
Selamat Membaca..
Masih Flashback on...
Usaha yang awalnya dicetus oleh Ahmed Al Ayyubi Lee bersama ke dua sahabatnya yaitu Abraham Prin Atmadja dan Nurman Hakim sekarang tongkat estafetnya dilanjutkan oleh putra tunggal Ahmed yaitu Andrew Al Ayyubi Lee dikarenakan kesalahan yang diperbuat oleh Nurman akan tetapi Ahmed lah yang harus menderita dan menjalani hukuman yang bukan Dia melakukannya. Setelah 10 tahun lamanya Ahmed pun harus menghembuskan nafas terakhirnya di dalam Rutan akibat penyakit jantung yang dideritanya selama berada di dalam penjara.
Duka mendalam sangat dirasakan oleh Masitha dan Andrew. Mereka tidak menyangka jika suaminya akan meninggalkan mereka untuk selamanya.
"Mas kenapa mas tega meninggalkan Aku, apa mas tidak sayang lagi sama Masitha mas" ucap Masitha yang menangis tersedu-sedu di hadapan peristirahatan terakhir Ahmed.
Gundukan tanah yang masih sangat basah menjadi saksi bisu dari terpisahnya dua anak manusia yang saling mencintai.
"Ayah Maafkan Andrew jika selama ini banyak salah dan Andrew berjanji akan memajukan dan melanjutkan usaha Ayah sebaik mungkin, dan Andrew berjanji akan melakukan yang terbaik dan akan menjaga Mama Masitha" ucap Andrew sambil menggenggam tanah pusara Ayahnya.
Beberapa tahun kemudian, Pabrik tekstil yang Abdrew rintis sudah berkembang dan maju bahkan hasil dari pabriknya sudah di ekspor ke luar negeri. Setiap bulan peningkatan kualitas dan kemajuan dari usahanya semakin bagus dan semakin diperhitungkan namanya di daftar pabrik terbesar di Indonesia.
Kemajuan itu terjadi hingga puncaknya yaitu ketika istrinya Andrew melahirkan seorang putra yang diberi nama Martin Muhammad Al-ayyubi Lee. Usahanya semakin menunjukkan tajinya di kancah industri dalam negeri bahkan sudah menjalar hingga ke luar negeri.
Kehidupan yang tenang, damai harus terenggut dari mereka akibat kecelakaan maut yang dialami oleh Andrew bersama istrinya.. Andrew yang saat itu baru pulang dari luar Kota dalam rangka perjalanan bisnisnya, untung saja waktu itu, Martin yang baru berusia 5 tahun tidak ikut dengan ke dua orang tuanya dikarenakan Martin yang sedang sakit dan tidak ingin berpisah dari neneknya, sehingga Andrew dan istrinya memutuskan untuk tidak membawa serta anaknya.
Kecelakaan itu terjadi begitu cepatnya dan waktu itu sedang turun hujan yang sangat lebat dan disaat kejadian itu terjadi tidak satu pun saksi mata yang melihat peristiwa itu sehingga pihak kepolisian mengeluarkan keputusan Jika insiden itu yang merenggut nyawa ke dua orang tua Martin adalah murni karena kecelakaan.
Duka mendalam kembali dirasakan oleh Masitha. Tangis pilu kehilangan langsung dua orang yang paling dia sayangi membuatnya tidak mampu untuk berdiri tegak. Sanak saudaranya sudah berdatangan dan mengucapkan turut berduka dan berbela sungkawa atas meninggalnya Andrew dan istrinya di usia yang terbilang masih sangat muda.
Masitha sangat terpukul dengan kepergian anak tunggalnya serta menantunya. TPU kembali menjadi saksi bisu kepergian orang-orang yang disayanginya.
