Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 167. Dokter Rizaldi


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kadang lebih baik diam, daripada menjelaskan apa yang kita rasakan, karena menyakitkan ketika mereka bisa mendengar tapi tak bisa mengerti.


"Marahnya aku diam, kecewanya aku diam, dan ketika aku lelah menghadapinya, aku harap itulah saatnya untuk kamu diam."


Martin dan Amairah setelah mendengar perkataan dari Alif membuat mereka memutuskan untuk segera memeriksakan kondisi kesehatan Alif.


Amairah mengetuk pintu ruangan praktek Dokter Devan Simanjuntak yang akan menangani kasus kesehatan Alif.


"Siang Dokter," ucap Amairah.


"Siang juga Nyonya Amairah dan Tuan Martin," jawabnya setelah melihat mereka masuk ke dalam ruangannya.


Alif memegang tangan Martin dengan sangat erat, sedikit tubuhnya bergetar setelah melihat Dokter Devan.


"Alif kenapa, Kok tangannya gemetaran? Alif baik-baik saja kan?" tanya Martin yang melihat reaksi Alif yang tidak biasa.


Alif tidak menjawab pertanyaan dari Martin, malahan semakin mempererat pelukannya dan pegangannya pada tubuhnya Martin.


Amairah terkejut melihat kondisi Alif yang pucat pasi, keringat bercucuran membasahi wajahnya.


Amairah berusaha mendudukkan Alif ke atas kursi pasien.


"Sayang, apa yang Kamu rasakan? kalau ada yang aneh katakan pada Mommy," ucap Amairah dengan rasa khawatirnya yang sudah berlebihan.


Alif langsung memeluk tubuh Amairah dengan sangat erat. Bahkan pelukannya cukup erat hingga membuat Amairah sedikit mengeluh.


Dokter Devan yang melihat hal tersebut segera berdiri dari duduknya dan perlahan berjalan ke arah Alif. Devan mengelus punggungnya Alif dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Devan melakukan hal itu agar Alif merasa tenang dan nyaman. Apa yang dilakukan oleh Dokter berhasil. Alif berangsur tenang dan tidak gemetaran lagi.


"Tuan Martin tolong baringkan tubuhnya Alif ke atas ranjang," perintah Dokter.


Martin segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Dokter. Amairah tidak pindah dari ranjang itu dan sedari tadi menemani Alif.


"Putra kalian menderita trauma yang cukup parah, tapi kalian tidak perlu khawatir, dengan pengobatan rutin pasti akan sembuh, dan yang paling penting selalu usahakan agar Alif tidak pernah merasakan sendirian di mana pun berada," terang Dokter.


"Alhamdulillah kalau putraku masih ada kesempatan dan harapan untuk sembuh Dok," ucap Martin.


Sedangkan Amairah masih setia menemani Alif di atas ranjangnya yang perlahan matanya tertutup dan akhirnya tertidur juga.


"Dokter bagaimana dengan prosedur tes DNAnya, apa sebaiknya kita ambil sampel darahnya sekarang saja mumpung Alif tenang," ujar Martin.


"Bisa, Saya telpon dokter Rizal Ramli dulu agar beliau secepatnya datang ke sini."


Dokter segera menelpon nomor hp Dokter Rizal. Mereka tidak ingin menunda terlalu lama lagi.


Pintu terbuka dan masuklah seorang dokter yang masih sangat muda dengan pakaian kebesarannya yang membungkus tubuh yang cukup atletis dibandingkan dengan status pekerjaannya sebagai seorang dokter. Jika dipandang dengan teliti orang akan beranggapan jika Dokter Rizaldi sangat cocok dan pantas jadi artis drama kolosal seperti Angling Darma.


"Assalamu alaikum Bang," ucap salam Dokter Rizaldi lalu memeluk tubuh tinggi tegap milik Martin.


"Waalaikum salam, bagaimana kabarnya bro?" tanya Martin.


"Alhamdulillah baik, Lama yah kita tidak bertemu," ucap Dokter Rizaldi.


Beliau ternyata dia adalah sahabat lama Martin, mereka dahulu satu sekolah waktu masih SMA di Bandung. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, tertawa dan bercanda bersama hingga mereka sering menginap bersama di rumahnya Nenek Masitha.


"Iya lumayan hampir enam tahun," jawab Martin.


Mereka kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan dokter Devan.


"Sepertinya Saya tidak perlu memperkenalkan kalian lagi kalau seperti ini," tutur dokter Devan yang menyunggingkan senyumannya ke arah dua orang tersebut yang ternyata mereka adalah sahabat lama.


"Ini Dokter Devan orang yang paling berjasa dalam hidupku, tanpa bantuan dan ulur tangannya aku pasti tidak berdiri di depan Dokter dengan pakaian ini," jelasnya.


"Aahh Dokter Rizaldi terlalu melebih-lebihkan, lagian itu sudah selayaknya aku lakukan pada sahabatku maupun orang lain aku tetap akan lakukan hal itu," balasnya.


