
Selamat Membaca..
Hidup butuh perjuangan seperti halnya yang dialami oleh Nenek Masitha dan Martin jatuh bangun dan kerasnya kehidupan sudah dia jalani yang seperti. Martin tidak menyangka jika kehidupan ke dua orang tuanya dan ke dua Kakek Neneknya ternyata tidak semudah yang dibayangkan selama ini.
Martin pun sudah mengetahui siapa sosok orang yang paling bertanggung jawab di dalam kepergian ke dua orang tuanya. Tapi Martin hanya bisa mengelus dadanya tanda hanya bisa bersabar, tetapi tetap akan berjuang untuk mencari tahu dan membuktikan kebenaran dihadapan Pak Mark Prin Atmadja bahwa kakeknya sama sekali tidak bersalah.
"Jadi siapa pemilik kalung ini Nek?" tanya Martin yang sudah melupakan tentang kalung tersebut.
"Ya ampun Martin, apa kamu sudah lupa dengan asal mula kamu mendapatkan kalung ini?" tanya Nenek Masitha yang jengah melihat sikap cucunya tersebut.
Martin mengangkat kalung itu lebih tinggi tepatnya pas di depan mata Martin tetapi masih saja belum mengingat sama sekali dengan sejarah kalung tersebut.
"Martin sini kalung itu, percuma kamu pelototing kalung itu sampai kamu juling pun gak ada manfaatnya, Nenek heran melihat kamu jika berhubungan dengan proyek mega dan berhubungan dengan klien kamu pasti semuanya kamu ingat dengan detail, tapi berhubung dengan perawanin anaknya masih saja linglung bahkan kamu amnesia atau lupa apa yang kamu lakukan di Lombok?" ucap panjang lebar nenek Masitha lalu menggelengkan kepalanya tanda heran melihat tingkah laku cucunya itu.
Martin baru tersadar setelah mendengar perkataan neneknya tentang Lombok, Martin pun segera memeriksa liontin kalung tersebut dengan seksama dan berhasil membuka liontin kalung tersebut dan melihat ada tulisan namanya yang Martin tidak kenal dengan siapa pemilik nama tersebut.
"Mia Horne Atmadja". cicit Martin.
"Betul sekali apa yang kamu katakan yang punya kalung ini adalah Mia Horne Atmadja" timpal Nenek Masitha.
"Siapa dia Nek, apa Nenek mengenal orang ini? Karena tidak mungkin ini milik Amairah sedangkan nama yang tertulis di dalam kalung tersebut adalah Mia Horne Atmadja" tanya Martin yang tidak mengerti dengan tulisan yang menurutnya penuh dengan teka-teki.
"Tapi apa kamu ingat di mana kamu dapat kalung itu? jangan sampai kamu lupakan hal penting itu lagi" ucap Nenek Masitha.
"Martin nemu kalung ini saat Martin terbangun dari tidur Nek dan sebelum Martin keluar dari kamar Hotel yang ditempati oleh Amairah waktu itu" ucap Martin sambil mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Jadi siapa pemilik kalung ini?" tanya Nenek Masitha sambil menggoyangkan kalung itu di depan wajah Martin seolah-olah nenek Masitha Ingin menghipnotis cucu tunggalnya agar tidak lola lagi.
"Tidak mungkin orang lain karena yang Martin temani malam itu adalah Amairah" ucap Martin yang yakin kalau itu kalung milik istrinya sendiri.
"Akhirnya kamu ngaku juga, kalau gara-gara apa yang kamu lakukan anak orang bunting dan karena kamu perempuan itu diceraikan oleh suaminya dan karena kamu lah Dia diasingkan oleh keluarganya" ucap Nenek Masitha yang sedikit jengkel dengan kelakuan dari cucunya itu sambil mengambil bantal lalu memukul punggung Martin.
__ADS_1
"Ampun Nek, Martin akui kalau apa yang Aku lakukan itu salah dan Martin juga waktu itu karena sedang mabuk berat sehingga tidak menyadari apa yang sudah saya lakukan" ucap Martin yang mencoba membela dirinya dan menghindari pukulan dari Neneknya.
"Kamu sadari kalau kamu itu salah, tapi tidak berniat untuk mencari perempuan itu dan bertanggung jawab kepadanya, apa kamu pikir hidup dalam keadaan hamil tanpa Keluarga tanpa suami itu enak haaaa!!" ucap Neneknya lagi.
"Martin sangat menyesal tapi Martin bahagia karena dapat putra yang sangat tampan dan pintar serta Istri yang cantik sekaligus Sholehah" ucap Martin yang keceplosan lupa kalau neneknya tidak tahu apa yang terjadi dirinya dengan Amairah.
"Apaaaaaa!! tadi kamu bilang apa?" tanya Nenek Masitha yang pura-pura kaget mendengar perkataan dari cucunya padahal dalam hatinya tertawa setelah Martin keceplosan dan mengatakan kalau dirinya sudah punya Istri.