"Andrew Maafkan Mama, ini semua gara-gara Mama yang memaksa kalian untuk pergi menghadiri acara itu, Kenapa kamu tega meninggalkan putramu seorang diri tanpa kalian disisinya lagi, Putramu masih kecil Andrew" ratap Masitha sambil menggenggam tanah pusara anaknya.
"Masitha kamu harus sabar, ingat cucumu masih kecil, kasihan Dia Kalau kamu seperti ini terus" ucap Ibu Liana adik sepupunya.
__ADS_1
"Iya Masitha kami pun sangat kehilangan tapi apa daya ini sudah menjadi kuasa dan kehendaknya Allah, kita hanya bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas dan sabar" timpal istri dari sepupunya Masitha sambil memeluk tubuh Masitha.
"Mami, Papi huhuuuhuhu" ucap Martin sambil bergantian mendatangi dan memeluk nisan ke dua orang tuanya.
Masitha langsung memeluk cucunya, satu persatu pelayak meninggalkan lokasi tempat pemakaman umum setempat. Mereka hanya bisa memberikan semangat dan motivasi kepada Masitha agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
"Mami Martin tidak punya teman lagi, Martin pasti akan kesepian huhuuuhuhu" ucap Martin lagi.
Kematian cepat atau lambat itu sudah pasti akan terjadi kepada semua ciptaannya yang bernyawa. Tidak ada kehidupan yang abadi di dunia ini. Dunia ini adalah persinggahan sementara waktu saja.
Sepeninggalan Andrew perlahan-lahan usaha yang mereka punya semakin hari semakin menurun jumlah pemasukan dan hasil dari pabriknya. Bahkan hanya dalam hitungan setahun usaha tersebut dinyatakan gulung tikar dan tidak bisa beroperasi lagi. Masitha terpaksa menjual aset-aset nya yang berharga untuk menutupi hutangnya di Bank dan membayar gaji dan pesangon Karyawannya.
Nenek Masitha semakin tidak berdaya dan akhirnya satu-satunya jalan terakhir yang harus dia tempuh adalah menjual pabrik tersebut karena hutangnya belum semuanya lunas di Bank dan pihak sudah memberikan jangka waktu untuk melunasinya, tetapi hingga jatuh tempo Masitha masih tidak memiliki uang sehingga dengan berat hati harus merelakan pabrik tersebut berpindah tangan kepemilikannya.
Kehidupan nenek Masitha sudah tidak seperti dulu lagi yang hidup dalam serba kecukupan dan sekarang harus hidup dari menjadi penjahit baju saja. Kehidupannya 360 derajat berubah, Rumah yang bercat hijau dan sederhana itu menjadi saksi perjuangan Martin dan Neneknya. Masitha pun meninggalkan Kota kelahirannya dan memilih untuk pindah ke luar daerah dan melanjutkan hidupnya dengan sederhana bersama cucu tunggalnya. Masitha memutuskan untuk menjadi penjahit dengan uang yang tersisa dari hasil penjualan Pabriknya.
Masitha menjaga dan mendidik cucunya dengan baik hingga Martin berumur 16 tahun baru lah Nenek Masitha bersama cucunya membangun kembali usaha yang pernah dirintis oleh suaminya dan putranya. Dari hasil tabungannya selama bertahun-tahun dan bantuan modal dari Bank. Masitha mendirikan pabrik kecil yang hingga sekarang masih berdiri kokoh dan semakin maju berkat kerja keras dan kegigihan Martin.
Bapak tersebut sangat menyukai kualitas dari barang itu sehingga Bapak tersebut meminta kepada Martin untuk bekerja sama. Martin menyambut baik uluran tangan bantuan dari Bapak tersebut.
"Makasih banyak pak atas bantuannya, Saya dan Nenek Saya sangat bahagia dan bersyukur karena bapak telah Sudi membantu Pabrik kami" ucap Martin saat Dia bertemu langsung dengan bapak Anwar Ibrahim.
