itu Axel mogok makan dan minum obat.
Martin hanya jadi pendengar setia saja dan tidak ingin menimpali percakapan mereka yang menurutnya putranya terlalu posesif dan tinggi rasa cemburunya itu.
__ADS_1
"Axel putranya Mommy, wajar dong Camelia tersenyum ramah pada semua pasiennya, kalau gak ramah bisa-bisa pasiennya tambah sakit dan satu hal yang perlu kamu tahu jika kamu tidak ingin melihat hal itu, segera dihalalkan toh," terang Amairah yang menutup pembicaraannya dengan senyuman.
Camelia yang mendengar perkataan dari Amairah tersedak kemudian batuk-batuk. Dia terlalu shock mendengar perkataan dari istri seorang pengusaha sukses.
Axel meraih gelas yang berisi air putih lalu menyodorkan segelas air putih tersebut ke arah Camelia. Sedangkan Camelia tanpa pikir panjang mengambil gelas tersebut tanpa banyak pikir lagi.
"Mommy pamit dulu soalnya masih ada yang perlu Mommy sama Daddy urus, ingat obatnya harus diminum jangan seperti anak kecil dong sayang kalau kamu ingin cepat nikah," terangnya sembari mencium kening putranya itu.
Amairah masih sering memperlakukan seperti itu kepada semua anak-anaknya, padahal mereka sudah besar.
"Hati-hati Moms, Dad, aku selalu sayang kalian," ucapnya.
Amairah sebelum keluar dari ruangan perawatan dia tersenyum lalu menatap ke arah Camelia lalu berkata, "Camelia, Mommy minta tolong jaga putra Moms yah, kalau masih ngeyel gak mau minum obat pukul saja."
Axel hanya tersenyum saat Amairah berkata seperti itu kepada putranya. Axel bangga pada kedua orang tuanya karena mereka tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Bahkan selalu ada disetiap anak-anaknya membutuhkan mereka disisinya.
Martin dan Amairah bergandengan tangan saat mereka berjalan di koridor rumah sakit. Semakin tua mereka semakin memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum. Berbanding terbalik waktu mereka masih baru-baru menikah.
"Kalau menurut Mas, apa Camelia perempuan yang cocok menjadi pendamping hidupnya Axel?" Tanyanya saat mereka berjalan ke parkiran mobil.
"Heeemm, kalau menurut Daddy dia gadis yang baik, ramah, penyayang, sopan walaupun statusnya sudah janda," jelasnya.
"Semoga saja dia gadis yang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk putra kita, Mommy tidak sabar ingin menambah cucu Mommy, semua teman-teman baru arisannya Mommy selalu membicarakan tingkah lucu cucu-cucu mereka sedangkan Mommy baru Lee yang sudah gede gak lucu lagi," terangnya yang disertai dengan tawa renyahnya.
Martin ikut tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang menurutnya tidak biasanya jika membahas masalah cucu.
"Mommy ingin cucu perempuan Dad, pasti asyik dibawa ke arisan," ucapnya yang membayangkan jika dia punya cucu perempuan.
"Berdoa saja semoga apa yang Mommy inginkan segera terkabul dan jadi kenyataan," timpal Martin.
"Amin ya rabbal alaamin,"
Beberapa hari kemudian, Abimanyu dan Axel sudah dinyatakan bisa keluar dari Rumah Sakit. Camelia dan putrinya Ica ikut bersamanya.
__ADS_1