Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 221. Perasaan Yang Bahagia


__ADS_3

Selamat Membaca..


Ica sedari tadi tersenyum gembira setelah mendengar penjelasan dari Amairah. Dennis setiap kali memandang wajah dan senyuman gadis kecil itu selalu membuatnya tenang. Hatinya terasa damai dan tenang.


"Aisyah tolong antar Ica ke sekolahnya, sepertinya aku hari ini tidak bisa mengantar Ica ke sekolahannya," ujarnya dengan menatap ke arah Aisyah yang kebetulan berdiri di sampingnya.


Dennis yang kebetulan berada di sana segera menyahut seruan dari mommynya.


"Aku saja yang anterin Ica Moms, kebetulan tujuanku searah dengan sekolahnya," jawabnya.


"Alhamdulillah, kalau kamu bersedia untuk menggantikan moms satu hari saja, Mommy baru ingat ternyata ada janji dengan wo yang urus pernikahannya adikmu," terangnya dengan senyuman bahagianya karena putranya selalu bisa diandalkan disaat seperti itu.


Amairah memegang pundak putra sembari mengucap kata,"Makasih banyak sayang."


"Lee bagaimana Moms, apa dia sudah berangkat?" Tanyanya yang kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Mommynya.


"Lee tadi pagi sudah berangkat sama Mamanya, tapi entar dijemput lagi yah Ica, Mommy mungkin malam baru bisa pulang ke rumah," jelasnya dengan penuh harap.


"Ok Moms, kami jalan dulu," tuturnya lalu mencium punggung tangan Mommynya bergantian dengan Ica.


Amairah mengelus rambut Ica yang terikat dua itu. Ica sangat cantik, imut dan menggemaskan.


"Wajahnya mengingatkan aku dengan Delisha waktu kecil dulu, tapi kenapa kalau diperhatikan dari belakang, cara jalan dan berdiri mereka hampir sama."


Amairah menatap mereka hingga punggung mereka tak kelihatan lagi dibalik pintu besar dan kokoh itu.


Dennis menggendong tubuh kecil Ica ke dalam mobilnya lalu memasangkan seat belt. Dengan hati-hati dia memasangkannya ke tubuhnya Ica


Sedangkan Ica yang diperlakukan seperti sangatlah bahagia, karena selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari seorang pria dewasa.


Selama Ica tinggal di kediaman Lee, hidupnya terasa lengkap. Dia seolah-olah memiliki keluarga yang utuh, ada Mama dan Papanya yang selalu ada disampingnya.


"Uncle mau jemput Ica nanti kan?" Tanyanya dengan wajah yang memelas dihadapan Dennis.


Ica bertanya seperti itu saat mobilnya mereka sudah bergabung dengan pengguna jalan lainnya.

__ADS_1


Dennis menolehkan wajahnya ke arah Ica dengan senyuman tipisnya, lalu berkata, " Uncle pasti akan jemput Ica lagi tapi, setelah semua pekerjaan Uncle selesai, apa Ica mau menunggu sampai uncle datang?"


Dennis menatap ke arah Ica dengan terus memandangi ke dalam bola matanya, dia seakan-akan dia melihat ada orang lain di dalam sana. Dennis sesekali menatap Ica sambil terus fokus menyetir mobilnya.


Dia sendiri tidak mengerti, kenapa di dalam matanya Ica dia melihat wajah seseorang yang selalu dia ingat, tapi selalu dia pungkiri akan kehadirannya di dalam hidupnya.


"Mungkin aku beberapa hari ini selalu memikirkannya sehingga selalu menganggap dia ada di mana-mana."


Dennis terus menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mengingat kejadian itu dan berusaha untuk melupakan semua kenangan mereka.


Beberapa saat kemudian, mobilnya sudah terparkir di depan pagar jalan masuk TKnya Ica.


"Ica tidak boleh berbicara dengan orang asing dan tidak boleh terima barang apa pun, kalau ada yang kasih Ica ambil saja baru masukin ke dalam tasnya Ica, nanti Uncle lihat," Dennis mewanti-wanti Ica agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi apa-apa dengannya.


"Siap Uncle ganteng," ujarnya dengan mencium pipi kirinya Dennis sebelum turun dari mobilnya.


Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam hatinya, ketika Ica mencium pipinya. Dia pun mrngelus bekas ciuman dari Ica.


"Mungkin seperti ini rasanya, jika punya seorang putri."