"Di dunia ini sudah langka dan jarang ada orang seperti dia loh Dok, hingga detik ini Kau hanya menemukan dan bertemu dengan satu Orang saja, yaitu dia seorang," terangnya.

__ADS_1


"Kalau gitu nostalgianya disudahi dulu, kasihan Mommynya Alif sedari tadi berdiri menjaga putranya," tutur Dokter Devan.


Arah pandangannya jatuh pada Amairah yang sedari tadi hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka yang sedang reunian.


Mereka mengalihkan perhatiannya ke arah ranjang yang dimasukkan oleh dokter Devan.


"Ya Allah dia kan perempuan yang pernah Aku lihat di USA sewaktu aku ke Mall."


Rizaldi menunjuk ke arah Amairah dengan menggunakan dagunya saja ke arah Martin. Martin cepat tanggap dan sangat mengerti dengan maksud dari kode yang diberikan oleh sahabatnya.


"Oohh, dia perempuan terhebat, terbaik, tercantik, dan ibu dari anak-anakku," jawab Martin.


"Itu tidak mungkin!! ternyata dia adalah istri dari sahabatku sendiri, aku harus segera buang jauh-jauh perasaan dan kekaguman aku ini.


"Sepertinya dia pria yang dulu membantu menyelamatkan Dennis waktu menghilang di Mall, aku harus mengucapkan terima kasih banyak padanya."


"Bagaimana dengan prosedur tesnya apa sekarang bisa dimulai?" tanya Dokter Devan.


Amairah memperhatikan dengan seksama wajah sahabat dari suaminya itu. Memperhatikan dengan sangat detail karena menurutnya mereka pernah bertemu dengannya, tapi tidak tahu di mana.


"Apa dia adalah pria itu?"


"Bisa, sekarang Saya akan mulai," balas Dok Rizaldi lalu mengambil beberapa alat kedokterannya dari dalam tasnya yang sedari tadi berada di dalam pangkuannya dengan setia.


Rizaldi segera berdiri dan langsung berjalan ke arah Amairah dan Alif berada.


"Ya Allah kenapa jantung ini berdetak lebih cepat, hanya melihat senyumannya saja membuatku meleleh dan kleoe-, tapi hal ini tidak boleh terjadi sesuatu pada hubungan mereka, jika aku tidak berusaha untuk membuang jauh dari pikiran aku tentang dia."


Spoit yang dia ambil tadi, sudah disuntikkan ke dalam tubuhnya Alif bagian tangan kanannya. Alif sempat bergerak sedikit, lalu melanjutkan kembali tidurnya. Dokter mengisi tabung spoit itu dengan darahnya Alif hingga penuh tabung suntikan tersebut.


"Alhamdulillah, tubuhnya Alif sangat kuat menahan suntikan itu," ucap dokter Rizaldi.


Sebenarnya dokter Rizaldi cukup grogi saat berdekatan dengan Amairah. Dia tidak menampik bahwa Amairah adalah wanita yang sangat cantik, lembut dalam bersikap, tutur katanya yang santun serta peringainya yang selalu ramah dan humble kepada orang lain.


"Ya Allah maafkanlah Aku yang sudah menyukai dan tertarik pada istri dari sahabatku sendiri, aku sudah salah dan hamba mohon hapuskan lah dia dari pikiran dan hatiku ini."


"Makasih banyak Dokter," ucap Amairah yang tersenyum cukup manis ke arah dokter Rizaldi.


"Semua ini harus dihentikan sebelum terlambat."


Do not hide


I beg you not to hide


Hiding from what happened


You shouldn't lock your heart


make me forget


Delete about him


Get rid of my memory if it's about him


I wish I forget it


make me forget


Delete about him


Erase memories of him


erase my memory if it's about him


I wish I forget it


make me forget


Delete about him

__ADS_1


I wish I forget it


You ignore me


You silence me


You leave me.


Sobat, aku sungguh tak mengerti


Semua ini bisa terjadi


Setelah perkenalan itu, aku terhanyut Aku sebenar-benarnya tak kuasa


Mendambakannya


Merindukannya


Ku tahu dia milikmu tercinta


Sebagai kembang yang kau pilih


Namun, hatiku hpnya mengisyaratkan rasa Ingin memetik merangkai menjadikan ikatan abadi


Mendambakannya


Merindukannya


Sobat, maafkan aku mencintainya


Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti


Oh sobat, maafkan aku mencintainya


Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti


Mencoba menahan himpiyan rasa itu


Merajam keruhnya jiwaku


Ternyata hidupku dan dirinya terikat rasa tulus Takkan menyusup kamu pelukku dan rindunya


Fania ucapkan Syukur Alhamdulillah dan Makasih banyak kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan selalu


Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak 👌✌️.


Judulnya:



Sang Penakluk


Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



...********Bersambung********...

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Takalar, Sulawasi Selatan, Kamis, 23 Juni 2022


__ADS_2