
Aisyah berdiri di teras belakang rumah kediaman Utama Keluarga Lee sembari menatap beberapa pohon yang daunnya bergoyang tertiup angin.
"Apa!!! Pasti apa yang aku dengar barusan bukanlah seperti kenyataannya, kalau seperti ini aku takut jika akan menjadi masalah besar di kemudian hari."
Orang itu kebetulan lewat di sekitar tempat berdirinya Aisyah dan mendengar pembicaraan Aisyah dengan seseorang lewat telepon.
"Ini tidak boleh terjadi, tapi bagaimana dengan Dennis dan anaknya, apa aku mencari tahu diam-diam saja putrinya atau memberitahukan Tuan Besar Luis saja, sepertinya dia yang bisa membantuku."
Dia tergesa-gesa meninggalkan tempat itu, setelah mendengarkan kenyataan yang ada. Air matanya menetes, dia tidak ingin kebahagiaan keluarganya tergadaikan dengan kebencian dari masa lalu mereka.
Dennis menurunkan Ica ke atas kursi tanpa sepatah kata pun. Dia langsung kembali berjalan ke arah kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Hanya butuh waktu sepersekian detik saja dia menyelesaikan mandinya dan buru-buru memakai pakaian santai saja.
"Aku harus bertemu lagi dengannya, aku harus mengetahui apa benar yang dikatakannya." Diraihnya dompet serta hp dan kunci mobilnya.
Amairah kembali melihat putra keduanya yang terburu-buru berjalan dan menutup pintu kamarnya, padahal niatnya ingin mendatangi puteranya dan ingin bertanya apa yang membuat raut wajahnya sedari tadi seperti orang yang menahan amarahnya yang hanya menunggu dan mencari waktu tepat saja untuk meledak. Tetapi, upaya yang direncanakannya terhenti karena Dennis kembali meninggalkan Kediamannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Nak? Mommy ingin membantumu tapi kamu seakan-akan selalu menutup diri dari keluargamu, sifatmu tidak jauh beda dengan kakek." Dia melihat putranya dibalik jendela kamarnya saat mobilnya Dennis kembali melaju dengan kecepatan sedang.
"Semoga dia belum pergi dari sana, apa aku telepon saja nomor hpnya, tapi mungkin dia sudah menggantinya ini sudah hampir lima tahun awal kami bertemu dulu."
Tangan kirinya mencari nomor hp Liora yang masih tersimpan di dalam kontak telponnya. Dia mencoba untuk menghubungi nomor hp tersebut. Ternyata nomor itu masih aktif.
Tut.. Tut.. Tut..
Beberapa kali Dennis mencoba menghubunginya tapi hanya nada sambung saja yang mampu dia dengar. Hingga percobaan terakhir, Liora mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum Abang," seru orang yang berada di seberang telpon.
__ADS_1
Denis tak mampu berucap sepatah kata pun,dikala mendengar suara Liora yang mengucap salam sewaktu teleponnya sudah tersambung. Dennis tidak menyangka gadis liar dan egois itu mulutnya bisa terucapkan kata yang mampu membuat amarahnya sedikit mereda.
Dennis tidak membalas ucapan Liora dia masih sibuk memikirkan apakah yang dia telepon sudah tepat nomornya Liora atau bukan. Tapi, nama yang tertera di layar HPnya adalah gadisku Liora.
"Abang, kenapa hanya diam saja, tolong bicaralah Abang," ucapnya yang bangkit dari atas rumput tetapi tidak perduli dengan pakaiannya yang sedikit terkena noda.
"Waalaikumsalam, tunggu Abang di tempat yang tadi." Jawabnya.
Tut.. Tut.. Tut.. nada telepon sudah terputus. Liora tidak menyangka jika Dennis menyuruhnya untuk tetap disana sambil menunggu kedatangannya. Wajahnya sangat sumringah mendengar perkataan dari pria yang sudah memberinya seorang putri kecil. Walaupun keberadaan putrinya belum diketahuinya.
"Ya Allah…. Semoga saja Abang berubah pikiran dan menerima kenyataan bahwa kami memiliki seorang anak," tuturnya sembari meletakkan hpnya di ujung dagunya.
Berselang beberapa saat, mobil Ducati Monster diesel sudah terparkir dengan gagahnya di dalam parkiran TK. Tanpa berlama-lama dia segera berjalan ke tempat Liora berada. Langkahnya sedikit pelan saat melihat punggung perempuannya yang sudah membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya.