"Ampun Nenek, Martin tidak bicara apa-apa kok, Mungkin tadi salah dengar padahal Martin tidak bilang gitu" ucap Martin yang sudah berlari kencang ke arah luar kamar neneknya.
"Martin berhenti, jika kamu ingin mengetahui siapa pemilik kalung itu datanglah ke rumah pak Heri, Dia akan menjelaskan semuanya" teriak Nenek Masitha dari ambang pintu.
Martin berhenti sesaat sambil mendengarkan seksama perkataan dari neneknya.
"Pak Heri kan Papanya Amairah apa jangan-jangan Mia Horne Atmadja adalah Mamanya Amairah yah?".
Martin berjalan ke arah kamar putri kecilnya yang sampai sekarang belum diberi nama yang cantik. Othornya belum ada ide untuk kasih nama yang bagus soalnya he-he-he.
"Hallo Putrinya Daddy yang semakin hari semakin cantik saja, Kamu kangen yah sama Daddy?" tanya Martin kepada putrinya yang menatapnya saat Dia menggendong bayinya yang sudah berusia satu bulan.
Martin menggendong putrinya sambil memberikan susu formula kepada putrinya yang sudah haus.
"Maafkan nenek yang tidak bisa membantu kamu untuk menemukan keberadaan Axel dan Amairah, Nenek pun tidak tahu jika yang masih menculik itu siapa apa Amairah pergi karena dipaksa atau karena keinginannya sendiri".
Nenek Masitha kembali menutup pintu kamar cicitnya itu. Nenek Masitha mencoba untuk menghubungi nomor hp Tuan Mark, tapi tidak berhasil bahkan nomor hpnya sudah tidak aktif lagi padahal bulan lalu Nenek Masitha pernah mengunjunginya dan mengajak Mark untuk bertemu langsung tetapi hingga larut malam, Tuan besar Mark Prin tidak menepati janjinya untuk datang.
Martin menidurkan puterinya setelah putrinya terlelap dalam gendongannya.
"Maafkan Daddy sayang, ini semua gara-gara Daddy sehingga kamu harus hidup tanpa kasih sayang Mommy kamu".
Martin pun mencium putrinya sebelum meninggalkan kamar tersebut. Martin ingin bertemu dengan Neneknya karena ingin membicarakan tentang baby sitter Putrinya.
__ADS_1
"Nenek, Nenek di mana?" teriak Martin menuruni tangga dengan langkah lebarnya.
Nenek Masitha yang mendengar teriakan Martin segera berjalan ke arah sumber suaranya Martin berada.
"Ada apa sih Martin, kamu teriak-teriak satu kali lagi maka kamu akan menyaingi Tarzan bahkan sudah berhasil mengalahkan teriakan Tarzan" ucap Neneknya yang selalu geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya setelah menikah.
"Hehehe Nenek bisa saja, Aku takutnya nenek tidak mendengar suaraku jika Aku tidak teriak hehehe" Martin cengengesan sendiri.
"Nenek kira kamu sudah berada di kediaman Heri ternyata masih di Sini" ucap Nenek Masitha yang sudah duduk di kursi ruangan tengah rumahnya.
"Nenek Princess kan belum punya baby sitter gimana kalau Martin memanggil Baby sitter nya Axel ke sini untuk membantu Nenek menjaga Princess" ucap Martin yang ingin mendengar pendapat neneknya.
"Mbak Marni dan Mbak Wati yah Martin?" tanya Nenek Masitha.
"Kok Nenek tahu nama mereka, apa nenek kenal dengan mereka?" tanya balik Martin.
"Itu bukan urusan kamu, Nenek akan menghubungi mereka untuk segera datang ke sini dan Nenek tidak ingin kamu banyak tanya lagi Ok" ucap Nenek Masitha yang tidak ingin dibantah lagi.
Martin meninggalkan kediaman neneknya dan mengemudikan mobilnya ke arah rumah Pak Heri Papa mertuanya. Martin berharap akan ada harapan dan petunjuk setelah bertemu dengan Pak Heri. Beberapa saat kemudian, Mobil yang dipakai oleh Martin pun sudah memasuki area perumahan elit milik Pak Heri. Martin menutup lalu mengunci pintu mobilnya dan berjalan ke arah pintu.
Martin mengetuk pintu itu beberapa kali hingga berhasil terbuka dan kebetulan yang membuka pintu kayu jati itu yang bercat putih gading itu adalah seseorang yang membuat Martin terkejut sekaligus heran.
...********Bersambung********...
NB:
Jika nanti ada yang Mengatakan kok alur dan ceritanya Cinta Yang Tulus bertele-tele dan panjang banget?
Jawabnya semakin Panjang ceritanya Novel yang sudah kontrak Authornya semakin banyak kesempatan Resky othor bertambah dan jika End berarti Reskynya othor Kakak ngerti lah gimana 🤭👌🙏✌️🙏.
Fania ucapkan Makasih banyak atas dukungannya terhadap CYT dan FANIA sangat berterima kasih dan bersyukur karena adaji yang baca Karya Recehku kodong 🤭✌️.
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Sabtu, 07 Mei 2022