"Jangan sungkan dengan pemberian bapak, pemberian bapak ini hanya seberapa jika dibandingkan dengan apa yang pernah Kakek kamu berikan kepada bapak" ucap Pak Anwar di saat mereka makan siang bersama di suatu restoran tempat janji mereka.
Martin heran mendengar perkataan dari Pak Anwar.
"Maksudnya Bapak apa, Saya tidak mengerti sama sekali perkataan bapak" ucap Martin yang kebingungan.
"Panjang ceritanya Nak, jika bapak ceritakan, yang perlu kamu tahu Kalau kakek kamu itu orang yang sangat baik berkat jasanya lah yang memberikan kepada saya ilmu tentang cara mendirikan usaha yang baik serta kakekmu menanamkan pada diri Saya sifat dan tingkah laku yang baik sehingga bapak masih bisa berdiri di hadapan kamu" ucap Pak Anwar sambil tersenyum mengingat kejadian dulu saat dirinya pertama kali masuk buih dan hanya Ahmed yang membantunya dalam segala hal sehingga Anwar bebas dan sangat bersyukur bisa berhasil dan hidup mewah seperti sekarang ini.
__ADS_1
Pak Anwar mengetahui jika Martin adalah cucu sahabatnya saat berada di dalam Rutan setelah Martin berbicara panjang lebar tentang siapa dia dan asal usul keluarganya.
"Makasih banyak kalau begitu Pak, jadi Saya harus tanda tangan di mana Pak?" tanya Martin yang sudah membuka dan membaca dengan seksama surat perjanjian kesepakatan bantuan modal tersebut.
"Alhamdulillah kalau kamu setuju dengan perjanjian kita, insya Allah usaha yang kamu dirikan akan segera sukses dan ingat tidak ada seorang pun pengusaha yang langsung sukses dan usahanya meroket pasti ada perjuangan dan keringat yang harus menetes dibalik kerja keras untuk berusaha membangun usahanya dan yakinlah pada Tuhan kalau kamu nanti akan sukses melebihi bapak" ucap Pak Anwar.
"Amin, sekali lagi makasih banyak Pak atas bantuannya, dan kalau bapak ada waktu mampirlah ke rumah Nenekku ingin sekali bertemu dengan bapak" ucap Martin.
"Insya Allah kalau ada waktu bapak akan mampir" ucap Pak Anwar sambil menjabat tangan Martin.
Sejak dari itu lah usaha Martin dan Neneknya semakin maju hingga hasil produksinya sudah diekspor ke mancanegara bukan hanya ke negara tetangga saja, tetapi sudah merambat ke negara Eropa.
Flashback off..
Nenek Masitha memeluk tubuh cucunya dan tidak hentinya menangis jika harus kembali mengingat kembali kejadian itu. Nenek Masitha sebenarnya tidak ingin membuka luka lamanya, tetapi keadaan yang menuntutnya harus menceritakan kisah pilu itu kepada cucunya agar tidak ada kesalahpahaman lagi kedepannya.
"Terus kalung ini apa hubungannya dengan Martin? Karena Martin tidak tahu siapa pemilik kalung ini" ucap Martin yang mengangkat kalung itu dihadapan Neneknya.
"Apa Kamu tidak mengingat kejadian waktu kamu di Lombok dan perawanin anaknya orang haa?" ucap Nenek Masitha yang sudah jengkel melihat cucunya yang tiba-tiba lupa dengan awalnya dia dapat kalung itu.
...********Bersambung********...
Alhamdulillah Makasih Banyak dukungannya Kakak Readers 🙏
Karena dukungan kalian Cinta Yang Tulus kembali masuk daftar Rekomendasi di beranda dan Viewersnya semakin naik dan banyak 🙏🙏.
Seperti biasa Fania ingatkan untuk budayakan dan biasakan untuk menekan tombol Like, Favorit dan Rate Bintang 5 Yah ✌️👌.
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Makassar, Sabtu, 07 Mei 2022