Senyuman tipis tersungging di ujung bibirnya. Dia tidak menampik ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya hanya sekedar melihat punggung gadis yang akan ditemuinya.
Liora segera menolehkan kepalanya ke arah belakang dengan senyuman manisnya. Dia segera berlari ke arah Dennis dan memeluk tubuh tegap dan kekar itu. Dia menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang pria yang sudah membuatnya jatuh cinta berulang kali dengan orang yang sama.
Dennis membalas pelukannya Liora, "i love you so much," ucapnya di sela pelukannya.
Liora sedikit tersentak kaget karena mendengar perkataan dari Dennis yang beberapa tahun lalu dia selalu menunggu perkataan itu meluncur dari bibirnya Pria yang sangat dicintainya.
"I love you to forever," balasnya dengan air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya.
Mereka berpelukan satu sama lainnya, saling menyalurkan rasa kerinduan yang ada. Mereka berpisah hampir lima tahun lamanya karena dendam lah dasar dan pondasi dari hubungan mereka dulu hingga sekarang.
Dennis memegang dagu lancipnya Liora sedikit terangkat ke atas hingga tatapan mata mereka bertemu. Mereka saling beradu pandang hingga tak satupun diantara mereka yang berkedip. Hanya bola mata mereka yang mampu mengisyaratkan apa yang terjadi kepada mereka.
__ADS_1
"Abang, aku sangat merindukanmu, aku tidak bisa menjalani hidupku seperti biasa beberapa tahun ini, aku sangat merindukan kehadiranmu," terangnya.
Dennis tidak menimpali perkataan dari Liora hanya sibuk memandangi dan terus memandang ke arah wajahnya Liora. Hingga wajahnya semakin dekat dan hidung mancung mereka saling bersentuhan satu sama lainnya. Nafas mereka sama-sama memburu hingga aroma mint dari mulutnya Dennis menerpa wajahnya Liora.
Perlahan tapi pasti Dennis menyentuhkan bibirnya dan perlahan ******* bibir seksi yang sedikit tebal milik Liora. Orang yang sedari tadi mengikuti Dennis terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia menutup mulutnya dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya Allah… ternyata mereka menjalin hubungan diam-diam, bagaimana jika kakeknya Liora tahu hubungan mereka pasti akan kembali menjadi petaka dan bencana untuk keluarga kami, aku harus berbicara dengan Dennis setelah ini." Dia memutar tubuhnya dan berjalan perlahan ke arah mobilnya berada.
Awalnya dia yang membelokkan masuk mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya, tapi dia tanpa sengaja melihat Dennis melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa dan kecepatan tinggi. Dia keheranan melihat hal itu sehingga kembali menyalakan mesin mobilnya dan diam-diam mengikuti dari belakang mobil Dennis.
"Apa yang harus aku lakukan dengan kisah percintaan mereka? Aku tidak sanggup melihat jika nantinya mereka dipisahkan hanya karena keegoisan dari kakeknya Liora."
Air matanya ikut menetes dan merasa iba dengan kisah hidup dan hubungan rumit yang dibina oleh saudaranya.
Sedangkan Dennis dan Liora masih menikmati ciuman mereka yang sudah sekian lamanya mereka berpisah. Tetapi cinta mereka semakin besar dan kuat saja. Nafas mereka ngos-ngosan setelah mereka melerai ciuman yang begitu hangat itu.
Dennis mengusap dengan pelan ujung bibirnya Liora dengan jari telunjuknya. Dia menyunggingkan senyumnya yang menawan membuat jantung Liora memompa begitu cepatnya dengan debaran yang tidak teratur.
"Liora maafkan Abang," ujarnya.
"Abang tidak perlu meminta maaf, karena sebelum Abang minta maaf, adek sudah memaafkan Abang," balasnya yang kembali memeluk erat-erat tubuhnya Dennis.
"Apa benar yang kamu katakan tadi? Kalau kita punya putri?" Tanyanya.
"Iya Bang, aku hamil saat pertama kali kita berhubungan intim dan Alhamdulillah aku berhasil melahirkan buah cinta kita dengan selamat," jelasnya dengan tersenyum bahagia.
Ada seseorang dari balik tembok yang sedari tadi merekam aktivitasnya mereka dari awal mereka bertemu hingga detik ini. Orang itu tersenyum licik sembari berkata,"aku dapat kartu as untuk menjatuhkan keangkuhan Kakekmu dan keluarga besar kalian akan kembali berperang."
__ADS_1