Sedangkan di dalam sebuah rumah yang layaknya bagaikan istana saja. Seorang perempuan berlari menuruni tangga sambil melihat ke arah jam tangannya.


Dia terus berlari menuruni undakan tangga dengan tergesa-gesa. Hari ini dia harus terlambat berangkat ke Perusahaan kakeknya, karena semalam keasyikan tertidur pulas. Dia bermimpi bertemu dengan seorang gadis kecil yang selalu tersenyum kepadanya.


"Anton apa kakek sudah berangkat ke Jepang?" Tanyanya sembari menelan dengan terburu-buru makanannya.


"Tuan Besar sudah berangkat Nona Muda, mungkin beliau masih berada di Bandara," jawabnya dengan tetap berdiri di posisinya seperti semula setelah menuangkan susu ke dalam gelas tuannya.


"Ohh gitu, agendaku hari ini apa?" Tanyanya lagi.


"Jam 8 pagi pertemuan dengan Pak Kimoto dari Jepang dan jam 12 dengan Tuan Muda Alvin di Restoran XX, kakek berharap sama Nona untuk menghadirinya," terangnya.


Dia segera menyelesaikan makannya lalu menarik tasnya yang tersimpan di kursi yang ada di dekatnya. Dia kembali berlari karena waktu yang tersisa hanya setengah jam saja dari jadwal yang sudah ditentukan oleh rekan bisnisnya.


Mobilnya meluncur ke arah jalan raya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin mendapatkan ceramah gratis dari kakeknya.

__ADS_1


"Semoga saja tidak ada kemacetan di jalan raya, jadi aku bisa secepatnya sampai," kakinya kembali menginjak pedal gasnya untuk menambah kecepatan mobilnya.


Beberapa menit kemudian, dia sudah sampai di depan Loby Perusahaanmu. Dia tidak memarkirkan mobilnya dengan baik, hanya melempar kunci mobilnya ke arah Security yang selalu berjaga di depan pintu masuk. Security itu sigap menangkap lemparan kunci itu.


Dia hanya tersenyum sekilas kearah Security-nya lalu kembali berlari ke arah lift khusus untuk mempercepat langkahnya.


Di wajahnya nampak sudah kekhawatiran,"semoga saja saya tidak terlambat lagi,kalau tidak pasti Kakek akan segera menelponku."


Nafasnya ngos-ngosan saking lelahnya berlarian hingga ke dalam ruangan meeting. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tidak ada yang berani berkomentar, walaupun ada beberapa orang yang dalam hatinya mendumel kesal dan jengah melihat tingkah laku cucu tunggal pemilik Perusahaan tersebut.


Tiga jam sudah berlalu, meeting mereka pun sudah mendapatkan kesepakatan perjanjian bersama.


"Alhamdulillah sudah selesai juga, sekarang baru jam sebelas, masih ada waktu untuk bersantai di jalan," ujarnya saat melihat jamnya.


Hari ini dia ada janji untuk bertemu dengan pria yang dijodohkan dengannya. Dia sebenarnya ingin menolak dan enggan untuk bertemu dengan pria itu, tetapi kakeknya memaksanya untuk melaksanakan keinginannya.


"Mungkin jalan-jalan dulu kali yah, masih ada waktu juga," ungkapnya.


Dia berjalan berlenggak lenggok dari dalam ruangan pribadinya hingga ke tempat mobilnya berada. Dia melakukan hal itu karena perjanjian kerjasamanya dengan Perusahaan dari Jepang berjalan sukses dan lancar.


Dia melempar tasnya dengan asal ke atas jok mobilnya. Dia menyalakan mesin mobilnya dengan santai tidak seperti awal kedatangannya tadi yang sudah meniru kecepatan mobil pembalap saja.


Dia menurunkan kecepatan mobilnya saat melihat ada beberapa rombongan anak-anak TK yang menyebrang jalan.


"Mungkin putriku sudah sebesar mereka, ya Allah kemana lagi aku harus mencari keberadaan putriku, aku sangat merindukan kehadirannya."


Air matanya perlahan menetes membasahi wajahnya. Dia tidak memikirkan lagi tentang kakeknya yang paling penting adalah bisa bertemu dan memeluk tubuh putrinya.


Tolong setiap kali selesai baca tinggalkan jejaknya berupa tekan tombol like dan berilah komentar karena hal itu sangat berarti untuk Author.


Makasih banyak all...


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Kamis 21 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2